JawaPos.com - Hubungan yang sehat bukan berarti dua orang harus menceritakan setiap detail kehidupannya kepada satu sama lain. Setiap orang tetap membutuhkan privasi, ruang pribadi, dan waktu untuk dirinya sendiri.
Namun, ada perbedaan besar antara privasi dan kerahasiaan.
Privasi adalah ketika seseorang memiliki ruang pribadi yang tetap sehat dalam hubungan. Sementara kerahasiaan adalah ketika seseorang sengaja menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya dapat memengaruhi hubungan atau perasaan pasangannya.
Dalam hubungan yang terbuka, pasangan tidak hanya berbagi kabar baik. Mereka juga berani membicarakan hal-hal yang mungkin terasa tidak nyaman: rasa kecewa, ketakutan, kebutuhan emosional, batasan, bahkan perubahan perasaan.
Secara psikologis, keterbukaan semacam ini dapat membantu membangun rasa aman dan kepercayaan. Ketika seseorang merasa bisa berbicara tanpa terus-menerus takut dihakimi, komunikasi biasanya menjadi lebih jujur dan hubungan memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang secara sehat.
Lalu, apa saja yang sebaiknya selalu diungkapkan kepada pasangan?
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (22/9), terdapat enam hal yang penting untuk dibicarakan.
1. Perasaan yang Sebenarnya Kamu Rasakan
Banyak masalah dalam hubungan bukan muncul karena seseorang tidak memiliki perasaan, melainkan karena ia tidak pernah mengungkapkannya.
Kamu mungkin sedang kecewa, tetapi memilih diam.
Kamu mungkin merasa kesepian, tetapi mengatakan, "Aku baik-baik saja."
Kamu mungkin sebenarnya membutuhkan perhatian, tetapi berharap pasangan bisa menyadarinya sendiri.
Masalahnya, pasangan bukan pembaca pikiran.
Jika kamu ingin hubungan yang terbuka, belajar mengatakan apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan.
Bukan berarti setiap emosi harus langsung dilontarkan ketika sedang marah. Kamu tetap bisa memilih waktu dan cara penyampaian yang tepat.
Misalnya, daripada mengatakan:
"Kamu memang tidak pernah peduli."
Kamu bisa mengatakan:
"Akhir-akhir ini aku merasa kurang diperhatikan dan itu membuatku agak kesepian. Aku ingin kita punya lebih banyak waktu untuk berbicara."
Perbedaannya cukup besar.
Kalimat pertama menyerang karakter pasangan. Kalimat kedua menjelaskan pengalaman emosionalmu.
Dalam komunikasi hubungan, kemampuan mengungkapkan emosi secara jelas membantu pasangan memahami apa yang sedang terjadi tanpa harus menebak-nebak.
Dan semakin terbiasa seseorang membicarakan perasaannya dengan cara yang sehat, semakin besar kemungkinan pasangan dapat merespons kebutuhan tersebut dengan lebih tepat.
2. Kebutuhan dan Harapanmu dalam Hubungan
Salah satu sumber konflik yang sering terjadi adalah ketika seseorang memiliki harapan tertentu, tetapi tidak pernah mengatakannya.
Ia berharap pasangan lebih perhatian.
Ia berharap pasangan menghubungi lebih sering.
Ia berharap ada waktu khusus untuk berdua.
Ia berharap pasangan lebih terbuka mengenai masalahnya.
Namun, semua itu hanya berada di dalam pikirannya.
Kemudian ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, muncul kekecewaan.
Padahal, pasangan mungkin tidak pernah mengetahui bahwa hal tersebut penting bagimu.
Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi mengenai kebutuhan.
Kamu berhak mengatakan apa yang kamu butuhkan, dan pasangan juga berhak mengatakan apa yang ia butuhkan.
Contohnya:
"Aku merasa lebih dekat denganmu ketika kita punya waktu untuk ngobrol tanpa memainkan ponsel."
Atau:
"Ketika aku sedang menghadapi masalah, aku sebenarnya lebih membutuhkan kamu untuk mendengarkan dulu daripada langsung memberikan solusi."
Pernyataan seperti ini membantu pasangan memahami bagaimana mereka dapat hadir dengan cara yang lebih bermakna.
Yang perlu diingat, mengungkapkan kebutuhan bukan berarti memaksa pasangan untuk memenuhi semuanya.
Hubungan tetap membutuhkan negosiasi.
Kamu menyampaikan kebutuhanmu. Pasangan menyampaikan kebutuhannya. Kemudian kalian mencari jalan tengah yang masuk akal bagi keduanya.
3. Batasan yang Membuatmu Merasa Nyaman
Keterbukaan bukan hanya tentang menceritakan perasaan.
Keterbukaan juga berarti berani mengatakan, "Aku tidak nyaman dengan hal ini."
Setiap orang memiliki batasan yang berbeda.
Ada orang yang merasa nyaman ketika pasangannya memiliki banyak teman lawan jenis. Ada pula yang membutuhkan batasan yang lebih jelas.
Ada orang yang senang menceritakan masalah hubungan kepada teman. Ada pula yang merasa masalah pribadi sebaiknya hanya dibicarakan berdua.
Tidak ada satu aturan yang otomatis cocok untuk semua pasangan.
Karena itu, batasan perlu dibicarakan.
Misalnya:
"Aku tidak nyaman kalau masalah pribadi kita diceritakan kepada orang lain tanpa persetujuanku."
"Aku membutuhkan waktu sendiri ketika sedang sangat emosional. Setelah lebih tenang, aku ingin membicarakannya denganmu."
"Aku tidak nyaman jika percakapan pribadi kita dibagikan ke media sosial."
Kalimat-kalimat tersebut bukan bentuk menjauh dari pasangan.
Justru sebaliknya.
Batasan yang jelas dapat membantu kedua orang memahami bagaimana mereka ingin diperlakukan dalam hubungan.
Tentu saja, batasan juga perlu masuk akal dan tidak berubah menjadi alat untuk mengontrol pasangan.
Ada perbedaan antara mengatakan, "Aku tidak nyaman jika masalah pribadi kita dibagikan tanpa persetujuanku," dengan "Kamu tidak boleh punya teman karena aku tidak suka."
Yang pertama menyampaikan kebutuhan dan batasan. Yang kedua berpotensi menjadi kontrol.
4. Hal-Hal yang Membuatmu Takut atau Tidak Aman
Ada bagian dari diri seseorang yang terkadang sulit diperlihatkan kepada pasangan.
Ketakutan.
Rasa tidak aman.
Kekhawatiran akan ditinggalkan.
Ketakutan dianggap tidak cukup baik.
Pengalaman masa lalu yang masih memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan.
Tidak semua hal harus diceritakan sekaligus. Tidak semua pengalaman pribadi juga wajib dibagikan jika seseorang belum siap.
Namun, ketika sesuatu mulai memengaruhi hubungan saat ini, membicarakannya dapat menjadi penting.
Misalnya, seseorang mungkin merasa sangat cemas ketika pasangannya tidak membalas pesan dalam waktu lama.
Daripada langsung menuduh:
"Kamu pasti sudah tidak peduli."
Ia dapat mengatakan:
"Aku sadar aku terkadang terlalu cemas ketika kamu lama membalas pesan. Mungkin ini berkaitan dengan pengalaman buruk yang pernah aku alami. Aku sedang berusaha mengelolanya, tetapi aku ingin kamu memahami kenapa aku bisa merasa seperti itu."
Keterbukaan semacam ini mengubah percakapan.
Pasangan tidak lagi hanya melihat reaksinya, tetapi juga memahami konteks emosional di balik reaksi tersebut.
Namun, ada satu hal penting: pasangan bukan satu-satunya orang yang bertanggung jawab menyelesaikan rasa tidak aman kita.
Keterbukaan bukan berarti memberikan tanggung jawab penuh kepada pasangan untuk membuat kita selalu tenang.
Sebaliknya, keterbukaan memungkinkan pasangan memahami kita, sementara kita tetap bertanggung jawab mengelola emosi dan perilaku kita sendiri.
5. Masalah yang Sedang Kamu Hadapi
Tidak semua orang terbiasa meminta bantuan.
Sebagian orang justru menarik diri ketika sedang menghadapi masalah.
Ketika pekerjaan sedang berat, mereka diam.
Ketika masalah keluarga muncul, mereka menghindar.
Ketika kondisi finansial membuat stres, mereka berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Padahal, pasangan mungkin dapat menjadi sumber dukungan yang penting.
Jika kamu ingin membangun hubungan yang terbuka, jangan merasa harus selalu terlihat kuat di depan pasangan.
Kamu bisa mengatakan:
"Aku sedang banyak pikiran akhir-akhir ini."
"Aku sebenarnya sedang stres dengan pekerjaan."
"Aku sedang menghadapi masalah keuangan dan agak takut membicarakannya."
"Aku belum membutuhkan solusi. Aku hanya ingin kamu mendengarkan."
Keterbukaan seperti ini memberikan kesempatan kepada pasangan untuk memahami keadaanmu.
Bahkan terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan jawaban.
Hanya kehadiran.
Hanya seseorang yang berkata:
"Aku ada di sini. Kita bisa membicarakannya."
Namun, keterbukaan juga harus dilakukan secara bertanggung jawab.
Jika masalah tersebut berhubungan dengan keputusan besar yang dapat memengaruhi kehidupan bersama—misalnya utang besar, keputusan pekerjaan, rencana pindah, atau masalah keluarga—pasangan sebaiknya mengetahui informasi yang relevan.
Bukan karena pasangan berhak mengetahui setiap detail hidupmu, tetapi karena keputusan bersama membutuhkan informasi yang cukup dari kedua pihak.
6. Perubahan Perasaan atau Keraguan tentang Hubungan
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Tidak semua hubungan berjalan dengan perasaan yang selalu sama setiap hari.
Ada masa ketika seseorang merasa sangat dekat dengan pasangannya.
Ada masa ketika ia merasa lelah.
Ada masa ketika muncul keraguan.
Ada pula saat kebutuhan emosional berubah seiring waktu.
Perubahan perasaan tidak selalu berarti hubungan harus berakhir.
Tetapi jika perubahan tersebut terus berlangsung dan mulai memengaruhi hubungan, menyembunyikannya biasanya tidak membuat masalah menghilang.
Justru, pasangan kehilangan kesempatan untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Misalnya, seseorang dapat mengatakan:
"Aku merasa akhir-akhir ini hubungan kita terasa berbeda. Aku belum tahu persis apa penyebabnya, tetapi aku ingin kita membicarakannya."
Kalimat seperti itu jauh lebih sehat daripada terus berpura-pura semuanya baik-baik saja sampai akhirnya masalah meledak.
Tentu saja, membicarakan perubahan perasaan membutuhkan keberanian.
Kamu mungkin takut pasangan marah.
Takut hubungan berubah.
Takut percakapan tersebut menjadi konflik.
Namun, keterbukaan tidak selalu menghasilkan percakapan yang nyaman.
Kadang-kadang, keterbukaan justru membuat kita harus menghadapi percakapan yang selama ini kita hindari.
Dan itu merupakan bagian dari kedewasaan emosional dalam hubungan.
Keterbukaan Bukan Berarti Harus Menceritakan Semuanya
Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Hubungan yang terbuka bukan berarti pasangan harus mengetahui setiap percakapan, pikiran, atau detail pribadi yang kamu miliki.
Setiap orang tetap memiliki hak atas ruang pribadi.
Kamu tidak harus menceritakan setiap pikiran yang muncul di kepala.
Kamu tidak harus memberikan akses penuh terhadap seluruh privasimu.
Kamu juga tidak harus menceritakan pengalaman masa lalu yang belum siap kamu bagikan.
Yang lebih penting adalah membedakan antara privasi dan menyembunyikan sesuatu yang relevan terhadap hubungan.
Contohnya, memiliki waktu sendiri bukan berarti tidak mencintai pasangan.
Memiliki teman sendiri bukan berarti tidak menghargai hubungan.
Memiliki hobi sendiri bukan berarti menjauh.
Dalam hubungan yang sehat, dua orang dapat tetap menjadi individu sekaligus menjadi pasangan.
Jangan Menunggu Pasangan Menebak Perasaanmu
Salah satu kebiasaan yang dapat membuat hubungan menjadi rumit adalah berharap pasangan "seharusnya tahu."
"Kalau dia benar-benar mencintaiku, dia pasti tahu aku sedang sedih."
"Kalau dia peduli, dia pasti tahu apa yang aku butuhkan."
"Kalau dia mengenalku, dia pasti mengerti."
Harapan seperti itu terdengar romantis, tetapi dalam kehidupan nyata, manusia tidak selalu dapat membaca emosi orang lain dengan akurat.
Bahkan pasangan yang sudah bersama bertahun-tahun pun bisa salah memahami satu sama lain.
Karena itu, komunikasi tetap diperlukan.
Daripada menguji pasangan dengan diam, lebih sehat mengatakan apa yang sebenarnya kamu butuhkan.
Daripada menunggu pasangan menyadari bahwa kamu kecewa, jelaskan apa yang membuatmu kecewa.
Daripada berharap pasangan berubah sendiri, bicarakan perilaku yang ingin kamu lihat berubah.
Komunikasi yang jelas sering kali jauh lebih efektif daripada berharap seseorang membaca kode.
Cara Mengungkapkan Hal Sulit Tanpa Membuat Percakapan Menjadi Pertengkaran
Keterbukaan bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya.
Ada beberapa prinsip sederhana yang dapat membantu.
Pertama, gunakan kalimat yang berfokus pada pengalamanmu.
Daripada:
"Kamu selalu mengabaikanku."
Coba:
"Aku merasa diabaikan ketika kita sedang berbicara tetapi perhatianmu terus terbagi."
Kedua, hindari generalisasi seperti "selalu" dan "tidak pernah" jika tidak benar-benar diperlukan.
Ketiga, pilih waktu yang tepat.
Percakapan serius biasanya tidak akan berjalan dengan baik ketika salah satu pihak sedang sangat marah, kelelahan, atau terburu-buru.
Keempat, jangan hanya berbicara untuk didengar. Bersiaplah untuk mendengarkan.
Keterbukaan yang sehat berjalan dua arah.
Kamu membuka diri.
Pasangan mendengarkan.
Pasangan membuka diri.
Kamu juga mendengarkan.
Di situlah komunikasi berubah menjadi hubungan emosional yang lebih seimbang.
Pada Akhirnya, Hubungan yang Terbuka Dibangun dari Rasa Aman
Orang biasanya lebih mudah terbuka ketika mereka merasa aman.
Aman untuk mengatakan, "Aku sedih."
Aman untuk mengatakan, "Aku tidak setuju."
Aman untuk mengatakan, "Aku membutuhkanmu."
Aman untuk mengatakan, "Aku tidak nyaman."
Dan bahkan aman untuk mengatakan, "Aku belum tahu apa yang sedang aku rasakan."
Rasa aman seperti ini tidak terbentuk hanya dari satu percakapan.
Ia dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.
Mendengarkan tanpa langsung menghakimi.
Tidak menggunakan kerentanan pasangan sebagai senjata ketika bertengkar.
Menghargai batasan.
Mengakui kesalahan.
Meminta maaf ketika memang salah.
Dan memberi ruang kepada pasangan untuk menjadi dirinya sendiri.
Pada akhirnya, hubungan yang terbuka bukan hubungan tanpa rahasia, tanpa konflik, atau tanpa perbedaan.
Hubungan yang terbuka adalah hubungan di mana dua orang merasa cukup aman untuk membicarakan hal-hal penting sebelum masalah tersebut berubah menjadi jarak.
Jadi, jika kamu ingin hubungan yang lebih jujur dan dekat dengan pasangan, mulailah dari enam hal sederhana: perasaanmu, kebutuhanmu, batasanmu, ketakutanmu, masalah yang sedang kamu hadapi, dan perubahan yang terjadi dalam dirimu.
Kamu tidak harus mengungkapkannya dengan sempurna.
Yang penting, jangan selalu menunggu sampai semuanya terlambat untuk mulai berbicara.
Karena terkadang, satu percakapan jujur yang dilakukan pada waktu yang tepat dapat mencegah jarak yang terbentuk perlahan-lahan tanpa disadari.