← Beranda
Ingin Tetap Membumi di Dunia yang Makin Sulit untuk Diprediksi, Lakukan 6 Kebiasaan Ini
Irfan Ferdiansyah• Rabu, 23 September 2026 | 03.28 WIB
seseorang yang tetap membumi di dunia./Magnific/magnific

JawaPos.com - Ada masa ketika hidup terasa cukup mudah untuk dipahami.

Kita bangun, bekerja, bertemu orang-orang yang sama, menjalani rutinitas, lalu pulang dan beristirahat. Kita mungkin tidak tahu persis apa yang akan terjadi besok, tetapi setidaknya dunia terasa memiliki pola yang bisa kita ikuti.

Sekarang, banyak hal berubah begitu cepat.

Informasi datang tanpa henti. Teknologi berkembang dalam hitungan bulan. Situasi ekonomi dapat berubah. Pekerjaan yang dulu terasa aman bisa mengalami perubahan. Hubungan sosial juga semakin kompleks. Belum lagi media sosial membuat kita setiap hari melihat kehidupan, pencapaian, masalah, dan opini orang lain dalam jumlah yang hampir tidak terbatas.

Tidak mengherankan jika sebagian orang merasa sulit untuk benar-benar tenang.

Bukan karena hidup mereka selalu buruk.

Justru terkadang karena pikiran mereka terlalu sibuk mengantisipasi apa yang mungkin terjadi.

“Bagaimana kalau nanti gagal?”

“Bagaimana kalau keadaan berubah?”

“Bagaimana kalau keputusan yang saya ambil ternyata salah?”

“Bagaimana kalau orang lain sudah jauh lebih maju?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat membuat seseorang hidup terlalu jauh ke masa depan.

Padahal, salah satu kemampuan psikologis yang sangat penting bukanlah kemampuan mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan kemampuan tetap hadir ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Inilah yang sering disebut sebagai kemampuan untuk tetap grounded atau membumi.

Membumi bukan berarti berhenti memiliki ambisi.

Bukan pula berarti pasrah terhadap keadaan.

Membumi berarti memiliki pijakan internal ketika dunia di luar diri kita sedang berubah.

Kita tetap bisa mengejar tujuan, membuat rencana, memperbaiki kehidupan, dan mengambil risiko. Tetapi kita tidak membiarkan ketidakpastian mengendalikan seluruh pikiran dan emosi kita.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), jika kamu ingin menjadi pribadi yang lebih stabil di tengah dunia yang sulit diprediksi, ada beberapa kebiasaan psikologis yang dapat dilatih.

1. Biasakan Bertanya: “Apa yang Bisa Aku Kendalikan Hari Ini?”

Salah satu sumber stres terbesar manusia adalah mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendalinya.

Kita tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Kita tidak bisa mengendalikan keputusan perusahaan.

Kita tidak bisa mengendalikan kondisi ekonomi.

Kita tidak bisa memastikan hubungan akan berjalan sesuai keinginan.

Kita bahkan tidak bisa memastikan bahwa semua rencana yang kita buat akan terjadi.

Namun, ketika sesuatu terasa tidak pasti, pikiran manusia sering mencoba mendapatkan kembali rasa aman dengan memikirkan semua kemungkinan.

Masalahnya, memikirkan sesuatu tidak selalu sama dengan memiliki kendali atas sesuatu.

Kamu bisa menghabiskan tiga jam memikirkan kemungkinan terburuk, tetapi tiga jam itu tidak otomatis membuat kemungkinan tersebut menjadi lebih kecil.

Karena itu, salah satu kebiasaan yang membantu adalah memisahkan dua hal:

Apa yang bisa saya kendalikan?

dan

Apa yang harus saya terima sebagai ketidakpastian?

Misalnya, kamu sedang mencari pekerjaan.

Kamu tidak bisa mengendalikan apakah perusahaan akan memilihmu.

Tetapi kamu bisa mengendalikan berapa lamaran yang dikirim, bagaimana mempersiapkan wawancara, keterampilan apa yang dipelajari, dan bagaimana mengatur keuangan selama proses tersebut.

Atau ketika hubungan sedang mengalami masalah.

Kamu tidak bisa mengendalikan respons pasangan.

Tetapi kamu bisa mengendalikan bagaimana kamu berkomunikasi, batasan apa yang kamu tetapkan, dan bagaimana kamu menjaga dirimu sendiri.

Pertanyaan sederhana seperti:

“Apa satu hal yang bisa saya lakukan hari ini?”

sering kali jauh lebih berguna daripada:

“Bagaimana saya memastikan semuanya akan baik-baik saja?”

Karena pertanyaan kedua menuntut kepastian.

Sementara kehidupan hampir tidak pernah memberikan kepastian penuh.

Orang yang membumi tidak selalu tahu apa yang akan terjadi.

Mereka hanya tahu apa yang perlu dilakukan sekarang.

2. Kurangi Konsumsi Informasi yang Tidak Memberi Nilai

Kita hidup dalam era ketika informasi begitu mudah didapat.

Namun, akses terhadap informasi tidak selalu membuat pikiran lebih tenang.

Kadang justru sebaliknya.

Kita membuka satu berita, kemudian membaca komentar. Setelah itu melihat video pendek. Kemudian melihat unggahan orang lain. Lalu membaca sebuah prediksi. Kemudian mencari pendapat lain.

Tanpa sadar, otak terus menerima rangsangan.

Akhirnya kita merasa harus mengetahui semuanya.

Padahal, tidak semua informasi membutuhkan perhatian kita.

Psikologi mengenal keterbatasan kapasitas perhatian manusia. Ketika terlalu banyak rangsangan masuk, kemampuan kita untuk memproses informasi secara jernih juga dapat terganggu.

Karena itu, membumi di dunia modern juga berarti belajar mengatakan:

“Saya tidak perlu tahu semuanya.”

Kamu tidak harus membaca setiap berita.

Tidak semua perdebatan di internet perlu diikuti.

Tidak semua opini perlu dijawab.

Tidak semua tren harus diketahui.

Tidak semua kehidupan orang lain perlu dibandingkan dengan kehidupanmu.

Cobalah membuat batas informasi.

Misalnya:

menentukan waktu tertentu untuk membaca berita,
mengurangi konsumsi konten yang membuatmu terus membandingkan diri,
berhenti mengikuti akun yang hanya membuatmu cemas,
tidak membawa ponsel ke tempat tidur,
dan memberi waktu tertentu setiap hari tanpa media sosial.

Tujuannya bukan menjadi tidak peduli terhadap dunia.

Justru sebaliknya.

Dengan membatasi informasi yang masuk, kamu memberi otak ruang untuk memproses apa yang benar-benar penting.

Karena pikiran yang terus-menerus dibanjiri informasi akan sulit membedakan antara sesuatu yang penting dan sesuatu yang sekadar menarik perhatian.

3. Kembali ke Rutinitas Sederhana

Ketika dunia terasa tidak stabil, rutinitas sederhana bisa menjadi jangkar psikologis.

Bangun pada waktu yang relatif konsisten.

Merapikan tempat tidur.

Mandi.

Berjalan kaki.

Makan dengan teratur.

Bekerja sesuai jadwal.

Berolahraga.

Membereskan ruangan.

Tidur dengan cukup.

Semua itu terlihat sederhana.

Bahkan mungkin terlalu sederhana.

Tetapi justru kesederhanaan tersebut yang membuatnya penting.

Ketika banyak hal di luar diri kita berubah, rutinitas memberikan struktur yang bisa diprediksi.

Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi minggu depan.

Tetapi kita tahu bahwa pagi ini kita akan bangun, minum air, mandi, sarapan, lalu melakukan pekerjaan yang perlu diselesaikan.

Rutinitas tidak menghilangkan ketidakpastian.

Namun, rutinitas dapat memberikan rasa keteraturan di tengah ketidakpastian.

Ada sesuatu yang menenangkan dari mengetahui bahwa kehidupan sehari-hari masih memiliki beberapa bagian yang berada dalam kendali kita.

Karena itu, jangan meremehkan kebiasaan kecil.

Kamu tidak harus mengubah seluruh hidup untuk merasa lebih stabil.

Kadang kamu hanya perlu kembali kepada hal-hal dasar.

Makan dengan baik.

Tidur dengan cukup.

Bergerak.

Membersihkan ruang hidup.

Menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.

Berbicara dengan orang yang kamu percaya.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak terlihat spektakuler.

Tetapi kehidupan yang stabil sering dibangun dari tindakan-tindakan yang tidak spektakuler.

4. Belajar Menoleransi Ketidakpastian

Ini mungkin salah satu kebiasaan yang paling sulit.

Kita sering berpikir bahwa ketenangan akan datang setelah semua masalah selesai.

“Kalau pekerjaan sudah aman, saya akan tenang.”

“Kalau hubungan sudah jelas, saya akan tenang.”

“Kalau uang sudah cukup, saya akan tenang.”

“Kalau saya sudah tahu masa depan, saya akan tenang.”

Masalahnya, kehidupan tidak pernah benar-benar selesai memberikan ketidakpastian.

Satu masalah selesai, masalah lain muncul.

Satu pertanyaan terjawab, muncul pertanyaan berikutnya.

Karena itu, ketenangan tidak selalu berasal dari mendapatkan kepastian.

Terkadang ketenangan justru berasal dari kemampuan mengatakan:

“Saya belum tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya bisa menghadapinya ketika waktunya tiba.”

Ini adalah perubahan cara berpikir yang besar.

Daripada terus-menerus mencari kepastian, kita belajar meningkatkan kemampuan menghadapi ketidakpastian.

Misalnya, ketika menunggu sebuah keputusan penting, kamu mungkin tergoda untuk memeriksa ponsel setiap beberapa menit.

Tidak ada pesan.

Kamu memeriksa lagi.

Tidak ada perubahan.

Kemudian pikiran mulai membuat berbagai skenario.

Daripada mengikuti dorongan tersebut, kamu dapat melatih diri untuk mengatakan:

“Jawabannya belum ada sekarang. Saya akan mengurusnya ketika jawabannya datang.”

Ini bukan berarti mengabaikan masalah.

Ini berarti berhenti memaksa otak menyelesaikan sesuatu yang memang belum bisa diselesaikan.

5. Biasakan Berada di Dunia Nyata, Bukan Hanya di Dalam Kepala

Ada perbedaan besar antara hidup dan terus-menerus memikirkan kehidupan.

Seseorang bisa menghabiskan satu hari penuh memikirkan masa depan tanpa benar-benar melakukan sesuatu untuk masa depannya.

Bisa pula menghabiskan berjam-jam menganalisis percakapan dengan seseorang tanpa pernah benar-benar berbicara dengannya.

Kita semua pernah mengalaminya.

Pikiran membawa kita ke tempat yang belum terjadi.

Kemudian kita bereaksi secara emosional terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

Karena itu, salah satu cara untuk kembali membumi adalah kembali kepada pengalaman langsung.

Berjalan tanpa terus melihat ponsel.

Berbicara dengan seseorang secara langsung.

Memasak.

Berkebun.

Berolahraga.

Membersihkan rumah.

Membaca buku fisik.

Mengerjakan sesuatu dengan tangan.

Menikmati makanan tanpa sambil menggulir layar.

Kegiatan-kegiatan tersebut membuat perhatian kembali kepada tubuh dan lingkungan nyata.

Ketika pikiran terlalu sibuk, perhatikan hal-hal sederhana di sekitar.

Apa yang sedang kamu lihat?

Apa yang sedang kamu dengar?

Bagaimana tubuhmu terasa?

Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu perhatian kembali dari dunia kemungkinan menuju pengalaman saat ini.

Karena terkadang kita tidak membutuhkan jawaban untuk seluruh hidup.

Kita hanya perlu kembali ke momen yang sedang dijalani.

6. Ukur Kemajuan dari Dirimu Sendiri, Bukan dari Kecepatan Orang Lain

Salah satu hal yang membuat dunia modern terasa semakin melelahkan adalah kita hampir selalu melihat pencapaian orang lain.

Seseorang membeli rumah.

Seseorang menikah.

Seseorang mendapatkan pekerjaan baru.

Seseorang membangun bisnis.

Seseorang pergi ke luar negeri.

Seseorang mendapatkan penghargaan.

Seseorang terlihat bahagia.

Sementara kita melihat semuanya dari layar.

Kemudian muncul pertanyaan:

“Kenapa hidup saya belum seperti itu?”

Masalahnya, perbandingan sosial sering membuat kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain.

Kita melihat hasil mereka.

Kita tidak melihat seluruh prosesnya.

Kita melihat pencapaian.

Kita tidak melihat kegagalan yang terjadi sebelumnya.

Kita melihat foto bahagia.

Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.

Karena itu, salah satu kebiasaan yang membantu adalah mengubah ukuran keberhasilan.

Daripada bertanya:

“Apakah saya sudah sejauh orang lain?”

cobalah bertanya:

“Apakah saya lebih baik daripada diri saya beberapa waktu lalu?”

Mungkin tahun lalu kamu sangat sulit mengatakan tidak.

Sekarang kamu mulai bisa menetapkan batasan.

Mungkin dulu kamu selalu panik ketika menghadapi ketidakpastian.

Sekarang kamu mampu menunggu tanpa terus-menerus mencari jawaban.

Mungkin dulu kamu sangat bergantung pada validasi orang lain.

Sekarang kamu mulai percaya pada keputusanmu sendiri.

Itu semua adalah kemajuan.

Tidak semua perkembangan terlihat besar dari luar.

Sebagian perubahan paling penting justru terjadi diam-diam di dalam diri.

Pada Akhirnya, Menjadi Membumi Bukan Berarti Hidup Tanpa Ambisi

Ada kesalahpahaman bahwa hidup tenang berarti tidak memiliki target.

Padahal seseorang bisa sangat ambisius sekaligus sangat membumi.

Ia tetap ingin berkembang.

Tetap ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.

Tetap membuat rencana.

Tetap mengejar impian.

Tetapi ia tidak menggantungkan seluruh rasa aman pada hasil.

Ia memahami bahwa rencana bisa berubah.

Ia memahami bahwa kegagalan mungkin terjadi.

Ia memahami bahwa manusia lain tidak selalu bertindak sesuai harapan.

Dan ia memahami bahwa masa depan tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.

Yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin sambil tetap hidup di hari ini.

Mungkin inilah salah satu bentuk kedewasaan psikologis:

bukan mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi percaya bahwa kita dapat menghadapi apa pun yang akhirnya terjadi.

Jadi, ketika dunia terasa semakin sulit diprediksi, jangan hanya bertanya:

“Bagaimana caranya supaya hidup saya kembali pasti?”

Cobalah bertanya:

“Bagaimana caranya agar saya tetap stabil meskipun hidup tidak selalu pasti?”

Mulailah dari enam kebiasaan sederhana:

Fokus pada hal yang masih bisa kamu kendalikan.
Batasi informasi yang tidak benar-benar kamu butuhkan.
Bangun rutinitas sederhana yang memberi struktur.
Latih kemampuan menoleransi ketidakpastian.
Kembali ke pengalaman nyata daripada terus hidup di dalam pikiran.
Ukur perkembangan berdasarkan perjalananmu sendiri.

Kamu tidak harus mengetahui masa depan untuk merasa tenang.

Kamu hanya perlu memiliki pijakan yang cukup kuat untuk menjalani hari ini.

Dan terkadang, pijakan itu bukan sesuatu yang besar.

Ia terbentuk dari tidur yang cukup, percakapan yang jujur, pekerjaan yang diselesaikan, tubuh yang dirawat, batasan yang dijaga, informasi yang disaring, dan keberanian untuk berkata:

“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi untuk hari ini, saya akan menjalani apa yang ada di depan saya.

EDITOR: Hanny Suwindari