← Beranda
6 Alasan Mengapa Hal-Hal Buruk Kerap Menghampiri Orang-Orang Baik Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 23 September 2026 | 01.21 WIB
seseorang yang dihampiri hal-hal buruk./Magnific/seanpay52

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa seseorang yang dikenal baik, suka menolong, tidak banyak menyakiti orang lain, dan berusaha menjalani hidup dengan tulus justru sering menghadapi masalah?

Ia mungkin sudah berusaha memperlakukan orang lain dengan baik, tetapi tetap dikecewakan. Sudah berusaha jujur, tetapi justru dimanfaatkan. Sudah berusaha menghindari konflik, tetapi malah menjadi tempat pelampiasan emosi orang lain.

Situasi seperti ini sering memunculkan pertanyaan yang sulit dijawab: mengapa hal-hal buruk seolah-olah lebih sering datang kepada orang baik?

Dalam psikologi, sebenarnya tidak ada hukum yang menyatakan bahwa orang baik pasti lebih sering mengalami kejadian buruk. Kehidupan tidak bekerja berdasarkan prinsip bahwa kebaikan selalu langsung dibalas dengan keberuntungan. Namun, terdapat sejumlah pola psikologis dan sosial yang dapat membuat seseorang yang cenderung baik, empatik, atau terlalu mengutamakan orang lain menjadi lebih rentan terhadap situasi tertentu.

Dengan kata lain, persoalannya bukan karena kebaikan adalah penyebab masalah. Justru, cara seseorang menggunakan kebaikan, menetapkan batasan, menghadapi konflik, dan memahami perilaku orang lain dapat memengaruhi pengalaman yang mereka alami.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), terdapat enam alasan yang dapat membantu menjelaskan fenomena tersebut.

1. Orang yang Terlalu Baik Kadang Sulit Mengatakan “Tidak”

Salah satu alasan yang cukup sering muncul adalah kesulitan menetapkan batasan.

Orang yang memiliki empati tinggi biasanya mampu memahami kebutuhan dan perasaan orang lain. Mereka tidak ingin membuat orang lain kecewa. Ketika dimintai bantuan, mereka cenderung berpikir:

"Kalau saya tidak membantu, bagaimana nasib dia?"

Masalah muncul ketika pola tersebut berlangsung terus-menerus.

Seseorang akhirnya mengatakan "iya" meskipun sebenarnya sedang lelah, tidak punya waktu, atau bahkan merasa tidak nyaman. Pada awalnya mungkin terlihat sebagai bentuk kebaikan. Namun, jika berlangsung dalam jangka panjang, perilaku tersebut dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhannya sendiri.

Di sinilah pentingnya konsep personal boundaries atau batasan pribadi.

Batasan bukan berarti menjadi egois. Batasan merupakan cara seseorang menentukan apa yang dapat dan tidak dapat ia terima dalam hubungan dengan orang lain.

Misalnya, seseorang selalu bersedia membantu pekerjaan temannya. Lama-kelamaan, temannya mungkin menganggap bantuan tersebut sebagai sesuatu yang otomatis tersedia. Ketika bantuan terus diberikan tanpa batas, hubungan tersebut dapat berubah menjadi hubungan yang tidak seimbang.

Yang perlu dipahami adalah bahwa orang lain belum tentu sengaja memanfaatkan seseorang. Namun, ketika batasan tidak pernah dinyatakan, orang lain mungkin tidak mengetahui kapan mereka sudah melewati batas tersebut.

Karena itu, menjadi orang baik tidak harus berarti selalu tersedia.

Anda tetap boleh mengatakan tidak.

Menolak sebuah permintaan yang tidak sanggup Anda lakukan bukan berarti Anda menjadi orang jahat. Justru kemampuan mengatakan "tidak" dapat membantu menjaga hubungan agar tetap sehat.

2. Empati yang Tinggi Dapat Membuat Seseorang Terlalu Memahami Orang Lain

Empati merupakan kemampuan yang sangat berharga. Dengan empati, seseorang dapat memahami perasaan, perspektif, dan pengalaman orang lain.

Namun, empati yang tidak disertai batasan dapat menjadi melelahkan.

Orang yang sangat mudah memahami orang lain terkadang terlalu cepat mencari alasan atas perilaku buruk yang diterimanya.

Ketika seseorang menyakitinya, misalnya, ia mungkin berkata:

"Mungkin dia sedang banyak masalah."

Ketika seseorang berbohong:

"Mungkin dia takut mengatakan yang sebenarnya."

Ketika seseorang terus mengecewakan:

"Mungkin dia sebenarnya tidak bermaksud seperti itu."

Memahami alasan di balik perilaku seseorang memang dapat membantu kita menjadi lebih bijaksana. Tetapi memahami seseorang tidak sama dengan membenarkan perilakunya.

Dalam hubungan yang sehat, empati perlu berjalan bersama dengan kemampuan melindungi diri.

Seseorang dapat memahami bahwa orang lain sedang mengalami masalah sekaligus mengatakan:

"Saya mengerti kamu sedang kesulitan, tetapi saya tidak bisa menerima cara kamu memperlakukan saya."

Ini adalah bentuk empati yang memiliki batas.

Tanpa batas tersebut, seseorang dapat terjebak dalam pola hubungan yang terus menguras energi. Ia terus memberikan pengertian, sementara kebutuhan dan perasaannya sendiri semakin lama semakin diabaikan.

3. Orang yang Menghindari Konflik Bisa Lebih Mudah Menyimpan Masalah

Tidak semua orang nyaman menghadapi konflik.

Sebagian orang memilih diam karena menganggap konflik hanya akan memperburuk keadaan. Mereka berharap masalah akan hilang dengan sendirinya.

Dalam beberapa situasi, menghindari konflik memang dapat mencegah pertengkaran yang tidak perlu. Namun, jika seseorang selalu menghindari percakapan sulit, masalah justru dapat menumpuk.

Misalnya, seseorang merasa tidak dihargai oleh rekannya. Ia memilih diam.

Beberapa minggu kemudian, perlakuan yang sama terjadi lagi. Ia tetap diam.

Lama-kelamaan, rasa kecewa semakin besar. Namun, karena tidak pernah dikomunikasikan, orang lain mungkin tidak memahami bahwa perilakunya telah menimbulkan masalah.

Pada akhirnya, seseorang dapat mengalami ledakan emosi setelah terlalu lama menahan semuanya.

Dalam psikologi komunikasi, kemampuan menyampaikan kebutuhan secara jelas dan tegas merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

Bersikap asertif berbeda dengan bersikap agresif.

Agresif berarti memaksakan kehendak dengan mengabaikan orang lain. Sebaliknya, asertif berarti menyampaikan kebutuhan dan batasan dengan tetap menghargai diri sendiri maupun orang lain.

Contohnya:

"Saya tidak nyaman jika dibicarakan seperti itu. Kalau ada masalah dengan saya, saya lebih baik kita bicarakan secara langsung."

Kalimat seperti ini tidak menunjukkan bahwa seseorang menjadi jahat.

Justru, ia sedang belajar melindungi dirinya tanpa harus menyakiti orang lain.

4. Kebaikan yang Terus-Menerus Diberikan Bisa Membentuk Hubungan yang Tidak Seimbang

Ada perbedaan antara menolong dan selalu menjadi penyelamat.

Seseorang mungkin terbiasa membantu teman, keluarga, pasangan, atau rekan kerja. Ketika orang lain memiliki masalah, ia menjadi orang pertama yang dicari.

Pada awalnya, kondisi ini terasa menyenangkan. Ia merasa dibutuhkan.

Namun, lama-kelamaan dapat muncul pola yang tidak sehat.

Satu pihak selalu memberi.

Pihak lain selalu menerima.

Satu pihak selalu mendengarkan.

Pihak lain selalu bercerita.

Satu pihak selalu memahami.

Pihak lain jarang berusaha memahami.

Ketika pola ini berlangsung lama, orang yang selalu memberi dapat mengalami kelelahan emosional.

Masalahnya bukan pada tindakan membantu itu sendiri. Masalah muncul ketika hubungan hanya dapat berjalan jika satu orang terus-menerus berkorban.

Hubungan yang sehat membutuhkan timbal balik, meskipun bentuknya tidak harus selalu sama.

Kadang kita membantu orang lain hari ini, dan suatu hari mereka membantu kita. Kadang seseorang memberikan dukungan emosional ketika kita sedang jatuh. Bentuknya bisa berbeda, tetapi terdapat rasa saling menghargai.

Karena itu, penting untuk bertanya kepada diri sendiri:

"Apakah hubungan ini benar-benar saling mendukung, atau saya hanya selalu menjadi pihak yang memberi?"

Pertanyaan tersebut bukan tanda bahwa seseorang mulai menjadi perhitungan.

Ini adalah bentuk evaluasi terhadap kesehatan sebuah hubungan.

5. Pengalaman Buruk Lebih Mudah Diingat daripada Banyak Hal Baik

Ada alasan psikologis lain yang sering membuat seseorang merasa bahwa hidupnya dipenuhi kejadian buruk.

Otak manusia memiliki kecenderungan untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap pengalaman negatif. Fenomena ini sering dibahas sebagai negativity bias.

Satu komentar buruk dapat terasa lebih membekas dibandingkan sepuluh pujian.

Satu kegagalan dapat membuat seseorang melupakan berbagai keberhasilan yang pernah dicapainya.

Satu orang yang menyakitinya dapat membuat ia merasa seolah-olah semua orang akan melakukan hal yang sama.

Contohnya sederhana.

Bayangkan seseorang mendapatkan 20 komentar positif mengenai pekerjaannya. Namun, ada satu komentar yang mengatakan bahwa pekerjaannya buruk.

Pada malam hari, komentar mana yang kemungkinan besar terus dipikirkannya?

Bisa jadi komentar negatif tersebut.

Ini bukan berarti pengalaman positif tidak penting. Namun, perhatian manusia memang dapat lebih mudah tertarik pada ancaman, kesalahan, dan pengalaman yang dianggap negatif.

Akibatnya, seseorang dapat memiliki persepsi bahwa:

"Kenapa saya selalu mendapatkan hal buruk?"

Padahal, ketika seluruh pengalaman hidupnya dilihat secara lebih objektif, mungkin terdapat banyak hal baik yang selama ini tidak mendapatkan perhatian sebesar pengalaman buruk.

Karena itu, ketika mengalami masa sulit, penting untuk membedakan antara "saya sedang mengalami banyak masalah" dan "hidup saya selalu buruk."

Keduanya tidak selalu memiliki arti yang sama.

6. Orang Baik Tetap Hidup di Dunia yang Tidak Selalu Adil

Ini mungkin alasan yang paling sulit diterima.

Menjadi orang baik tidak memberikan jaminan bahwa seseorang akan terbebas dari penderitaan.

Orang baik tetap dapat kehilangan pekerjaan.

Orang baik dapat mengalami kegagalan.

Orang baik dapat dikhianati.

Orang baik dapat membuat keputusan yang salah.

Orang baik dapat bertemu dengan orang yang tidak memperlakukannya dengan baik.

Dalam kehidupan nyata, hasil tidak selalu sebanding dengan niat.

Seseorang dapat melakukan hal yang benar dan tetap mendapatkan hasil yang mengecewakan. Sebaliknya, orang lain dapat melakukan sesuatu yang buruk dan untuk sementara mendapatkan keuntungan.

Psikologi tidak memberikan bukti bahwa dunia selalu memberikan penghargaan langsung kepada orang yang berbuat baik.

Karena itu, salah satu bentuk kedewasaan psikologis adalah menerima kenyataan bahwa kebaikan bukanlah transaksi yang menjamin imbalan.

Kita berbuat baik bukan karena dengan demikian hidup pasti akan selalu baik kepada kita.

Namun, menerima kenyataan tersebut juga bukan berarti seseorang harus membiarkan dirinya diperlakukan buruk.

Kebaikan dan perlindungan diri dapat berjalan bersama.

Kita dapat tetap menjadi orang yang peduli sekaligus memiliki batas.

Kita dapat memaafkan tanpa kembali mempercayai seseorang sepenuhnya.

Kita dapat memahami seseorang tanpa membiarkan dirinya terus menyakiti kita.

Kita dapat membantu orang lain tanpa mengorbankan seluruh diri sendiri.

Jadi, Apakah Menjadi Orang Baik Membuat Seseorang Lebih Mudah Disakiti?

Tidak sesederhana itu.

Masalahnya bukan pada kebaikan itu sendiri.

Yang mungkin meningkatkan kerentanan adalah ketika kebaikan disertai dengan pola seperti sulit mengatakan tidak, takut mengecewakan orang lain, menghindari konflik, mengabaikan kebutuhan diri sendiri, atau terus mempertahankan hubungan yang tidak sehat.

Dengan kata lain, menjadi baik tidak harus berarti menjadi tanpa batas.

Seseorang dapat tetap memiliki hati yang lembut tanpa membiarkan orang lain menginjaknya.

Seseorang dapat tetap peduli tanpa selalu menjadi penyelamat.

Seseorang dapat tetap memaafkan tanpa harus memberikan kesempatan yang sama berulang kali.

Dan seseorang dapat tetap memiliki empati tanpa mengorbankan kesehatan dirinya sendiri.

Kebaikan yang Sehat Memerlukan Batasan

Ada perbedaan besar antara:

"Saya membantu karena saya peduli."

dan

"Saya membantu karena saya takut jika tidak membantu, orang lain akan membenci saya."

Ada perbedaan antara:

"Saya memaafkan karena saya ingin berdamai."

dan

"Saya memaafkan karena saya takut kehilangan hubungan meskipun saya terus disakiti."

Ada pula perbedaan antara:

"Saya memahami keadaanmu."

dan

"Karena saya memahami keadaanmu, saya membiarkanmu memperlakukan saya sesuka hati."

Kebaikan yang sehat tidak mengharuskan seseorang menghilangkan dirinya sendiri.

Justru, semakin seseorang memahami dirinya, semakin ia dapat menentukan kapan harus membantu, kapan harus berhenti, kapan harus memaafkan, dan kapan harus mengambil jarak.

Kesimpulan

Perasaan bahwa "orang baik selalu mendapatkan hal buruk" memang dapat muncul ketika seseorang mengalami serangkaian kekecewaan. Namun, psikologi menunjukkan bahwa pengalaman tersebut perlu dilihat secara lebih kompleks.

Kesulitan mengatakan tidak, empati tanpa batas, kecenderungan menghindari konflik, hubungan yang tidak seimbang, kecenderungan memperhatikan pengalaman negatif, serta kenyataan bahwa hidup memang tidak selalu adil dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang merasa dirinya terus-menerus menghadapi masalah.

Yang terpenting, pengalaman buruk bukan bukti bahwa seseorang terlalu baik.

Dan menjadi baik bukan berarti harus selalu mengalah.

Jadilah baik, tetapi jangan kehilangan batas.

Miliki empati, tetapi jangan abaikan diri sendiri.

Maafkan orang lain, tetapi tetap belajar dari apa yang terjadi.

Karena kebaikan yang sehat bukanlah tentang memberikan seluruh diri kepada orang lain. Kebaikan yang sehat adalah kemampuan memperlakukan orang lain dengan manusiawi tanpa berhenti memperlakukan diri sendiri dengan penuh penghargaan.

EDITOR: Hanny Suwindari