← Beranda
10 Kebiasaan Kerja Remote dari Rumah yang Terlihat Aneh tapi Justru Meningkatkan Produktivitas WFH
Mohammad Maulana Iqbal• Selasa, 22 September 2026 | 20.12 WIB
Kebiasaan kerja remote yang aneh tapi meningkatkan produktivitas WFH menurut Psikologi / foto : Magnific/ DC Studio

JawaPos.com - Kebiasaan kerja dari rumah yang terlihat aneh sebenarnya memiliki alasan kuat yang mendukung produktivitas WFH secara nyata.

Kebiasaan unik work from home yang berkembang selama bekerja jarak jauh bukan sekadar eksentrik melainkan cerminan adaptasi cerdas terhadap lingkungan kerja yang berbeda.

Psikologi menjelaskan bahwa batas antara ruang pribadi dan profesional yang kabur mendorong munculnya kebiasaan kerja dari rumah yang tidak konvensional.

Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (22/9), berikut sepuluh kebiasaan unik work from home yang secara psikologi pekerja remote justru terbukti mendukung produktivitas WFH dan kesejahteraan mental.

Baca Juga: Ternyata Sederhana, 10 Kebiasaan Ini Bikin Kamu Lebih Menyenangkan bagi Orang Lain

1. Bekerja dengan pakaian tidur sepanjang hari

Banyak pekerja remote tetap mengenakan pakaian santai atau bahkan pakaian tidur sepanjang hari kerja mereka dari rumah.

Kebiasaan ini sebenarnya mengurangi tekanan mental yang tidak perlu dan memberi kenyamanan fisik yang membantu seseorang tetap fokus lebih lama.

Riset menunjukkan bahwa kenyamanan fisik berkontribusi pada suasana kerja yang lebih rileks sehingga kreativitas dan konsentrasi bisa terjaga dengan baik.

2. Mengobrol dengan hewan peliharaan saat bekerja

Pekerja remote sering berbicara kepada kucing, anjing, atau hewan peliharaan lainnya seolah mereka adalah rekan kerja di kantor nyata.

Kebiasaan ini secara ilmiah terbukti membantu mengurangi stres dan memberikan stimulasi sosial yang dibutuhkan otak saat bekerja dalam isolasi relatif.

Interaksi dengan hewan peliharaan juga membantu mengatur ritme kerja dan memberi jeda emosional yang menyegarkan di tengah sesi kerja panjang.

3. Menetapkan ritual aneh sebagai penanda mulai dan selesai kerja

Karena tidak ada perjalanan ke kantor, banyak pekerja remote menciptakan ritual unik seperti berjalan keliling blok atau menyeduh kopi secara khusus.

Ritual ini berfungsi sebagai sinyal psikologis yang memberitahu otak bahwa mode kerja dimulai atau telah berakhir pada hari itu.

Tanpa penanda yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi, pekerja remote berisiko mengalami burnout karena keduanya menjadi kabur.

4. Memutar musik atau podcast tanpa tujuan produktif tertentu

Banyak pekerja remote membiarkan musik latar atau podcast mengalir sepanjang hari bukan untuk belajar melainkan sekadar mengisi keheningan rumah.

Kebiasaan ini membantu menciptakan ilusi suasana kantor yang ramai sehingga otak tidak merasa terlalu terisolasi saat bekerja sendirian.

Stimulasi audio yang konsisten terbukti membantu beberapa orang mempertahankan fokus lebih lama terutama untuk pekerjaan yang bersifat repetitif.

5. Berpindah lokasi kerja di dalam rumah sepanjang hari

Bekerja di meja, kemudian pindah ke sofa, lalu ke meja makan adalah pola yang sangat umum di kalangan pekerja remote produktif.

Perpindahan lokasi ini ternyata membantu menjaga stimulasi otak agar tidak bosan dengan satu lingkungan visual yang terlalu monoton.

Penelitian mendukung gagasan bahwa perubahan lingkungan fisik dapat meningkatkan kreativitas dan membantu mengatasi kebuntuan saat bekerja.

6. Melakukan rapat virtual sambil berdiri atau berjalan

Banyak pekerja remote mengikuti panggilan konferensi sambil berjalan di dalam rumah atau bahkan di sekitar halaman mereka.

Gerakan fisik ringan saat rapat terbukti meningkatkan aliran darah ke otak yang secara langsung berkontribusi pada kejernihan berpikir.

Kebiasaan ini juga membantu mengurangi kelelahan yang sering muncul akibat duduk terlalu lama di depan layar komputer.

7. Makan siang pada waktu yang tidak lazim

Pekerja remote sering makan lebih awal atau lebih lambat dari jam makan siang konvensional tergantung pada ritme alami tubuh mereka.

Fleksibilitas ini sebenarnya memungkinkan seseorang makan sesuai dengan rasa lapar yang sesungguhnya bukan berdasarkan jadwal kantor yang kaku.

Makan sesuai sinyal tubuh terbukti lebih baik untuk metabolisme dan konsentrasi dibandingkan makan pada waktu yang ditentukan secara eksternal.

8. Bekerja dalam kondisi pencahayaan yang sangat minim

Beberapa pekerja remote lebih suka bekerja dengan lampu redup atau bahkan hanya mengandalkan cahaya layar komputer di ruangan gelap.

Preferensi pencahayaan yang lebih rendah membantu sebagian orang mengurangi kelelahan mata dan menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk konsentrasi mendalam.

Setiap orang memiliki preferensi sensoris yang berbeda dan lingkungan kerja yang optimal sangat personal tergantung pada kebutuhan masing-masing individu.

9. Mengetik atau bekerja dari lantai

Duduk di lantai dengan laptop di atas bantal atau tatanan buku adalah pemandangan umum di tempat kerja para pekerja remote.

Posisi ini memberi variasi postur tubuh yang sebenarnya cukup bermanfaat sebagai jeda dari duduk terus-menerus di kursi yang sama.

Meski tidak selalu ideal secara ergonomis, variasi posisi kerja membantu menjaga tubuh tetap aktif dan pikiran tetap segar.

10. Membiarkan televisi menyala sebagai latar belakang

Banyak pekerja remote membiarkan televisi menyala sepanjang hari kerja meskipun mereka tidak benar-benar menontonnya dengan serius.

Suara latar dari televisi memberikan stimulasi auditori yang membantu mengurangi perasaan terlalu sunyi yang bisa membuat seseorang kehilangan fokus.

Kebiasaan ini mencerminkan kebutuhan manusiawi akan kehadiran sosial bahkan dalam bentuk suara yang tidak langsung dan tidak interaktif.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho