← Beranda
Bukan Selalu Soal Nasib, 7 Kebiasaan Ini Diam-Diam Bisa Bikin Hidup Terasa Kurang Beruntung
Rabbany Wanadriani• Senin, 21 September 2026 | 04.03 WIB
ilustrasi orang yang kurang beruntung. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com - Banyak orang pernah berada pada fase ketika berbagai persoalan datang bertubi-tubi hingga membuat hidup terasa kurang beruntung. Kondisi tersebut kemudian kerap dikaitkan dengan nasib atau keberuntungan yang dianggap tidak berpihak.

Padahal, perasaan selalu mendapat kemalangan tidak selalu berkaitan dengan faktor keberuntungan. Cara berpikir, kebiasaan sehari-hari, serta lingkungan tempat seseorang bergaul juga dapat memengaruhi bagaimana ia menghadapi berbagai kesempatan dan tantangan dalam hidup.

Dilansir Psychology Magazine, terdapat sejumlah kebiasaan yang dapat membuat seseorang terjebak dalam pola pikir negatif dan merasa seolah-olah hidupnya terus dipenuhi kesialan. Berikut tujuh kebiasaan yang patut dievaluasi dan perlahan ditinggalkan:

Baca Juga: Jika Kamu Ingin Mempraktikkan Rasa Syukur dengan Baik, Lakukan 6 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

1. Terlalu berharap pada keberuntungan

Menunggu keadaan berubah hanya karena berharap bantuan dari semesta dapat membuat seseorang menjadi pasif. Alih-alih mengambil langkah nyata, ia justru menanti kesempatan datang dengan sendirinya.

Padahal, keberhasilan umumnya membutuhkan usaha, keputusan, dan keberanian untuk mengambil tindakan. Mengandalkan keberuntungan semata justru berisiko menimbulkan kekecewaan ketika hasil yang diharapkan tidak kunjung datang.

2. Terus terjebak dalam masa lalu

Mengingat pengalaman lama merupakan hal yang wajar, terutama ketika seseorang ingin belajar dari kesalahan. Namun, terlalu lama memikirkan penyesalan, kegagalan, atau kesempatan yang sudah berlalu dapat menghambat langkah berikutnya.

Masa lalu sebaiknya dijadikan bahan pembelajaran, bukan tempat untuk terus menetap. Fokus pada apa yang masih bisa dilakukan hari ini dapat membantu seseorang bergerak menuju perubahan.

3. Menghindari kerja keras

Keinginan mendapatkan hasil secara cepat sering membuat seseorang tergoda mencari jalan pintas. Padahal, pencapaian yang bertahan dalam jangka panjang biasanya membutuhkan proses, konsistensi, dan ketekunan.

Kemajuan teknologi memang membuat berbagai pekerjaan menjadi lebih mudah, tetapi usaha dan kedisiplinan tetap memiliki peran penting dalam mencapai tujuan.

4. Terlalu lama berada di lingkungan negatif

Lingkungan pergaulan dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan. Jika setiap hari dikelilingi orang yang gemar mengeluh, bergosip, atau hanya melihat sisi buruk dari suatu keadaan, pola tersebut dapat ikut memengaruhi pola pikir.

Karena itu, penting untuk memperhatikan lingkungan sosial dan memilih hubungan yang dapat memberikan dukungan serta mendorong perkembangan diri.

5. Selalu menyalahkan orang lain

Ketika menghadapi kegagalan, menyalahkan keadaan atau orang lain mungkin terasa lebih mudah daripada mengevaluasi diri sendiri. Namun, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Daripada terus mencari pihak yang dianggap bersalah, akan lebih bermanfaat jika seseorang mengidentifikasi bagian yang masih berada dalam kendalinya dan mencari langkah perbaikan.

6. Sulit menerima perubahan

Kehidupan terus bergerak dan perubahan tidak dapat selalu dihindari. Mereka yang terlalu mempertahankan cara lama tanpa mempertimbangkan keadaan baru dapat mengalami kesulitan ketika lingkungan di sekitarnya berubah.

Kemampuan beradaptasi menjadi penting, baik ketika menghadapi perkembangan teknologi, perubahan pekerjaan, maupun perubahan dalam hubungan sosial.

7. Selalu menolak bantuan

Keinginan untuk terlihat mandiri terkadang membuat seseorang enggan menerima bantuan dari orang lain. Padahal, mencoba menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri dapat meningkatkan beban dan membuat seseorang lebih mudah mengalami kelelahan.

Menerima bantuan ketika memang diperlukan bukan berarti kehilangan kemandirian. Dukungan dari orang lain justru dapat menjadi bagian dari proses menghadapi masalah dan mencapai tujuan.

 
 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho