← Beranda
6 Alasan Mengapa Sangat Sulit bagi Orang Tua untuk Meminta Maaf kepada Anak-Anak Mereka
Irfan FerdiansyahSenin, 21 September 2026 | 02.32 WIB
seseorang yang sulit meminta maaf kepada anaknya / foto: Magnific/bearfotos
 
JawaPos.com - Meminta maaf kepada anak mungkin terdengar sederhana. Hanya perlu mengatakan, “Maaf, Ayah salah,” atau “Ibu seharusnya tidak berkata seperti itu.” Namun, bagi sebagian orang tua, mengucapkan kalimat tersebut justru terasa sangat berat.

Ada orang tua yang sebenarnya sadar bahwa dirinya telah berbuat salah, tetapi memilih diam. Ada yang mencoba mengganti permintaan maaf dengan memberikan hadiah. Ada pula yang mengatakan, “Ibu melakukan itu karena kamu nakal,” sehingga permintaan maaf berubah menjadi pembenaran.

Padahal, dari sudut pandang psikologi, kemampuan orang tua untuk mengakui kesalahan memiliki peran penting dalam hubungan dengan anak. Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu benar. Mereka membutuhkan orang tua yang mampu menunjukkan bahwa kesalahan dapat diakui, hubungan dapat diperbaiki, dan seseorang tetap memiliki harga diri meskipun mengakui bahwa dirinya keliru.

Lalu, mengapa meminta maaf kepada anak terasa begitu sulit bagi sebagian orang tua?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), terdapat enam alasan psikologis yang dapat menjelaskannya.

1. Meminta maaf terasa seperti kehilangan otoritas sebagai orang tua

Salah satu alasan paling umum adalah anggapan bahwa orang tua harus selalu menjadi pihak yang paling benar.

Dalam banyak keluarga, posisi orang tua secara otomatis dianggap sebagai pihak yang memiliki otoritas. Anak harus mendengarkan, menghormati, dan mengikuti aturan. Karena itu, ketika orang tua melakukan kesalahan, mengakui kesalahan tersebut terkadang terasa seperti kehilangan posisi.

Ada pikiran seperti:

“Kalau saya minta maaf kepada anak, nanti dia tidak menghormati saya.”

Atau:

“Saya ini orang tuanya. Mengapa saya harus meminta maaf kepadanya?”

Padahal, otoritas dan kemampuan meminta maaf sebenarnya bukan dua hal yang bertentangan.

Orang tua tetap dapat menjadi pemimpin dalam keluarga sambil mengakui kesalahan. Bahkan, ketika seorang anak melihat orang tuanya mampu berkata, “Tadi Ayah salah,” anak mendapatkan contoh konkret mengenai bagaimana seseorang menggunakan otoritas secara sehat.

Masalahnya adalah sebagian orang tua memahami otoritas sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dengan cara tidak pernah terlihat salah.

Dalam pola seperti ini, mengakui kesalahan dapat terasa mengancam identitas mereka sebagai orang tua.

Secara psikologis, ini berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk mempertahankan citra dirinya. Kita cenderung ingin melihat diri sebagai orang yang baik, kompeten, dan benar. Ketika sebuah tindakan menunjukkan bahwa kita mungkin telah menyakiti orang lain, muncul ketidaknyamanan psikologis.

Salah satu cara mengurangi ketidaknyamanan tersebut adalah dengan membela diri.

Misalnya:

“Ayah marah karena kamu memang membuat Ayah kesal.”

Kalimat tersebut menggeser fokus dari kesalahan orang tua kepada perilaku anak.

Anak memang bisa melakukan kesalahan. Tetapi kesalahan anak tidak otomatis membuat semua respons orang tua menjadi benar.

Orang tua dapat mengatakan:

“Kamu memang melakukan kesalahan. Tetapi cara Ayah membentakmu tadi juga salah. Ayah minta maaf.”

Ini justru menunjukkan bentuk otoritas yang lebih matang.

Anak belajar bahwa seseorang tidak kehilangan kewibawaan hanya karena mengakui kesalahan.

2. Mereka dibesarkan oleh orang tua yang juga tidak pernah meminta maaf

Pola pengasuhan sering kali diwariskan bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui contoh.

Seorang anak yang tumbuh dalam keluarga di mana orang tua jarang meminta maaf mungkin tidak pernah melihat bagaimana sebuah konflik diperbaiki secara sehat.

Ketika melakukan kesalahan, orang tua mungkin diam.

Ketika marah, orang tua mungkin menganggap waktu akan menyelesaikan semuanya.

Ketika menyakiti anak, mereka mungkin menganggap memberikan makanan, uang, hadiah, atau memenuhi kebutuhan anak sudah cukup sebagai bentuk penebusan.

Akibatnya, anak tersebut dapat tumbuh tanpa memiliki model yang jelas tentang bagaimana meminta maaf.

Ketika kemudian menjadi orang tua, pola tersebut dapat terbawa ke generasi berikutnya.

Bukan karena mereka sengaja ingin menyakiti anak, tetapi karena itulah satu-satunya pola hubungan yang mereka kenal.

Mereka mungkin pernah mendengar:

“Orang tua tidak boleh meminta maaf kepada anak.”

Atau:

“Dulu orang tua saya juga keras, tetapi saya baik-baik saja.”

Kalimat seperti ini dapat membuat seseorang menganggap perilaku yang diwariskan sebagai sesuatu yang normal.

Padahal, sesuatu yang umum terjadi dalam sebuah keluarga tidak selalu berarti sesuatu yang sehat.

Di sinilah pentingnya memahami konsep intergenerational patterns, yaitu pola hubungan dan perilaku yang dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Seorang ayah yang dulu tidak pernah mendapatkan permintaan maaf dari ayahnya mungkin tidak tahu bagaimana harus meminta maaf kepada anaknya sekarang.

Bukan berarti ia tidak mampu belajar.

Justru ketika seseorang menyadari pola tersebut, ia memiliki kesempatan untuk menghentikannya.

Ia dapat menjadi orang pertama dalam keluarganya yang berkata:

“Ayah tahu dulu Ayah salah. Seharusnya Ayah tidak memperlakukan kamu seperti itu.”

Kalimat sederhana tersebut dapat menjadi awal dari perubahan pola hubungan dalam keluarga.

3. Rasa malu membuat mereka lebih memilih membela diri daripada mengakui kesalahan

Ada perbedaan antara rasa bersalah dan rasa malu.

Rasa bersalah biasanya berkaitan dengan pikiran:

“Saya melakukan sesuatu yang salah.”

Sementara rasa malu lebih dekat dengan:

“Saya adalah orang yang buruk.”

Perbedaan ini penting.

Ketika orang tua merasa bersalah, mereka mungkin terdorong untuk memperbaiki tindakan.

Namun ketika kesalahan membuat mereka merasa sangat malu, mereka dapat merasa terancam secara emosional.

Misalnya, seorang ibu membentak anaknya dengan sangat keras karena anak mendapatkan nilai buruk.

Setelah emosi mereda, ia mungkin menyadari bahwa reaksinya berlebihan.

Tetapi kemudian muncul pikiran:

“Bagaimana mungkin saya menjadi ibu yang seperti itu?”

Rasa malu tersebut dapat membuatnya sulit menghadapi anak.

Alih-alih mengatakan:

“Ibu salah karena tadi membentakmu,”

ia mungkin memilih menghindari pembicaraan.

Atau bahkan mengatakan:

“Kalau kamu tidak membuat Ibu marah, Ibu juga tidak akan membentak.”

Mengapa?

Karena mengakui kesalahan berarti harus berhadapan dengan rasa tidak nyaman tentang diri sendiri.

Dalam kondisi tertentu, manusia akan berusaha melindungi harga dirinya dengan menyangkal, membenarkan diri, menyalahkan orang lain, atau menghindari pembicaraan.

Karena itu, orang tua yang sulit meminta maaf tidak selalu tidak memiliki penyesalan.

Sebagian justru mungkin merasa sangat bersalah, tetapi tidak memiliki keterampilan emosional untuk menghadapi rasa bersalah tersebut.

Mereka membutuhkan kemampuan untuk memisahkan dua hal:

“Saya melakukan kesalahan” bukan berarti “Saya adalah orang tua yang sepenuhnya buruk.”

Seseorang dapat menjadi orang tua yang mencintai anaknya sekaligus melakukan kesalahan.

Mengakui kesalahan justru memungkinkan seseorang memperbaikinya.

4. Mereka takut permintaan maaf akan digunakan anak untuk melawan mereka

Sebagian orang tua memiliki kekhawatiran lain:

“Kalau saya mengaku salah, nanti anak akan menggunakan itu untuk melawan saya.”

Kekhawatiran ini terutama dapat muncul dalam keluarga yang hubungan antara orang tua dan anak sudah penuh konflik.

Orang tua mungkin takut anak akan berkata:

“Kan Ayah sendiri mengakui Ayah salah.”

Kemudian setiap keputusan orang tua dipertanyakan.

Karena itu, mereka memilih tidak memberikan pengakuan sama sekali.

Namun, permintaan maaf tidak harus berarti menyerahkan seluruh otoritas kepada anak.

Orang tua dapat mengakui satu kesalahan tanpa membatalkan semua aturan yang ada.

Contohnya:

“Ayah minta maaf karena tadi membentak kamu. Cara Ayah berbicara tidak benar. Tetapi aturan bahwa kamu harus menyelesaikan tugas sekolah tetap berlaku.”

Ada dua hal yang berbeda di sini.

Pertama, orang tua bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri.

Kedua, anak tetap bertanggung jawab terhadap perilakunya.

Keduanya dapat benar secara bersamaan.

Orang tua tidak perlu memilih antara meminta maaf dan tetap menjadi orang tua.

Mereka dapat melakukan keduanya.

Bahkan, ketika permintaan maaf dilakukan dengan tepat, anak dapat belajar bahwa batasan dan tanggung jawab tetap penting meskipun seseorang mengakui kesalahan.

5. Mereka menganggap permintaan maaf sebagai tanda kelemahan

Dalam sebagian budaya keluarga, menjadi kuat berarti tidak menunjukkan kerentanan.

Menangis dianggap lemah.

Mengakui ketakutan dianggap lemah.

Mengatakan “Saya salah” juga dianggap lemah.

Pola seperti ini dapat membuat orang tua kesulitan menunjukkan sisi manusiawi mereka kepada anak.

Mereka mungkin berpikir bahwa anak harus melihat mereka sebagai sosok yang kuat setiap saat.

Namun, kekuatan psikologis tidak selalu berarti mampu menyembunyikan kesalahan.

Ada bentuk kekuatan lain yang lebih matang: kemampuan menghadapi kenyataan yang tidak nyaman.

Mengatakan:

“Ayah salah.”

membutuhkan keberanian.

Mengatakan:

“Ucapan Ibu tadi menyakiti kamu dan Ibu menyesal.”

juga membutuhkan kerendahan hati.

Dan ketika orang tua mampu melakukan itu, anak belajar sesuatu yang sangat penting: seseorang tidak harus sempurna untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Anak juga belajar bahwa hubungan tidak selalu berjalan tanpa konflik.

Yang penting adalah bagaimana konflik tersebut diperbaiki.

Dalam hubungan yang sehat, konflik bukan selalu tanda bahwa hubungan gagal. Konflik dapat menjadi kesempatan untuk belajar mengenai komunikasi, batasan, empati, dan tanggung jawab.

Karena itu, meminta maaf kepada anak bukan sekadar mengatakan dua kata.

Ini adalah proses memperlihatkan kepada anak bagaimana seseorang menghadapi konsekuensi dari perilakunya.

6. Mereka tidak tahu bagaimana meminta maaf tanpa merasa harus membenarkan diri

Alasan terakhir mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat penting.

Sebagian orang tua sebenarnya ingin meminta maaf, tetapi tidak tahu caranya.

Akhirnya permintaan maaf terdengar seperti:

“Maaf kalau kamu merasa tersinggung.”

atau:

“Maaf, tapi kamu juga yang membuat Ayah marah.”

atau:

“Ya sudah, Ayah minta maaf. Jangan dibahas lagi.”

Secara psikologis, kalimat seperti ini dapat membuat proses perbaikan hubungan menjadi tidak efektif karena kesalahan belum benar-benar diakui.

Permintaan maaf yang lebih sehat biasanya memiliki beberapa unsur.

Pertama, mengakui perilaku secara spesifik.

“Tadi Ayah membentak kamu.”

Kedua, mengakui dampaknya.

“Ayah tahu itu membuat kamu takut dan sedih.”

Ketiga, mengambil tanggung jawab tanpa langsung menyalahkan anak.

“Itu salah Ayah.”

Keempat, menyampaikan penyesalan.

“Ayah minta maaf.”

Kelima, jika memungkinkan, menunjukkan rencana untuk memperbaiki perilaku.

“Lain kali Ayah akan mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum berbicara dengan kamu.”

Perhatikan bahwa meminta maaf bukan berarti mengatakan:

“Semua yang kamu lakukan benar.”

Permintaan maaf hanya berarti:

“Saya bertanggung jawab atas bagian saya dalam masalah ini.”

Anak tetap dapat bertanggung jawab atas bagian mereka.

Meminta maaf kepada anak tidak membuat orang tua kehilangan wibawa

Ada sebuah kesalahpahaman yang cukup kuat dalam hubungan orang tua dan anak: orang tua harus selalu benar agar dapat dihormati.

Padahal, rasa hormat yang sehat tidak harus dibangun melalui kesempurnaan.

Anak dapat menghormati orang tua yang mengatakan:

“Saya salah.”

Bahkan, dalam banyak situasi, anak mungkin justru melihat orang tua sebagai manusia yang lebih dapat dipercaya ketika orang tua tidak berusaha menyembunyikan kesalahannya.

Anak belajar dari apa yang dilakukan orang tua, bukan hanya dari apa yang dikatakan.

Jika orang tua mengatakan:

“Kita harus bertanggung jawab atas kesalahan kita,”

tetapi tidak pernah meminta maaf ketika mereka melakukan kesalahan, anak menerima pesan yang bertentangan.

Sebaliknya, ketika orang tua meminta maaf setelah melakukan kesalahan, pesan yang diberikan menjadi lebih konsisten.

Kesalahan tidak membuat seseorang kehilangan nilai dirinya.

Yang penting adalah kesediaan untuk bertanggung jawab dan memperbaiki hubungan.

Namun, meminta maaf juga bukan berarti semua perilaku anak harus dibenarkan

Ini penting untuk dipahami.

Permintaan maaf orang tua tidak berarti anak selalu benar.

Misalnya, seorang anak berbohong kepada orang tuanya. Orang tua kemudian kehilangan kendali dan membentaknya.

Dalam situasi seperti itu, dua hal dapat benar sekaligus:

Anak perlu bertanggung jawab karena berbohong.

Orang tua juga perlu bertanggung jawab karena membentak secara berlebihan.

Orang tua dapat berkata:

“Ibu tetap ingin kamu jujur. Berbohong bukan sesuatu yang boleh dilakukan. Tetapi cara Ibu memarahi kamu tadi juga salah. Ibu minta maaf karena membentakmu.”

Ini memberikan pelajaran yang jauh lebih kompleks dan sehat daripada sekadar menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Anak belajar bahwa tanggung jawab tidak bersifat satu arah.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna

Pada akhirnya, mungkin salah satu hal terpenting yang perlu dipahami adalah bahwa anak tidak membutuhkan orang tua yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Orang tua juga manusia.

Mereka dapat lelah, frustrasi, salah mengambil keputusan, berbicara terlalu keras, atau bereaksi secara berlebihan.

Yang dapat membentuk hubungan jangka panjang bukan hanya apakah kesalahan terjadi, tetapi bagaimana kesalahan tersebut ditangani setelahnya.

Ada perbedaan besar antara:

“Saya orang tua, jadi saya tidak perlu meminta maaf.”

dan:

“Saya orang tua, karena itu saya ingin menunjukkan kepada anak bagaimana bertanggung jawab ketika saya melakukan kesalahan.”

Yang kedua tidak mengurangi peran orang tua.

Justru menunjukkan kepada anak bahwa kedewasaan bukan tentang selalu menang dalam sebuah konflik.

Kedewasaan adalah kemampuan untuk berhenti, melihat kembali perilaku sendiri, mengakui kesalahan, memperbaiki kerusakan, dan mencoba melakukan sesuatu dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya.

Dan mungkin, bagi sebagian anak, kalimat sederhana dari orang tua seperti:

“Maaf. Tadi Ayah salah.”

bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti daripada yang disadari orang tua.

Bukan karena kalimat itu dapat menghapus semua luka.

Tetapi karena untuk pertama kalinya anak melihat bahwa perasaan dan pengalamannya dianggap penting.

Pada akhirnya, meminta maaf kepada anak bukan tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah dalam keluarga.

Ini tentang mengajarkan bahwa dalam sebuah hubungan, setiap orang—termasuk orang tua—memiliki tanggung jawab untuk menjaga, memperbaiki, dan menghargai satu sama lain.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho