← Beranda
Jika Ingin Menjaga Kewarasan Saat Dunia Terasa Gila, Selalu Pegang Teguh 7 Kunci Ini
Irfan Ferdiansyah• Minggu, 20 September 2026 | 03.53 WIB
seseorang yang menjaga kewarasan / foto: Magnific/Wavebreak Media
 
JawaPos.com - Ada masa ketika hidup terasa begitu bising.

Berita datang tanpa henti. Konflik terjadi di berbagai tempat. Media sosial dipenuhi perdebatan. Orang-orang mudah marah. Masa depan terasa tidak pasti. Harga kebutuhan berubah. Pekerjaan menuntut lebih banyak. Hubungan dengan orang lain kadang melelahkan.

Dan di tengah semua itu, kita tetap dituntut untuk bangun setiap pagi, bekerja, tersenyum, memenuhi tanggung jawab, dan menjalani hidup seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Tidak mengherankan jika banyak orang merasa lelah secara mental.

Bukan karena mereka lemah.

Bukan pula karena mereka tidak mampu menghadapi kehidupan.

Kadang, pikiran manusia memang memiliki batas.

Ketika terlalu banyak informasi, terlalu banyak tekanan, terlalu banyak ketidakpastian, dan terlalu sedikit waktu untuk memulihkan diri, sistem psikologis kita bisa berada dalam keadaan siaga terus-menerus.

Masalahnya, kita sering mencoba mengatasi dunia yang kacau dengan cara yang justru membuat pikiran semakin kacau.

Kita membaca berita terus-menerus karena takut ketinggalan informasi. Kita membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Kita mencoba mengendalikan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali. Kita memikirkan masa depan sampai lupa menjalani hari ini.

Padahal, menjaga kewarasan bukan berarti membuat dunia menjadi tenang.

Kita tidak memiliki kemampuan untuk mengatur seluruh dunia.

Yang bisa kita lakukan adalah membangun ruang yang cukup tenang di dalam diri, sehingga kita tidak ikut menjadi kacau hanya karena dunia sedang kacau.

Dalam psikologi, ada sejumlah prinsip yang dapat membantu seseorang menghadapi ketidakpastian, tekanan, dan stres dengan lebih sehat.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), terdapat tujuh kunci yang layak dipegang.

1. Bedakan antara apa yang bisa kamu kendalikan dan apa yang tidak

Salah satu sumber kelelahan mental terbesar adalah mencoba mengendalikan sesuatu yang memang tidak berada dalam kendali kita.

Kita tidak bisa mengendalikan apa yang dipikirkan orang lain.

Kita tidak bisa memastikan semua orang menyukai kita.

Kita tidak bisa mengubah keputusan orang lain.

Kita tidak bisa mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi besok.

Kita juga tidak bisa menghentikan semua masalah yang terjadi di dunia.

Namun sering kali pikiran kita terus bekerja seolah-olah semua itu merupakan tanggung jawab pribadi.

"Kapan semuanya akan membaik?"

"Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?"

"Bagaimana caranya membuat semua orang mengerti?"

"Bagaimana kalau keputusan orang lain menghancurkan rencana saya?"

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat membuat pikiran terus berada dalam mode pemecahan masalah, bahkan ketika tidak ada tindakan nyata yang bisa dilakukan.

Karena itu, salah satu kebiasaan mental yang penting adalah bertanya:

"Apa yang sebenarnya berada dalam kendaliku saat ini?"

Mungkin jawabannya sederhana.

Cara kamu merespons.

Apa yang kamu lakukan hari ini.

Kapan kamu beristirahat.

Informasi apa yang kamu konsumsi.

Siapa yang kamu izinkan dekat denganmu.

Bagaimana kamu memperlakukan orang lain.

Dan keputusan kecil apa yang bisa kamu ambil sekarang.

Fokus pada wilayah kendali bukan berarti bersikap apatis terhadap dunia.

Justru sebaliknya.

Kamu menjadi lebih efektif karena energi mentalmu tidak habis untuk melawan sesuatu yang tidak bisa kamu ubah.

Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh dunia hari ini.

Kadang, tugasmu hanya menyelesaikan hari ini dengan sebaik mungkin.

2. Jangan jadikan setiap informasi sebagai sesuatu yang harus kamu pikirkan

Kita hidup di zaman ketika informasi hampir tidak pernah berhenti.

Bangun tidur, melihat ponsel.

Saat makan, membaca berita.

Saat bekerja, menerima notifikasi.

Sebelum tidur, membuka media sosial.

Akibatnya, otak hampir tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk benar-benar beristirahat dari rangsangan eksternal.

Ada perbedaan besar antara mengetahui sesuatu dan terus-menerus memikirkan sesuatu.

Kamu boleh mengetahui bahwa ada masalah di dunia tanpa harus memikirkannya sepanjang hari.

Kamu boleh peduli terhadap sesuatu tanpa terus menerus mengonsumsi konten tentangnya.

Kamu boleh mengikuti berita tanpa membiarkan berita menguasai suasana hatimu.

Inilah alasan pentingnya membangun batas informasi.

Misalnya, kamu bisa menentukan waktu tertentu untuk membaca berita, kemudian berhenti.

Kamu juga bisa mengurangi akun atau konten yang membuatmu terus-menerus berada dalam keadaan marah, takut, atau cemas.

Bukan berarti kamu menutup mata terhadap kenyataan.

Kamu hanya berhenti memberikan akses tanpa batas kepada segala sesuatu untuk masuk ke dalam pikiranmu.

Pikiran juga membutuhkan ruang kosong.

Sama seperti tubuh yang tidak bisa terus bekerja tanpa istirahat, perhatian manusia juga memiliki kapasitas terbatas.

Jadi, jangan merasa bersalah ketika sesekali memilih untuk tidak tahu.

Tidak semua hal perlu kamu ikuti.

Tidak semua perdebatan perlu kamu masuki.

Tidak semua berita membutuhkan reaksimu.

Dan tidak semua hal yang muncul di layar ponsel layak mendapatkan tempat di kepalamu.

3. Terima bahwa ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan

Banyak kecemasan sebenarnya bukan berasal dari apa yang sedang terjadi, tetapi dari keinginan kita untuk mendapatkan kepastian tentang sesuatu yang belum terjadi.

Kita ingin tahu apakah pekerjaan kita akan aman.

Kita ingin tahu apakah hubungan akan bertahan.

Kita ingin tahu apakah keputusan yang kita ambil benar.

Kita ingin tahu apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan.

Masalahnya, kehidupan tidak memberikan semua jawaban itu di awal.

Ada bagian dari hidup yang memang baru bisa dipahami setelah kita menjalaninya.

Karena itu, kemampuan untuk hidup berdampingan dengan ketidakpastian merupakan bagian penting dari kesehatan psikologis.

Menerima ketidakpastian bukan berarti menyerah.

Artinya, kita berhenti menuntut diri sendiri untuk memiliki jawaban sebelum waktunya.

Alih-alih berkata:

"Saya harus tahu semuanya akan baik-baik saja."

cobalah mengubahnya menjadi:

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya bisa menghadapi apa yang datang satu langkah demi satu langkah."

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana.

Namun ada perbedaan psikologis yang besar di dalamnya.

Kamu tidak lagi menuntut kepastian.

Kamu membangun kepercayaan terhadap kemampuanmu sendiri untuk menghadapi ketidakpastian.

Dan sering kali, itulah yang lebih realistis.

Kita tidak membutuhkan jaminan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai rencana.

Kita membutuhkan keyakinan bahwa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, kita masih dapat mengambil langkah berikutnya.

4. Jangan percaya begitu saja pada setiap pikiran yang muncul di kepala

Salah satu pelajaran penting dalam psikologi adalah bahwa pikiran tidak selalu merupakan fakta.

Otak manusia membuat interpretasi.

Kadang interpretasi itu akurat.

Kadang tidak.

Ketika sedang lelah, takut, atau stres, kita bisa lebih mudah menghasilkan pikiran yang ekstrem.

"Semua orang membenciku."

"Hidup saya selalu gagal."

"Masa depan pasti buruk."

"Semuanya akan hancur."

"Aku tidak akan pernah bisa melewati ini."

Pikiran tersebut bisa terasa sangat nyata.

Tetapi sesuatu yang terasa nyata belum tentu merupakan fakta.

Karena itu, ketika muncul pikiran yang sangat negatif, cobalah mengambil sedikit jarak.

Jangan langsung bertanya:

"Apakah ini benar?"

Cobalah bertanya:

"Apakah ada kemungkinan saya sedang melihat situasi ini melalui kondisi emosi saya saat ini?"

Pertanyaan sederhana tersebut menciptakan ruang antara kamu dan pikiranmu.

Kamu tidak lagi menjadi pikiran itu.

Kamu sedang mengamati pikiran.

Ini merupakan keterampilan psikologis yang sangat berharga.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Saya gagal."

kamu bisa mengatakan:

"Saya sedang mengalami kegagalan dalam satu hal."

Perbedaannya tampak kecil.

Namun yang pertama menyerang identitas.

Yang kedua menggambarkan sebuah pengalaman.

Kegagalan adalah peristiwa.

Bukan identitas.

Kesalahan adalah perilaku.

Bukan keseluruhan nilai dirimu sebagai manusia.

Dengan belajar melihat pikiran sebagai sesuatu yang dapat diamati, bukan selalu dipercayai, kita memberi diri sendiri kesempatan untuk merespons dengan lebih jernih.

5. Rawat tubuh ketika pikiran sedang kacau

Kadang kita terlalu sibuk mencari solusi psikologis yang rumit sampai lupa bahwa kesehatan mental juga sangat berkaitan dengan kondisi tubuh.

Kurang tidur dapat membuat kita lebih mudah tersinggung.

Kelelahan dapat membuat masalah kecil terasa jauh lebih besar.

Kurang bergerak dapat membuat tubuh terasa berat dan pikiran semakin tumpul.

Pola makan yang berantakan juga dapat memengaruhi energi dan kondisi emosional.

Karena itu, ketika hidup terasa kacau, jangan hanya bertanya:

"Apa yang salah dengan pikiranku?"

Tanyakan juga:

"Bagaimana kondisi tubuhku akhir-akhir ini?"

Apakah kamu cukup tidur?

Apakah kamu terlalu lama duduk?

Apakah kamu jarang keluar rumah?

Apakah kamu makan secara teratur?

Apakah tubuhmu mendapatkan kesempatan untuk bergerak?

Kadang solusi pertama bukanlah menemukan jawaban besar tentang kehidupan.

Kadang solusinya adalah tidur lebih awal.

Berjalan kaki.

Mandi.

Makan dengan baik.

Menghirup udara segar.

Beristirahat dari layar.

Bertemu seseorang yang membuatmu merasa aman.

Hal-hal tersebut mungkin terdengar terlalu sederhana.

Namun justru karena sederhana, kita sering mengabaikannya.

Jangan meremehkan kekuatan rutinitas kecil.

Kehidupan mental yang stabil sering dibangun dari kebiasaan fisik yang sangat biasa.

6. Pertahankan hubungan dengan orang-orang yang membuatmu merasa menjadi manusia

Manusia bukan makhluk yang dirancang untuk menghadapi semuanya sendirian.

Ketika sedang menghadapi tekanan, kita sering memiliki kecenderungan untuk menarik diri.

Kita merasa tidak ingin merepotkan orang lain.

Kita berpikir tidak ada yang akan mengerti.

Atau kita merasa harus terlihat kuat.

Padahal, berbicara dengan orang yang tepat dapat memberikan perspektif yang tidak bisa kita dapatkan ketika hanya berada di dalam kepala sendiri.

Kamu tidak selalu membutuhkan seseorang untuk memberikan solusi.

Kadang kamu hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Seseorang yang bisa berkata:

"Aku mengerti."

"Berat juga, ya."

"Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini."

Koneksi sosial yang sehat memberikan rasa bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi kehidupan.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan.

Tidak semua hubungan memberikan ketenangan.

Ada hubungan yang justru membuat seseorang semakin terkuras.

Karena itu, menjaga kesehatan mental juga berarti belajar mengenali siapa yang memberikan ruang aman dan siapa yang terus-menerus menguras energi.

Bukan berarti kamu harus membenci atau memutus semua hubungan yang sulit.

Tetapi kamu boleh memiliki batas.

Kamu boleh mengatakan tidak.

Kamu boleh berhenti menjelaskan diri kepada orang yang memang tidak ingin memahami.

Dan kamu boleh memilih lingkungan yang membantu dirimu tumbuh menjadi versi yang lebih sehat.

7. Terima bahwa kamu tidak harus selalu kuat

Mungkin ini adalah kunci yang paling sering dilupakan.

Kita hidup dalam budaya yang sering mengagungkan ketangguhan.

Harus kuat.

Harus produktif.

Harus positif.

Harus bangkit.

Harus terus berjalan.

Tetapi manusia bukan mesin.

Ada hari ketika kamu kuat.

Ada hari ketika kamu lelah.

Ada hari ketika kamu produktif.

Ada hari ketika kamu hanya mampu menyelesaikan hal-hal paling dasar.

Dan itu tidak otomatis berarti kamu gagal.

Menjadi sehat secara psikologis bukan berarti selalu bahagia.

Bukan berarti tidak pernah takut.

Bukan berarti tidak pernah sedih.

Bukan berarti selalu berpikir positif.

Kesehatan psikologis lebih dekat dengan kemampuan untuk mengalami berbagai emosi tanpa kehilangan kemampuan untuk menjalani kehidupan.

Kamu boleh sedih.

Kamu boleh kecewa.

Kamu boleh takut.

Kamu boleh mengatakan bahwa hari ini berat.

Yang penting, jangan mengubah satu keadaan emosional menjadi kesimpulan permanen tentang hidupmu.

Hari yang buruk bukan berarti hidup yang buruk.

Masa sulit bukan berarti masa depan akan selalu sulit.

Dan merasa lelah bukan berarti kamu lemah.

Kadang bentuk keberanian yang paling sederhana adalah mengakui:

"Aku sedang tidak baik-baik saja, dan aku membutuhkan waktu untuk memulihkan diri."

Itu bukan kelemahan.

Itu adalah kesadaran diri.

Pada akhirnya, menjaga kewarasan bukan tentang melarikan diri dari dunia

Dunia memang tidak selalu masuk akal.

Orang-orang tidak selalu bertindak seperti yang kita harapkan.

Rencana bisa gagal.

Berita buruk akan datang.

Perubahan akan terjadi.

Ketidakpastian tidak akan pernah benar-benar hilang.

Karena itu, tujuan menjaga kesehatan mental bukanlah menciptakan kehidupan tanpa masalah.

Tujuannya adalah membangun kapasitas untuk menghadapi masalah tanpa kehilangan diri sendiri.

Kamu tidak perlu mengetahui seluruh jalan.

Kamu hanya perlu mengetahui langkah berikutnya.

Kamu tidak perlu menyelesaikan seluruh hidup hari ini.

Kamu hanya perlu menjalani hari ini dengan cukup baik.

Dan kamu tidak perlu mengendalikan dunia agar bisa merasa tenang.

Kamu hanya perlu belajar membedakan mana yang menjadi tanggung jawabmu dan mana yang harus kamu lepaskan.

Jika dunia sedang berisik, kamu tidak harus ikut berteriak.

Jika semua orang sedang terburu-buru, kamu tidak harus berlari tanpa arah.

Jika banyak orang sedang kehilangan ketenangan, kamu tetap boleh membangun ketenanganmu sendiri.

Mungkin itulah salah satu bentuk kedewasaan psikologis:

tetap memiliki kepala yang jernih ketika keadaan di luar diri sedang tidak jernih.

Jadi, ketika suatu hari dunia terasa terlalu gila, ingat kembali tujuh hal ini:

Kendalikan apa yang bisa kamu kendalikan.

Batasi informasi yang masuk ke kepalamu.

Belajar hidup bersama ketidakpastian.

Jangan menganggap setiap pikiran sebagai fakta.

Rawat tubuhmu.

Jaga hubungan yang sehat.

Dan izinkan dirimu untuk tidak selalu kuat.

Kamu tidak harus menjadi manusia yang kebal terhadap kekacauan.

Kamu hanya perlu belajar agar kekacauan di luar sana tidak mengambil seluruh ketenangan yang ada di dalam dirimu.

Karena pada akhirnya, menjaga kewarasan bukan berarti membuat dunia menjadi sempurna.

Menjaga kewarasan berarti tetap menjadi dirimu sendiri, bahkan ketika dunia di sekelilingmu sedang kehilangan arah.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho