← Beranda
Sering Tak Disadari, 8 Kebiasaan Ini Bisa Membuat Kondisi Keuangan Jalan di Tempat
Mohammad Maulana Iqbal• Jumat, 18 September 2026 | 04.49 WIB
Kebiasaan buruk jadikan hidup pas-pasan di kelas menengah bawah kata psikologi finansial.

JawaPos.com – Kondisi finansial seseorang tidak selalu ditentukan oleh besarnya pendapatan. Cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, dan memperlakukan uang juga dapat memengaruhi kesehatan keuangannya dalam jangka panjang.

Dalam kajian psikologi finansial, sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat membuat seseorang kesulitan membangun tabungan, menambah aset, atau mengurangi utang. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali, misalnya, dapat menjadi masalah ketika tidak pernah dievaluasi.

Karena itu, memperbaiki kondisi ekonomi tidak hanya berkaitan dengan mencari penghasilan tambahan. Mengubah kebiasaan dalam mengelola uang juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Dilansir dari geediting.com, terdapat delapan kebiasaan yang disebut dapat membuat seseorang terus berada dalam kondisi finansial pas-pasan. Berikut di antaranya:

Baca Juga: Jika Kamu Sedang Merasa Kehidupan Ini Tak Bermakna, Lakukan 7 Kebiasaan Ini

1. Terlalu Nyaman dengan Kondisi Sekarang

Kenyamanan dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Masalah dapat muncul ketika seseorang terlalu lama berada di zona nyaman dan berhenti mencari kesempatan untuk meningkatkan kemampuan.

Misalnya, seseorang hanya mengandalkan keterampilan yang sudah dimiliki tanpa berusaha mempelajari kemampuan baru. Kesempatan mengikuti pelatihan, memperoleh sertifikasi, mencari pekerjaan sampingan, atau mengambil proyek tambahan akhirnya dilewatkan.

Dalam jangka pendek, pilihan tersebut mungkin terasa aman. Namun, dalam jangka panjang, minimnya pengembangan kemampuan dapat membatasi peluang seseorang untuk meningkatkan pendapatan.

2. Tidak Memiliki Anggaran Keuangan yang Jelas

Tidak sedikit orang menganggap membuat anggaran sebagai aktivitas yang merepotkan atau membuat ruang gerak menjadi terbatas.

Padahal, anggaran pada dasarnya membantu seseorang mengetahui ke mana penghasilannya dialokasikan. Tanpa pencatatan yang jelas, uang dapat habis untuk berbagai kebutuhan tanpa diketahui secara pasti pos mana yang paling banyak menyerap pengeluaran.

Menurut survei Charles Schwab 2024 yang dikutip dalam materi tersebut, 36 persen responden di Amerika Serikat memiliki rencana keuangan tertulis.

Dengan membuat anggaran sederhana, seseorang dapat memisahkan kebutuhan pokok, tabungan, pembayaran utang, dan pengeluaran untuk hiburan. Langkah ini juga membantu menentukan batas pengeluaran sebelum uang terlanjur habis.

3. Berbelanja untuk Meredakan Emosi

Belanja terkadang digunakan sebagai cara untuk memperbaiki suasana hati setelah mengalami hari yang melelahkan atau menghadapi tekanan.

Membeli sesuatu sesekali tentu tidak otomatis menjadi masalah. Namun, kebiasaan menggunakan uang setiap kali merasa stres, sedih, atau kecewa dapat membuat pengeluaran sulit dikendalikan.

Persoalannya bukan semata-mata terletak pada barang yang dibeli, melainkan pada alasan di balik pembelian tersebut.

Sebelum melakukan transaksi karena dorongan emosi, seseorang dapat berhenti sejenak dan bertanya apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya menjadi sarana untuk memperoleh rasa senang sementara.

4. Selalu Mengiyakan Ajakan Sosial

Makan bersama teman, menghadiri pesta, menonton konser, hingga melakukan perjalanan spontan memang dapat menjadi bagian menyenangkan dari kehidupan.

Namun, terlalu sering menerima semua ajakan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial bisa mengganggu anggaran bulanan.

Satu pengeluaran mungkin terasa kecil. Persoalannya muncul ketika berbagai acara sosial berlangsung berkali-kali dalam satu bulan.

Bukan berarti seseorang harus menghindari kehidupan sosial. Yang lebih penting adalah menentukan prioritas dan berani menolak kegiatan tertentu ketika biayanya tidak sesuai dengan kondisi keuangan.

5. Tidak Mencari Sumber Pendapatan Tambahan

Mengandalkan satu sumber pemasukan membuat pertumbuhan pendapatan sangat bergantung pada pekerjaan utama.

Ketika penghasilan hanya meningkat jika jam kerja bertambah, kemampuan untuk meningkatkan kondisi finansial juga dapat menjadi terbatas.

Dalam materi yang dikutip dari Forbes, diversifikasi sumber pendapatan disebut dapat menjadi salah satu cara menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Pendapatan tambahan tidak selalu harus berasal dari bisnis besar. Seseorang bisa memulainya melalui pekerjaan lepas, menjual produk digital, membuat konten, memberikan jasa berdasarkan keahlian, atau memiliki instrumen investasi yang sesuai dengan profil risikonya.

Namun, istilah pendapatan pasif tetap perlu dipahami secara realistis karena sebagian sumber pendapatan membutuhkan modal, pemeliharaan, risiko, atau pekerjaan awal.

6. Menganggap Pengeluaran Kecil Tidak Berarti

Kalimat seperti "cuma sedikit" dapat membuat seseorang mengabaikan pengeluaran berulang.

Harga kopi, camilan, ongkos tambahan, biaya layanan, atau pembelian kecil di aplikasi mungkin terlihat tidak signifikan jika dilihat satu per satu.

Masalahnya, pengeluaran tersebut bisa menjadi cukup besar ketika dilakukan setiap hari atau berulang kali dalam sebulan.

Karena itu, mengevaluasi total pengeluaran secara berkala jauh lebih berguna daripada hanya melihat nominal setiap transaksi. Pertanyaan sederhana seperti apakah pengeluaran tersebut memang memberikan manfaat yang sepadan dapat membantu mengendalikan kebiasaan belanja.

7. Menggunakan Kartu Kredit Tanpa Perhitungan

Kartu kredit bukan secara otomatis merupakan produk keuangan yang buruk. Jika digunakan secara disiplin dan tagihan dapat dibayar sesuai ketentuan, kartu kredit dapat memberikan kemudahan transaksi serta manfaat tertentu.

Risiko muncul ketika limit kartu dianggap sebagai tambahan penghasilan.

Pembelian makanan, perjalanan, barang konsumsi, hingga berbagai kebutuhan lain dapat terus dilakukan karena pembayaran tidak terasa secara langsung. Akibatnya, total tagihan bisa menumpuk sebelum pengguna menyadari besarnya kewajiban yang harus dibayar.

Karena itu, penggunaan kartu kredit sebaiknya tetap disesuaikan dengan kemampuan membayar, bukan sekadar berdasarkan besarnya limit yang tersedia.

8. Hanya Membayar Tagihan Minimum

Membayar jumlah minimum pada kartu kredit memang dapat mencegah keterlambatan pembayaran, tetapi saldo utang yang tersisa dapat terus dikenai bunga sesuai ketentuan penerbit kartu.

Jika kebiasaan tersebut berlangsung lama, waktu pelunasan dapat menjadi semakin panjang dan total biaya yang dibayarkan juga dapat meningkat.

Bagi seseorang yang memiliki beberapa utang, salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah memprioritaskan utang dengan tingkat bunga paling tinggi setelah memastikan pembayaran minimum seluruh kewajiban tetap terpenuhi.

Tambahan dana yang tersedia kemudian dapat diarahkan untuk mempercepat pelunasan utang tersebut.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho