← Beranda
9 Ucapan Kelelahan Kerja yang Sering Terlontar kepada Atasan Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 17 September 2026 | 05.16 WIB
Ucapan kelelahan kerja yang sering terlontar kepada atasan menurut psikologi./Magnific/ stockking

JawaPos.com - Kelelahan kerja sering tercermin dari ucapan sederhana yang tanpa sadar disampaikan karyawan kepada atasannya.

Kelelahan kerja dapat mengancam kesehatan seseorang, meski terkadang siklus tersebut justru diperpanjang oleh diri sendiri.

Kebutuhan membuktikan diri dan keseimbangan hidup yang buruk sering membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kelelahan.

Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (16/9), berikut sembilan ucapan psikologi kelelahan kerja yang biasa terlontar kepada atasan dalam percakapan santai sehari-hari.

1. Menyatakan akan mencari cara sendiri

Mengakui ketidakmampuan menangani sesuatu sebenarnya bukan tanda kelemahan, melainkan langkah penting yang perlu dilakukan.

Meminta bantuan sering terasa seperti kekalahan bagi karyawan yang berusaha membuktikan kemampuannya di kantor.

Karyawan yang baik seharusnya mencari solusi bersama, bukan memaksakan diri menyelesaikan sesuatu di luar kemampuannya.

Ucapan ini menunjukkan kecenderungan memaksakan diri hingga akhirnya berujung pada kelelahan yang lebih besar.

2. Menyatakan tidak keberatan mengerjakan sesuatu

Karyawan yang selalu berkata setuju sering kali justru merugikan perkembangan dan kesejahteraan dirinya sendiri.

Sikap ini membuat mereka rentan mengalami kelelahan akibat terus-menerus mengutamakan kepuasan orang lain.

Ketakutan akan penilaian buruk sering mendorong seseorang terus menyanggupi permintaan tanpa mempertimbangkan batasannya sendiri.

Menetapkan batasan menjadi penting ketika sikap menyenangkan orang lain mulai terasa membebani diri sendiri.

3. Menyatakan tidak ada masalah sama sekali

Meremehkan usaha sendiri demi terlihat kompeten justru dapat meningkatkan risiko kelelahan kerja yang serius.

Ketika atasan tidak menyadari besarnya usaha yang dikeluarkan, beban pekerjaan cenderung terus bertambah.

Sikap ini mungkin muncul demi menjaga rasa aman dalam pekerjaan, meski berisiko memperberat kondisi diri.

Ucapan ini justru mempersulit seseorang mempertahankan performa kerja karena terus menumpuk kelelahan tersembunyi.

4. Menawarkan bantuan tambahan secara berlebihan

Banyak karyawan berusaha membuktikan pentingnya diri mereka demi mendapat perhatian dan pengakuan dari atasan.

Ketakutan kehilangan pekerjaan sering mendorong seseorang menawarkan bantuan tambahan meski beban kerjanya sudah berat.

Ironisnya, karyawan yang menetapkan batasan justru sering menjadi pihak yang lebih dulu terkena pemutusan kerja.

Kondisi ini membuat banyak orang enggan memperjuangkan haknya sendiri demi menghindari risiko tersebut.

5. Menyatakan tidak bisa mengambil cuti saat ini

Karyawan yang kelelahan sering kesulitan memisahkan diri dari pekerjaan meski atasan mendukung waktu istirahat.

Usaha menjadi sosok yang tidak tergantikan membuat mereka kehilangan kesempatan mendelegasikan tugas kepada orang lain.

Menjadi satu-satunya orang yang mampu mengerjakan sesuatu memang memberi rasa aman dalam pekerjaan.

Namun kondisi ini pada akhirnya membuat seseorang sulit beristirahat dan rentan mengalami kelelahan berlebihan.

6. Menyebut keluhan fisik sebagai hal sepele

Karyawan yang kelelahan sering mengeluhkan sakit kepala atau kelelahan fisik kepada atasannya secara tidak sadar.

Mengakui keluhan fisik ini terkadang menjadi cara tidak langsung mencari pengakuan atas usaha yang dilakukan.

Generasi tertentu bahkan menganggap kelelahan sebagai simbol kebanggaan meski merugikan kesehatan diri sendiri.

Kebiasaan ini menunjukkan bagaimana kelelahan kerja dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang secara nyata.

7. Meminta maaf karena merasa banyak beban pikiran

Kesulitan berkonsentrasi tanpa gangguan menjadi hal umum bagi orang yang mengalami kelelahan kerja berkepanjangan.

Pikiran yang penuh dengan beban kerja membuat tugas sederhana sekalipun terasa sulit diselesaikan.

Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri dibanding mengakui bahwa beban kerja sudah melebihi kapasitas yang wajar.

Sikap ini sering muncul tanpa disadari karena keinginan tetap terlihat kompeten di tempat kerja.

8. Meminta maaf karena merasa tertinggal

Meminta maaf atas beban kerja yang jauh lebih besar dibanding rekan kerja lainnya menjadi kebiasaan umum.

Mereka merasa perlu meminta maaf meski ekspektasi yang diberikan sebenarnya tidak realistis untuk dipenuhi.

Kebiasaan ini membuat mereka sulit merasa bangga atas pekerjaan yang telah berhasil diselesaikan.

Setiap tugas yang selesai hanya terasa seperti kelegaan sesaat sebelum menghadapi tugas berikutnya.

9. Menyatakan tetap siap dihubungi kapan saja

Batasan yang tidak jelas justru tidak memberikan manfaat bagi karyawan yang sudah kelelahan bekerja.

Sikap ini membuka peluang bagi atasan atau rekan kerja untuk mengambil waktu pribadi mereka.

Kekhawatiran terhadap pekerjaan pun terus muncul meski sedang berada di luar jam kerja resmi.

Berbeda dengan karyawan yang memiliki keseimbangan sehat, mereka tidak pernah benar-benar bebas dari tekanan kerja.

EDITOR: Hanny Suwindari