← Beranda
Apa Itu Tone Deaf? Ini Definisi Menurut Cambridge Dictionary dan Kenali Tanda-Tandanya
Shania Vivi Armylia PutriRabu, 16 September 2026 | 04.26 WIB
Ilustrasi tone deaf/dictionary.cambridge.org

JawaPos.com-Ramai perbincangan di media sosial yang membahas soal tone deaf belakangan ini.

Salah satu konten yang ramai dikomentari adalah unggahan di kanal YouTube milik artis Maudy Ayunda yang berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News”. 

Sejumlah netizens menilai bahwa, unggahan video tersebut kurang relevan dengan kondisi saat ini, mengingat berbagai fenomena yang sedang terjadi belakangan ini. 

Namun diketahui Maudy Ayunda lewat kanal YouTubenya @modmedia telah memberikan klarifikasi. 

“The situations we are dealing now are so frustrating and heartbreaking… adanya Karhutla, bencana gempa, berbagai kebijakan dan program yg ngga tepat sasaran dan berdampak langsung pada masyarakat, maupun berbagai isu-isu lain yg jg sama pentingnya. This is such an exceptionally hard time, for those impacted communities especially, and they need all support and visibility they can get.

Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja. Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak” 

Maudy Ayunda memberikan klarifikasi bahwa kondisi yang terjadi saat ini memang berat, mulai dari karhutla,bencana gempa, serta berbagai kebijakan dan program yang tidak tepat sasaran serta berdampak pada masyarakat. 

Maudy juga menjelaskan bahwa praktik mindfulness tersebut bukan berarti abai atau menjauh dari realita yang ada. Menurut Maudy, mindfulness justru membantu dirinya melihat kondisi secara lebih jelas dengan memahami sebab-akibat, dan tetap peka pada perasaan orang-orang yang terdampak.

Sementara itu, unggahan itu tetap mendapat beragam respons dari netizens. Salah satu istilah yang ramai digunakan dalam kolom komentar adalah “tone deaf”. 

Unggahan tersebut bahkan memperoleh 7.847 komentar dengan berbagai respon dari pengguna YouTube. 

Lalu sebenarnya, apa arti dari tone deaf itu sendiri?

Berdasarkan definisi dalam Cambridge Dictionary yang dilansir melalui  dictionary.cambridge.org pada (15/9) kata tone deaf sendiri memiliki dua makna.

Pertama, “Someone who is tone-deaf is not able to recognize different notes or sing tunes accurately” yang berarti seseorang yang tidak mampu mengenali nada. 

Sementara itu makna kedua dapat dijelaskan sebagai perilaku “not understanding how people feel about something, or what is needed in a particular situation” artinya seseorang yang tidak memahami bagaimana perasaan orang lain terhadap sesuatu membaca situasi, serta menyadari apa yang sedang dibutuhkan dalam kondisi tertentu.

Dalam konteks sosial, tone deaf berkaitan erat dengan sikap tidak peka dalam menghadapi berbagai situasi. Berdasarkan contoh yang diberikan Cambridge Dictionary, ketidakpekaan dapat berkaitan dengan situasi krisis, keluhan yang beralasan, isu-isu yang sedang terjadi sampai berbagai kritik yang disampaikan. 

Jika dihubungkan dengan sudut pandang psikologis, sikap tone deaf tersebut memiliki kaitan erat dengan kecerdasan emosional atau Emotional Intelligence (EI) seseorang.

Lantas apa saja tanda seseorang memiliki EI yang rendah dan dapat terlihat dari sikap yang dianggap sebagai tone deaf?. 

Berdasarkan sudut pandang psikologi yang dikutip dari laman simplypsychology. Individu yang memiliki kecerdasan emosional rendah merasa sulit untuk berempati pada orang lain menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut. 

  1. Sulit mengendalikan emosi

Seseorang tone deaf cenderung lebih kesulitan dalam mengatur emosinya. Mereka rentan mengalami ledakan emosi, bertindak impulsif, serta memandang perilaku orang lain dari sudut pandang negatif. Saat kemampuan Emotional Intelligence (EI) rendah, mereka jadi lebih mudah merasa kewalahan dengan emosi yang muncul. Akibatnya, mereka lebih rentan mengalami stres, kecemasan, sampai depresi.   

  1. Tidak berempati

Seseorang yang tone deaf, cenderung sulit menempatkan posisi dirinya pada orang lain. Kurangnya rasa empati ini dapat membuat perilaku mereka tidak terlihat peka dan kurang mempertimbangkan perasaan orang lain. Jika terus terjadi, maka perilaku ini dapat memicu konflik dan membuat hubungan menjadi tidak harmonis.

  1. Tidak peka terhadap situasi

Seseorang yang tone deaf cenderung kesulitan dalam menangkap emosi yang halus yang sebenarnya terlihat dari percakapan, ekspresi, maupun keadaan tertentu. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa perkataan atau tindakannya telah membuat orang lain merasa tidak nyaman. Mereka cenderung merespon berdasarkan pikirannya sendiri tanpa membaca situasi terlebih dahulu.

  1. Tidak mampu bekerja sama dengan tim

Sikap tone deaf dapat terlihat saat seseorang berada saat bekerjasama. Mereka yang tone deaf cenderung mengabaikan pendapat orang lain, sulit memahami sudut pandang, atau tidak aktif. Saat perbedaan pendapat muncul, mereka tidak dapat mengkomunikasikannya dengan baik. Kondisi ini dapat memicu salah paham dan konflik yang membuat hubungan terasa semakin renggang. 

  1. Anti kritik

Mereka yang tone deaf seringkali tidak menyadari bagaimana perilaku mereka mempengaruhi orang lain. Mereka mungkin merasa tidak melakukan sesuatu yang salah meskipun orang lain menunjukkan ketidaknyamanan. Kurangnya introspeksi membuat mereka menjadi anti kritik yang sulit menyadari dan memahami kekurangan pada diri sendiri.

  1. Tidak mau menerima masukan

Seseorang  tone deaf yang memiliki kecerdasan emosional rendah cenderung memberikan respon defensif saat menerima kritik dan masukan. Mereka tidak mau melihat kritik sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Bahkan bisa jadi mereka menganggapnya sebagai serangan pribadi. Respon tersebut juga bisa muncul dalam bentuk kemarahan, rasa malu, dan menyalahkan orang lain.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho