← Beranda
8 Kebiasaan Orang yang Tak Punya Keluarga Dekat untuk Bersandar, Ada yang Diam-Diam Kuat
Mohammad Maulana Iqbal• Selasa, 15 September 2026 | 21.05 WIB
ciri perilaku orang tak memiliki keluarga dekat yang diandalkan kata Psikologi. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com – Tidak semua orang memiliki keluarga dekat yang dapat menjadi tempat meminta bantuan, berbagi cerita, maupun mencari dukungan ketika menghadapi persoalan.

Dalam kondisi tertentu, seseorang akhirnya terbiasa menghadapi berbagai situasi dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan, mengambil keputusan, hingga menghadapi kesendirian.

Orang yang tumbuh tanpa dukungan keluarga yang kuat tidak selalu menunjukkan kesedihan atau kesulitan secara terbuka. Sebagian justru terlihat sangat mandiri, tenang, dan mampu menghadapi berbagai persoalan seorang diri.

Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak ada satu perilaku yang secara otomatis membuktikan seseorang tidak mempunyai keluarga dekat. Setiap individu memiliki pengalaman dan cara menghadapi keadaan yang berbeda.

Baca Juga: Bukan Tak Peduli, 9 Perilaku Ini Bisa Menunjukkan Pria Cerdas Kurang Terampil Secara Sosial

Melansir dari Geediting.com , berikut sejumlah perilaku yang mungkin terlihat pada orang yang terbiasa menjalani kehidupan tanpa keluarga dekat sebagai tempat bergantung.

1. Sangat terbiasa mengurus diri sendiri

Ketika seseorang tidak mempunyai sosok keluarga yang bisa segera dimintai pertolongan, ia mungkin belajar menyelesaikan berbagai persoalan secara mandiri sejak usia muda.

Mulai dari persoalan sehari-hari hingga keputusan yang lebih besar, mereka terbiasa mencari jalan keluar sendiri sebelum meminta bantuan orang lain.

Kebiasaan tersebut pada akhirnya dapat membentuk rasa percaya diri dalam menghadapi masalah. Mereka juga cenderung tidak mudah panik ketika harus menghadapi situasi sulit seorang diri.

Meski demikian, sikap mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Banyak dari mereka tetap menginginkan hubungan yang dekat dan hangat, hanya saja dukungan tersebut bisa mereka temukan melalui teman, pasangan, mentor, atau orang-orang yang dianggap sebagai keluarga pilihan.

2. Memaknai persahabatan dengan sangat serius

Bagi seseorang yang tidak memiliki hubungan keluarga yang dekat, persahabatan terkadang mempunyai posisi yang sangat penting dalam kehidupan.

Teman dekat dapat menjadi tempat berbagi cerita, meminta pertimbangan, sekaligus memperoleh dukungan ketika menghadapi masa sulit.

Karena itu, mereka mungkin lebih selektif dalam memilih orang yang dipercaya. Ketika sudah merasa nyaman dengan seseorang, hubungan tersebut dapat dijaga dengan sungguh-sungguh.

Tidak sedikit pula yang menciptakan tradisi bersama teman, seperti makan malam, berkumpul saat hari raya, atau merayakan momen penting. Kebiasaan semacam ini dapat membantu menciptakan rasa memiliki dan kedekatan emosional.

3. Tidak selalu merasa terganggu ketika sendirian

Kesendirian dan kesepian merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang dapat menikmati waktu seorang diri tanpa merasa terisolasi dari lingkungan sosial.

Orang yang sudah terbiasa mengandalkan diri sendiri mungkin justru merasa nyaman ketika mempunyai waktu untuk melakukan berbagai aktivitas tanpa ditemani orang lain.

Momen tersebut dapat digunakan untuk beristirahat, menata pikiran, menjalankan hobi, atau mengevaluasi pengalaman yang telah dilalui.

Namun, kenyamanan dengan kesendirian tetap berbeda pada setiap orang. Menikmati waktu sendiri bukan berarti seseorang tidak membutuhkan hubungan sosial.

4. Mudah menyesuaikan diri dengan perubahan

Pengalaman harus menghadapi berbagai situasi tanpa dukungan keluarga dapat membuat sebagian orang terbiasa mencari solusi ketika keadaan berubah.

Mereka mungkin lebih cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, perubahan pekerjaan, maupun kondisi kehidupan yang tidak sesuai rencana.

Kemampuan tersebut biasanya berkembang melalui pengalaman. Berulang kali menghadapi masalah dapat membuat seseorang mengetahui bagaimana harus bersikap ketika kembali berhadapan dengan situasi serupa.

Meski terlihat tangguh, bukan berarti mereka selalu mampu menghadapi semuanya tanpa merasa lelah atau kewalahan.

5. Lebih mengutamakan hubungan yang berkualitas

Seseorang yang tidak mempunyai banyak tempat untuk bersandar bisa jadi lebih berhati-hati dalam membangun hubungan.

Alih-alih mempunyai lingkaran sosial yang sangat luas, mereka mungkin lebih memilih beberapa orang yang benar-benar dapat dipercaya.

Hubungan dengan teman, pasangan, mentor, maupun orang terdekat lainnya dapat memiliki arti yang besar. Mereka cenderung menghargai kehadiran orang yang memberikan rasa aman dan dukungan secara tulus.

Bagi mereka, kualitas hubungan sering kali terasa lebih penting dibandingkan jumlah orang yang berada di sekitar.

6. Terlihat kuat ketika menghadapi masalah

Kebiasaan menyelesaikan persoalan sendiri dapat membentuk ketahanan dalam menghadapi tekanan hidup.

Setiap kali berhasil melewati masalah, seseorang dapat memperoleh pengalaman bahwa dirinya mampu bertahan dan mencari jalan keluar.

Hal tersebut berpotensi meningkatkan keyakinan terhadap kemampuan diri. Tidak mengherankan jika orang yang terbiasa menghadapi banyak hal seorang diri sering terlihat tenang ketika berhadapan dengan masalah.

Namun, ketangguhan tidak berarti seseorang harus selalu kuat. Meminta pertolongan ketika diperlukan tetap merupakan bagian yang sehat dalam menghadapi kehidupan.

7. Terbiasa menentukan pilihan tanpa banyak meminta pendapat

Tidak adanya keluarga dekat yang bisa dijadikan tempat berkonsultasi dapat membuat seseorang terbiasa mengambil keputusan secara independen.

Mereka mungkin sudah terbiasa mempertimbangkan pilihan, menilai konsekuensi, lalu menentukan langkah berdasarkan penilaian sendiri.

Kemandirian semacam ini dapat terlihat dalam berbagai hal, mulai dari urusan pekerjaan, keuangan, tempat tinggal, hingga keputusan pribadi lainnya.

Seiring pengalaman bertambah, kemampuan tersebut bisa membuat seseorang semakin percaya terhadap pertimbangannya sendiri.

8. Lebih peka terhadap kesulitan orang lain

Pengalaman menghadapi berbagai persoalan tanpa banyak dukungan juga dapat membuat sebagian orang lebih mudah memahami perasaan orang lain.

Mereka mungkin lebih sensitif ketika melihat seseorang sedang mengalami kesulitan karena memiliki pengalaman yang membuatnya memahami bagaimana rasanya menghadapi masalah seorang diri.

Kepekaan tersebut dapat membuat mereka lebih cepat menawarkan bantuan atau sekadar menjadi pendengar ketika orang lain membutuhkan tempat bercerita.

Namun, tingkat empati setiap individu tentu berbeda dan tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi keluarganya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho