← Beranda
Nyaman dengan Dirinya Sendiri, 9 Frasa yang Sering Diucapkan Orang yang Tidak Peduli Penilaian Orang
Leni Setya WatiSabtu, 12 September 2026 | 17.44 WIB
Ilustrasi orang yang tidak haus validasi (Magnific/KamranAydinov)

JawaPos.com - Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dengan orang lain. Karena itu, keinginan untuk diterima, disukai, atau mendapatkan persetujuan merupakan hal yang cukup wajar.

Namun, ada orang yang tidak terlalu sibuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain.

Mereka bukan berarti sombong, egois, atau tidak menghargai pendapat orang lain. Sebaliknya, mereka biasanya sudah cukup nyaman dengan dirinya sendiri sehingga tidak merasa harus terus-menerus membuktikan sesuatu.

Orang-orang seperti ini memahami bahwa tidak semua orang harus menyukai mereka. Mereka juga tidak merasa perlu mengubah prinsip, selera, atau keputusan hanya demi mendapatkan pengakuan.

Menariknya, sikap tersebut sering terlihat dari cara mereka berbicara. Dalam percakapan sehari-hari, ada beberapa kalimat yang cukup sering mereka gunakan.

Dilansir dari YourTango, berikut sembilan frasa yang dapat menunjukkan seseorang tidak terlalu membutuhkan validasi dari orang lain.

1. “Jujur saja, aku baik-baik saja dengan cara apa pun”

Orang yang percaya diri tidak merasa harus selalu memiliki pendapat hanya agar terlihat menarik atau berwawasan.

Ketika berada dalam situasi yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi mereka, mereka dapat dengan santai mengatakan bahwa mereka baik-baik saja dengan pilihan apa pun. Mereka juga tidak ragu mengakui jika memang tidak memiliki pendapat tertentu.

Ucapan tersebut bukan berarti mereka tidak peduli terhadap orang lain. Mereka hanya memahami bahwa tidak semua hal perlu diperdebatkan atau dijadikan ajang untuk menunjukkan diri.

Mereka juga tidak akan berpura-pura menyukai sesuatu hanya supaya bisa mengikuti kelompok. Bagi mereka, menjadi diri sendiri jauh lebih penting daripada terlihat cocok di mata orang lain.

2. “Itu bukan kesukaanku”

Seseorang yang tidak haus validasi biasanya mampu mengungkapkan ketidaksukaannya dengan sederhana.

Ketika diajak melakukan sesuatu yang tidak diminati, mereka tidak perlu membuat alasan panjang. Kalimat seperti “Itu bukan kesukaanku” sudah cukup untuk menjelaskan sikap mereka.

Memang, kejujuran seperti ini terkadang terdengar cukup blak-blakan. Namun, selama disampaikan tanpa niat merendahkan orang lain, sikap tersebut justru menunjukkan kejelasan dalam berkomunikasi.

Mereka memilih berkata jujur daripada berpura-pura menyukai sesuatu hanya demi mendapatkan penerimaan.

3. “Kamu tidak harus setuju denganku”

Orang yang nyaman dengan dirinya sendiri tidak selalu merasa harus memenangkan sebuah perdebatan.

Mereka memiliki pandangan dan prinsip sendiri, tetapi memahami bahwa orang lain berhak memiliki pemikiran yang berbeda.

Karena itu, ketika sebuah percakapan mulai berubah menjadi perdebatan tanpa akhir, mereka tidak keberatan mengatakan, “Kamu tidak harus setuju denganku.”
Bagi mereka, perbedaan pendapat bukan ancaman terhadap harga diri.

Mereka juga memahami bahwa hubungan sosial tetap penting. Karena itu, tidak semua perbedaan harus dipaksakan untuk menemukan siapa yang paling benar.

4. “Ini yang cocok untuk saya”

Orang yang tidak membutuhkan validasi tetap terbuka terhadap masukan, terutama dari orang-orang yang mereka percaya dan hargai.

Namun, mereka juga tahu kapan harus membatasi nasihat yang tidak diminta. Jika seseorang terlalu ikut campur terhadap pilihan hidup mereka, jawaban seperti “Ini yang cocok untuk saya” menjadi cara sederhana untuk menegaskan batasan.

Mereka tidak bermaksud bersikap keras. Mereka hanya memahami bahwa sesuatu yang berhasil untuk orang lain belum tentu sesuai untuk dirinya.

Pada akhirnya, menjalani hidup sesuai dengan nilai dan kebutuhan pribadi dapat membantu seseorang merasa lebih autentik. Mereka tidak ingin mengubah jati diri hanya untuk mendapatkan persetujuan.

5. “Kamu urus urusanmu sendiri, aku urus urusanku”

Tidak semua orang merasa perlu meyakinkan orang lain agar mengikuti cara hidup mereka.

Orang yang sudah nyaman dengan dirinya sendiri cenderung memahami bahwa setiap orang mempunyai pilihan, prioritas, dan nilai yang berbeda.

Karena itu, mereka tidak akan menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengatur kehidupan orang lain.

Jika terjadi perbedaan pandangan, mereka lebih memilih menjalani hidup masing-masing daripada memaksakan pendapat.

Sikap seperti ini juga menunjukkan bahwa mereka memiliki batasan yang cukup jelas. Mereka tahu mana yang menjadi tanggung jawab sendiri dan mana yang sebaiknya tidak perlu dicampuri.

6. “Aku bisa menerima itu”

Tidak takut membuat kesalahan merupakan salah satu tanda seseorang sudah berdamai dengan dirinya sendiri.

Orang yang tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain memahami bahwa setiap keputusan memiliki risiko. Jika sesuatu ternyata tidak berjalan sesuai harapan, mereka mampu berkata, “Aku bisa menerima itu.”

Bukan berarti mereka tidak merasa kecewa. Mereka hanya tidak membiarkan kegagalan menentukan harga dirinya.

Kesalahan justru dapat menjadi pengalaman berharga. Dari sana, seseorang bisa belajar, memperbaiki keputusan berikutnya, dan mendapatkan pemahaman baru tentang dirinya sendiri.

Yang terpenting, mereka tidak terus-menerus memikirkan bagaimana orang lain menilai kegagalannya.

7. “Aku tidak perlu menjadi yang terbaik dalam segala hal”

Keinginan untuk selalu menjadi yang terbaik terkadang membuat seseorang kelelahan.

Ketika seseorang terlalu fokus membuktikan kemampuan kepada orang lain, mereka bisa terjebak dalam perfeksionisme.

Semua hal harus sempurna, pencapaian harus lebih tinggi, dan pengakuan dari orang lain menjadi sesuatu yang terus dikejar.

Sebaliknya, orang yang tidak membutuhkan validasi memahami bahwa dirinya tidak harus unggul dalam segala hal.

Mereka boleh memiliki kekurangan. Mereka juga tidak keberatan melihat orang lain lebih hebat dalam bidang tertentu.

Bagi mereka, kehidupan bukan kompetisi tanpa akhir. Menjalani sesuatu dengan sehat dan sesuai kemampuan diri jauh lebih penting daripada terus membuktikan bahwa mereka adalah yang terbaik.

8. “Saya puas dengan apa yang saya miliki”

Masyarakat sering mendorong seseorang untuk terus mengejar sesuatu yang lebih besar. Lebih banyak uang, lebih banyak barang, lebih banyak penghargaan, hingga lebih banyak pengakuan.

Keinginan untuk berkembang tentu bukan hal buruk. Namun, jika seseorang selalu mengejar pencapaian berikutnya tanpa pernah menghargai apa yang sudah dimiliki, kepuasan hidup bisa sulit dirasakan.

Orang yang tidak sibuk membuat orang lain terkesan biasanya lebih mampu menikmati apa yang sudah ada dalam hidup mereka.

Kalimat seperti “Saya puas dengan apa yang saya miliki” menunjukkan adanya rasa cukup dan penghargaan terhadap kehidupan saat ini.

Mereka tetap boleh memiliki ambisi, tetapi kebahagiaan tidak sepenuhnya bergantung pada pencapaian berikutnya.

9. “Orang boleh berpikir apa pun yang mereka inginkan”

Pada akhirnya, seseorang tidak dapat mengendalikan pikiran dan penilaian orang lain. Sebagus apa pun seseorang berusaha, tetap akan ada orang yang tidak menyukainya. Karena itu, terlalu sibuk mengatur persepsi orang lain hanya akan menguras energi.

Orang yang sudah nyaman dengan dirinya sendiri memahami hal tersebut. Mereka bisa mengatakan, “Orang boleh berpikir apa pun yang mereka inginkan” dan benar-benar menerapkannya dalam kehidupan.

Bukan berarti mereka sama sekali tidak peduli terhadap orang lain. Mereka hanya tidak membiarkan pendapat orang lain menentukan seluruh keputusan dan harga dirinya.

EDITOR: Hanny Suwindari