← Beranda
Rekrutmen Karyawan Kini Tak Cukup Lihat CV, Data Talenta Jadi Penentu
Rian AlfiantoJumat, 11 September 2026 | 02.55 WIB
Ilustrasi proses perekrutan karyawan di era digital (Asset College).

JawaPos.com - Perusahaan kini menghadapi tantangan baru dalam merekrut karyawan: menemukan orang yang bukan hanya memenuhi kualifikasi di atas kertas, tetapi juga benar-benar sesuai dengan kebutuhan organisasi dan mampu berkembang di dalamnya. Karena itu, data talenta semakin penting untuk membantu HR mengambil keputusan sejak proses rekrutmen hingga pengembangan dan retensi karyawan.

Selama bertahun-tahun, CV, pengalaman kerja, pendidikan, dan wawancara menjadi fondasi utama dalam menilai kandidat. Namun, cara tersebut memiliki keterbatasan. Dua kandidat bisa memiliki pengalaman dan kompetensi yang hampir sama, tetapi memberikan hasil yang berbeda ketika ditempatkan dalam lingkungan kerja tertentu. Di sinilah pendekatan berbasis data mulai mendapat tempat.

Alih-alih hanya bertanya siapa kandidat dengan CV paling menarik, perusahaan mulai perlu menjawab pertanyaan yang lebih strategis: siapa yang paling sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, budaya organisasi, potensi pengembangannya, dan arah bisnis perusahaan?

Data Mengubah Cara HR Menilai Kandidat

Perubahan kebutuhan bisnis membuat proses rekrutmen tidak lagi cukup hanya untuk mengisi posisi yang kosong. Kesalahan memilih orang dapat berujung pada biaya rekrutmen ulang, waktu onboarding yang terbuang, produktivitas yang tidak optimal, hingga meningkatnya risiko turnover.

Data talenta dapat membantu HR memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kandidat. Informasi dari asesmen, misalnya, dapat digunakan untuk memahami potensi, karakteristik, kompetensi, serta area pengembangan seseorang. Namun, data bukan berarti menggantikan keputusan manusia.

Justru, data memberikan dasar yang lebih kuat agar HR tidak sepenuhnya mengandalkan intuisi ketika mengambil keputusan. Hasilnya kemudian dapat dipadukan dengan wawancara, pengalaman kandidat, kebutuhan posisi, serta konteks organisasi.

Dengan cara ini, teknologi berfungsi sebagai alat bantu untuk memperkaya keputusan, bukan sebagai pengganti penilaian manusia.

Masalah HR Tidak Berhenti Setelah Kandidat Diterima

 

Tantangan berikutnya muncul setelah kandidat resmi menjadi karyawan. Perusahaan bisa saja berhasil merekrut orang yang kompeten, tetapi tetap kehilangan talenta tersebut dalam waktu relatif singkat apabila tidak mampu memberikan pengalaman kerja, pengembangan, dan lingkungan yang sesuai. Karena itu, data talenta seharusnya tidak berhenti digunakan ketika proses seleksi selesai.

Informasi mengenai potensi dan karakteristik karyawan dapat menjadi dasar untuk merancang pengembangan yang lebih relevan. Sementara data mengenai employee engagement dan satisfaction dapat membantu perusahaan memahami bagaimana kondisi karyawan serta faktor yang berpotensi memengaruhi komitmen mereka.

Pendekatan ini membuat siklus pengelolaan talenta menjadi lebih terintegrasi: data digunakan untuk merekrut, dikembangkan setelah seseorang bergabung, lalu dievaluasi untuk memahami keterlibatan dan kemungkinan bertahannya karyawan.

Bagi perusahaan, manfaatnya bukan sekadar memiliki database karyawan yang lebih lengkap. Tujuan akhirnya adalah membuat keputusan HR yang lebih tepat dan memiliki kaitan dengan kebutuhan bisnis.

HR Mulai Mengukur Dampak Keputusan Talenta

Perubahan tersebut juga menggeser pertanyaan utama dalam pengelolaan SDM. HR tidak lagi cukup menjawab berapa banyak orang yang direkrut atau berapa tinggi skor asesmen kandidat. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah keputusan tersebut menghasilkan karyawan yang mampu berkontribusi, berkembang, dan bertahan.

Ahmad Fachrur Rivai, Chief of Marketing & Customer Success Talentlytica, menekankan pentingnya melihat data talenta dari sisi dampaknya terhadap bisnis.

“Yang dicari klien bukan sekadar skor asesmen, tetapi dampaknya pada bisnis. Ketika keterlibatan karyawan bisa dibaca lewat data lalu ditindaklanjuti, di situ ia mulai berkorelasi dengan produktivitas dan retensi. Itulah nilai yang kami dampingi untuk kita wujudkan,” ujar Alul, nama sapaan akrab dari Ahmad Fachrur Rivai baru-baru ini di Jakarta.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa data HR baru memiliki nilai strategis ketika diterjemahkan menjadi tindakan. Data mengenai kandidat tidak banyak berarti apabila tidak membantu perusahaan menentukan siapa yang direkrut dan bagaimana orang tersebut dikembangkan.

 

Kandidat dengan profil tertentu mungkin sangat sesuai untuk satu posisi, tetapi belum tentu memberikan hasil yang sama ketika ditempatkan pada peran berbeda. Begitu pula seorang karyawan yang memiliki potensi kepemimpinan tinggi mungkin membutuhkan jalur pengembangan yang berbeda dibandingkan individu yang unggul sebagai spesialis. Karena itu, pemanfaatan data talenta semakin diarahkan untuk menghasilkan keputusan yang lebih personal dan kontekstual.

Talentlytica, sebagai HR Strategic Partner, mengambil posisi dalam perubahan tersebut dengan mendampingi organisasi mengubah data talenta menjadi keputusan strategis, mulai dari rekrutmen, pengembangan, hingga perencanaan suksesi.

“Kami percaya bahwa cara terbaik untuk meyakinkan klien adalah dengan membuktikannya lebih dulu di dalam. Penghargaan ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis data yang kami tawarkan kepada klien juga menjadi fondasi cara kami membangun tim sendiri,” ujar Aswin Januarsjaf, Founder & CEO Talentlytica.

Manusia dan Teknologi Akan Semakin Beririsan di HR

 Pada akhirnya, masa depan rekrutmen bukan semata-mata tentang seberapa banyak teknologi yang digunakan perusahaan. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana teknologi dan manusia bekerja bersama untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Teknologi dapat membantu HR mengolah data dalam jumlah besar dan menemukan pola yang sulit terlihat secara manual. Namun, manusia tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, budaya organisasi, kebutuhan bisnis, serta dinamika yang tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi angka.

Perspektif tersebut sejalan dengan tema Stellar Workplace Award 2026, 'Blended Workforce of Human & Machine in Driving Employee Engagement' yang menyoroti kolaborasi manusia dan teknologi dalam meningkatkan keterlibatan karyawan.

Dalam ajang yang digelar Kontan Business & Investment Media bersama GML Performance Consulting tersebut, PT Global Talentlytica Indonesia meraih dua penghargaan, yakni Stellar Workplace Recognition in Employee Commitment dan Stellar Workplace Recognition in Employee Satisfaction.

 

EDITOR: Diar Candra