← Beranda
6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Merasa Cemburu dengan Masa Lalu Pasangannya Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 8 September 2026 | 20.33 WIB
seseorang yang cemburu pada masa lalu pasangan./Magnific/New Africa

JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, masa lalu seharusnya menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang yang sudah berlalu. Namun, bagi sebagian orang, mengetahui bahwa pasangannya pernah mencintai orang lain, pernah memiliki hubungan serius, atau memiliki pengalaman romantis sebelum bertemu dengannya justru dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.

Muncul pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah dia lebih mencintai mantannya daripada aku?”, “Apakah aku kalah dibandingkan orang dari masa lalunya?”, atau “Bagaimana kalau sebenarnya dia masih mengingat mantannya?”

Perasaan tersebut sering kali disebut sebagai cemburu terhadap masa lalu pasangan. Dalam psikologi, fenomena ini dapat berkaitan dengan retroactive jealousy atau kecemburuan retrospektif, yaitu rasa cemburu, tidak aman, atau terancam yang muncul karena memikirkan pengalaman romantis pasangan di masa lalu.

Menariknya, rasa cemburu tersebut tidak selalu berarti seseorang tidak mempercayai pasangannya. Ada kalanya sumber masalah justru berasal dari rasa tidak aman dalam diri sendiri, pengalaman masa lalu, pola berpikir, atau ketakutan akan kehilangan.

Lalu, mengapa seseorang bisa merasa cemburu terhadap sesuatu yang bahkan sudah terjadi sebelum hubungan dimulai?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (6/9), terdapat enam alasan yang dapat menjelaskannya dari sudut pandang psikologi.

1. Takut Membandingkan Diri dengan Mantan Pasangan

Salah satu penyebab paling umum adalah kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang dari masa lalu pasangan.

Ketika seseorang mengetahui bahwa pasangannya pernah memiliki hubungan romantis sebelumnya, pikirannya dapat mulai membuat perbandingan.

"Apakah mantannya lebih menarik?"

"Apakah mantannya lebih romantis?"

"Apakah mereka lebih bahagia daripada kami?"

"Apakah pasangan saya pernah mencintai mantannya lebih dalam?"

Masalahnya, perbandingan seperti ini hampir tidak pernah benar-benar adil.

Seseorang biasanya hanya mengetahui sebagian kecil dari hubungan masa lalu pasangannya. Namun, otak dapat mengisi bagian yang tidak diketahui dengan asumsi dan imajinasi.

Jika seseorang membayangkan mantan pasangannya sebagai sosok yang sangat menarik, romantis, sukses, atau sempurna, maka dirinya sendiri bisa merasa memiliki kekurangan.

Padahal, hubungan sebelumnya berakhir karena berbagai alasan yang kompleks. Tidak ada hubungan yang hanya terdiri dari momen-momen indah.

Kecemburuan kemudian bukan semata-mata muncul karena mantan tersebut, tetapi karena adanya pertanyaan yang lebih dalam:

“Apakah aku cukup baik untuk pasangan saya?”

Dengan kata lain, rasa cemburu terhadap masa lalu terkadang merupakan cerminan dari rasa tidak aman terhadap diri sendiri.

Semakin rendah seseorang menilai dirinya, semakin mudah ia menganggap orang lain sebagai kompetitor, bahkan ketika kompetitor tersebut sebenarnya sudah tidak berada dalam hubungan dengan pasangannya.

2. Takut Tidak Menjadi "Yang Terbaik"

Sebagian orang memiliki kebutuhan yang kuat untuk merasa spesial dalam hubungan.

Mereka ingin merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling dicintai, paling berarti, atau paling penting dalam kehidupan romantis pasangannya.

Ketika mengetahui pasangan pernah mencintai seseorang sebelumnya, muncul kenyataan yang mungkin sulit diterima:

“Ternyata sebelum aku datang, ada orang lain yang pernah menempati posisi penting dalam hidupnya.”

Kesadaran tersebut dapat mengganggu perasaan sebagai pribadi yang istimewa.

Seseorang mungkin mulai bertanya-tanya apakah pengalaman bersama dirinya benar-benar lebih berarti dibandingkan pengalaman pasangan di masa lalu.

Padahal, cinta bukanlah kompetisi yang memiliki papan skor.

Hubungan baru tidak harus "mengalahkan" hubungan lama agar menjadi hubungan yang bermakna.

Seseorang dapat memiliki kenangan dari masa lalu sekaligus mencintai pasangannya saat ini dengan tulus. Memiliki pengalaman romantis sebelumnya juga tidak otomatis berarti seseorang masih menginginkan hubungan tersebut.

Kesulitan muncul ketika seseorang menganggap cinta harus memiliki peringkat:

mantan pertama, mantan terbaik, hubungan paling romantis, pengalaman paling berkesan, dan seterusnya.

Cara berpikir seperti itu dapat membuat seseorang terus mencari bukti bahwa dirinya berada di posisi pertama.

Akibatnya, hal-hal kecil pun dapat menjadi pemicu kecemburuan.

3. Memiliki Rasa Takut Akan Kehilangan

Cemburu pada masa lalu juga dapat berhubungan dengan ketakutan kehilangan hubungan yang sedang dijalani.

Ironisnya, seseorang justru dapat menjadi lebih cemburu ketika ia sangat menyayangi pasangannya.

Ketika hubungan dianggap sangat berharga, kemungkinan kehilangan hubungan tersebut terasa semakin menakutkan.

Masa lalu pasangan kemudian dapat dianggap sebagai ancaman, meskipun secara nyata tidak ada ancaman.

Misalnya, seseorang mengetahui bahwa pasangannya pernah sangat mencintai mantan kekasihnya. Informasi tersebut kemudian memunculkan pikiran:

"Bagaimana jika dia masih memiliki perasaan?"

"Bagaimana jika suatu hari dia bertemu mantannya lagi?"

"Bagaimana jika ternyata saya tidak bisa membuatnya sebahagia mantannya?"

Pikiran-pikiran tersebut dapat berkembang menjadi kecemasan.

Dalam kondisi tertentu, orang yang mengalami kecemburuan retrospektif bisa terus mencari kepastian. Ia mungkin menanyakan detail hubungan lama pasangannya berulang kali, ingin mengetahui kapan hubungan tersebut dimulai, mengapa berakhir, apa yang dilakukan bersama, atau seberapa besar cinta yang pernah dirasakan.

Sayangnya, mencari informasi sebanyak-banyaknya tidak selalu membuat kecemasan hilang.

Justru, semakin banyak detail yang diketahui, semakin banyak pula bahan yang dapat digunakan otak untuk membuat perbandingan.

Karena itu, masalah sebenarnya terkadang bukan kurangnya informasi, tetapi ketidakmampuan untuk merasa aman dengan ketidakpastian.

4. Pengalaman Masa Lalu Membentuk Rasa Tidak Aman

Cara seseorang merespons masa lalu pasangan juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman yang pernah ia alami sendiri.

Seseorang yang pernah dikhianati, ditinggalkan, dibandingkan dengan orang lain, atau mengalami hubungan yang tidak sehat mungkin menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu pasangan.

Pengalaman tersebut dapat membuat otak belajar untuk selalu waspada.

Misalnya, seseorang pernah memiliki pasangan yang diam-diam masih berhubungan dengan mantannya. Setelah mengalami kejadian tersebut, dalam hubungan berikutnya ia mungkin menjadi sangat sensitif ketika mendengar cerita mengenai mantan.

Padahal pasangan yang sekarang belum tentu melakukan hal yang sama.

Namun, pengalaman sebelumnya dapat membuat seseorang berpikir:

“Saya pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Saya harus berhati-hati agar tidak mengalaminya lagi.”

Ini adalah salah satu alasan mengapa reaksi emosional seseorang terkadang lebih besar daripada situasi yang sedang dihadapi.

Yang bereaksi bukan hanya terhadap keadaan saat ini, tetapi juga terhadap pengalaman emosional yang pernah terjadi sebelumnya.

Karena itu, penting untuk membedakan antara fakta masa kini dan ketakutan yang berasal dari pengalaman masa lalu.

Pasangan yang sekarang mungkin tidak memberikan alasan nyata untuk dicurigai. Namun, luka atau pengalaman sebelumnya dapat membuat seseorang merasa seolah-olah bahaya masih ada.

5. Pikiran Cenderung Mengisi Kekosongan dengan Imajinasi

Salah satu hal yang membuat kecemburuan retrospektif menjadi rumit adalah kenyataan bahwa seseorang tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh masa lalu pasangannya.

Ketika informasi tidak lengkap, pikiran dapat mulai membuat cerita sendiri.

Misalnya, pasangan mengatakan:

"Dulu saya pernah punya hubungan selama tiga tahun."

Informasi tersebut sebenarnya sangat sederhana.

Namun, orang yang sedang cemburu mungkin mulai membayangkan berbagai hal:

"Pasti mereka sangat dekat."

"Mungkin mereka lebih bahagia daripada kami."

"Mungkin mereka melakukan banyak hal romantis."

"Mungkin dia masih mengingat semua itu."

Semakin sering seseorang memikirkan hal tersebut, semakin nyata imajinasi tersebut terasa.

Padahal, imajinasi bukanlah bukti.

Inilah salah satu bahaya dari kecemburuan terhadap masa lalu: seseorang dapat mengalami emosi yang sangat kuat berdasarkan sesuatu yang sebenarnya tidak sedang terjadi.

Lebih jauh lagi, manusia memiliki kecenderungan untuk mengingat hal-hal yang emosional secara lebih kuat. Ketika seseorang sudah merasa terancam, pikirannya akan lebih mudah memperhatikan informasi yang mendukung rasa takut tersebut.

Misalnya, sebuah foto lama pasangan bersama mantan dapat terasa sangat mengganggu, sementara fakta bahwa pasangan sekarang memilih untuk menjalani hubungan dengannya justru dianggap biasa saja.

Akibatnya, perhatian menjadi tidak seimbang.

Yang terjadi bukan lagi sekadar melihat masa lalu, tetapi terjebak dalam interpretasi terhadap masa lalu.

6. Kesulitan Menerima Bahwa Pasangan Memiliki Kehidupan Sebelum Bertemu Kita

Alasan terakhir mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat manusiawi.

Tidak semua orang mudah menerima kenyataan bahwa pasangan memiliki kehidupan sebelum dirinya hadir.

Kita mungkin berharap menjadi bagian dari seluruh cerita seseorang.

Namun, kenyataannya hubungan biasanya dimulai ketika dua orang sudah memiliki pengalaman, kenangan, pertemanan, kegagalan, bahkan luka masing-masing.

Pasangan bukanlah halaman kosong.

Ia sudah menjadi dirinya sendiri sebelum bertemu dengan kita.

Menerima kenyataan tersebut membutuhkan kedewasaan emosional.

Kita perlu memahami bahwa masa lalu pasangan adalah bagian dari perjalanan yang membentuk siapa dirinya sekarang.

Hubungan-hubungan sebelumnya mungkin mengajarinya tentang apa yang ia inginkan, apa yang tidak ia sukai, bagaimana berkomunikasi, bagaimana menghadapi konflik, dan seperti apa hubungan yang sehat baginya.

Dengan demikian, masa lalu tidak selalu menjadi pesaing hubungan saat ini.

Terkadang, justru pengalaman masa lalu membantu seseorang menjadi pasangan yang lebih matang di masa sekarang.

Apakah Cemburu terhadap Masa Lalu Itu Normal?

Rasa cemburu dalam kadar tertentu merupakan emosi manusia yang wajar.

Merasa sedikit tidak nyaman ketika mendengar cerita tentang mantan pasangan tidak otomatis berarti seseorang memiliki masalah psikologis.

Yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar perasaan tersebut menguasai kehidupan dan hubungan.

Jika seseorang hanya merasa tidak nyaman sesekali lalu mampu kembali fokus pada hubungan saat ini, kemungkinan besar hal tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikelola.

Namun, masalah dapat muncul ketika kecemburuan membuat seseorang:

terus-menerus menanyakan masa lalu pasangan;
mencari atau memeriksa informasi tentang mantan;
membandingkan dirinya dengan mantan secara obsesif;
sulit menikmati hubungan yang sedang dijalani;
terus meminta pasangan memberikan kepastian;
menjadi posesif atau mengontrol;
merasa marah kepada pasangan atas sesuatu yang terjadi sebelum hubungan dimulai;
atau mengalami kecemasan yang terus berulang karena pikiran mengenai masa lalu.

Pada titik tersebut, persoalannya bukan lagi sekadar "cemburu pada mantan", melainkan pola kecemasan dan ketidakamanan yang mulai memengaruhi kualitas hubungan.

Bagaimana Cara Mengelola Kecemburuan terhadap Masa Lalu Pasangan?

Langkah pertama adalah menyadari bahwa perasaan tidak selalu sama dengan fakta.

Ketika muncul pikiran:

"Dia pasti lebih mencintai mantannya."

Cobalah mengubahnya menjadi:

"Saya sedang takut bahwa saya tidak cukup berarti baginya."

Perubahan ini terlihat kecil, tetapi sangat penting.

Kita mulai memisahkan fakta dari interpretasi.

Selanjutnya, tanyakan kepada diri sendiri:

“Apa sebenarnya yang saya takutkan?”

Apakah takut ditinggalkan?

Takut dibandingkan?

Takut tidak cukup menarik?

Takut dikhianati?

Atau takut bahwa diri kita tidak seistimewa yang kita harapkan?

Menemukan ketakutan di balik kecemburuan sering kali lebih membantu daripada terus mencari informasi tentang masa lalu pasangan.

Selain itu, penting untuk belajar mengarahkan perhatian kembali pada hubungan yang sedang terjadi sekarang.

Pasangan memilih untuk bersama kita bukan dengan versi dirinya di masa lalu, melainkan dengan dirinya yang sekarang.

Yang paling relevan bukan siapa yang pernah dicintainya bertahun-tahun lalu, tetapi bagaimana ia memperlakukan kita hari ini.

Apakah ia menghargai kita?

Apakah ia jujur?

Apakah ia hadir ketika dibutuhkan?

Apakah ia berusaha membangun hubungan bersama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih relevan untuk menilai kualitas sebuah hubungan dibandingkan membandingkan diri dengan seseorang dari masa lalu.

Penutup

Cemburu terhadap masa lalu pasangan sebenarnya sering kali bukan tentang masa lalu itu sendiri.

Di baliknya dapat terdapat rasa tidak aman, ketakutan kehilangan, kebiasaan membandingkan diri, pengalaman buruk sebelumnya, atau kesulitan menerima ketidakpastian.

Karena itu, ketika rasa cemburu muncul, mungkin pertanyaan yang paling berguna bukan:

“Mengapa pasangan saya pernah mencintai orang lain?”

Melainkan:

“Apa yang sebenarnya saya takutkan dari kenyataan bahwa dia memiliki masa lalu?”

Pertanyaan kedua dapat membawa kita lebih dekat kepada akar masalah.

Masa lalu pasangan memang tidak dapat diubah. Kita juga tidak dapat menghapus kenangan yang pernah dimiliki seseorang.

Namun, kita dapat memilih bagaimana memaknai masa lalu tersebut.

Hubungan yang sehat bukan hubungan di mana kedua orang tidak memiliki masa lalu, melainkan hubungan di mana keduanya mampu menerima bahwa mereka pernah menjalani kehidupan sebelum akhirnya bertemu.

Pada akhirnya, yang menentukan sebuah hubungan bukan siapa yang pernah hadir sebelumnya, tetapi siapa yang dipilih, dihargai, dan diperjuangkan pada hari ini.

EDITOR: Hanny Suwindari