← Beranda
7 Alasan Mengapa Sebagian Orang Tetap Bertahan Meski Sahabatnya Pergi Meninggalkan Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 8 September 2026 | 20.28 WIB
seseorang yang tetap bertahan meski sahabatnya telah pergi./ Magnific/chokniti

JawaPos.com - Tidak semua orang mampu pergi ketika sebuah persahabatan mulai berubah.

Ada orang yang ketika sahabatnya menjauh, memilih menerima keadaan dan melanjutkan hidup. Namun, ada pula yang tetap bertahan. Mereka masih mengingat, masih berharap, masih membuka pintu komunikasi, bahkan setelah sahabatnya pergi meninggalkan mereka.

Bagi orang lain, sikap seperti ini terkadang terlihat sulit dipahami.

“Kenapa masih bertahan?”

“Bukankah lebih baik melupakan saja?”

“Kalau dia sudah pergi, mengapa masih menunggunya?”

Padahal, dari sudut pandang psikologi, seseorang tidak selalu bertahan karena lemah. Ada berbagai proses emosional yang membuat seseorang membutuhkan waktu lebih panjang untuk melepaskan sebuah hubungan yang bermakna.

Persahabatan bukan sekadar interaksi sosial. Bagi sebagian orang, sahabat dapat menjadi tempat berbagi cerita, sumber rasa aman, bagian dari identitas diri, bahkan seseorang yang hadir dalam berbagai fase penting kehidupan.

Karena itu, ketika hubungan tersebut tiba-tiba berakhir, yang hilang bukan hanya seorang teman. Seseorang juga bisa merasa kehilangan rutinitas, kenangan, rasa aman, dan gambaran tentang masa depan yang selama ini dibangun bersama.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (6/9), terdapat tujuh alasan psikologis mengapa sebagian orang tetap bertahan meskipun sahabatnya telah pergi.

1. Karena Ikatan Emosional Tidak Hilang Seketika

Salah satu alasan paling mendasar adalah karena hubungan emosional membutuhkan waktu untuk berubah.

Ketika seseorang sudah lama dekat dengan sahabatnya, otak dan emosinya terbiasa dengan kehadiran orang tersebut. Ada kebiasaan saling mengirim pesan, berbagi cerita, bertemu, bercanda, atau sekadar mengetahui bahwa ada seseorang yang bisa dihubungi ketika kehidupan terasa berat.

Ketika semua itu tiba-tiba berhenti, pikiran tidak otomatis bisa berkata, “Baiklah, semuanya sudah selesai.”

Perasaan sering kali berjalan lebih lambat daripada logika.

Secara rasional seseorang mungkin sudah memahami bahwa persahabatan tersebut tidak lagi sama. Namun secara emosional, ia masih merasakan kedekatan yang dulu terbentuk.

Itulah mengapa seseorang bisa mengetahui bahwa sahabatnya sudah pergi, tetapi masih berharap suatu hari mereka berbicara kembali.

Ini bukan selalu berarti orang tersebut tidak mampu move on.

Terkadang, itu hanya menunjukkan bahwa ikatan emosional membutuhkan proses untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan baru.

Semakin lama sebuah hubungan berlangsung dan semakin banyak pengalaman yang dibagikan, semakin banyak pula asosiasi emosional yang terbentuk.

Karena itu, kehilangan sahabat lama bisa terasa jauh lebih berat daripada kehilangan hubungan sosial yang baru terbentuk.

Ada begitu banyak “jejak” yang harus dilepaskan.

Tempat tertentu mengingatkan kepadanya.

Sebuah lagu mengingatkan kepadanya.

Percakapan tertentu mengingatkan kepadanya.

Bahkan kebiasaan sederhana seperti membuka ponsel dan berharap ada pesan darinya bisa menjadi pengingat bahwa hubungan tersebut pernah begitu berarti.

Maka, bertahan dalam kondisi seperti ini kadang bukan tentang tidak ingin melepaskan, melainkan tentang belum terbiasa dengan kehidupan tanpa kehadiran orang tersebut.

2. Karena Kenangan Positif Membuat Hubungan Terasa Masih Layak Dipertahankan

Manusia tidak mengingat hubungan hanya berdasarkan keadaan terakhirnya.

Seseorang mungkin telah ditinggalkan oleh sahabatnya hari ini, tetapi pikirannya masih menyimpan bertahun-tahun pengalaman positif yang pernah terjadi sebelumnya.

Ia mengingat saat sahabatnya menolong ketika sedang kesulitan.

Ia mengingat percakapan panjang di malam hari.

Ia mengingat perjalanan bersama.

Ia mengingat tawa yang mungkin tidak pernah ia dapatkan dari orang lain.

Kenangan-kenangan tersebut dapat membuat seseorang merasa bahwa hubungan itu terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja.

Dalam psikologi, pengalaman emosional yang kuat dapat membuat suatu hubungan memiliki makna subjektif yang besar. Karena itu, ketika hubungan berakhir, seseorang mungkin tidak hanya melihat orang yang pergi, tetapi juga seluruh sejarah yang mereka miliki bersama.

Ada pemikiran seperti:

“Bukankah dulu kami sangat dekat?”

“Bukankah dia pernah ada untukku?”

“Apakah semua yang kami lalui benar-benar berakhir begitu saja?”

Pertanyaan seperti ini dapat membuat seseorang tetap bertahan.

Ia mungkin bukan sedang mempertahankan kondisi hubungan yang sekarang. Ia sedang berusaha mempertahankan makna dari hubungan yang pernah ada.

Inilah salah satu alasan mengapa melepaskan seseorang terkadang terasa seperti melepaskan sebagian dari masa lalu diri sendiri.

Namun, ada hal penting yang perlu dipahami.

Kenangan yang indah tidak selalu berarti hubungan tersebut masih sehat untuk dipertahankan.

Seseorang boleh menghargai masa lalu tanpa harus terus tinggal di dalamnya.

Kenangan dapat tetap menjadi sesuatu yang berharga meskipun hubungan akhirnya berubah.

3. Karena Masih Ada Harapan Bahwa Persahabatan Itu Bisa Kembali Seperti Dulu

Harapan adalah salah satu alasan terbesar seseorang tetap bertahan.

Ketika sahabat pergi, seseorang mungkin berpikir:

“Mungkin dia hanya sedang membutuhkan waktu.”

“Mungkin suatu hari dia akan kembali.”

“Mungkin kami hanya sedang mengalami kesalahpahaman.”

“Mungkin hubungan ini masih bisa diperbaiki.”

Harapan membuat pintu emosional tetap terbuka.

Dalam kondisi tertentu, harapan memang dapat menjadi sesuatu yang sehat. Harapan mendorong seseorang untuk mencoba memperbaiki hubungan, berkomunikasi dengan lebih baik, atau memberi kesempatan bagi kedua pihak untuk memahami kesalahan masing-masing.

Tetapi harapan juga bisa membuat seseorang terlalu lama berada dalam situasi yang sebenarnya sudah selesai.

Masalahnya bukan pada berharap.

Masalah muncul ketika seseorang mulai mengorbankan kehidupan saat ini demi kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Ia berhenti membuka diri kepada orang baru.

Ia terus memeriksa pesan.

Ia menunggu permintaan maaf.

Ia menafsirkan setiap unggahan media sosial.

Ia mencari tanda bahwa sahabatnya masih memikirkannya.

Hari-harinya akhirnya berputar di sekitar seseorang yang bahkan mungkin sudah tidak lagi memikirkan hubungan tersebut.

Di sinilah pentingnya membedakan antara harapan dan penyangkalan.

Harapan mengatakan:

“Jika suatu hari dia kembali, aku bisa mempertimbangkan hubungan itu lagi.”

Penyangkalan mengatakan:

“Dia pasti kembali, jadi aku tidak perlu menerima kenyataan bahwa hubungan ini sudah berakhir.”

Keduanya terlihat mirip, tetapi secara psikologis sangat berbeda.

Harapan masih memberi ruang bagi kenyataan.

Penyangkalan menolak kenyataan.

4. Karena Mereka Menganggap Kesetiaan Berarti Tidak Meninggalkan

Bagi sebagian orang, persahabatan bukan sekadar hubungan sosial. Persahabatan adalah bentuk komitmen.

Ketika sudah menganggap seseorang sebagai sahabat, mereka memiliki prinsip:

“Kalau aku benar-benar peduli, aku tidak akan meninggalkannya hanya karena keadaan sedang buruk.”

Nilai kesetiaan seperti ini dapat membuat seseorang tetap bertahan meskipun hubungan tersebut sedang mengalami masalah.

Mereka mungkin berpikir bahwa menjadi sahabat berarti memberikan kesempatan kedua, ketiga, bahkan berkali-kali.

Mereka tidak ingin menjadi orang yang menyerah terlebih dahulu.

Terlebih lagi jika mereka merasa bahwa sahabatnya sedang menghadapi masalah tertentu.

Mereka mungkin berkata dalam hati:

“Barangkali dia sedang tidak baik-baik saja.”

“Barangkali dia sedang menghadapi sesuatu yang tidak aku ketahui.”

“Barangkali aku harus bersabar.”

Empati seperti ini pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk.

Justru kemampuan memahami keadaan orang lain merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

Namun, kesetiaan juga membutuhkan batas.

Kesetiaan tidak berarti seseorang harus terus menerima perlakuan yang menyakitkan.

Memahami seseorang tidak berarti harus membiarkan diri sendiri terus terluka.

Memaafkan seseorang juga tidak selalu berarti harus mempertahankan hubungan dengan cara yang sama.

Terkadang bentuk kesetiaan yang paling sehat bukanlah terus mengejar orang yang pergi, melainkan menghormati hubungan yang pernah ada sambil menghormati diri sendiri.

5. Karena Kehilangan Sahabat Bisa Terasa Seperti Kehilangan Bagian dari Identitas Diri

Ini adalah alasan yang sering tidak terlihat dari luar.

Persahabatan yang berlangsung lama dapat menjadi bagian dari identitas seseorang.

Kita sering mendefinisikan diri melalui hubungan sosial:

“Aku dan dia sudah berteman sejak sekolah.”

“Dia adalah orang yang paling tahu tentangku.”

“Kami selalu melakukan semuanya bersama.”

“Dia tahu sisi diriku yang tidak diketahui orang lain.”

Ketika hubungan seperti itu berakhir, seseorang bukan hanya kehilangan teman.

Ia bisa mengalami pertanyaan tentang dirinya sendiri:

“Sekarang aku siapa?”

“Dengan siapa aku akan melakukan kebiasaan-kebiasaan itu?”

“Siapa yang akan mendengarkan cerita-ceritaku?”

“Apakah aku masih menjadi orang yang sama tanpa dia?”

Inilah mengapa kehilangan persahabatan yang sangat dekat terkadang menciptakan kekosongan yang besar.

Seseorang perlu membangun kembali rutinitas sosial dan identitasnya.

Ia harus belajar menikmati aktivitas tertentu sendirian.

Ia harus menemukan lingkungan baru.

Ia harus membangun hubungan baru.

Dan proses tersebut membutuhkan waktu.

Karena itu, bertahan secara emosional terkadang merupakan bagian dari proses penyesuaian identitas.

Seseorang belum sepenuhnya menemukan “versi dirinya” yang baru setelah hubungan tersebut berubah.

Namun perlahan, seseorang dapat belajar bahwa identitas dirinya sebenarnya lebih luas daripada satu persahabatan.

Ia tetap menjadi dirinya sendiri.

Nilainya tidak hilang hanya karena seseorang pergi.

6. Karena Ada Perasaan Bersalah dan Keinginan Memperbaiki Kesalahan

Tidak semua orang yang bertahan sebenarnya ingin mendapatkan kembali sahabatnya.

Sebagian orang bertahan karena masih memiliki rasa bersalah.

Mereka terus berpikir:

“Seandainya waktu itu aku tidak berkata seperti itu.”

“Seandainya aku lebih memahami dia.”

“Seandainya aku meminta maaf lebih cepat.”

“Seandainya aku tidak melakukan kesalahan tersebut.”

Pikiran “seandainya” dapat membuat seseorang terjebak dalam masa lalu.

Ia terus memutar ulang percakapan lama dan membayangkan versi lain dari kejadian tersebut.

Secara psikologis, manusia memang memiliki kecenderungan untuk mencari penjelasan atas peristiwa emosional yang belum terselesaikan.

Jika hubungan berakhir tanpa penutupan yang jelas, pikiran bisa terus mencari jawaban.

“Kenapa dia pergi?”

“Apa sebenarnya kesalahanku?”

“Apakah aku masih bisa memperbaikinya?”

Keinginan mendapatkan closure atau penyelesaian emosional dapat menjadi alasan seseorang tetap bertahan.

Ia ingin satu percakapan terakhir.

Satu penjelasan.

Satu permintaan maaf.

Atau sekadar kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang dulu belum sempat dikatakan.

Tetapi tidak semua hubungan memberikan penutupan seperti yang kita inginkan.

Terkadang, closure tidak datang dari orang lain.

Kita harus membangunnya sendiri.

Artinya, seseorang pada akhirnya perlu menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban dan tidak semua hubungan akan berakhir dengan percakapan yang sempurna.

7. Karena Mereka Masih Mencintai dan Menghargai Hubungan Itu, Meskipun Hubungannya Sudah Berubah

Pada akhirnya, alasan paling sederhana mungkin adalah karena mereka masih peduli.

Kepedulian tidak selalu hilang hanya karena seseorang pergi.

Seseorang bisa kecewa dan tetap menyayangi.

Bisa terluka dan tetap mendoakan.

Bisa menerima perpisahan dan tetap menghargai masa lalu.

Inilah bagian yang sering sulit dipahami.

Kita sering menganggap bahwa jika seseorang sudah pergi, maka satu-satunya pilihan yang sehat adalah berhenti peduli.

Padahal, secara emosional, manusia tidak bekerja sesederhana itu.

Perasaan tidak memiliki tombol mati.

Hubungan yang pernah bermakna dapat meninggalkan jejak yang bertahan lama.

Namun, ada perbedaan besar antara tetap peduli dan tetap menggantungkan hidup kepada seseorang.

Seseorang bisa berkata:

“Aku masih menyayanginya sebagai sahabat, tetapi aku menerima bahwa dia tidak lagi ingin berada dalam hidupku.”

Kalimat seperti ini menunjukkan bentuk penerimaan yang lebih matang.

Ia tidak menyangkal perasaan.

Ia juga tidak memaksa orang lain untuk kembali.

Ia mengakui bahwa hubungan tersebut pernah berarti, tetapi kehidupan harus tetap berjalan.

Pada titik tertentu, bertahan bukan lagi berarti menunggu seseorang kembali.

Bertahan bisa berarti tetap berdiri setelah seseorang pergi.

Lalu, Kapan Bertahan Menjadi Tidak Sehat?

Tidak semua bentuk bertahan perlu dipertahankan.

Jika seseorang terus-menerus mengalami kecemasan, kehilangan fokus pada kehidupan sehari-hari, mengisolasi diri, menyalahkan dirinya sendiri, atau terus mengejar seseorang yang sudah jelas tidak ingin melanjutkan hubungan, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali arti “bertahan”.

Hubungan yang sehat membutuhkan timbal balik.

Persahabatan tidak bisa dipertahankan hanya oleh satu orang.

Satu orang bisa membuka pintu, tetapi ia tidak bisa memaksa orang lain untuk masuk.

Satu orang bisa meminta maaf, tetapi ia tidak bisa memaksa orang lain untuk memaafkan.

Satu orang bisa menunjukkan bahwa ia masih peduli, tetapi ia tidak bisa memaksa orang lain untuk kembali peduli.

Karena itu, melepaskan bukan selalu tanda bahwa seseorang sudah tidak sayang.

Terkadang, melepaskan justru merupakan bentuk penghormatan terhadap kenyataan.

Bertahan Tidak Selalu Berarti Menunggu

Ada kesalahpahaman bahwa seseorang yang masih mengingat sahabatnya berarti belum move on.

Padahal, seseorang dapat melanjutkan hidup tanpa harus menghapus masa lalu.

Move on bukan berarti melupakan semua kenangan.

Move on juga bukan berarti berpura-pura bahwa hubungan tersebut tidak pernah berarti.

Move on berarti menerima bahwa sesuatu yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup mungkin tidak lagi memiliki tempat yang sama.

Kita boleh mengingat.

Kita boleh merindukan.

Kita boleh sedih.

Kita boleh berharap yang terbaik untuk orang tersebut.

Tetapi pada saat yang sama, kita juga perlu memberikan izin kepada diri sendiri untuk melanjutkan hidup.

Karena terkadang, orang yang kita tunggu bukanlah orang yang akan kembali.

Dan terkadang, kehidupan yang lebih baik justru dimulai ketika kita berhenti menunggu.

Penutup

Sebagian orang tetap bertahan ketika sahabatnya pergi bukan karena mereka lemah, bodoh, atau tidak memiliki harga diri.

Mereka mungkin sedang menghadapi proses emosional yang kompleks.

Mereka masih terikat oleh kenangan.

Masih memiliki harapan.

Masih menghargai kesetiaan.

Masih mencari penjelasan.

Masih menyesuaikan identitasnya.

Atau sekadar masih menyayangi seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya.

Namun, pada akhirnya, ada satu hal yang penting untuk dipahami:

Tidak semua orang yang kita sayangi ditakdirkan untuk tinggal selamanya.

Ada orang yang hadir untuk menemani satu fase kehidupan.

Ada yang tinggal bertahun-tahun.

Ada yang akhirnya berjalan ke arah berbeda.

Dan ada pula yang meninggalkan luka sekaligus pelajaran.

Kita tidak selalu memiliki kendali atas siapa yang pergi.

Tetapi kita memiliki kendali atas apa yang kita lakukan setelah mereka pergi.

Kita dapat memilih untuk terus mengejar.

Atau kita dapat memilih untuk menghargai apa yang pernah ada, menerima apa yang sudah berubah, dan perlahan membangun kehidupan yang tetap berarti tanpa mereka.

Karena pada akhirnya, melepaskan seseorang tidak selalu berarti berhenti menyayangi. Kadang-kadang, melepaskan berarti belajar menyayangi diri sendiri juga.

EDITOR: Hanny Suwindari