← Beranda
Merasakan 6 Tanda Ini pada Hubunganmu? Mungkin Pasanganmu Tidak Layak Diperjuangkan Menurut Psikolog
Irfan FerdiansyahSelasa, 8 September 2026 | 20.18 WIB
seseorang yang memiliki pasangan yang tidak layak untuk diperjuangkan./Magnific/pressmaster

JawaPos.com - Tidak semua hubungan yang sulit harus diakhiri. Dalam sebuah hubungan, konflik, perbedaan pendapat, rasa kecewa, bahkan masa-masa ketika komunikasi terasa buntu adalah sesuatu yang bisa terjadi pada hampir setiap pasangan.

Namun, ada perbedaan besar antara hubungan yang sedang menghadapi masalah dan hubungan yang secara konsisten membuat salah satu pihak terluka, kehilangan dirinya sendiri, atau terus-menerus merasa tidak dihargai.

Sering kali seseorang bertahan bukan karena hubungannya masih sehat, tetapi karena sudah terlalu banyak investasi yang diberikan. Waktu, perhatian, kenangan, pengorbanan, bahkan harapan tentang masa depan membuat seseorang berpikir, “Sayang kalau harus berakhir sekarang.”

Padahal, dalam psikologi hubungan, mempertahankan hubungan bukan hanya soal seberapa besar cinta yang kamu miliki. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana pasangan memperlakukanmu, apakah masalah bisa diperbaiki bersama, dan apakah hubungan tersebut memberikan ruang bagi kedua orang untuk tumbuh.

Karena itu, jika akhir-akhir ini kamu mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam hubunganmu, jangan hanya bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”

Cobalah bertanya:

“Apakah hubungan ini masih baik untukku?”

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (6/9), terdapat enam tanda yang patut kamu perhatikan.

1. Kamu Selalu Merasa Tidak Pernah Cukup untuknya

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika apa pun yang kamu lakukan seolah-olah tidak pernah cukup.

Kamu sudah berusaha memberikan perhatian, tetapi dianggap kurang.

Kamu berusaha memahami dirinya, tetapi ketika kamu membutuhkan pengertian, justru kamu dianggap merepotkan.

Kamu berusaha memperbaiki kesalahan, tetapi kesalahan lama terus digunakan untuk menyerangmu.

Lama-kelamaan, kamu mulai hidup dengan perasaan harus terus membuktikan bahwa dirimu layak dicintai.

Masalahnya bukan lagi sekadar kritik dari pasangan. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan boleh menyampaikan ketidakpuasan. Namun, kritik seharusnya berfokus pada perilaku atau masalah tertentu, bukan membuat seseorang merasa bahwa dirinya secara keseluruhan tidak berharga.

Ada perbedaan antara:

“Aku kecewa karena kamu membatalkan rencana kita tanpa memberitahuku.”

dan:

“Kamu memang selalu mengecewakan. Tidak ada yang bisa diharapkan darimu.”

Kalimat pertama membahas masalah.

Kalimat kedua menyerang identitas.

Jika kamu terus-menerus mendapatkan pesan bahwa kamu tidak cukup baik, tidak cukup perhatian, tidak cukup sukses, tidak cukup romantis, atau tidak cukup memahami dirinya, kamu mungkin mulai kehilangan kepercayaan terhadap dirimu sendiri.

Bahkan tanpa sadar, kamu bisa masuk ke dalam siklus:

berusaha → gagal memenuhi ekspektasi → merasa bersalah → berusaha lebih keras → kembali merasa tidak cukup.

Hubungan seperti ini dapat sangat melelahkan secara emosional.

Yang perlu kamu tanyakan bukan hanya, “Apa aku masih bisa berusaha lebih keras?”

Tetapi:

“Apakah pasangan ini juga bersedia berusaha memperbaiki hubungan bersamaku?”

Karena hubungan yang sehat tidak seharusnya menjadi ujian yang hanya harus kamu lalui seorang diri.

2. Setiap Konflik Berakhir dengan Kamu yang Disalahkan

Hubungan tanpa konflik hampir mustahil.

Dua orang memiliki pengalaman hidup, kebutuhan, karakter, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itu, perselisihan sebenarnya bukan selalu tanda hubungan yang buruk.

Yang lebih penting adalah bagaimana pasangan menghadapi konflik.

Perhatikan jika setiap kali terjadi masalah, percakapan selalu berakhir dengan kamu yang menjadi tersangka.

Kamu menyampaikan perasaanmu, tetapi dia justru membalikkan keadaan.

Kamu mengatakan bahwa perilakunya menyakitkan, tetapi dia menjawab dengan mengungkit kesalahanmu.

Kamu mencoba menjelaskan kebutuhanmu, tetapi akhirnya kamu justru meminta maaf karena telah membicarakan masalah tersebut.

Pola semacam ini dapat membuat seseorang bingung terhadap penilaiannya sendiri.

Misalnya, kamu berkata:

“Aku merasa sedih ketika kamu tidak mengabariku sepanjang hari.”

Alih-alih membicarakan kebutuhan komunikasi, pasangan menjawab:

“Kamu terlalu menuntut.”

Lalu pembicaraan berubah menjadi perdebatan tentang bagaimana kamu terlalu sensitif.

Akhirnya, masalah awal tidak pernah selesai.

Kamu bahkan mungkin mulai berpikir:

“Jangan-jangan memang aku yang terlalu sensitif?”

Dalam hubungan yang sehat, kedua orang tidak harus selalu sepakat. Tetapi mereka seharusnya mampu mengakui bagian masing-masing dalam sebuah masalah.

Pasangan yang dewasa secara emosional mampu mengatakan:

“Aku memang salah dalam hal itu.”

Bukan selalu:

“Tapi kamu juga pernah melakukan hal yang sama.”

Perbedaan ini sangat penting.

Karena menyelesaikan konflik membutuhkan kemampuan untuk bertanggung jawab, bukan sekadar mencari siapa yang paling bersalah.

Jika kamu selalu menjadi orang yang meminta maaf, selalu menjadi pihak yang harus memahami, dan selalu menjadi orang yang harus mengalah, lama-kelamaan hubungan tersebut menjadi tidak seimbang.

3. Kamu Mulai Takut Menjadi Dirimu Sendiri

Coba perhatikan dirimu ketika sedang bersama pasangan.

Apakah kamu bisa berbicara dengan bebas?

Apakah kamu bisa mengatakan tidak?

Apakah kamu bisa menyampaikan ketidaksetujuan?

Apakah kamu bisa melakukan sesuatu tanpa takut mendapatkan reaksi yang berlebihan?

Jika jawabannya semakin sering “tidak”, ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Hubungan yang sehat seharusnya memberi seseorang rasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Tentu, berada dalam hubungan berarti mempertimbangkan perasaan pasangan. Tetapi mempertimbangkan pasangan berbeda dengan berjalan di atas kulit telur karena takut membuatnya marah.

Misalnya, kamu mulai berpikir berkali-kali sebelum mengirim pesan.

Kamu takut mengatakan bahwa kamu sedang lelah.

Kamu takut meminta waktu untuk diri sendiri.

Kamu takut bertemu teman karena khawatir pasangan akan marah.

Kamu bahkan mulai menyembunyikan pendapatmu agar tidak terjadi pertengkaran.

Pada titik tertentu, kamu mungkin menyadari bahwa dirimu yang sekarang sangat berbeda dari dirimu sebelum hubungan tersebut.

Kamu menjadi lebih pendiam.

Lebih cemas.

Lebih sering meminta maaf.

Lebih banyak menyensor perkataan.

Dan semakin sering bertanya:

“Bagaimana caranya supaya dia tidak marah?”

Jika fokusmu dalam hubungan telah berubah dari “Bagaimana kami bisa saling memahami?” menjadi “Bagaimana aku bisa mencegah dia marah?”, itu merupakan sinyal yang patut diperhatikan.

Terutama jika ketakutan tersebut muncul karena ancaman, intimidasi, penghinaan, kontrol, atau perilaku agresif.

Dalam situasi seperti itu, persoalannya bukan lagi sekadar ketidakcocokan.

Keselamatan dan kesejahteraanmu harus menjadi prioritas.

4. Dia Tidak Menghargai Batasan yang Kamu Buat

Setiap orang memiliki batasan.

Batasan dapat berkaitan dengan waktu, privasi, komunikasi, pertemanan, pekerjaan, tubuh, keuangan, maupun kebutuhan untuk memiliki ruang pribadi.

Dalam hubungan sehat, batasan tidak berarti seseorang tidak mencintai pasangannya.

Justru sebaliknya.

Batasan membantu dua orang memahami bagaimana mereka dapat hidup bersama tanpa kehilangan otonomi masing-masing.

Masalah muncul ketika pasangan berulang kali mengabaikan batasan yang sudah kamu sampaikan dengan jelas.

Misalnya kamu mengatakan:

“Aku membutuhkan waktu sendiri setelah bekerja.”

Tetapi pasangan terus memaksamu berbicara.

Atau kamu mengatakan:

“Aku tidak nyaman jika ponselku diperiksa.”

Tetapi dia tetap mengambil ponselmu dan memeriksa percakapan tanpa izin.

Atau kamu sudah mengatakan bahwa kamu tidak suka dibentak, tetapi setiap konflik dia tetap berteriak dan kemudian menganggapnya sebagai hal biasa.

Satu pelanggaran batasan mungkin dapat terjadi karena kesalahpahaman.

Namun, pelanggaran yang terus berulang setelah batasan disampaikan dengan jelas adalah masalah yang berbeda.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pasangan memahami batasanmu.

Pertanyaannya:

“Apakah dia menghormati batasanmu?”

Cinta tidak memberikan seseorang hak untuk mengontrol kehidupan pasangannya.

Kedekatan emosional juga tidak berarti kehilangan privasi.

Dan status sebagai pasangan tidak berarti seseorang boleh memperlakukanmu sesuka hati.

Jika seseorang benar-benar menghargaimu, dia mungkin tidak selalu menyukai batasanmu, tetapi dia tetap mampu menghormatinya.

5. Kamu Terus Berharap pada Versi Dirinya yang Belum Ada

Ini adalah salah satu alasan mengapa seseorang bisa bertahan terlalu lama dalam hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat.

Kamu tidak lagi mencintai hubungan yang sedang kamu jalani.

Kamu mencintai potensi hubungan tersebut.

Kamu berkata:

“Dia sebenarnya baik, hanya sedang banyak masalah.”

“Kalau dia berubah, semuanya akan berbeda.”

“Dia sebenarnya sayang, hanya belum tahu cara menunjukkannya.”

“Nanti kalau sudah menikah mungkin dia akan lebih dewasa.”

“Kalau pekerjaannya sudah stabil, mungkin hubungan kami akan membaik.”

Harapan memang penting.

Tetapi ada perbedaan antara memberi seseorang kesempatan untuk berubah dan menghabiskan hidup menunggu perubahan yang tidak pernah datang.

Dalam psikologi, manusia dapat mengalami kecenderungan mempertahankan sesuatu karena sudah banyak berinvestasi di dalamnya. Semakin lama seseorang bertahan, semakin sulit mengakui bahwa investasi tersebut mungkin tidak menghasilkan hubungan yang diharapkan.

Akhirnya muncul pikiran:

“Aku sudah bertahan selama ini. Masa harus menyerah sekarang?”

Padahal waktu yang sudah kamu berikan tidak akan kembali hanya karena kamu terus bertahan.

Kenangan indah juga tidak otomatis menjamin masa depan yang sehat.

Yang perlu dilihat adalah perilaku pasangan saat ini.

Bukan hanya siapa dia ketika pertama kali bertemu denganmu.

Bukan hanya siapa dia ketika sedang romantis.

Bukan hanya siapa dia ketika meminta maaf.

Tetapi siapa dia secara konsisten.

Apakah dia benar-benar berubah?

Apakah perubahan tersebut berlangsung lama?

Apakah dia mengambil tanggung jawab?

Apakah dia mencari bantuan jika memang diperlukan?

Atau setiap kali terjadi masalah, dia hanya meminta maaf lalu mengulangi pola yang sama?

Perubahan yang nyata biasanya terlihat melalui perilaku yang konsisten, bukan janji yang semakin indah.

6. Hubungan Ini Lebih Sering Menghancurkanmu daripada Membuatmu Bertumbuh

Tidak ada hubungan yang membuat seseorang bahagia setiap hari.

Ini penting untuk dipahami.

Kamu tidak perlu mengukur kesehatan hubungan berdasarkan apakah kamu selalu merasa bahagia.

Yang lebih penting adalah pola keseluruhannya.

Bagaimana perasaanmu sebagian besar waktu?

Apakah kamu merasa aman?

Dihargai?

Didengar?

Didukung?

Atau justru kamu semakin sering merasa:

cemas,
tidak berharga,
kesepian meskipun sedang bersama,
takut melakukan kesalahan,
kehilangan kepercayaan diri,
kelelahan secara emosional,
dan terus mempertanyakan apakah dirimu memang layak dicintai?

Satu pertengkaran tidak menentukan kualitas sebuah hubungan.

Tetapi pola yang berlangsung lama perlu mendapatkan perhatian.

Hubungan seharusnya tidak membuatmu sempurna. Namun, idealnya hubungan memberi ruang bagi kedua orang untuk berkembang.

Pasangan yang sehat bukan berarti pasangan yang tidak pernah mengecewakanmu.

Pasangan yang sehat adalah seseorang yang ketika terjadi masalah, bersedia memperbaiki keadaan bersamamu.

Dia bisa meminta maaf.

Dia bisa mendengarkan.

Dia bisa belajar.

Dia bisa mengakui kesalahan.

Dan yang paling penting, perubahan tersebut terlihat dalam tindakan.

Jika hubungan justru secara konsisten mengikis harga dirimu, membuatmu kehilangan identitas, menjauhkanmu dari orang-orang yang mendukungmu, atau membuatmu merasa harus mengorbankan kesehatan emosional demi mempertahankan hubungan, mungkin sudah waktunya berhenti bertanya:

“Bagaimana aku bisa membuat hubungan ini berhasil?”

Dan mulai bertanya:

“Apakah hubungan ini masih layak dipertahankan?”

Jangan Salah Memahami: Hubungan Sulit Tidak Selalu Berarti Harus Berakhir

Ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi.

Artikel ini bukan berarti setiap hubungan yang mengalami enam hal di atas pasti harus diakhiri.

Manusia bisa melakukan kesalahan.

Pasangan bisa mengalami masa sulit.

Komunikasi bisa memburuk.

Bahkan orang yang memiliki niat baik pun dapat menunjukkan perilaku yang tidak sehat.

Yang membedakan adalah kesediaan untuk memperbaiki pola tersebut.

Misalnya, pasangan menyadari bahwa dia terlalu defensif ketika berkonflik.

Dia mengakuinya.

Dia meminta maaf.

Dia bersedia mendengarkan.

Dia mencoba mengubah perilakunya.

Dan beberapa bulan kemudian, kamu benar-benar melihat perubahan.

Itu berbeda dengan pasangan yang berkata:

“Aku memang begini. Kalau tidak suka, pergi saja.”

Perubahan membutuhkan dua hal: kesadaran dan tindakan.

Karena itu, jangan hanya melihat apakah pasanganmu pernah melakukan kesalahan.

Lihat apakah dia bersedia bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.

Cinta Saja Tidak Selalu Cukup

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa jika dua orang benar-benar saling mencintai, mereka pasti bisa melewati apa pun.

Kenyataannya lebih kompleks.

Cinta memang penting dalam hubungan, tetapi hubungan yang sehat juga membutuhkan:

rasa hormat, kepercayaan, komunikasi, batasan yang sehat, tanggung jawab, dan keamanan emosional.

Kamu bisa sangat mencintai seseorang dan tetap menyadari bahwa hubungan dengannya tidak baik untukmu.

Kamu bisa merindukan seseorang dan tetap memilih menjauh.

Kamu bisa mengingat semua kebaikannya dan tetap mengakui bahwa ada perilaku yang tidak dapat kamu terima.

Dan kamu bisa mencintai seseorang tanpa harus mengorbankan dirimu sendiri.

Itulah mengapa pertanyaan terpenting bukan:

“Seberapa besar aku mencintainya?”

Tetapi juga:

“Seberapa sehat hubungan ini untuk kami berdua?”

Jangan Mengukur Hubungan dari Potensinya, Ukur dari Polanya

Ketika sedang jatuh cinta, manusia cenderung melihat kemungkinan.

Kita melihat siapa pasangan kita bisa menjadi.

Namun hubungan nyata berlangsung di masa sekarang.

Karena itu, cobalah melihat pola selama beberapa bulan terakhir.

Apakah komunikasi membaik?

Apakah konflik semakin sehat?

Apakah batasanmu dihormati?

Apakah kamu merasa lebih aman?

Apakah kamu masih menjadi dirimu sendiri?

Apakah pasanganmu juga melakukan usaha?

Atau justru kamu terus berputar dalam siklus yang sama?

Masalah yang sama → pertengkaran → permintaan maaf → janji → keadaan membaik sebentar → masalah terulang kembali.

Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, jangan hanya mendengarkan janji.

Perhatikan perilaku.

Karena dalam hubungan, konsistensi sering kali berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Pada Akhirnya, Kamu Juga Berhak Memilih Dirimu Sendiri

Memperjuangkan hubungan adalah sesuatu yang mulia ketika kedua orang memang sedang berusaha.

Tetapi memperjuangkan hubungan sendirian dapat berubah menjadi perjuangan melawan kenyataan.

Kamu tidak harus terus bertahan hanya karena pernah memiliki masa-masa indah.

Kamu tidak harus bertahan hanya karena sudah lama bersama.

Kamu tidak harus bertahan hanya karena takut memulai kembali.

Dan kamu tidak harus terus membuktikan bahwa kamu adalah pasangan yang setia dengan menerima perlakuan yang menyakitkan.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa masalah.

Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang bersedia menghadapi masalah sebagai satu tim, bukan menjadikan satu sama lain sebagai musuh.

Jadi, jika kamu menemukan enam tanda tadi dalam hubunganmu, jangan langsung membuat keputusan hanya karena membaca satu artikel.

Gunakan tanda-tanda tersebut sebagai bahan refleksi.

Tanyakan pada dirimu:

“Apakah ini hanya masalah sementara, atau sudah menjadi pola?”

“Apakah pasangan saya benar-benar berusaha berubah?”

“Apakah saya merasa aman dan dihargai?”

“Apakah saya masih bisa menjadi diri saya sendiri?”

Dan mungkin pertanyaan yang paling penting:

“Jika orang yang paling kusayangi mengalami hubungan seperti ini, apa yang akan kusarankan kepadanya?”

Terkadang kita jauh lebih mudah melihat kenyataan ketika membayangkan bahwa orang yang kita cintai sedang berada di posisi kita.

Ingatlah, mempertahankan hubungan bukan selalu bukti bahwa kamu kuat.

Terkadang, keberanian terbesar justru muncul ketika kamu mampu mengatakan:

“Aku mencintaimu, tetapi aku juga harus menghargai diriku sendiri.”

Karena cinta yang sehat seharusnya tidak membuatmu kehilangan dirimu untuk mempertahankan seseorang.

Kamu boleh memperjuangkan hubungan. Tetapi kamu juga berhak memperjuangkan dirimu sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari