← Beranda
6 Alasan Mengapa Begitu Banyak Orang Belajar dengan Cara yang Salah Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 7 September 2026 | 21.34 WIB
seseorang yang belajar dengan cara yang salah./Magnific/jcomp

JawaPos.com - Kita hidup di zaman ketika informasi tersedia hampir tanpa batas. Kita bisa belajar bahasa baru melalui aplikasi, memahami matematika melalui video, membaca buku digital dalam hitungan detik, atau mempelajari keterampilan baru hanya dengan mengetikkan pertanyaan di mesin pencari.

Namun ada sebuah paradoks: akses terhadap informasi semakin mudah, tetapi belajar secara efektif tidak otomatis menjadi lebih mudah.

Banyak orang menghabiskan berjam-jam untuk belajar, tetapi beberapa hari kemudian sebagian besar materi sudah terlupakan. Mereka membaca halaman demi halaman, menonton video pembelajaran, memberi stabilo pada kalimat penting, membuat catatan yang rapi, bahkan membeli berbagai kursus—namun ketika harus menjelaskan kembali apa yang telah dipelajari, mereka kesulitan.

Masalahnya sering kali bukan kurangnya kecerdasan.

Masalahnya adalah cara kita belajar sering kali dibentuk oleh kebiasaan yang terasa produktif, tetapi sebenarnya tidak terlalu efektif untuk membangun ingatan dan pemahaman.

Psikologi kognitif telah menunjukkan bahwa belajar bukan sekadar memasukkan informasi ke dalam kepala. Belajar melibatkan perhatian, memori, pengambilan kembali informasi, latihan, kesalahan, umpan balik, dan kemampuan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.

JawaPos.com - Kita hidup di zaman ketika informasi tersedia hampir tanpa batas. Kita bisa belajar bahasa baru melalui aplikasi, memahami matematika melalui video, membaca buku digital dalam hitungan detik, atau mempelajari keterampilan baru hanya dengan mengetikkan pertanyaan di mesin pencari.

Namun ada sebuah paradoks: akses terhadap informasi semakin mudah, tetapi belajar secara efektif tidak otomatis menjadi lebih mudah.

Banyak orang menghabiskan berjam-jam untuk belajar, tetapi beberapa hari kemudian sebagian besar materi sudah terlupakan. Mereka membaca halaman demi halaman, menonton video pembelajaran, memberi stabilo pada kalimat penting, membuat catatan yang rapi, bahkan membeli berbagai kursus—namun ketika harus menjelaskan kembali apa yang telah dipelajari, mereka kesulitan.

Masalahnya sering kali bukan kurangnya kecerdasan.

Masalahnya adalah cara kita belajar sering kali dibentuk oleh kebiasaan yang terasa produktif, tetapi sebenarnya tidak terlalu efektif untuk membangun ingatan dan pemahaman.

Psikologi kognitif telah menunjukkan bahwa belajar bukan sekadar memasukkan informasi ke dalam kepala. Belajar melibatkan perhatian, memori, pengambilan kembali informasi, latihan, kesalahan, umpan balik, dan kemampuan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.

Lalu, mengapa begitu banyak orang tetap belajar dengan cara yang kurang efektif?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (6/9), terdapat enam alasannya.

1. Kita Sering Mengira “Terasa Mudah” Berarti “Sudah Belajar”

Salah satu jebakan terbesar dalam belajar adalah sesuatu yang bisa disebut sebagai ilusi kelancaran.

Ketika materi terasa mudah dipahami saat sedang dibaca atau ditonton, kita cenderung menyimpulkan bahwa kita sudah menguasainya.

Bayangkan Anda membaca sebuah buku tentang psikologi. Anda menemukan sebuah konsep baru dan langsung merasa:

“Oh, saya mengerti.”

Anda melanjutkan membaca.

Satu halaman berikutnya terasa mudah. Kemudian Anda menonton video yang menjelaskan konsep yang sama. Penjelasannya terdengar masuk akal. Anda mengangguk dan merasa semakin memahami materi.

Tetapi beberapa jam kemudian seseorang bertanya:

“Coba jelaskan konsep tadi dengan kata-katamu sendiri.”

Tiba-tiba jawabannya tidak lagi mudah.

Mengapa?

Karena mengenali informasi berbeda dengan mampu mengingat dan menggunakannya.

Saat kita membaca sebuah penjelasan untuk kedua atau ketiga kalinya, otak menjadi semakin familier dengan informasi tersebut. Familier ini dapat terasa seperti penguasaan, padahal informasi tersebut belum tentu dapat diambil kembali dari memori ketika kita membutuhkannya.

Inilah salah satu alasan mengapa membaca ulang berkali-kali sering terasa sangat produktif, meskipun hasilnya tidak selalu sebanding dengan waktu yang dihabiskan.

Masalahnya bukan membaca

Membaca tetap penting. Masalahnya adalah ketika proses belajar berhenti pada memasukkan informasi.

Belajar yang lebih kuat membutuhkan proses lain: mencoba mengeluarkan informasi tersebut dari kepala.

Misalnya, setelah membaca satu bab, tutup bukunya dan tanyakan:

Apa tiga ide utama dari bab ini?
Mengapa konsep tersebut penting?
Bagaimana saya menjelaskannya kepada orang lain?
Apa contoh konkretnya?
Apa yang masih belum saya pahami?

Pada titik ini, belajar mungkin terasa lebih sulit.

Dan justru kesulitan tersebut bisa menjadi bagian penting dari proses belajar.

2. Kita Terlalu Sering Memilih Metode Belajar yang Pasif

Ada perbedaan besar antara menerima informasi dan mengolah informasi.

Menonton video adalah menerima informasi.

Membaca buku adalah menerima informasi.

Mendengarkan podcast adalah menerima informasi.

Tetapi ketika Anda mencoba menjelaskan sebuah konsep tanpa melihat catatan, memecahkan soal, menjawab pertanyaan, membuat contoh, atau menerapkan konsep dalam situasi nyata, Anda sedang melakukan sesuatu yang lebih aktif.

Inilah yang membuat metode belajar aktif menjadi sangat penting.

Misalnya seseorang sedang belajar bahasa Inggris.

Ia bisa menghabiskan dua jam membaca daftar kosakata:

achieve
improve
understand
recognize
develop

Setelah melihat kata-kata tersebut berkali-kali, ia mungkin merasa sudah mengenalnya.

Tetapi coba ubah tugasnya:

“Buat lima kalimat menggunakan kata-kata tersebut tanpa melihat daftar.”

Tiba-tiba tugasnya jauh lebih sulit.

Namun kesulitan itu memberikan informasi penting: bagian mana yang sebenarnya belum dikuasai.

Belajar yang efektif bukan hanya bertanya:

“Berapa banyak informasi yang sudah saya lihat?”

Tetapi:

“Berapa banyak informasi yang bisa saya gunakan ketika informasi tersebut tidak lagi berada di depan mata?”

Dari konsumen menjadi pelaku

Salah satu perubahan sederhana adalah mengubah pertanyaan:

“Apa yang bisa saya baca?”

menjadi:

“Apa yang bisa saya lakukan dengan informasi ini?”

Jika belajar matematika, kerjakan soal.

Jika belajar bahasa, gunakan bahasanya.

Jika belajar sejarah, coba ceritakan kembali urutan peristiwa.

Jika belajar programming, tulis kode.

Jika belajar public speaking, berbicara.

Jika belajar bisnis, analisis kasus nyata.

Pengetahuan menjadi lebih kuat ketika otak harus mengambil, mengorganisasi, dan menggunakan informasi.

3. Kita Menunggu Motivasi, Padahal Motivasi Tidak Selalu Bisa Diandalkan

Banyak orang memiliki gambaran bahwa belajar seharusnya dimulai ketika mereka merasa termotivasi.

Hari ini semangat.

Besok ingin belajar.

Lusa tiba-tiba lelah.

Kemudian muncul pikiran:

“Mungkin saya memang sedang tidak mood.”

Masalahnya, kondisi emosional manusia berubah-ubah.

Jika kebiasaan belajar sepenuhnya bergantung pada motivasi, konsistensi akan menjadi sangat sulit.

Dalam psikologi perilaku, kita memahami bahwa perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh niat. Lingkungan, kebiasaan, penghargaan, hambatan, dan konteks juga memainkan peran besar.

Karena itu, seseorang yang ingin belajar secara konsisten tidak cukup hanya berkata:

“Saya harus lebih disiplin.”

Ia perlu merancang kondisi yang membuat perilaku belajar lebih mudah dilakukan.

Misalnya:

menentukan waktu belajar yang relatif tetap,
menyiapkan buku sebelum waktu belajar,
mematikan notifikasi,
menjauhkan ponsel,
menetapkan target yang spesifik,
memecah tugas besar menjadi sesi kecil,
dan menentukan dengan jelas apa yang akan dikerjakan.

Perhatikan perbedaannya.

Target:

“Hari ini saya mau belajar psikologi.”

terdengar bagus, tetapi terlalu abstrak.

Target yang lebih konkret:

“Pukul 19.00 saya akan membaca 10 halaman dan menuliskan lima pertanyaan dari materi tersebut.”

lebih mudah diterjemahkan menjadi tindakan.

Disiplin bukan berarti memaksa diri tanpa henti

Belajar efektif juga tidak berarti duduk berjam-jam sampai kelelahan.

Otak membutuhkan jeda dan tidur untuk berbagai proses yang berkaitan dengan pembentukan serta konsolidasi memori.

Karena itu, strategi belajar yang baik bukan sekadar menambah durasi, tetapi meningkatkan kualitas proses.

Dua jam belajar aktif dan terarah bisa jauh lebih bernilai daripada lima jam belajar sambil membuka media sosial setiap beberapa menit.

4. Kita Terjebak dalam “Binge Learning”

Budaya digital membuat kita terbiasa dengan konsumsi dalam jumlah besar.

Satu video.

Kemudian video kedua.

Lalu video ketiga.

Kemudian satu kursus.

Lima puluh halaman buku.

Kita sering merasa semakin banyak informasi yang dikonsumsi, semakin banyak pula yang dipelajari.

Padahal memori manusia tidak bekerja seperti hard drive yang cukup diisi dengan data sebanyak mungkin.

Salah satu strategi yang banyak didukung penelitian dalam psikologi pembelajaran adalah spaced practice atau latihan yang diberi jarak.

Artinya, daripada mempelajari sesuatu secara intensif dalam satu waktu, pembelajaran didistribusikan dalam beberapa sesi.

Misalnya Anda ingin menghafal 100 kosakata.

Strategi pertama:

Hari Senin: 100 kata selama 3 jam.

Strategi kedua:

Senin: 20 kata
Selasa: mengulang 20 kata + 20 kata baru
Rabu: mengulang
Kamis: mengulang + menambah
dan seterusnya.

Strategi kedua mungkin terasa lebih lambat.

Tetapi justru karena informasi harus diambil kembali setelah jeda, proses tersebut dapat membantu memperkuat ingatan.

Kenapa belajar semalam suntuk terasa efektif?

Karena ketika materi masih sangat segar, kita bisa menjawab banyak pertanyaan dengan mudah.

Tetapi kemampuan tersebut belum tentu bertahan lama.

Seseorang bisa merasa sangat siap setelah belajar enam jam menjelang ujian, kemudian beberapa minggu setelahnya sebagian besar materi menghilang dari ingatan.

Belajar dengan jarak membuat kita menghadapi kondisi yang berbeda:

kita lupa sedikit, lalu berusaha mengingat kembali.

Proses mengingat kembali itulah yang penting.

5. Kita Takut Salah, Padahal Kesalahan Adalah Informasi

Ada alasan psikologis lain yang membuat orang belajar dengan cara yang kurang efektif: kita tidak suka merasa bodoh.

Ketika membaca buku dan semuanya terasa mudah, kita merasa pintar.

Ketika mencoba mengerjakan soal dan salah setengahnya, kita merasa gagal.

Akibatnya, kita secara alami cenderung memilih aktivitas yang mempertahankan perasaan kompeten.

Kita membaca kembali catatan.

Menonton video lagi.

Melihat contoh jawaban.

Menggarisbawahi bagian penting.

Semuanya terasa lebih nyaman daripada mencoba menyelesaikan masalah sendiri.

Padahal kesalahan dapat menjadi sumber informasi yang sangat berharga.

Jika Anda mengerjakan 10 soal dan salah pada nomor 3, 6, dan 9, Anda sekarang memiliki petunjuk mengenai bagian mana yang perlu diperbaiki.

Sebaliknya, jika Anda hanya membaca contoh penyelesaian, Anda mungkin tidak pernah mengetahui apakah Anda benar-benar mampu menyelesaikannya sendiri.

Belajar membutuhkan “kesulitan yang produktif”

Tidak semua kesulitan dalam belajar buruk.

Ada kesulitan yang justru membantu.

Misalnya:

mencoba mengingat tanpa melihat catatan,
mengerjakan soal sebelum melihat pembahasan,
menjelaskan konsep dengan bahasa sendiri,
mencampurkan beberapa tipe soal,
atau mencoba menerapkan pengetahuan dalam situasi baru.

Aktivitas seperti ini bisa terasa lebih lambat dan lebih melelahkan.

Namun rasa sulit bukan selalu tanda bahwa metode tersebut buruk.

Kadang-kadang:

“Ini susah” berarti otak sedang bekerja lebih keras untuk membangun kemampuan.

Tentu, ini bukan berarti kita harus sengaja membuat belajar menjadi sangat sulit.

Kesulitan harus berada pada tingkat yang masih memungkinkan kita mendapatkan umpan balik dan memperbaiki kesalahan.

6. Kita Terlalu Fokus pada Menyelesaikan Materi, Bukan Menguasainya

Ini mungkin salah satu kesalahan paling umum.

Kita membuat target seperti:

“Saya harus menyelesaikan buku ini minggu ini.”

“Saya harus menyelesaikan 10 video.”

“Saya harus menamatkan kursus ini.”

“Saya harus membaca 50 halaman hari ini.”

Masalahnya, menyelesaikan materi tidak sama dengan menguasai materi.

Bayangkan dua orang.

Orang pertama membaca 300 halaman dalam satu minggu tetapi hanya mampu menjelaskan 20% isinya.

Orang kedua membaca 150 halaman, tetapi benar-benar memahami konsep utama, mampu mengingatnya, menjelaskan dengan kata-kata sendiri, dan menggunakannya untuk memecahkan masalah.

Siapa yang sebenarnya lebih banyak belajar?

Kita sering mengukur kemajuan berdasarkan sesuatu yang mudah dihitung:

jumlah halaman, jumlah video, jumlah jam.

Padahal indikator yang lebih penting adalah:

apa yang bisa kita lakukan setelah belajar.

Ganti pertanyaan

Daripada bertanya:

“Sudah berapa lama saya belajar?”

coba tanyakan:

“Apa yang sekarang bisa saya lakukan yang sebelumnya belum bisa saya lakukan?”

Daripada:

“Sudah berapa bab yang saya selesaikan?”

coba:

“Bisakah saya menjelaskan inti bab ini tanpa melihat buku?”

Daripada:

“Sudah berapa banyak video yang saya tonton?”

coba:

“Bisakah saya menerapkan konsep dari video ini pada masalah baru?”

Perubahan pertanyaan tersebut terlihat kecil, tetapi dapat mengubah seluruh cara seseorang belajar.

Jadi, Seperti Apa Cara Belajar yang Lebih Efektif?

Jika enam masalah di atas dirangkum, kita bisa mendapatkan prinsip sederhana.

Belajar yang baik bukan tentang membuat proses terasa semudah mungkin. Belajar yang baik adalah menciptakan kondisi yang membuat otak harus memproses, mengingat, dan menggunakan informasi secara aktif.

Anda bisa mencoba pola berikut.

1. Pelajari materi

Baca buku, dengarkan penjelasan, atau tonton video.

Tetapi jangan berhenti di sini.

2. Tutup sumbernya

Jauhkan buku atau catatan.

Kemudian tanyakan:

“Apa yang baru saja saya pelajari?”

Tuliskan atau ucapkan jawabannya dari ingatan.

3. Uji diri

Buat pertanyaan.

Kerjakan soal.

Coba menjelaskan.

Coba menerapkan.

Jangan langsung melihat jawabannya.

4. Periksa kesalahan

Lihat bagian mana yang salah atau terlupakan.

Kesalahan tersebut menjadi peta tentang apa yang harus dipelajari kembali.

5. Ulangi setelah jeda

Jangan hanya mengulang lima kali dalam satu malam.

Kembali ke materi tersebut setelah beberapa waktu.

6. Gunakan dalam konteks berbeda

Pengetahuan yang benar-benar dikuasai seharusnya dapat digunakan lebih dari sekadar mengulang definisi.

Coba cari contoh baru.

Hubungkan dengan pengalaman.

Gunakan untuk menyelesaikan masalah.

Jelaskan kepada orang lain.

Belajar yang Efektif Sering Kali Terasa Lebih Sulit

Ada sebuah paradoks dalam belajar.

Metode yang buruk sering kali terasa menyenangkan.

Membaca ulang terasa lancar.

Menonton video terasa nyaman.

Melihat catatan membuat kita merasa siap.

Sebaliknya, metode yang lebih efektif kadang membuat kita merasa tidak nyaman.

Kita harus mengingat tanpa bantuan.

Kita salah ketika mengerjakan soal.

Kita lupa.

Kita harus berpikir.

Kita menemukan bahwa ternyata kita belum memahami materi sebanyak yang kita kira.

Namun justru di situlah kita mendapatkan informasi yang paling berharga.

Belajar bukan sekadar pengalaman merasa tahu. Belajar adalah perubahan pada apa yang mampu kita ingat, pahami, dan lakukan.

Karena itu, jika Anda sudah belajar selama berjam-jam tetapi merasa tidak berkembang, mungkin masalahnya bukan Anda kurang pintar atau kurang berusaha.

Mungkin Anda hanya perlu mengubah cara mengukur belajar.

Jangan hanya menghitung berapa halaman yang dibaca.

Jangan hanya menghitung berapa video yang ditonton.

Jangan hanya menghitung berapa jam yang dihabiskan.

Tanyakan:

“Setelah semua ini, apa yang sekarang bisa saya lakukan tanpa bantuan?”

Pertanyaan sederhana tersebut membawa kita dari konsumsi informasi menuju pembelajaran yang sebenarnya.

Dan mungkin itulah perubahan paling penting dalam cara kita belajar:

berhenti mengejar perasaan bahwa kita sudah tahu, dan mulai melatih kemampuan untuk benar-benar mengetahui, mengingat, dan menggunakan apa yang kita pelajari.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (6/9), terdapat enam alasannya.

1. Kita Sering Mengira “Terasa Mudah” Berarti “Sudah Belajar”

Salah satu jebakan terbesar dalam belajar adalah sesuatu yang bisa disebut sebagai ilusi kelancaran.

Ketika materi terasa mudah dipahami saat sedang dibaca atau ditonton, kita cenderung menyimpulkan bahwa kita sudah menguasainya.

Bayangkan Anda membaca sebuah buku tentang psikologi. Anda menemukan sebuah konsep baru dan langsung merasa:

“Oh, saya mengerti.”

Anda melanjutkan membaca.

Satu halaman berikutnya terasa mudah. Kemudian Anda menonton video yang menjelaskan konsep yang sama. Penjelasannya terdengar masuk akal. Anda mengangguk dan merasa semakin memahami materi.

Tetapi beberapa jam kemudian seseorang bertanya:

“Coba jelaskan konsep tadi dengan kata-katamu sendiri.”

Tiba-tiba jawabannya tidak lagi mudah.

Mengapa?

Karena mengenali informasi berbeda dengan mampu mengingat dan menggunakannya.

Saat kita membaca sebuah penjelasan untuk kedua atau ketiga kalinya, otak menjadi semakin familier dengan informasi tersebut. Familier ini dapat terasa seperti penguasaan, padahal informasi tersebut belum tentu dapat diambil kembali dari memori ketika kita membutuhkannya.

Inilah salah satu alasan mengapa membaca ulang berkali-kali sering terasa sangat produktif, meskipun hasilnya tidak selalu sebanding dengan waktu yang dihabiskan.

Masalahnya bukan membaca

Membaca tetap penting. Masalahnya adalah ketika proses belajar berhenti pada memasukkan informasi.

Belajar yang lebih kuat membutuhkan proses lain: mencoba mengeluarkan informasi tersebut dari kepala.

Misalnya, setelah membaca satu bab, tutup bukunya dan tanyakan:

Apa tiga ide utama dari bab ini?
Mengapa konsep tersebut penting?
Bagaimana saya menjelaskannya kepada orang lain?
Apa contoh konkretnya?
Apa yang masih belum saya pahami?

Pada titik ini, belajar mungkin terasa lebih sulit.

Dan justru kesulitan tersebut bisa menjadi bagian penting dari proses belajar.

2. Kita Terlalu Sering Memilih Metode Belajar yang Pasif

Ada perbedaan besar antara menerima informasi dan mengolah informasi.

Menonton video adalah menerima informasi.

Membaca buku adalah menerima informasi.

Mendengarkan podcast adalah menerima informasi.

Tetapi ketika Anda mencoba menjelaskan sebuah konsep tanpa melihat catatan, memecahkan soal, menjawab pertanyaan, membuat contoh, atau menerapkan konsep dalam situasi nyata, Anda sedang melakukan sesuatu yang lebih aktif.

Inilah yang membuat metode belajar aktif menjadi sangat penting.

Misalnya seseorang sedang belajar bahasa Inggris.

Ia bisa menghabiskan dua jam membaca daftar kosakata:

achieve
improve
understand
recognize
develop

Setelah melihat kata-kata tersebut berkali-kali, ia mungkin merasa sudah mengenalnya.

Tetapi coba ubah tugasnya:

“Buat lima kalimat menggunakan kata-kata tersebut tanpa melihat daftar.”

Tiba-tiba tugasnya jauh lebih sulit.

Namun kesulitan itu memberikan informasi penting: bagian mana yang sebenarnya belum dikuasai.

Belajar yang efektif bukan hanya bertanya:

“Berapa banyak informasi yang sudah saya lihat?”

Tetapi:

“Berapa banyak informasi yang bisa saya gunakan ketika informasi tersebut tidak lagi berada di depan mata?”

Dari konsumen menjadi pelaku

Salah satu perubahan sederhana adalah mengubah pertanyaan:

“Apa yang bisa saya baca?”

menjadi:

“Apa yang bisa saya lakukan dengan informasi ini?”

Jika belajar matematika, kerjakan soal.

Jika belajar bahasa, gunakan bahasanya.

Jika belajar sejarah, coba ceritakan kembali urutan peristiwa.

Jika belajar programming, tulis kode.

Jika belajar public speaking, berbicara.

Jika belajar bisnis, analisis kasus nyata.

Pengetahuan menjadi lebih kuat ketika otak harus mengambil, mengorganisasi, dan menggunakan informasi.

3. Kita Menunggu Motivasi, Padahal Motivasi Tidak Selalu Bisa Diandalkan

Banyak orang memiliki gambaran bahwa belajar seharusnya dimulai ketika mereka merasa termotivasi.

Hari ini semangat.

Besok ingin belajar.

Lusa tiba-tiba lelah.

Kemudian muncul pikiran:

“Mungkin saya memang sedang tidak mood.”

Masalahnya, kondisi emosional manusia berubah-ubah.

Jika kebiasaan belajar sepenuhnya bergantung pada motivasi, konsistensi akan menjadi sangat sulit.

Dalam psikologi perilaku, kita memahami bahwa perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh niat. Lingkungan, kebiasaan, penghargaan, hambatan, dan konteks juga memainkan peran besar.

Karena itu, seseorang yang ingin belajar secara konsisten tidak cukup hanya berkata:

“Saya harus lebih disiplin.”

Ia perlu merancang kondisi yang membuat perilaku belajar lebih mudah dilakukan.

Misalnya:

menentukan waktu belajar yang relatif tetap,
menyiapkan buku sebelum waktu belajar,
mematikan notifikasi,
menjauhkan ponsel,
menetapkan target yang spesifik,
memecah tugas besar menjadi sesi kecil,
dan menentukan dengan jelas apa yang akan dikerjakan.

Perhatikan perbedaannya.

Target:

“Hari ini saya mau belajar psikologi.”

terdengar bagus, tetapi terlalu abstrak.

Target yang lebih konkret:

“Pukul 19.00 saya akan membaca 10 halaman dan menuliskan lima pertanyaan dari materi tersebut.”

lebih mudah diterjemahkan menjadi tindakan.

Disiplin bukan berarti memaksa diri tanpa henti

Belajar efektif juga tidak berarti duduk berjam-jam sampai kelelahan.

Otak membutuhkan jeda dan tidur untuk berbagai proses yang berkaitan dengan pembentukan serta konsolidasi memori.

Karena itu, strategi belajar yang baik bukan sekadar menambah durasi, tetapi meningkatkan kualitas proses.

Dua jam belajar aktif dan terarah bisa jauh lebih bernilai daripada lima jam belajar sambil membuka media sosial setiap beberapa menit.

4. Kita Terjebak dalam “Binge Learning”

Budaya digital membuat kita terbiasa dengan konsumsi dalam jumlah besar.

Satu video.

Kemudian video kedua.

Lalu video ketiga.

Kemudian satu kursus.

Lima puluh halaman buku.

Kita sering merasa semakin banyak informasi yang dikonsumsi, semakin banyak pula yang dipelajari.

Padahal memori manusia tidak bekerja seperti hard drive yang cukup diisi dengan data sebanyak mungkin.

Salah satu strategi yang banyak didukung penelitian dalam psikologi pembelajaran adalah spaced practice atau latihan yang diberi jarak.

Artinya, daripada mempelajari sesuatu secara intensif dalam satu waktu, pembelajaran didistribusikan dalam beberapa sesi.

Misalnya Anda ingin menghafal 100 kosakata.

Strategi pertama:

Hari Senin: 100 kata selama 3 jam.

Strategi kedua:

Senin: 20 kata
Selasa: mengulang 20 kata + 20 kata baru
Rabu: mengulang
Kamis: mengulang + menambah
dan seterusnya.

Strategi kedua mungkin terasa lebih lambat.

Tetapi justru karena informasi harus diambil kembali setelah jeda, proses tersebut dapat membantu memperkuat ingatan.

Kenapa belajar semalam suntuk terasa efektif?

Karena ketika materi masih sangat segar, kita bisa menjawab banyak pertanyaan dengan mudah.

Tetapi kemampuan tersebut belum tentu bertahan lama.

Seseorang bisa merasa sangat siap setelah belajar enam jam menjelang ujian, kemudian beberapa minggu setelahnya sebagian besar materi menghilang dari ingatan.

Belajar dengan jarak membuat kita menghadapi kondisi yang berbeda:

kita lupa sedikit, lalu berusaha mengingat kembali.

Proses mengingat kembali itulah yang penting.

5. Kita Takut Salah, Padahal Kesalahan Adalah Informasi

Ada alasan psikologis lain yang membuat orang belajar dengan cara yang kurang efektif: kita tidak suka merasa bodoh.

Ketika membaca buku dan semuanya terasa mudah, kita merasa pintar.

Ketika mencoba mengerjakan soal dan salah setengahnya, kita merasa gagal.

Akibatnya, kita secara alami cenderung memilih aktivitas yang mempertahankan perasaan kompeten.

Kita membaca kembali catatan.

Menonton video lagi.

Melihat contoh jawaban.

Menggarisbawahi bagian penting.

Semuanya terasa lebih nyaman daripada mencoba menyelesaikan masalah sendiri.

Padahal kesalahan dapat menjadi sumber informasi yang sangat berharga.

Jika Anda mengerjakan 10 soal dan salah pada nomor 3, 6, dan 9, Anda sekarang memiliki petunjuk mengenai bagian mana yang perlu diperbaiki.

Sebaliknya, jika Anda hanya membaca contoh penyelesaian, Anda mungkin tidak pernah mengetahui apakah Anda benar-benar mampu menyelesaikannya sendiri.

Belajar membutuhkan “kesulitan yang produktif”

Tidak semua kesulitan dalam belajar buruk.

Ada kesulitan yang justru membantu.

Misalnya:

mencoba mengingat tanpa melihat catatan,
mengerjakan soal sebelum melihat pembahasan,
menjelaskan konsep dengan bahasa sendiri,
mencampurkan beberapa tipe soal,
atau mencoba menerapkan pengetahuan dalam situasi baru.

Aktivitas seperti ini bisa terasa lebih lambat dan lebih melelahkan.

Namun rasa sulit bukan selalu tanda bahwa metode tersebut buruk.

Kadang-kadang:

“Ini susah” berarti otak sedang bekerja lebih keras untuk membangun kemampuan.

Tentu, ini bukan berarti kita harus sengaja membuat belajar menjadi sangat sulit.

Kesulitan harus berada pada tingkat yang masih memungkinkan kita mendapatkan umpan balik dan memperbaiki kesalahan.

6. Kita Terlalu Fokus pada Menyelesaikan Materi, Bukan Menguasainya

Ini mungkin salah satu kesalahan paling umum.

Kita membuat target seperti:

“Saya harus menyelesaikan buku ini minggu ini.”

“Saya harus menyelesaikan 10 video.”

“Saya harus menamatkan kursus ini.”

“Saya harus membaca 50 halaman hari ini.”

Masalahnya, menyelesaikan materi tidak sama dengan menguasai materi.

Bayangkan dua orang.

Orang pertama membaca 300 halaman dalam satu minggu tetapi hanya mampu menjelaskan 20% isinya.

Orang kedua membaca 150 halaman, tetapi benar-benar memahami konsep utama, mampu mengingatnya, menjelaskan dengan kata-kata sendiri, dan menggunakannya untuk memecahkan masalah.

Siapa yang sebenarnya lebih banyak belajar?

Kita sering mengukur kemajuan berdasarkan sesuatu yang mudah dihitung:

jumlah halaman, jumlah video, jumlah jam.

Padahal indikator yang lebih penting adalah:

apa yang bisa kita lakukan setelah belajar.

Ganti pertanyaan

Daripada bertanya:

“Sudah berapa lama saya belajar?”

coba tanyakan:

“Apa yang sekarang bisa saya lakukan yang sebelumnya belum bisa saya lakukan?”

Daripada:

“Sudah berapa bab yang saya selesaikan?”

coba:

“Bisakah saya menjelaskan inti bab ini tanpa melihat buku?”

Daripada:

“Sudah berapa banyak video yang saya tonton?”

coba:

“Bisakah saya menerapkan konsep dari video ini pada masalah baru?”

Perubahan pertanyaan tersebut terlihat kecil, tetapi dapat mengubah seluruh cara seseorang belajar.

Jadi, Seperti Apa Cara Belajar yang Lebih Efektif?

Jika enam masalah di atas dirangkum, kita bisa mendapatkan prinsip sederhana.

Belajar yang baik bukan tentang membuat proses terasa semudah mungkin. Belajar yang baik adalah menciptakan kondisi yang membuat otak harus memproses, mengingat, dan menggunakan informasi secara aktif.

Anda bisa mencoba pola berikut.

1. Pelajari materi

Baca buku, dengarkan penjelasan, atau tonton video.

Tetapi jangan berhenti di sini.

2. Tutup sumbernya

Jauhkan buku atau catatan.

Kemudian tanyakan:

“Apa yang baru saja saya pelajari?”

Tuliskan atau ucapkan jawabannya dari ingatan.

3. Uji diri

Buat pertanyaan.

Kerjakan soal.

Coba menjelaskan.

Coba menerapkan.

Jangan langsung melihat jawabannya.

4. Periksa kesalahan

Lihat bagian mana yang salah atau terlupakan.

Kesalahan tersebut menjadi peta tentang apa yang harus dipelajari kembali.

5. Ulangi setelah jeda

Jangan hanya mengulang lima kali dalam satu malam.

Kembali ke materi tersebut setelah beberapa waktu.

6. Gunakan dalam konteks berbeda

Pengetahuan yang benar-benar dikuasai seharusnya dapat digunakan lebih dari sekadar mengulang definisi.

Coba cari contoh baru.

Hubungkan dengan pengalaman.

Gunakan untuk menyelesaikan masalah.

Jelaskan kepada orang lain.

Belajar yang Efektif Sering Kali Terasa Lebih Sulit

Ada sebuah paradoks dalam belajar.

Metode yang buruk sering kali terasa menyenangkan.

Membaca ulang terasa lancar.

Menonton video terasa nyaman.

Melihat catatan membuat kita merasa siap.

Sebaliknya, metode yang lebih efektif kadang membuat kita merasa tidak nyaman.

Kita harus mengingat tanpa bantuan.

Kita salah ketika mengerjakan soal.

Kita lupa.

Kita harus berpikir.

Kita menemukan bahwa ternyata kita belum memahami materi sebanyak yang kita kira.

Namun justru di situlah kita mendapatkan informasi yang paling berharga.

Belajar bukan sekadar pengalaman merasa tahu. Belajar adalah perubahan pada apa yang mampu kita ingat, pahami, dan lakukan.

Karena itu, jika Anda sudah belajar selama berjam-jam tetapi merasa tidak berkembang, mungkin masalahnya bukan Anda kurang pintar atau kurang berusaha.

Mungkin Anda hanya perlu mengubah cara mengukur belajar.

Jangan hanya menghitung berapa halaman yang dibaca.

Jangan hanya menghitung berapa video yang ditonton.

Jangan hanya menghitung berapa jam yang dihabiskan.

Tanyakan:

“Setelah semua ini, apa yang sekarang bisa saya lakukan tanpa bantuan?”

Pertanyaan sederhana tersebut membawa kita dari konsumsi informasi menuju pembelajaran yang sebenarnya.

Dan mungkin itulah perubahan paling penting dalam cara kita belajar:

berhenti mengejar perasaan bahwa kita sudah tahu, dan mulai melatih kemampuan untuk benar-benar mengetahui, mengingat, dan menggunakan apa yang kita pelajari.

EDITOR: Hanny Suwindari