← Beranda
6 Hal Utama yang Paling Sering Dikeluhkan yang Membuat Hidup Seseorang Semakin Suram
Irfan FerdiansyahMinggu, 6 September 2026 | 06.16 WIB
seseorang yang membuat hidupnya semakin suram./Magnific/hryshchyshen

JawaPos.com - Ada masa ketika hidup terasa begitu berat, bahkan ketika dari luar semuanya tampak baik-baik saja. Seseorang mungkin masih bekerja, masih bertemu orang lain, masih menjalankan rutinitas, bahkan masih bisa tertawa. Namun di dalam dirinya ada perasaan lelah yang sulit dijelaskan.

Menariknya, rasa hidup yang semakin suram sering kali tidak hanya disebabkan oleh satu masalah besar. Justru, dalam banyak kasus, perasaan tersebut terbentuk dari berbagai hal kecil yang terus dipikirkan, dikeluhkan, dan diulang setiap hari.

Menurut psikologi, cara seseorang memandang masalah dapat memengaruhi bagaimana ia merasakan kehidupannya. Dua orang bisa menghadapi keadaan yang hampir sama, tetapi mengalami tekanan psikologis yang berbeda karena cara mereka menafsirkan keadaan tersebut berbeda.

Keluhan tentu bukan sesuatu yang selalu buruk. Mengeluh sesekali adalah hal yang manusiawi. Mengungkapkan rasa kecewa dapat membantu seseorang mendapatkan dukungan, memahami emosinya, atau mencari solusi.

Masalah muncul ketika keluhan berubah menjadi pola berpikir yang terus berputar tanpa menghasilkan perubahan. Seseorang akhirnya bukan hanya menghadapi masalah yang sebenarnya, tetapi juga menghadapi beban tambahan dari pikirannya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), terdapat enam hal yang paling sering dikeluhkan dan berpotensi membuat hidup seseorang terasa semakin suram.

1. "Kenapa Hidup Saya Tidak Pernah Seperti yang Saya Inginkan?"

Salah satu sumber ketidakpuasan terbesar adalah jarak antara kehidupan yang dijalani dan kehidupan yang dibayangkan.

Seseorang mungkin membayangkan bahwa pada usia tertentu ia sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Ia berharap memiliki pasangan yang sesuai, rumah sendiri, kondisi finansial yang nyaman, atau kehidupan sosial yang menyenangkan.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan gambaran tersebut, muncul pertanyaan:

"Kenapa hidup saya begini-begini saja?"

"Kapan hidup saya akan berubah?"

"Kenapa orang lain terlihat lebih berhasil?"

Pertanyaan semacam ini bisa menjadi sumber tekanan jika terus menerus digunakan untuk membandingkan kehidupan nyata dengan standar ideal yang sangat tinggi.

Dalam psikologi, manusia memang cenderung melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Kita melihat pencapaian, kondisi sosial, hubungan, penampilan, dan status kita lalu membandingkannya dengan orang lain.

Masalahnya, kita sering membandingkan bagian belakang layar kehidupan kita dengan bagian depan panggung kehidupan orang lain.

Kita mengetahui kegagalan, kecemasan, utang, konflik, dan ketakutan diri sendiri. Sementara dari orang lain, kita sering hanya melihat hasil akhirnya.

Media sosial dapat membuat pola ini semakin kuat. Kita melihat orang lain mendapatkan pekerjaan baru, menikah, bepergian, membeli rumah, mencapai target olahraga, atau menjalani kehidupan yang tampak menyenangkan.

Kemudian muncul kesimpulan:

"Semua orang maju. Hanya saya yang tertinggal."

Padahal kesimpulan tersebut belum tentu benar.

Ketika ekspektasi berubah menjadi sumber penderitaan

Memiliki target hidup bukanlah sesuatu yang salah. Justru tujuan dapat membantu seseorang bergerak.

Namun, ada perbedaan besar antara:

"Saya ingin hidup saya lebih baik."

dan

"Saya tidak bisa merasa bahagia sebelum hidup saya menjadi seperti yang saya inginkan."

Kalimat kedua jauh lebih berbahaya.

Seseorang akhirnya menggantungkan ketenangan dirinya pada kondisi eksternal. Ia baru akan merasa cukup ketika mendapatkan pekerjaan tertentu, memiliki jumlah uang tertentu, mendapatkan pasangan tertentu, atau mencapai status tertentu.

Akibatnya, pencapaian yang sebenarnya sudah dimiliki pun terasa tidak berarti.

Cara melihatnya dengan lebih sehat

Daripada terus bertanya, "Mengapa hidup saya tidak seperti yang saya inginkan?", pertanyaan yang lebih konstruktif adalah:

"Bagian mana dari hidup saya yang masih bisa saya ubah, dan bagian mana yang perlu saya terima untuk sementara?"

Tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus.

Kadang-kadang kehidupan tidak membutuhkan perubahan besar. Ia membutuhkan beberapa langkah kecil yang konsisten.

2. "Saya Selalu Memikirkan Masa Lalu"

Keluhan kedua yang sering membuat seseorang sulit menikmati hidup adalah keterikatan yang berlebihan terhadap masa lalu.

"Seandainya waktu itu saya tidak mengambil keputusan tersebut."

"Seandainya saya tidak bertemu dengannya."

"Seandainya saya memilih pekerjaan yang berbeda."

"Seandainya saya lebih berani."

"Kenapa dulu saya sebodoh itu?"

Kalimat-kalimat tersebut terlihat sederhana. Namun jika terus berulang di kepala, seseorang dapat terjebak dalam apa yang dikenal sebagai rumination, yaitu kecenderungan memikirkan pengalaman atau masalah secara berulang tanpa menghasilkan penyelesaian yang berarti.

Berpikir tentang masa lalu sebenarnya normal. Kita perlu mengevaluasi pengalaman agar dapat belajar.

Namun ada perbedaan antara refleksi dan ruminasi.

Refleksi mengatakan:

"Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?"

Ruminasi mengatakan:

"Kenapa saya melakukan itu? Kenapa semuanya harus terjadi seperti itu? Kalau saja waktu bisa diulang..."

Refleksi membawa seseorang menuju pemahaman.

Ruminasi sering membawa seseorang kembali ke titik yang sama.

Masa lalu tidak bisa diperbaiki dengan memikirkannya berulang kali

Salah satu jebakan psikologis yang sering terjadi adalah ilusi bahwa semakin lama kita memikirkan sebuah kejadian, semakin besar kemungkinan kita menemukan jawaban yang dapat mengubahnya.

Padahal tidak selalu demikian.

Ada masalah yang memang membutuhkan pemikiran mendalam. Tetapi ada pula masalah yang sebenarnya sudah selesai secara objektif, hanya saja belum selesai secara emosional.

Seseorang mungkin sudah tidak bisa mengubah apa yang terjadi, tetapi pikirannya terus mencoba "bernegosiasi" dengan masa lalu.

"Seharusnya saya..."

"Andai saja..."

"Kalau waktu itu..."

Kalimat-kalimat tersebut tidak mengubah masa lalu. Yang berubah justru suasana hati saat ini.

Belajar dari masa lalu tanpa tinggal di dalamnya

Masa lalu seharusnya menjadi guru, bukan tempat tinggal.

Kita boleh menyesal.

Kita boleh sedih.

Kita boleh mengakui bahwa kita pernah salah.

Tetapi setelah itu, pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apa yang bisa saya lakukan sekarang dengan pengalaman yang sudah saya miliki?"

Karena satu-satunya bagian kehidupan yang masih bisa kita pengaruhi adalah hari yang sedang kita jalani.

3. "Saya Capek Melihat Orang Lain Lebih Beruntung"

Perbandingan sosial merupakan salah satu sumber keluhan yang sangat umum.

"Teman saya sudah sukses."

"Dia hidupnya enak."

"Orang lain mudah sekali mendapatkan pasangan."

"Kenapa dia punya banyak uang sementara saya masih begini?"

"Saya bekerja keras, tetapi kenapa hasil saya tidak seperti mereka?"

Perasaan seperti ini manusiawi. Manusia memang memiliki kecenderungan membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi, kemampuan, dan pencapaiannya.

Namun, jika perbandingan dilakukan terus menerus, kehidupan dapat terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.

Selalu ada orang yang lebih kaya.

Selalu ada orang yang lebih cantik atau tampan.

Selalu ada orang yang lebih sukses.

Selalu ada orang yang lebih populer.

Selalu ada orang yang lebih muda tetapi sudah mencapai sesuatu yang kita inginkan.

Jika kebahagiaan kita bergantung pada menjadi "lebih baik daripada orang lain", maka ketenangan akan sulit ditemukan.

Masalahnya bukan hanya orang lain

Kadang-kadang seseorang sebenarnya tidak membenci keberhasilan orang lain.

Ia hanya merasa bahwa keberhasilan orang lain adalah bukti kegagalannya sendiri.

Temannya membeli rumah.

Ia berpikir:

"Berarti saya gagal."

Orang lain menikah.

Ia berpikir:

"Berarti hidup saya tertinggal."

Teman mendapatkan promosi.

Ia berpikir:

"Berarti saya tidak cukup bagus."

Padahal keberhasilan seseorang tidak otomatis menjadi bukti kegagalan orang lain.

Dua orang dapat berada pada tahap kehidupan yang berbeda tanpa berarti salah satunya gagal.

Bandingkan diri dengan diri sendiri

Perbandingan yang lebih sehat adalah:

"Apakah saya hari ini sedikit lebih baik daripada diri saya beberapa waktu lalu?"

Mungkin belum sukses besar.

Mungkin belum mencapai target.

Namun jika seseorang menjadi lebih bijaksana, lebih disiplin, lebih tenang, lebih mampu mengendalikan dirinya, atau lebih berani mengambil keputusan, itu tetap merupakan perkembangan.

Tidak semua kemajuan terlihat spektakuler.

Sebagian kemajuan justru terlihat seperti:

lebih sedikit overthinking,
lebih mampu berkata tidak,
lebih jarang mencari validasi,
lebih mampu meninggalkan hubungan yang tidak sehat,
lebih konsisten bekerja,
atau lebih mampu menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Kemajuan semacam itu sering tidak mendapatkan tepuk tangan, tetapi tetap penting.

4. "Saya Merasa Tidak Dihargai oleh Orang Lain"

Keluhan berikutnya adalah perasaan tidak dihargai.

"Saya selalu membantu orang, tetapi ketika saya membutuhkan bantuan tidak ada yang datang."

"Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak ada yang melihat."

"Saya selalu mengerti orang lain, tetapi tidak ada yang mencoba mengerti saya."

Perasaan ini bisa sangat melelahkan.

Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk merasa diterima, dihargai, dan memiliki hubungan yang bermakna. Karena itu, ketika seseorang merasa terus-menerus diabaikan atau tidak dihargai, ia dapat mengalami kekecewaan yang mendalam.

Tetapi ada satu hal yang sering tidak disadari:

Ekspektasi yang tidak pernah dikomunikasikan dapat berubah menjadi sumber kekecewaan.

Seseorang mungkin berpikir:

"Kalau dia benar-benar peduli, seharusnya dia tahu apa yang saya butuhkan."

Padahal orang lain tidak selalu mampu membaca pikiran kita.

Kita mungkin merasa sudah memberikan banyak hal kepada seseorang, lalu secara tidak sadar berharap orang tersebut membalas dengan cara yang sama.

Ketika balasan tidak sesuai harapan, muncul rasa sakit.

Terlalu sering memberi juga bisa menjadi masalah

Menjadi orang yang suka membantu bukanlah sesuatu yang buruk.

Namun, jika seseorang selalu mengatakan "iya" karena takut mengecewakan orang lain, ia dapat mengalami kelelahan emosional.

Ia membantu ketika sebenarnya tidak sanggup.

Ia mendengarkan ketika dirinya sendiri sedang kacau.

Ia memenuhi kebutuhan orang lain tetapi mengabaikan kebutuhannya sendiri.

Kemudian suatu hari ia merasa:

"Tidak ada yang peduli kepada saya."

Padahal mungkin masalahnya bukan semata-mata karena orang lain tidak peduli.

Bisa jadi selama ini ia tidak pernah memberikan ruang kepada orang lain untuk mengetahui bahwa dirinya juga membutuhkan bantuan.

Belajar membuat batasan

Batasan pribadi bukan berarti menjadi egois.

Mengatakan:

"Maaf, kali ini saya tidak bisa membantu."

bukan berarti seseorang menjadi jahat.

Mengatakan:

"Saya membutuhkan waktu untuk diri saya sendiri."

bukan berarti tidak peduli kepada orang lain.

Justru batasan yang sehat membantu hubungan menjadi lebih jujur.

Kita tidak harus selalu tersedia untuk semua orang agar dianggap berharga.

5. "Saya Takut Masa Depan Akan Lebih Buruk"

Jika masa lalu dapat membuat seseorang terjebak dalam penyesalan, masa depan dapat membuat seseorang terjebak dalam kecemasan.

"Bagaimana kalau saya gagal?"

"Bagaimana kalau uang saya tidak cukup?"

"Bagaimana kalau saya kehilangan pekerjaan?"

"Bagaimana kalau hubungan ini berakhir?"

"Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?"

Memikirkan masa depan sebenarnya penting. Perencanaan membuat seseorang lebih siap menghadapi kemungkinan.

Tetapi kecemasan sering membuat otak memperlakukan kemungkinan buruk seolah-olah itu adalah kenyataan yang sedang terjadi.

Seseorang belum kehilangan pekerjaannya, tetapi sudah mengalami stres seolah-olah kehilangan pekerjaan.

Ia belum mengalami kegagalan, tetapi sudah merasakan malu.

Ia belum menghadapi masalah tersebut, tetapi sudah berkali-kali menjalani skenario buruk di dalam pikirannya.

Otak tidak selalu membedakan "kemungkinan" dan "kepastian"

Kalimat:

"Saya mungkin gagal."

berbeda dengan:

"Saya pasti gagal."

Namun ketika seseorang terlalu sering mengulang skenario negatif, kemungkinan dapat terasa seperti kepastian.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang dapat merasa lelah meskipun tidak sedang melakukan aktivitas fisik berat.

Tubuhnya berada di masa sekarang, tetapi pikirannya berkali-kali pergi ke masa depan untuk menghadapi masalah yang bahkan belum tentu terjadi.

Fokus pada lingkaran kendali

Salah satu cara yang lebih sehat adalah membedakan:

Apa yang bisa saya kendalikan?

dan

Apa yang tidak bisa saya kendalikan?

Kita tidak dapat menjamin semua hal akan berjalan sesuai rencana.

Tetapi kita dapat mempersiapkan diri.

Kita dapat menabung.

Kita dapat belajar.

Kita dapat meningkatkan keterampilan.

Kita dapat menjaga hubungan.

Kita dapat membuat rencana cadangan.

Dan setelah melakukan bagian yang mampu kita lakukan, kita perlu menerima bahwa masih ada hal-hal yang berada di luar kendali.

Hidup tidak membutuhkan kepastian seratus persen sebelum kita berani melangkah.

6. "Saya Sudah Berusaha, Tapi Hidup Tetap Terasa Berat"

Ini mungkin salah satu keluhan yang paling dalam.

Seseorang sudah bekerja.

Sudah mencoba berubah.

Sudah berusaha menjadi lebih baik.

Sudah belajar.

Sudah bersabar.

Namun hidup tetap terasa berat.

Pada titik tertentu ia mungkin berpikir:

"Untuk apa saya berusaha kalau semuanya tetap seperti ini?"

Perasaan tersebut bisa membuat seseorang kehilangan motivasi.

Ia mulai melihat usaha sebagai sesuatu yang sia-sia. Karena hasil tidak datang sesuai harapan, ia menganggap tidak ada gunanya mencoba lagi.

Dalam psikologi, pengalaman kegagalan atau ketidakberdayaan yang berlangsung berulang dapat berkontribusi pada pola yang dikenal sebagai learned helplessness, yaitu kondisi ketika seseorang mulai merasa bahwa tindakannya tidak memiliki pengaruh berarti terhadap hasil.

Akibatnya, bahkan ketika peluang untuk berubah sebenarnya muncul, ia mungkin tidak lagi memiliki energi psikologis untuk mencobanya.

Tidak semua usaha langsung menghasilkan perubahan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengukur kemajuan hanya berdasarkan hasil akhir.

Padahal banyak perubahan membutuhkan waktu.

Seseorang belajar selama beberapa bulan tetapi belum mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.

Seseorang memperbaiki hubungan tetapi konflik masih muncul.

Seseorang mencoba membangun kebiasaan baru tetapi beberapa kali kembali ke pola lama.

Hal tersebut tidak otomatis berarti usahanya sia-sia.

Perubahan manusia jarang berlangsung dalam garis lurus.

Ada kemajuan.

Ada kemunduran.

Ada hari ketika seseorang sangat produktif.

Ada hari ketika ia hanya mampu melakukan sedikit.

Yang penting bukan selalu bergerak cepat, melainkan tidak menjadikan satu kegagalan sebagai kesimpulan tentang seluruh hidup.

Hati-hati dengan kalimat "selalu" dan "tidak pernah"

Pikiran yang sedang lelah sering menggunakan kata-kata absolut:

"Saya selalu gagal."

"Tidak pernah ada yang berpihak kepada saya."

"Hidup saya selalu buruk."

"Saya tidak pernah beruntung."

Padahal kehidupan manusia hampir tidak pernah sesederhana itu.

Satu atau beberapa pengalaman buruk tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan.

Mengubah kalimat:

"Hidup saya selalu gagal."

menjadi:

"Belakangan ini beberapa hal tidak berjalan sesuai harapan."

mungkin terdengar sederhana, tetapi cara berbicara kepada diri sendiri dapat memengaruhi cara kita memahami situasi.

Kalimat kedua masih mengakui masalah, tetapi tidak mengubah masalah menjadi identitas.

Mengapa Keluhan yang Terus Diulang Bisa Membuat Hidup Terasa Semakin Suram?

Keluhan pada awalnya dapat memberikan sedikit kelegaan.

Kita mengeluarkan emosi.

Kita merasa didengar.

Kita mendapatkan simpati.

Namun jika keluhan hanya diulang tanpa refleksi atau tindakan, seseorang dapat masuk ke dalam sebuah siklus:

Masalah → pikiran negatif → keluhan → emosi negatif → semakin fokus pada masalah → semakin banyak keluhan.

Akhirnya, keluhan bukan lagi sekadar respons terhadap masalah.

Keluhan menjadi cara utama melihat kehidupan.

Seseorang mulai lebih mudah menemukan apa yang salah daripada apa yang masih baik.

Bukan berarti ia sengaja menjadi negatif.

Otak manusia memang dapat menjadi semakin terbiasa memperhatikan sesuatu yang sering dipikirkan.

Karena itu, jika seseorang setiap hari mencari alasan untuk kecewa, pikirannya akan semakin mudah menemukan kekecewaan.

Sebaliknya, jika seseorang mulai melatih dirinya untuk melihat pilihan, solusi, hal-hal yang masih bisa dikendalikan, dan pengalaman positif yang kecil sekalipun, perspektifnya dapat berubah secara bertahap.

Bukan Berarti Kita Tidak Boleh Mengeluh

Penting untuk ditekankan bahwa berhenti mengeluh bukan berarti harus berpura-pura bahagia.

Ada masalah yang memang menyakitkan.

Ada kehilangan yang memang membutuhkan waktu untuk diproses.

Ada ketidakadilan yang memang pantas dipertanyakan.

Ada hubungan yang memang harus ditinggalkan.

Ada situasi yang memang perlu diperbaiki.

Psikologi tidak mengajarkan bahwa seseorang harus selalu berpikir positif.

Memaksa diri mengatakan "semuanya baik-baik saja" ketika sebenarnya sedang mengalami kesulitan juga tidak sehat.

Yang lebih penting adalah membedakan antara:

mengakui masalah

dan

membiarkan masalah menguasai seluruh cara kita melihat kehidupan.

Kita bisa berkata:

"Saya sedang mengalami masa yang sulit."

tanpa menyimpulkan:

"Hidup saya akan selalu seperti ini."

Kita bisa berkata:

"Saya kecewa dengan keputusan saya."

tanpa menyimpulkan:

"Saya adalah orang yang gagal."

Kita bisa berkata:

"Saya belum mendapatkan apa yang saya inginkan."

tanpa menyimpulkan:

"Saya tidak akan pernah mendapatkannya."

Perbedaan kecil dalam cara berpikir tersebut dapat membuat perspektif menjadi lebih fleksibel.

Pada Akhirnya, Hidup Tidak Selalu Harus Menjadi Mudah

Salah satu sumber penderitaan manusia adalah keyakinan bahwa hidup yang baik berarti hidup tanpa masalah.

Padahal kehidupan yang sehat bukanlah kehidupan tanpa masalah.

Kehidupan yang sehat adalah kehidupan di mana seseorang memiliki kemampuan untuk menghadapi masalah, memproses emosi, meminta bantuan ketika diperlukan, membuat keputusan, dan kembali bergerak setelah mengalami kegagalan.

Kita tidak dapat mengontrol semua yang terjadi.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu.

Kita tidak dapat memastikan masa depan.

Kita tidak dapat mengatur bagaimana orang lain memperlakukan kita.

Kita juga tidak dapat memastikan bahwa semua usaha akan menghasilkan sesuatu sesuai keinginan.

Tetapi kita masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana merespons keadaan tersebut.

Mungkin hidup tidak akan langsung berubah hanya karena kita berhenti mengeluh.

Namun kita dapat mulai mengubah pertanyaan yang kita ajukan kepada diri sendiri.

Bukan:

"Kenapa hidup saya seburuk ini?"

melainkan:

"Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan?"

Bukan:

"Kenapa orang lain lebih beruntung?"

melainkan:

"Apa yang bisa saya lakukan dengan kehidupan yang saya miliki sekarang?"

Bukan:

"Bagaimana kalau semuanya gagal?"

melainkan:

"Apa satu langkah yang masih bisa saya lakukan hari ini?"

Dan bukan:

"Kapan hidup saya akan sempurna?"

melainkan:

"Bagaimana saya bisa membuat hari ini sedikit lebih baik?"

Karena terkadang, hidup tidak menjadi lebih ringan ketika semua masalah menghilang.

Hidup menjadi lebih ringan ketika kita tidak lagi membawa semua masalah itu sekaligus di dalam kepala.

Kita tidak harus menyelesaikan seluruh hidup hari ini. Kita hanya perlu belajar menghadapi satu hari, satu keputusan, dan satu langkah pada satu waktu.

EDITOR: Hanny Suwindari