← Beranda
Kerap Menunda Saat Mengambil Keputusan Besar yang Dianggap Menakutkan, Lakukan 6 Cara Ini
Irfan FerdiansyahMinggu, 6 September 2026 | 05.41 WIB
seseorang yang menunda-nunda mengambil keputusan./Magnific/jcomp

JawaPos.com - Ada keputusan yang sebenarnya sudah lama kita pikirkan, tetapi entah mengapa selalu terasa sulit untuk benar-benar diambil.

Mungkin kamu sudah tahu bahwa pekerjaan sekarang tidak lagi membuatmu berkembang, tetapi setiap kali ingin mengundurkan diri, muncul pikiran, “Bagaimana kalau setelah keluar aku malah menyesal?”

Mungkin kamu ingin memulai bisnis, pindah kota, melanjutkan pendidikan, mengakhiri hubungan yang tidak sehat, menerima kesempatan baru, atau mengambil langkah besar lainnya. Namun semakin dekat dengan keputusan tersebut, semakin banyak alasan untuk menundanya.

“Besok saja.”

“Aku pikir-pikir dulu.”

“Tunggu sampai kondisinya lebih tepat.”

“Kalau sudah lebih siap, baru aku putuskan.”

Masalahnya, “waktu yang tepat” itu sering kali tidak pernah benar-benar datang.

Menunda keputusan besar bukan selalu berarti seseorang malas atau tidak memiliki keberanian. Dalam banyak kasus, penundaan merupakan cara otak berusaha menghindari ketidaknyamanan emosional.

Kita menunda bukan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, melainkan karena keputusan tersebut membuat kita takut menghadapi kemungkinan yang belum pasti.

Psikologi mengenal kecenderungan manusia untuk menghindari situasi yang dianggap mengancam atau tidak menyenangkan. Ketika sebuah keputusan terasa terlalu berisiko, otak dapat memilih sesuatu yang memberikan rasa aman dalam jangka pendek: tidak melakukan apa-apa.

Ironisnya, tidak mengambil keputusan juga merupakan sebuah keputusan.

Dan semakin lama ditunda, biasanya semakin besar beban mental yang kita rasakan.

Lalu, bagaimana cara menghentikan kebiasaan tersebut?

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), terdapat enam pendekatan psikologis yang dapat membantu.

1. Bedakan antara “takut” dan “tidak siap”

Salah satu alasan paling umum seseorang menunda keputusan besar adalah karena ia menganggap rasa takut sebagai bukti bahwa dirinya belum siap.

Padahal, kedua hal tersebut tidak selalu sama.

Kamu bisa merasa takut sekaligus sebenarnya sudah cukup siap untuk melangkah.

Misalnya, seseorang mendapat tawaran pekerjaan yang jauh lebih baik. Ia sudah memiliki pengalaman, kemampuan, dan persiapan yang cukup. Namun ia takut meninggalkan lingkungan kerja lama.

Kemudian ia berkata:

“Sepertinya aku belum siap.”

Padahal mungkin yang sebenarnya terjadi adalah:

“Aku takut dengan konsekuensi dari keputusan ini.”

Perbedaan kecil dalam kalimat tersebut sangat penting.

Ketika kita mengatakan “aku belum siap”, otak cenderung mencari lebih banyak alasan untuk menunggu. Tetapi ketika kita mengakui “aku takut”, kita mulai bisa melihat ketakutan tersebut sebagai emosi yang perlu dipahami, bukan sebagai perintah yang harus selalu ditaati.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

“Apa sebenarnya yang membuatku takut?”

Bukan hanya, “Apakah aku takut?”

Tetapi lebih spesifik.

Apakah kamu takut gagal?

Takut mengecewakan orang lain?

Takut kehilangan kenyamanan?

Takut menyesal?

Takut dinilai?

Takut kehilangan uang?

Takut tidak bisa kembali ke kondisi semula?

Semakin spesifik ketakutanmu, semakin mudah kamu menghadapinya.

Ketakutan yang masih berbentuk kabut biasanya terasa jauh lebih besar daripada ketakutan yang sudah diberi nama.

Jadi, ketika ingin mengambil keputusan besar, jangan buru-buru berkata, “Aku belum siap.”

Coba katakan:

“Aku takut. Sekarang aku perlu memahami apa yang sebenarnya kutakutkan.”

Itu adalah langkah pertama untuk mendapatkan kembali kendali.

2. Berhenti menunggu kepastian 100 persen

Banyak orang menunda keputusan karena mereka ingin mendapatkan kepastian terlebih dahulu.

Mereka ingin tahu bahwa pilihan yang diambil pasti benar.

Sayangnya, hampir tidak ada keputusan besar dalam hidup yang menawarkan kepastian seperti itu.

Ketika memilih pekerjaan baru, kamu tidak bisa mengetahui dengan pasti apakah kamu akan bahagia di sana.

Ketika memulai bisnis, kamu tidak bisa memastikan bisnis tersebut akan berhasil.

Ketika pindah kota, kamu tidak tahu apakah kehidupan baru akan lebih baik.

Ketika mengakhiri sebuah hubungan, kamu tidak bisa mengetahui secara pasti bagaimana perasaanmu enam bulan kemudian.

Kita sering melakukan kesalahan dengan menganggap bahwa keputusan yang baik adalah keputusan yang hasilnya pasti bagus.

Padahal, keputusan yang baik lebih sering merupakan keputusan yang dibuat berdasarkan informasi yang cukup, pertimbangan yang masuk akal, serta kesediaan untuk menghadapi ketidakpastian.

Dalam psikologi pengambilan keputusan, manusia juga dikenal memiliki berbagai bias yang dapat membuat kita terlalu fokus pada kemungkinan buruk.

Salah satunya adalah kecenderungan memberikan bobot yang terlalu besar pada kerugian dibandingkan keuntungan. Karena itu, ketika menghadapi perubahan, kita sering lebih sibuk membayangkan apa yang mungkin hilang daripada apa yang mungkin diperoleh.

Cobalah mengubah pertanyaannya.

Daripada bertanya:

“Bagaimana kalau keputusan ini ternyata salah?”

tanyakan:

“Apakah aku memiliki cukup informasi untuk membuat keputusan yang masuk akal saat ini?”

Pertanyaan kedua jauh lebih realistis.

Kamu tidak membutuhkan kepastian sempurna.

Kamu membutuhkan kejelasan yang cukup untuk mengambil langkah berikutnya.

3. Pecah keputusan besar menjadi keputusan-keputusan kecil

Salah satu alasan keputusan terasa menakutkan adalah karena kita melihatnya sebagai satu lompatan besar.

Misalnya:

“Aku harus keluar dari pekerjaan.”

“Aku harus pindah kota.”

“Aku harus memulai bisnis.”

“Aku harus mengakhiri hubungan.”

“Aku harus mengubah seluruh hidupku.”

Ketika sebuah keputusan dibingkai seperti itu, wajar jika otak merasa kewalahan.

Cobalah mengubahnya menjadi serangkaian langkah kecil.

Jika ingin pindah pekerjaan, keputusan pertamanya mungkin bukan langsung mengundurkan diri.

Langkah pertamanya bisa:

memperbarui CV,
mencari lima lowongan,
berbicara dengan seseorang yang bekerja di bidang tersebut,
mengikuti satu wawancara,
menghitung kebutuhan finansial selama beberapa bulan,
atau mencari tahu bagaimana kondisi pasar kerja.

Jika ingin memulai bisnis, kamu tidak harus langsung membuka perusahaan besar.

Kamu bisa memulai dengan:

menguji ide,
berbicara dengan calon pelanggan,
membuat produk sederhana,
menawarkan kepada beberapa orang,
lalu melihat responsnya.

Prinsipnya sederhana:

Jangan memaksa dirimu melompat ketika kamu bisa mulai dengan satu langkah.

Otak manusia lebih mudah menghadapi sesuatu yang konkret dan terbatas dibandingkan sesuatu yang abstrak dan sangat besar.

Pertanyaan seperti “Bagaimana aku mengubah hidupku?” terasa luar biasa berat.

Tetapi pertanyaan:

“Apa satu hal yang bisa kulakukan minggu ini untuk mendekat pada perubahan tersebut?”

jauh lebih mudah dijawab.

Sering kali, keberanian tidak muncul sebelum kita bergerak.

Keberanian justru tumbuh setelah kita mulai bergerak.

4. Tetapkan batas waktu untuk berpikir

Berpikir sebelum mengambil keputusan adalah hal yang sehat.

Tetapi terlalu banyak berpikir tanpa batas dapat berubah menjadi overthinking.

Kamu terus menganalisis.

Mencari informasi baru.

Membayangkan berbagai skenario.

Bertanya kepada banyak orang.

Kemudian kembali meragukan keputusanmu.

Besok kamu memikirkannya lagi.

Lusa juga.

Minggu depan pun masih sama.

Pada titik tertentu, proses berpikir tidak lagi menghasilkan kejelasan. Ia hanya menghasilkan kecemasan baru.

Karena itu, berikan dirimu batas waktu untuk mengambil keputusan.

Misalnya:

“Aku akan mengumpulkan informasi selama tujuh hari. Setelah itu aku akan memilih berdasarkan informasi yang sudah kumiliki.”

Atau:

“Aku akan mempertimbangkan dua pilihan ini sampai hari Jumat. Setelah itu aku akan mengambil keputusan.”

Batas waktu bukan berarti kamu harus mengambil keputusan secara gegabah.

Sebaliknya, batas waktu membantu membedakan antara pertimbangan yang sehat dan penundaan yang disamarkan sebagai analisis.

Coba tanyakan:

“Informasi apa yang benar-benar masih belum kumiliki?”

Jika memang ada informasi penting yang belum diketahui, carilah.

Namun jika kamu sebenarnya sudah memiliki informasi yang cukup dan hanya terus mencari kepastian emosional, mungkin yang kamu butuhkan bukan informasi tambahan.

Mungkin yang kamu butuhkan adalah keberanian untuk menerima ketidakpastian.

5. Gunakan “premortem”: bayangkan jika keputusanmu gagal

Ini terdengar berlawanan dengan intuisi.

Jika kamu sudah takut mengambil keputusan, mengapa justru membayangkan kegagalan?

Karena terkadang ketakutan menjadi jauh lebih besar ketika semuanya hanya berada di dalam kepala.

Salah satu teknik yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan adalah premortem.

Caranya sederhana.

Bayangkan kamu sudah mengambil keputusan tersebut.

Kemudian bayangkan bahwa beberapa bulan atau satu tahun kemudian, keputusan itu ternyata gagal.

Lalu tanyakan:

“Apa yang mungkin menyebabkan kegagalan tersebut?”

Tuliskan sebanyak mungkin.

Misalnya kamu ingin pindah pekerjaan.

Kemungkinan masalahnya:

gaji ternyata tidak sesuai ekspektasi,
lingkungan kerja buruk,
perjalanan terlalu jauh,
pekerjaan ternyata tidak cocok,
atau perusahaan mengalami masalah.

Setelah itu, jangan berhenti di sana.

Tanyakan:

“Apa yang bisa kulakukan sekarang untuk mengurangi kemungkinan masalah tersebut?”

Misalnya:

Jika takut lingkungan kerja buruk, cari informasi tentang budaya perusahaan.

Jika takut masalah finansial, siapkan dana darurat.

Jika takut pekerjaan tidak sesuai ekspektasi, tanyakan detail pekerjaan kepada calon atasan.

Dengan cara ini, ketakutan berubah dari sesuatu yang abstrak menjadi daftar risiko yang dapat dikelola.

Ini juga membantu membedakan antara:

“Aku takut karena keputusan ini memang sangat berbahaya.”

dan:

“Aku takut karena aku belum membuat rencana untuk menghadapi risikonya.”

Keduanya berbeda.

Keputusan yang berisiko bukan berarti keputusan yang buruk.

Yang penting adalah apakah risikonya dapat dipahami dan dikelola.

6. Berhenti mencari keputusan yang sempurna, cari keputusan yang bisa kamu pertanggungjawabkan

Ini mungkin bagian yang paling sulit.

Banyak orang sebenarnya tidak takut mengambil keputusan.

Mereka takut mengambil keputusan yang salah.

Akibatnya, mereka terus mencari pilihan yang sempurna.

Masalahnya, pilihan sempurna sering kali tidak ada.

Setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Memilih bertahan memiliki konsekuensi.

Memilih pergi juga memiliki konsekuensi.

Memulai memiliki risiko.

Tidak memulai juga memiliki risiko.

Mengatakan “ya” akan membuka beberapa pintu sekaligus mungkin menutup pintu lain.

Mengatakan “tidak” juga sama.

Karena itu, tujuan pengambilan keputusan yang sehat bukan selalu menemukan pilihan yang tanpa penyesalan.

Tujuannya adalah menemukan pilihan yang sesuai dengan nilai, informasi, prioritas, dan kondisi hidupmu saat ini.

Setelah itu, bersedia bertanggung jawab terhadap konsekuensinya.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku harus yakin bahwa ini adalah keputusan terbaik.”

dan:

“Aku sudah mempertimbangkannya dengan cukup baik, dan aku bersedia menjalani konsekuensinya.”

Kalimat kedua jauh lebih realistis.

Kita tidak selalu bisa mengendalikan hasil.

Tetapi kita bisa mengendalikan bagaimana kita membuat keputusan.

Dan terkadang, kedewasaan bukan tentang mengetahui bahwa pilihan kita pasti benar.

Kedewasaan adalah mampu berkata:

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi berdasarkan apa yang kutahu sekarang, aku memilih ini.”

Mengapa Kita Sering Terjebak dalam Penundaan?

Jika kamu sering menunda keputusan besar, mungkin kamu perlu memahami bahwa penundaan tersebut dapat memberikan “hadiah” jangka pendek.

Ketika kamu menunda keputusan, kecemasan biasanya turun untuk sementara.

Misalnya, kamu takut mengundurkan diri.

Selama kamu belum mengirim surat pengunduran diri, kamu tidak perlu menghadapi konsekuensinya.

Kamu merasa lega.

Masalahnya, kelegaan tersebut dapat memperkuat kebiasaan menunda.

Otak belajar:

“Ketika aku merasa takut, aku menghindari keputusan. Setelah itu aku merasa sedikit lebih baik.”

Akibatnya, ketika ketakutan muncul lagi, otak cenderung melakukan hal yang sama.

Inilah salah satu alasan mengapa kebiasaan menghindari keputusan dapat semakin kuat jika terus dilakukan.

Karena itu, solusinya bukan selalu menunggu sampai rasa takut hilang.

Kadang-kadang, kamu perlu belajar melakukan tindakan kecil meskipun rasa takut masih ada.

Bukan berarti mengabaikan rasa takut.

Tetapi tidak membiarkan rasa takut menjadi satu-satunya pengambil keputusan.

Coba Gunakan Metode 24 Jam

Untuk keputusan yang tidak membutuhkan waktu panjang, kamu bisa mencoba aturan sederhana.

Begitu menyadari bahwa kamu sedang menunda karena takut, beri dirimu waktu 24 jam untuk:

Menuliskan pilihan yang tersedia.
Menuliskan keuntungan dan kerugian utama.
Mengidentifikasi risiko terbesar.
Menentukan apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut.
Menentukan langkah terkecil yang bisa dilakukan.
Mengambil keputusan atau menetapkan tanggal keputusan yang jelas.

Tujuannya bukan membuat semua keputusan besar dalam 24 jam.

Tujuannya adalah menghentikan siklus:

takut → menunda → lega sementara → semakin takut → menunda lagi.

Dan Ingat: Tidak Memilih Juga Memiliki Harga

Ini adalah sesuatu yang sering dilupakan.

Ketika kita mempertimbangkan sebuah keputusan, kita biasanya hanya menghitung risiko dari tindakan.

Padahal kita juga perlu menghitung risiko dari tidak bertindak.

Jika kamu tetap berada dalam pekerjaan yang tidak kamu sukai selama dua tahun lagi, apa konsekuensinya?

Jika kamu terus menunda memulai sesuatu yang penting bagimu, apa yang mungkin hilang?

Jika kamu terus bertahan dalam situasi yang sebenarnya sudah tidak sesuai dengan nilai hidupmu, bagaimana pengaruhnya terhadap dirimu?

Bukan berarti setiap ketidaknyamanan harus segera ditinggalkan.

Bukan pula berarti setiap keputusan besar harus diambil secara impulsif.

Namun penting untuk menyadari bahwa status quo bukan pilihan tanpa konsekuensi.

Kadang-kadang, kita menganggap “tidak melakukan apa-apa” sebagai pilihan paling aman.

Padahal, tidak berubah selama bertahun-tahun juga bisa membawa risiko.

Pada Akhirnya, Kamu Tidak Harus Menunggu Sampai Tidak Takut

Mungkin inilah hal terpenting yang perlu diingat.

Kamu tidak harus merasa berani terlebih dahulu untuk mengambil keputusan.

Kamu tidak harus yakin 100 persen.

Kamu tidak harus mengetahui seluruh masa depan.

Dan kamu tidak harus memiliki semua jawabannya sekarang.

Yang kamu butuhkan adalah kemampuan untuk membedakan antara ketakutan yang perlu didengarkan dan ketakutan yang hanya sedang berusaha mempertahankanmu di zona nyaman.

Jadi, ketika kembali menghadapi keputusan besar, cobalah berhenti sejenak.

Tanyakan kepada dirimu:

Apa sebenarnya yang kutakutkan?

Informasi penting apa yang masih belum kumiliki?

Apa risiko terburuk yang realistis?

Apa yang bisa kulakukan untuk mengurangi risiko tersebut?

Apa langkah terkecil yang bisa kulakukan sekarang?

Dan yang terakhir:

Jika aku terus tidak mengambil keputusan ini selama satu tahun, apakah aku akan merasa lebih baik atau justru menyesal?

Tidak semua keputusan besar akan berakhir seperti yang kita harapkan.

Tetapi hidup juga tidak pernah meminta kita untuk mengetahui masa depan sebelum bergerak.

Kadang-kadang, keputusan terbaik yang bisa kita ambil bukanlah keputusan yang menjamin kita tidak akan gagal.

Melainkan keputusan yang membuat kita berhenti hidup hanya berdasarkan rasa takut.

Karena pada akhirnya, keberanian bukan berarti tidak merasa takut.

Keberanian adalah kemampuan untuk tetap bergerak dengan pertimbangan yang matang, meskipun kita belum mengetahui dengan pasti apa yang ada di depan

EDITOR: Hanny Suwindari