← Beranda
6 Alasan Mengapa Kita Harus Konsisten Melakukan Hal-Hal yang Kita Anggap Tidak Bermanfaat bagi Diri
Irfan FerdiansyahSabtu, 5 September 2026 | 06.44 WIB
seseorang yang konsisten lari pagi./Magnific/partystock

JawaPos.com - Ada banyak hal dalam hidup yang pada awalnya terasa tidak memberikan manfaat apa pun.

Belajar sesuatu yang sulit, membaca beberapa halaman buku setiap hari, berolahraga ketika tubuh sedang malas, menabung sedikit demi sedikit, membangun keterampilan, menulis meskipun belum ada yang membaca, atau mencoba sesuatu berulang kali meskipun hasilnya belum terlihat.

Pada titik tertentu, kita mungkin bertanya:

“Untuk apa saya terus melakukan ini kalau hasilnya tidak kelihatan?”

Pertanyaan tersebut sangat manusiawi. Otak kita memang cenderung menyukai sesuatu yang memberikan hasil dengan cepat. Ketika sebuah aktivitas membutuhkan usaha besar tetapi memberikan imbalan kecil atau bahkan tidak terlihat, motivasi kita dapat menurun.

Namun, dari sudut pandang psikologi, ada alasan mengapa beberapa aktivitas yang terlihat tidak berguna dalam jangka pendek justru dapat menjadi sangat berharga dalam jangka panjang.

Bukan berarti semua hal harus terus dilakukan. Jika sebuah aktivitas benar-benar merugikan, tidak sesuai dengan tujuan, atau terbukti tidak efektif, berhenti dan mengevaluasinya justru merupakan keputusan yang sehat.

Masalahnya adalah kita sering berhenti bukan karena sesuatu itu tidak bermanfaat, tetapi karena manfaatnya belum terlihat.

Di sinilah konsistensi memainkan peran penting.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), terdapat enam alasan mengapa kita perlu tetap konsisten melakukan hal-hal yang manfaatnya belum terasa.

1. Otak Kita Sering Menginginkan Hasil yang Instan

Salah satu alasan terbesar mengapa kita sulit konsisten adalah karena manusia cenderung menyukai imbalan yang dapat dirasakan sekarang dibandingkan manfaat yang baru diperoleh di masa depan.

Bayangkan dua pilihan.

Pilihan pertama memberikan kesenangan sekarang.

Pilihan kedua membutuhkan usaha sekarang tetapi baru memberikan manfaat beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian.

Secara psikologis, pilihan pertama sering kali terasa jauh lebih menarik.

Inilah yang membuat seseorang lebih mudah memilih menonton video daripada belajar, menghabiskan uang daripada menabung, tidur lebih lama daripada berolahraga, atau mencari hiburan daripada mengerjakan sesuatu yang sebenarnya penting bagi masa depan.

Masalahnya, sesuatu yang tidak memberikan kepuasan langsung bukan berarti tidak memiliki nilai.

Belajar bahasa baru, misalnya, mungkin tidak menghasilkan perubahan besar setelah satu hari. Membaca satu buku juga tidak serta-merta mengubah kehidupan seseorang. Berolahraga sekali pun tidak langsung membuat tubuh menjadi jauh lebih sehat.

Namun, manfaat dari aktivitas tersebut sering kali bersifat kumulatif.

Satu sesi mungkin terasa tidak berarti.

Sepuluh sesi mulai memberikan sedikit perubahan.

Seratus sesi dapat menghasilkan kemampuan yang sebelumnya tidak kita miliki.

Dengan kata lain, kita sering keliru menilai sebuah aktivitas berdasarkan hasil yang muncul hari ini, padahal nilai sebenarnya baru terlihat setelah dilakukan berkali-kali.

Konsistensi membantu kita melewati jarak antara usaha dan hasil.

Dalam psikologi, kemampuan untuk menunda kepuasan atau delayed gratification merupakan bagian penting dari pengendalian diri. Kita belajar bahwa tidak semua hal yang bernilai harus memberikan hadiah sekarang.

Misalnya:

belajar hari ini mungkin belum membuat kita pintar;
berolahraga hari ini mungkin belum mengubah tubuh;
menabung hari ini mungkin belum membuat kita kaya;
membaca hari ini mungkin belum mengubah cara berpikir;
berlatih hari ini mungkin belum membuat kita ahli.

Tetapi setiap tindakan tersebut dapat menjadi bagian dari proses yang lebih panjang.

Karena itu, ketika sebuah aktivitas terasa tidak berguna, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya:

“Apa manfaatnya hari ini?”

Tetapi juga:

“Apa yang sedang saya bangun melalui pengulangan aktivitas ini?”

2. Manfaat Tidak Selalu Terlihat pada Tahap Awal

Salah satu kesalahan umum dalam mengevaluasi usaha adalah mengharapkan hubungan yang linear antara usaha dan hasil.

Kita membayangkan:

Berusaha sedikit → hasil sedikit.
Berusaha lebih banyak → hasil lebih banyak.

Dalam kenyataannya, perkembangan manusia sering kali tidak seperti itu.

Ada periode ketika kita melakukan banyak usaha tetapi perubahan yang terlihat sangat kecil.

Kemudian, setelah melewati titik tertentu, perkembangan mulai terlihat lebih jelas.

Bayangkan seseorang yang sedang belajar menggambar.

Pada minggu pertama, hasil gambarnya mungkin masih buruk.

Minggu kedua tidak jauh berbeda.

Bulan pertama pun mungkin belum membuat orang lain melihat perubahan besar.

Jika ia hanya menggunakan hasil yang terlihat sebagai ukuran, ia mungkin menyimpulkan:

“Latihan ini tidak ada gunanya.”

Padahal selama proses tersebut, berbagai kemampuan sedang berkembang: koordinasi tangan, pengamatan, pemahaman bentuk, kemampuan membedakan proporsi, dan sebagainya.

Perubahan yang terjadi di dalam diri tidak selalu langsung terlihat dari luar.

Hal yang sama dapat terjadi ketika kita mempelajari matematika, menulis, berbicara di depan umum, membangun bisnis, mempelajari musik, atau mengembangkan kemampuan sosial.

Kita sering berhenti tepat sebelum manfaat mulai terlihat.

Ini adalah salah satu alasan konsistensi menjadi sangat penting.

Konsistensi memberi kesempatan kepada proses untuk menghasilkan sesuatu yang belum mungkin muncul setelah beberapa percobaan.

Bayangkan menanam sebuah pohon.

Setiap hari kita menyiramnya.

Pada hari pertama tidak ada pohon besar.

Hari kedua juga tidak.

Seminggu kemudian mungkin perubahan masih hampir tidak terlihat.

Kalau kita hanya melihat permukaan, kita bisa merasa bahwa air yang diberikan setiap hari sia-sia.

Tetapi di bawah tanah, akar sedang berkembang.

Perkembangan manusia sering memiliki karakter yang sama.

Tidak semua pertumbuhan terjadi di tempat yang dapat langsung kita lihat.

Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa sesuatu tidak bermanfaat hanya karena hasilnya belum terlihat.

3. Konsistensi Membentuk Identitas, Bukan Sekadar Kebiasaan

Alasan ketiga berkaitan dengan konsep identitas diri.

Kita sering menganggap kebiasaan hanya sebagai aktivitas yang dilakukan berulang-ulang.

Padahal, pengulangan juga dapat memengaruhi cara kita melihat diri sendiri.

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Saya sedang mencoba membaca.”

dan

“Saya adalah orang yang suka membaca.”

Ada juga perbedaan antara:

“Saya mencoba berolahraga.”

dan

“Saya adalah orang yang menjaga tubuh saya.”

Ketika seseorang melakukan sebuah tindakan berulang kali, tindakan tersebut dapat menjadi bagian dari identitasnya.

Inilah salah satu alasan mengapa konsistensi begitu penting.

Setiap kali kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan nilai atau tujuan kita, kita seolah-olah memberikan bukti kepada diri sendiri:

“Saya memang orang yang melakukan hal ini.”

Misalnya seseorang ingin menjadi penulis.

Ia menulis satu halaman hari ini.

Besok ia menulis lagi.

Minggu berikutnya ia masih menulis.

Mungkin tulisannya belum bagus.

Mungkin belum ada yang membaca.

Mungkin belum menghasilkan uang.

Namun ada sesuatu yang tetap berubah.

Ia mulai memiliki bukti bahwa dirinya adalah seseorang yang menulis secara konsisten.

Identitas tersebut kemudian dapat memperkuat perilaku.

Semakin seseorang melihat dirinya sebagai orang yang disiplin, semakin mudah baginya melakukan tindakan yang konsisten dengan identitas tersebut.

Sebaliknya, jika kita terus mengatakan:

“Saya memang tidak pernah konsisten.”

maka identitas tersebut juga dapat menjadi penghalang.

Kita mulai mencari bukti bahwa kita memang seperti itu.

Karena itu, jangan hanya mengevaluasi hasil. Evaluasi juga siapa diri kita yang sedang dibentuk.

Mungkin membaca satu halaman hari ini tidak mengubah hidup.

Tetapi tindakan tersebut dapat memperkuat identitas sebagai seseorang yang belajar.

Mungkin olahraga 20 menit tidak membuat perubahan besar pada tubuh.

Tetapi tindakan tersebut memperkuat identitas sebagai seseorang yang menjaga kesehatan.

Mungkin belajar satu keterampilan selama 30 menit tidak langsung membuat kita ahli.

Tetapi tindakan tersebut memperkuat identitas sebagai seseorang yang mau berkembang.

Dalam jangka panjang, identitas dapat menjadi salah satu bahan bakar penting bagi kebiasaan.

4. Konsistensi Mengajarkan Otak Bahwa Ketidaknyamanan Bisa Ditoleransi

Ada alasan lain mengapa kita perlu melakukan beberapa hal meskipun terasa membosankan atau tidak menyenangkan.

Tidak semua hal yang baik untuk kita akan terasa nyaman.

Belajar bisa melelahkan.

Berolahraga bisa terasa berat.

Berlatih bisa membuat frustrasi.

Mengulang kesalahan yang sama dapat membuat kita ingin menyerah.

Mengerjakan sesuatu yang belum kita kuasai juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.

Jika setiap kali merasa tidak nyaman kita langsung berhenti, kemampuan kita untuk menghadapi tantangan menjadi terbatas.

Sebaliknya, ketika kita secara bertahap tetap melakukan sesuatu meskipun ada rasa bosan, frustrasi, atau tidak nyaman, kita memperoleh pengalaman bahwa:

“Saya ternyata bisa melewati perasaan ini.”

Ini penting karena salah satu masalah manusia bukan selalu kurangnya kemampuan, melainkan kecenderungan untuk menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan.

Kita ingin menunggu sampai merasa termotivasi.

Kita ingin menunggu sampai merasa percaya diri.

Kita ingin menunggu sampai semuanya terasa mudah.

Padahal sering kali urutannya justru terbalik.

Kita melakukan sesuatu terlebih dahulu.

Kemudian kita mendapatkan pengalaman.

Dari pengalaman tersebut, kepercayaan diri perlahan terbentuk.

Konsistensi dapat melatih toleransi terhadap ketidaknyamanan.

Contohnya sederhana.

Hari pertama berlari selama 10 menit terasa berat.

Jika seseorang berhenti karena merasa tidak nyaman, ia tidak memperoleh kesempatan untuk belajar bahwa tubuhnya sebenarnya dapat beradaptasi.

Tetapi jika ia melakukan latihan secara bertahap dan realistis, pengalaman tersebut dapat mengajarkan:

“Rasa tidak nyaman bukan selalu tanda bahwa saya harus berhenti.”

Tentu ada perbedaan antara ketidaknyamanan yang wajar dan rasa sakit atau kondisi yang menunjukkan bahaya.

Konsistensi bukan berarti memaksakan diri tanpa batas.

Justru konsistensi yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mengenali kapan harus beristirahat, mengubah strategi, atau berhenti.

Namun, jika satu-satunya alasan kita berhenti adalah karena sesuatu terasa membosankan atau sulit, mungkin kita perlu bertanya:

“Apakah saya benar-benar tidak mendapatkan manfaat, atau saya hanya sedang tidak nyaman?”

5. Pengulangan Memberikan Kesempatan untuk Mendapatkan Umpan Balik dan Memperbaiki Diri

Kita tidak selalu menjadi lebih baik hanya karena mengulang sesuatu.

Namun, pengulangan memberikan sesuatu yang sangat penting:

kesempatan untuk mendapatkan umpan balik.

Bayangkan seseorang baru belajar bermain gitar.

Pada percobaan pertama, ia mungkin salah memainkan beberapa nada.

Percobaan kedua masih salah.

Percobaan ketiga juga belum sempurna.

Tetapi setiap kesalahan memberikan informasi.

Ia mulai mengetahui:

bagian mana yang sulit;
kesalahan apa yang sering dilakukan;
teknik apa yang tidak berhasil;
bagian mana yang perlu dilatih;
strategi apa yang harus diubah.

Tanpa pengulangan, kita memiliki terlalu sedikit data untuk mengetahui apa yang harus diperbaiki.

Itulah mengapa konsistensi bukan sekadar “melakukan hal yang sama terus-menerus”.

Konsistensi yang efektif adalah melakukan, mengevaluasi, memperbaiki, lalu melakukan lagi.

Ini adalah perbedaan penting.

Jika kita terus melakukan sesuatu dengan cara yang sama meskipun tidak menghasilkan apa-apa, kita mungkin hanya sedang mengulangi kesalahan.

Karena itu, ketika merasa sebuah aktivitas tidak bermanfaat, jangan langsung bertanya:

“Haruskah saya berhenti?”

Coba tanyakan:

“Apa yang sudah saya pelajari dari proses ini?”

Mungkin masalahnya bukan pada tujuannya.

Mungkin metode yang digunakan yang perlu diperbaiki.

Misalnya seseorang ingin belajar bahasa Inggris tetapi selama berbulan-bulan hanya menghafal daftar kata tanpa memahami penggunaannya.

Jika perkembangannya lambat, bukan berarti belajar bahasa Inggris tidak bermanfaat.

Bisa jadi pendekatannya yang perlu diubah.

Konsistensi yang baik bukanlah keras kepala.

Konsistensi adalah kesediaan untuk terus bergerak sambil bersedia mengoreksi arah.

6. Hal-Hal Kecil yang Diulang Dapat Menghasilkan Perubahan Besar

Alasan terakhir mungkin yang paling sederhana, tetapi juga paling sering dilupakan.

Perubahan besar sering kali dibangun dari tindakan kecil yang dilakukan berkali-kali.

Kita cenderung terpesona oleh hasil akhir.

Kita melihat seseorang yang ahli dan lupa bahwa ada ribuan jam latihan di belakangnya.

Kita melihat seseorang yang memiliki tubuh bugar dan lupa bahwa ada ratusan sesi latihan.

Kita melihat seseorang yang mampu berbicara dengan percaya diri dan lupa bahwa sebelumnya ia mungkin berkali-kali merasa gugup.

Kita melihat sebuah buku yang selesai dan lupa bahwa buku tersebut sebenarnya dibangun dari halaman demi halaman.

Hasil akhir terlihat seperti sebuah lompatan besar.

Padahal sering kali hasil tersebut merupakan akumulasi dari keputusan-keputusan kecil.

Satu halaman.

Satu latihan.

Satu sesi belajar.

Satu percobaan.

Satu kesalahan.

Satu perbaikan.

Kemudian diulang.

Dan diulang lagi.

Masalahnya, otak kita sulit menghargai perubahan yang sangat kecil.

Jika hari ini kita menjadi 1% lebih baik, perubahan tersebut mungkin tidak terasa.

Besok juga mungkin tidak terasa.

Minggu depan mungkin masih tidak terasa.

Tetapi dalam jangka panjang, kebiasaan kecil dapat memberikan efek yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Karena itu, seseorang tidak selalu membutuhkan motivasi luar biasa untuk berkembang.

Sering kali yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu yang kecil secara konsisten.

Daripada mengatakan:

“Saya harus belajar lima jam setiap hari.”

mungkin lebih realistis mengatakan:

“Saya akan belajar 30 menit hari ini.”

Daripada:

“Saya harus langsung menjadi sehat.”

lebih realistis:

“Saya akan mulai bergerak hari ini.”

Daripada:

“Saya harus menjadi ahli.”

lebih realistis:

“Saya akan berlatih hari ini.”

Tujuannya bukan membuat setiap hari menjadi luar biasa.

Tujuannya adalah membuat kita tetap bergerak.

Tetapi Jangan Salah Memahami Arti Konsistensi

Ada satu hal penting yang harus digarisbawahi.

Konsistensi bukan berarti mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas tidak bermanfaat.

Ini adalah salah satu kesalahpahaman yang berbahaya tentang produktivitas.

Jika sebuah metode tidak efektif, kita boleh mengubah metode.

Jika sebuah tujuan tidak lagi sesuai dengan nilai kita, kita boleh mengevaluasi tujuan.

Jika sebuah aktivitas merusak diri sendiri, kita tidak perlu memaksakannya hanya demi terlihat konsisten.

Jika kita sudah melakukan sesuatu selama bertahun-tahun tetapi tidak ada perkembangan, mungkin yang dibutuhkan bukan lebih banyak usaha, melainkan strategi yang berbeda.

Ada perbedaan antara:

“Saya menyerah karena hasilnya belum terlihat.”

dan

“Saya mengevaluasi bukti, belajar dari pengalaman, lalu memilih pendekatan yang lebih baik.”

Yang pertama bisa menjadi bentuk ketidaksabaran.

Yang kedua dapat menjadi bentuk kedewasaan.

Jadi, konsistensi seharusnya selalu berjalan bersama evaluasi.

Kita perlu bertanya:

Apakah aktivitas ini benar-benar mendukung tujuan saya?
Apakah saya melihat tanda-tanda perkembangan, meskipun kecil?
Apakah metode yang saya gunakan efektif?
Apa yang bisa saya perbaiki?
Apakah saya hanya merasa tidak berguna karena hasilnya belum terlihat?
Apakah aktivitas ini masih sesuai dengan nilai dan prioritas saya?

Dengan pertanyaan tersebut, kita tidak menjadi orang yang sekadar “keras kepala”.

Kita menjadi orang yang tekun sekaligus adaptif.

Jangan Terlalu Cepat Menganggap Sesuatu Tidak Berguna

Pada akhirnya, salah satu pelajaran penting dari psikologi perilaku adalah bahwa manusia sering kali kesulitan menghargai manfaat yang tertunda.

Kita ingin melihat hasil sekarang.

Kita ingin tahu bahwa usaha kita tidak sia-sia.

Kita ingin mendapatkan bukti bahwa semua yang kita lakukan memiliki arti.

Tetapi kehidupan tidak selalu memberikan bukti tersebut secepat yang kita inginkan.

Ada proses yang manfaatnya baru terlihat setelah berbulan-bulan.

Ada keterampilan yang baru terasa berguna setelah bertahun-tahun.

Ada pengalaman yang baru kita pahami nilainya setelah melewati situasi tertentu.

Dan ada kebiasaan kecil yang tampaknya tidak berarti, tetapi perlahan mengubah cara kita berpikir, bekerja, dan menjalani hidup.

Karena itu, ketika sesuatu terasa tidak bermanfaat, jangan langsung mengambil kesimpulan.

Berhenti sejenak dan tanyakan:

“Apakah ini benar-benar tidak bermanfaat, atau saya hanya belum melihat manfaatnya?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita memandang proses.

Sebab tidak semua kemajuan terlihat seperti kemajuan.

Kadang-kadang kemajuan hanya terlihat seperti:

tetap belajar ketika belum pintar;
tetap berlatih ketika belum mahir;
tetap membaca ketika belum memahami semuanya;
tetap menulis ketika belum ada yang membaca;
tetap menabung ketika jumlahnya masih kecil;
tetap mencoba ketika hasil sebelumnya gagal;
dan tetap bergerak ketika tujuan masih terasa jauh.

Pada akhirnya, konsistensi bukan tentang melakukan sesuatu dengan sempurna setiap hari.

Konsistensi adalah kemampuan untuk kembali melakukannya.

Kita boleh gagal.

Kita boleh kehilangan motivasi.

Kita boleh beristirahat.

Kita boleh mengubah strategi.

Kita bahkan boleh mengalami hari yang buruk.

Yang penting, kita tidak menjadikan satu hari yang buruk sebagai alasan untuk menghentikan seluruh perjalanan.

Karena sering kali, sesuatu yang kita anggap “tidak menghasilkan apa-apa” sebenarnya sedang membangun sesuatu yang jauh lebih sulit diukur:

kemampuan, disiplin, identitas, pengalaman, ketahanan, dan versi diri kita yang baru.

Dan semua itu biasanya tidak dibangun dalam satu tindakan besar.

Ia dibangun dari tindakan-tindakan kecil yang kita pilih untuk ulangi.

Sekali lagi.

Kemudian sekali lagi.

Dan sekali lagi.

EDITOR: Hanny Suwindari