JawaPos.com - Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Bukan karena dunia berubah secara tiba-tiba, melainkan karena cara kita memandang dunia perlahan berubah.
Bagi banyak orang, memasuki usia 30-an menjadi salah satu titik penting tersebut.
Di usia 20-an, kita sering merasa harus membuktikan sesuatu. Kita ingin terlihat berhasil, disukai, dianggap menarik, memiliki karier yang bagus, punya banyak teman, memiliki hubungan romantis yang membahagiakan, dan terlihat seolah-olah hidup kita berjalan sesuai rencana.
Namun kemudian usia 30-an datang.
Dan perlahan, beberapa hal yang dulu terasa sangat penting mulai kehilangan kekuatannya.
Kita mulai menyadari bahwa tidak semua pendapat perlu didengar. Tidak semua hubungan harus dipertahankan. Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua orang harus menyukai kita. Bahkan tidak semua pencapaian yang dulu kita kejar ternyata memberikan kebahagiaan seperti yang kita bayangkan.
Dalam psikologi, perubahan semacam ini dapat dipahami sebagai bagian dari perkembangan kematangan emosional, perubahan prioritas, serta meningkatnya kemampuan seseorang untuk memahami dirinya sendiri.
Bukan berarti seseorang yang berusia 30-an otomatis menjadi lebih bijaksana. Usia tidak menjamin kedewasaan.
Namun pengalaman hidup sering membuat kita belajar membedakan antara apa yang benar-benar penting dan apa yang selama ini hanya terasa penting karena tekanan sosial, kebutuhan akan validasi, atau ketakutan terhadap penilaian orang lain.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat sembilan hal yang sering mulai terasa jauh lebih tidak penting ketika seseorang memasuki usia 30-an.
1. Pendapat Orang Lain tentang Hidup Kita
Di usia 20-an, pendapat orang lain sering memiliki pengaruh yang sangat besar.
Kita mungkin memikirkan bagaimana keluarga melihat karier kita. Kita memikirkan apa yang teman-teman pikirkan tentang pasangan kita. Kita khawatir dianggap gagal karena belum membeli rumah. Kita merasa malu karena pekerjaan kita tidak terlihat "keren".
Bahkan keputusan sederhana pun terkadang dibuat berdasarkan pertanyaan:
"Nanti orang lain akan berpikir apa?"
Namun semakin bertambah usia, banyak orang mulai menyadari sesuatu yang sederhana:
Orang lain sebenarnya tidak terlalu memikirkan hidup kita sebanyak yang kita kira.
Ini berkaitan dengan apa yang dalam psikologi dikenal sebagai spotlight effect, yaitu kecenderungan manusia untuk melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan penampilan, kesalahan, atau perilaku mereka.
Kita merasa semua orang memperhatikan kegagalan kita.
Padahal sebagian besar orang sedang sibuk memikirkan hidup mereka sendiri.
Ketika kita terlambat datang ke sebuah acara, mungkin kita merasa semua orang membicarakannya. Ketika kita membuat kesalahan dalam pekerjaan, kita mungkin merasa reputasi kita hancur.
Beberapa hari kemudian?
Sebagian besar orang sudah melupakannya.
Kesadaran ini bisa menjadi sangat membebaskan.
Di usia 30-an, seseorang mulai lebih berani mengatakan:
"Ini hidup saya. Tidak semua keputusan harus masuk akal bagi orang lain."
Bukan berarti kita menjadi tidak peduli sama sekali terhadap pendapat orang.
Kita hanya mulai belajar membedakan antara kritik yang berguna dan penilaian yang tidak perlu kita bawa pulang.
Dan itu adalah bentuk kedewasaan.
2. Memiliki Banyak Teman
Saat masih muda, memiliki banyak teman sering dianggap sebagai tanda bahwa hidup kita baik-baik saja.
Media sosial semakin memperkuat persepsi tersebut.
Kita melihat orang lain pergi bersama puluhan teman, menghadiri pesta, makan bersama, melakukan perjalanan, atau mengunggah foto dengan lingkaran sosial yang terlihat begitu luas.
Tanpa sadar kita membandingkan diri:
"Kenapa teman saya tidak sebanyak mereka?"
Namun memasuki usia 30-an, prioritas sosial sering berubah.
Kita mulai menyadari bahwa jumlah teman tidak selalu sama dengan kualitas hubungan.
Satu orang yang dapat kita hubungi ketika sedang berada di titik terendah mungkin jauh lebih berharga daripada puluhan orang yang hanya hadir ketika semuanya menyenangkan.
Kehidupan dewasa juga membuat waktu semakin terbatas.
Karier, keluarga, pasangan, tanggung jawab finansial, kesehatan, dan berbagai kebutuhan pribadi membuat kita tidak mungkin mempertahankan hubungan dengan intensitas yang sama seperti ketika masih sekolah atau kuliah.
Karena itu, lingkaran sosial banyak orang secara alami menjadi lebih kecil.
Dan ternyata itu tidak selalu buruk.
Justru bagi sebagian orang, hubungan yang lebih sedikit tetapi lebih dalam dapat memberikan rasa aman dan keterhubungan yang jauh lebih besar.
Kita mulai tidak lagi bertanya:
"Berapa banyak orang yang saya kenal?"
Melainkan:
"Siapa yang benar-benar hadir ketika saya membutuhkan mereka?"
Itulah pergeseran yang penting.
3. Terlihat Sukses di Mata Orang Lain
Di usia 20-an, kesuksesan sering terlihat seperti sesuatu yang bisa dipamerkan.
Jabatan.
Gaji.
Mobil.
Rumah.
Gaya hidup.
Jumlah pengikut.
Prestasi.
Perjalanan ke berbagai negara.
Kita mudah mengira bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin sukses hidup kita.
Masalahnya, standar tersebut sering kali bukan benar-benar milik kita.
Kita hanya menyerap definisi sukses dari lingkungan sekitar.
Psikologi sosial mengenal konsep social comparison, yaitu kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai dirinya sendiri.
Masalahnya, perbandingan sosial hampir tidak pernah berhenti.
Ketika mendapatkan pekerjaan yang bagus, kita membandingkan diri dengan orang yang memiliki pekerjaan lebih baik.
Ketika membeli rumah, kita melihat orang yang memiliki rumah lebih besar.
Ketika mendapatkan penghasilan tertentu, kita menemukan orang yang menghasilkan lebih banyak.
Jika kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada posisi kita dibandingkan orang lain, kita akan selalu merasa tertinggal.
Memasuki usia 30-an, banyak orang mulai memahami bahwa kesuksesan pribadi jauh lebih kompleks daripada sekadar status.
Mungkin kesuksesan berarti memiliki pekerjaan yang tidak menghancurkan kesehatan mental.
Mungkin berarti memiliki waktu untuk keluarga.
Mungkin berarti terbebas dari utang.
Mungkin berarti bisa tidur dengan tenang.
Mungkin berarti memiliki kebebasan menentukan bagaimana menjalani hari.
Definisi sukses mulai berubah dari:
"Bagaimana saya terlihat?"
menjadi:
"Bagaimana kehidupan ini terasa bagi saya?"
Dan itu merupakan perubahan yang sangat besar.
4. Membuktikan Bahwa Kita Benar
Ketika masih muda, kita sering merasa perlu memenangkan setiap perdebatan.
Kita ingin membuktikan bahwa pendapat kita benar.
Kita ingin mendapatkan kata terakhir.
Kita ingin orang lain mengakui bahwa kita tidak salah.
Namun pengalaman mengajarkan bahwa memenangkan argumen tidak selalu berarti memenangkan kehidupan.
Ada perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa.
Ada orang yang tidak akan berubah pikirannya meskipun kita memberikan seribu alasan.
Ada hubungan yang justru rusak karena kedua pihak terlalu sibuk membuktikan siapa yang benar.
Dengan bertambahnya usia, seseorang bisa mulai memahami bahwa ketenangan terkadang lebih berharga daripada kemenangan.
Bukan berarti kita harus selalu mengalah.
Bukan pula berarti kita harus membiarkan orang lain memperlakukan kita dengan buruk.
Tetapi kita mulai mampu bertanya:
"Apakah ini benar-benar penting untuk diperdebatkan?"
Jika jawabannya tidak, kita mungkin memilih diam.
Bukan karena kalah.
Tetapi karena kita tahu energi kita memiliki nilai.
Kedewasaan emosional salah satunya terlihat dari kemampuan memilih pertempuran.
Tidak semua konflik membutuhkan respons.
Tidak semua komentar membutuhkan klarifikasi.
Tidak semua kesalahpahaman harus diperbaiki.
Dan tidak semua orang perlu diyakinkan tentang siapa diri kita.
5. Menyenangkan Semua Orang
Salah satu pelajaran paling sulit dalam kehidupan dewasa adalah menerima kenyataan bahwa kita tidak mungkin membuat semua orang menyukai kita.
Sebagian orang akan menyukai kita.
Sebagian lainnya tidak.
Dan terkadang tidak ada alasan yang jelas.
Kita bisa bersikap baik dan tetap dianggap buruk.
Kita bisa memiliki niat baik tetapi disalahpahami.
Kita bisa melakukan sesuatu dengan benar dan tetap mendapatkan kritik.
Jika kita mencoba menghindari semua kemungkinan penolakan, kita akan menghabiskan sebagian besar hidup untuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.
Psikologi tentang people-pleasing menunjukkan bagaimana kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan penerimaan dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan, batasan, dan nilai dirinya sendiri.
Memasuki usia 30-an, banyak orang mulai belajar mengatakan:
"Tidak."
Tanpa penjelasan panjang.
"Saya tidak bisa."
Tanpa merasa harus meminta maaf berkali-kali.
"Saya memilih yang ini."
Tanpa membutuhkan persetujuan semua orang.
Ini bukan egoisme.
Ini adalah kemampuan menetapkan batas.
Kita mulai memahami bahwa menjaga hubungan bukan berarti selalu mengorbankan diri sendiri.
Dan menjadi orang baik tidak sama dengan selalu tersedia untuk semua orang.
6. Menjalani Hidup Sesuai Timeline Orang Lain
Salah satu sumber kecemasan terbesar di usia 20-an adalah perasaan bahwa kita terlambat.
Teman sudah menikah.
Teman sudah punya anak.
Teman sudah membeli rumah.
Teman sudah menjadi manajer.
Teman sudah membuka bisnis.
Teman sudah pergi ke luar negeri.
Sementara kita merasa masih mencari arah.
Perbandingan semacam ini dapat menciptakan ilusi bahwa kehidupan memiliki jadwal universal.
Seolah-olah pada usia tertentu kita harus mencapai hal tertentu.
Padahal manusia tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Ada orang yang menemukan kariernya pada usia 22.
Ada yang menemukannya pada usia 35.
Ada yang menikah muda.
Ada yang tidak menikah.
Ada yang sukses secara finansial di usia 25.
Ada yang baru stabil setelah usia 40.
Masalahnya bukan apakah hidup kita sesuai dengan timeline orang lain.
Masalah sebenarnya adalah apakah kita sedang menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai dan keadaan kita sendiri.
Memasuki usia 30-an, seseorang sering mulai menyadari:
Tidak ada hadiah karena menjadi yang tercepat.
Yang penting adalah apakah arah perjalanan kita benar.
Kita tidak perlu sampai di tempat yang sama pada waktu yang sama.
7. Penampilan yang Sempurna
Ketika masih muda, penampilan dapat terasa seperti identitas.
Kita memperhatikan bagaimana rambut terlihat.
Bagaimana tubuh terlihat.
Bagaimana pakaian terlihat.
Bagaimana foto kita terlihat.
Bagaimana orang lain menilai wajah dan tubuh kita.
Budaya populer dan media sosial membuat tekanan tersebut semakin besar.
Namun semakin dewasa, banyak orang mulai menyadari bahwa mengejar kesempurnaan fisik adalah permainan tanpa garis akhir.
Akan selalu ada seseorang yang lebih muda.
Lebih tinggi.
Lebih kurus.
Lebih atletis.
Lebih menarik menurut standar tertentu.
Jika harga diri kita sepenuhnya bergantung pada penampilan, maka harga diri itu akan selalu rentan.
Di usia 30-an, seseorang mungkin mulai melihat tubuh dengan perspektif berbeda.
Bukan hanya sebagai sesuatu yang harus terlihat bagus, tetapi sebagai sesuatu yang memungkinkan kita hidup.
Tubuh yang memungkinkan kita bekerja.
Berjalan.
Memeluk orang yang kita sayangi.
Berolahraga.
Bepergian.
Menjalani kehidupan sehari-hari.
Standar kecantikan mungkin tetap penting bagi sebagian orang, tetapi obsesinya dapat berkurang.
Kita mulai memahami bahwa terlihat sempurna tidak sama dengan merasa baik.
Dan terkadang, kenyamanan jauh lebih berharga daripada kesempurnaan.
8. Kesempatan untuk Selalu Berada di Mana-Mana
Di usia 20-an, ada dorongan untuk tidak melewatkan apa pun.
Takut ketinggalan acara.
Takut kehilangan kesempatan.
Takut tidak ikut perjalanan.
Takut tidak menghadiri pesta.
Takut melewatkan peluang karier.
Takut tidak mengetahui tren terbaru.
Konsep FOMO atau fear of missing out menggambarkan kecemasan bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang menyenangkan atau berharga sementara kita tidak ikut serta.
Namun bertambahnya usia sering mengajarkan pelajaran yang berlawanan:
Kita memang akan melewatkan banyak hal.
Dan itu normal.
Kita tidak bisa berada di semua tempat.
Tidak bisa menerima semua kesempatan.
Tidak bisa mempertahankan semua hubungan.
Tidak bisa mencoba semua pekerjaan.
Tidak bisa membeli semua barang.
Tidak bisa menjalani semua kemungkinan kehidupan.
Setiap pilihan berarti kita meninggalkan pilihan lain.
Anehnya, menerima kenyataan ini justru bisa membuat hidup lebih tenang.
Kita mulai memilih dengan lebih sadar.
Bukan lagi:
"Apa yang sedang dilakukan semua orang?"
melainkan:
"Apa yang sebenarnya penting bagi saya?"
Kemampuan mengatakan "tidak" terhadap hal-hal yang tidak penting merupakan salah satu bentuk kebebasan yang sering baru kita hargai ketika semakin dewasa.
9. Memiliki Semua Jawaban tentang Masa Depan
Mungkin ini yang paling penting.
Di usia muda, kita sering mengira bahwa orang dewasa memiliki semua jawaban.
Ketika memasuki usia 30-an, kita mungkin menyadari sesuatu yang lucu:
Ternyata tidak ada seorang pun yang benar-benar memiliki semua jawaban.
Banyak orang hanya belajar mengambil keputusan dengan informasi yang mereka miliki saat itu.
Kita tidak selalu tahu apakah pekerjaan yang kita pilih akan bertahan sepuluh tahun.
Tidak selalu tahu apakah hubungan tertentu akan bertahan selamanya.
Tidak selalu tahu di mana kita akan tinggal.
Tidak selalu tahu bagaimana kondisi finansial kita beberapa tahun mendatang.
Dan itu tidak berarti kita gagal.
Hidup memang memiliki tingkat ketidakpastian yang tidak bisa kita hilangkan sepenuhnya.
Kedewasaan bukan berarti mengetahui masa depan.
Kedewasaan lebih sering berarti mampu menghadapi ketidakpastian tanpa terus-menerus panik.
Kita mulai belajar:
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya akan menghadapi apa pun yang datang."
Ada ketenangan tertentu yang muncul ketika seseorang berhenti memaksa hidup untuk memberikan kepastian.
Pada Akhirnya, Usia 30-an Bukan Tentang Memiliki Lebih Banyak
Ada kesalahpahaman bahwa semakin dewasa berarti semakin banyak yang harus dimiliki.
Lebih banyak uang.
Lebih banyak prestasi.
Lebih banyak koneksi.
Lebih banyak pengalaman.
Lebih banyak barang.
Namun bagi banyak orang, kedewasaan justru bergerak ke arah sebaliknya.
Kita mulai belajar mengurangi.
Mengurangi hubungan yang tidak sehat.
Mengurangi kebutuhan untuk membuktikan diri.
Mengurangi perbandingan.
Mengurangi drama.
Mengurangi keinginan menyenangkan semua orang.
Mengurangi ekspektasi yang sebenarnya bukan milik kita.
Mengurangi hal-hal yang membuat hidup terlihat baik tetapi terasa kosong.
Dan sebagai gantinya, kita mulai mencari sesuatu yang lebih sederhana.
Ketenangan.
Kebebasan.
Hubungan yang tulus.
Kesehatan.
Waktu.
Makna.
Kehidupan yang terasa benar-benar milik kita.
Mungkin itulah salah satu perubahan paling menarik ketika seseorang memasuki usia 30-an.
Kita tidak selalu menjadi orang yang memiliki lebih banyak jawaban.
Tetapi kita mulai memiliki lebih banyak kemampuan untuk membedakan pertanyaan mana yang sebenarnya layak kita jawab.
Kita mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk membuktikan bahwa kita lebih sukses daripada orang lain.
Hidup adalah proses mencari tahu apa yang benar-benar penting bagi diri kita sendiri.
Dan mungkin, pada akhirnya, kedewasaan bukanlah tentang menjadi seseorang yang tidak lagi peduli terhadap dunia.
Melainkan tentang belajar peduli pada hal-hal yang benar-benar layak dipedulikan.
Karena ketika kita mulai memahami bahwa tidak semua hal penting, kita akhirnya memiliki ruang untuk memberikan perhatian penuh kepada hal-hal yang memang penting.
Dan sering kali, hal-hal itu jauh lebih sederhana daripada yang kita bayangkan:
orang-orang yang kita cintai, kesehatan kita, waktu yang kita miliki, ketenangan pikiran, dan kehidupan yang terasa bermakna ketika tidak ada siapa pun yang sedang melihat.