JawaPos.com - Kesuksesan seharusnya menjadi sesuatu yang membahagiakan. Ketika kerja keras mulai membuahkan hasil, tentu kita ingin berbagi kabar baik dengan orang-orang terdekat. Kita berharap mereka ikut senang, memberikan dukungan, atau setidaknya mengakui pencapaian yang telah kita perjuangkan.
Namun, dalam kehidupan nyata, respons orang terhadap kesuksesan kita tidak selalu seperti yang diharapkan.
Ada orang yang benar-benar ikut bahagia. Ada pula yang memberikan selamat, tetapi terasa hambar. Bahkan, terkadang seseorang tidak mengatakan sesuatu yang jelas-jelas negatif, tetapi sikapnya berubah setiap kali kita mendapatkan pencapaian.
Mereka mungkin tersenyum, tetapi ekspresinya terasa berbeda. Mereka mengucapkan "selamat", tetapi segera mengubah topik. Mereka mendengarkan cerita kita, tetapi kemudian mencari alasan mengapa kesuksesan tersebut sebenarnya tidak terlalu istimewa.
Apakah itu berarti mereka tidak menyukai kita?
Belum tentu.
Dalam psikologi, perilaku manusia jarang sesederhana itu. Reaksi negatif terhadap kesuksesan orang lain dapat berkaitan dengan perbandingan sosial, rasa tidak aman, iri hati, ancaman terhadap harga diri, atau pengalaman pribadi seseorang. Seseorang bahkan bisa menyayangi kita sekaligus merasa tidak nyaman melihat kita berkembang.
Karena itu, yang lebih penting bukan mencari-cari siapa yang "diam-diam membenci" kita, tetapi memahami pola perilaku yang mungkin menunjukkan adanya ketidaknyamanan terhadap keberhasilan kita.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat tujuh tanda halus yang patut diperhatikan.
1. Mereka Mengecilkan Pencapaianmu dengan Cara yang Terlihat Sepele
Salah satu tanda yang cukup halus adalah ketika seseorang terus-menerus mengecilkan keberhasilanmu.
Misalnya, setelah kamu mendapatkan promosi, mereka berkata:
"Ya, memang sekarang banyak perusahaan yang kasih jabatan seperti itu."
Atau ketika kamu berhasil membangun bisnis:
"Bisnis sekarang memang gampang kalau punya koneksi."
Ketika kamu mencapai sesuatu yang sulit, mereka mungkin mengatakan:
"Sebenarnya nggak sesulit itu, kan?"
Sekilas, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti komentar biasa. Namun, jika pola ini muncul berulang kali, terutama ketika kamu sedang membagikan kabar baik, ada kemungkinan orang tersebut sedang berusaha mengurangi nilai pencapaianmu.
Dalam psikologi sosial, manusia cenderung melakukan social comparison, yaitu membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mengevaluasi kemampuan, status, dan keberhasilannya sendiri.
Ketika pencapaian orang lain membuat seseorang merasa tertinggal, salah satu cara untuk mengurangi ketidaknyamanan psikologis tersebut adalah dengan menurunkan nilai pencapaian orang lain dalam pikirannya.
Jika keberhasilanmu dianggap "biasa saja", maka perbedaan antara dirimu dan dirinya terasa tidak terlalu besar.
Yang menarik, orang seperti ini tidak selalu sadar bahwa dirinya sedang melakukan hal tersebut.
Mungkin mereka benar-benar merasa komentarnya objektif.
Karena itu, satu komentar saja tidak cukup untuk menyimpulkan apa pun. Yang perlu diperhatikan adalah polanya.
Apakah mereka hampir selalu mencari alasan mengapa keberhasilanmu tidak terlalu istimewa?
Jika iya, mungkin masalahnya bukan pada pencapaianmu, tetapi pada bagaimana pencapaian tersebut membuat mereka merasa terhadap dirinya sendiri.
2. Mereka Memberikan Pujian, Tetapi Selalu Disertai "Tapi"
Ada perbedaan besar antara pujian dan pujian yang terasa seperti kritik terselubung.
"Selamat ya, kamu akhirnya sukses juga."
"Keren sih, tapi sebenarnya pekerjaan itu nggak terlalu susah."
"Wah, bagus banget mobil barumu. Kalau aku sih lebih pilih yang lain."
"Kamu beruntung banget bisa sampai di posisi itu."
Kalimat-kalimat seperti ini menarik karena secara literal terdengar positif. Tetapi ada bagian tertentu yang segera mengurangi atau membatalkan pujian tersebut.
Fenomena semacam ini sering disebut sebagai backhanded compliment, yaitu komentar yang tampak seperti pujian tetapi sekaligus mengandung penghinaan atau evaluasi negatif.
Misalnya:
"Kamu sekarang kelihatan keren banget. Dulu sebenarnya biasa saja."
Pujian tersebut secara tidak langsung membuat masa lalumu menjadi bahan perbandingan.
Mengapa seseorang melakukan ini?
Salah satu kemungkinan adalah mereka merasa perlu mempertahankan posisi psikologis tertentu dalam hubungan.
Jika sebelumnya mereka merasa setara atau bahkan lebih unggul, keberhasilanmu mungkin mengubah dinamika tersebut.
Pujian yang disertai "tapi" menjadi semacam mekanisme untuk mengatakan:
"Aku mengakui kamu berhasil, tetapi aku tidak ingin mengakui bahwa keberhasilanmu membuatmu berada di atas diriku dalam hal ini."
Namun, sekali lagi, konteks sangat penting.
Tidak semua kritik berarti iri.
Teman yang benar-benar peduli juga bisa memberikan kritik yang jujur. Perbedaannya biasanya terletak pada niat, konsistensi, dan situasi.
Orang yang mendukungmu mungkin berkata:
"Aku bangga kamu mendapatkan promosi. Tapi menurutku, tanggung jawabnya besar sekali. Pastikan kamu tetap punya waktu untuk diri sendiri."
Itu berbeda dari:
"Promosi doang, banyak orang juga bisa."
Yang pertama mengakui keberhasilanmu sekaligus menunjukkan kepedulian.
Yang kedua cenderung mengurangi keberhasilan tersebut.
3. Mereka Terlihat Lebih Nyaman Ketika Kamu Sedang Gagal
Ini mungkin salah satu tanda yang paling sulit dikenali karena tidak selalu muncul dalam bentuk kata-kata.
Bayangkan kamu mengalami kegagalan.
Bisnismu sedang turun.
Lamaran pekerjaanmu ditolak.
Proyekmu gagal.
Hubunganmu berakhir.
Pada saat seperti itu, seseorang yang sebelumnya terlihat dingin tiba-tiba menjadi jauh lebih ramah dan aktif.
Mereka mulai banyak bertanya.
Mereka terlihat lebih santai ketika berbicara denganmu.
Bahkan, mereka mungkin mengatakan:
"Nah, sekarang kamu tahu kan, ternyata nggak semudah itu."
Mengapa ini bisa terjadi?
Salah satu konsep yang relevan adalah schadenfreude, yaitu rasa senang atau puas ketika melihat orang lain mengalami kemalangan.
Dalam beberapa konteks, perasaan tersebut dapat muncul ketika seseorang melihat orang lain sebagai rival atau sebagai pembanding dirinya.
Jika kesuksesanmu sebelumnya membuat mereka merasa rendah diri, kegagalanmu dapat memberikan semacam "pemulihan" psikologis.
Bukan karena mereka benar-benar ingin melihatmu hancur, tetapi karena ketika kamu jatuh, mereka tidak lagi merasa tertinggal.
Ini juga dapat berkaitan dengan perbandingan sosial.
Misalnya:
Ketika kamu sukses → mereka merasa tertinggal.
Ketika kamu gagal → jarak tersebut terasa mengecil.
Secara emosional, situasi kedua mungkin terasa lebih aman bagi mereka.
Tentu saja, jangan langsung menyimpulkan seseorang senang melihatmu gagal hanya karena mereka berkata, "Aku sudah bilang."
Kadang-kadang seseorang memang sedang berusaha mengingatkan kita.
Yang perlu dilihat adalah reaksi keseluruhan mereka.
Apakah mereka memberikan dukungan ketika kamu sukses dan gagal?
Atau mereka justru tampak paling bersemangat ketika sesuatu dalam hidupmu berjalan buruk?
Perbedaan itu penting.
4. Mereka Sering Mengubah Percakapan Menjadi Tentang Diri Mereka
Kamu sedang bercerita tentang pencapaian.
Kamu baru mendapatkan beasiswa.
Mereka langsung berkata:
"Oh, aku dulu juga pernah dapat yang seperti itu."
Kamu mendapatkan promosi.
"Aku sebenarnya pernah ditawari posisi yang lebih tinggi."
Kamu membeli rumah.
"Kalau aku sih sebenarnya sudah bisa beli dari dulu."
Percakapan kemudian berubah menjadi kompetisi tidak langsung.
Alih-alih ikut merayakan, mereka merasa perlu menunjukkan bahwa mereka juga memiliki sesuatu yang setara—atau bahkan lebih tinggi.
Dalam psikologi sosial, kebutuhan untuk mempertahankan self-esteem dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap perbandingan status.
Ketika pencapaianmu menjadi informasi yang mengancam cara mereka melihat dirinya sendiri, mereka mungkin secara spontan mencari cara untuk mengembalikan keseimbangan.
Caranya bisa berupa:
membandingkan pencapaian,
menyebut pencapaian mereka sendiri,
mencari kelemahan dalam keberhasilanmu,
atau mengalihkan pembicaraan.
Namun, ini juga perlu dibedakan dari orang yang memang antusias.
Ada orang yang mendengar ceritamu lalu mengatakan:
"Aku juga pernah mengalami hal serupa!"
Bukan untuk mengalahkanmu, tetapi karena pengalamanmu mengingatkan mereka pada pengalaman pribadi.
Perbedaannya sering terlihat dari arah emosional percakapan.
Apakah mereka menggunakan pengalaman tersebut untuk terhubung denganmu?
Atau untuk memastikan bahwa pencapaianmu tidak terlihat lebih besar daripada pencapaian mereka?
5. Mereka Jarang Merayakan Kesuksesanmu, Tetapi Sangat Cepat Mengomentari Kesalahanmu
Bayangkan kamu melakukan sepuluh hal dengan baik.
Mereka hampir tidak mengatakan apa-apa.
Namun, ketika kamu melakukan satu kesalahan, mereka langsung muncul.
"Nah, kan."
"Aku sudah tahu ini bakal terjadi."
"Makanya jangan terlalu percaya diri."
Ini bisa menjadi pola yang cukup melelahkan.
Orang yang diam-diam merasa terancam oleh kesuksesanmu mungkin tidak nyaman memberikan validasi karena validasi tersebut berarti mengakui pencapaianmu.
Sebaliknya, kesalahanmu memberikan kesempatan untuk mengembalikan posisi psikologis mereka.
Mereka dapat merasa:
"Ternyata dia tidak sehebat yang kelihatannya."
Namun, jangan salah memahami konsep ini.
Orang yang benar-benar peduli juga akan menunjukkan kesalahanmu.
Bahkan, teman yang baik tidak selalu menjadi orang yang paling banyak memujimu.
Perbedaannya adalah apakah kritik tersebut membantumu tumbuh atau hanya membuatmu merasa kecil.
Kritik yang sehat biasanya spesifik.
"Menurutku presentasimu kurang jelas di bagian ini. Kalau diperbaiki, hasilnya akan lebih kuat."
Kritik yang merendahkan biasanya menyerang identitas.
"Kamu memang dari dulu terlalu percaya diri."
Yang pertama membantu.
Yang kedua cenderung menjatuhkan.
6. Mereka Menggunakan Humor untuk Menyindir Kesuksesanmu
Humor sering menjadi tempat yang aman untuk menyampaikan sesuatu yang sebenarnya sulit dikatakan secara langsung.
Seseorang mungkin berkata:
"Wah, sekarang orang kaya susah diajak nongkrong."
"Jangan lupa sama kita yang rakyat jelata."
"Cie, sudah sukses. Sudah nggak kenal teman lama."
Semua disampaikan sambil tertawa.
Ketika kamu merasa tidak nyaman, mereka bisa dengan mudah mengatakan:
"Bercanda kali."
Inilah yang membuat sindiran melalui humor sulit dibaca.
Tidak semua candaan seperti itu berarti seseorang iri atau tidak menyukaimu.
Dalam hubungan yang dekat, bercanda tentang perubahan hidup memang sangat normal.
Masalahnya muncul ketika humor tersebut menjadi pola satu arah.
Jika hampir setiap pencapaianmu dijadikan bahan ejekan, tetapi mereka tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain, mungkin ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Humor juga dapat menjadi cara untuk mengungkapkan ambivalensi.
Seseorang bisa benar-benar ikut senang sekaligus merasa iri.
Kedua emosi tersebut dapat muncul bersamaan.
Mereka mungkin bangga melihatmu berkembang, tetapi pada saat yang sama merasa sedih karena hidup mereka sendiri belum berada di tempat yang mereka inginkan.
Karena itu, tidak semua "iri" berasal dari kebencian.
Kadang-kadang iri hanyalah sinyal bahwa seseorang sedang berhadapan dengan rasa tidak puas terhadap dirinya sendiri.
7. Sikap Mereka Berubah Ketika Kamu Mulai Berkembang
Ini mungkin tanda yang paling penting.
Bukan satu kalimat.
Bukan satu ekspresi.
Tetapi perubahan pola hubungan.
Sebelum kamu sukses, mereka sangat dekat.
Mereka sering menghubungimu.
Mereka mendukung rencana-rencanamu.
Mereka tertarik dengan apa yang sedang kamu kerjakan.
Namun setelah kamu mulai berkembang, semuanya berubah.
Mereka menjadi lebih dingin.
Lebih jarang memberikan dukungan.
Lebih sering membandingkan.
Atau tiba-tiba muncul ketika kamu mengalami masalah.
Perubahan seperti ini tidak otomatis berarti mereka membencimu.
Kesuksesan seseorang dapat mengubah dinamika sebuah hubungan.
Ketika status, pendapatan, lingkungan sosial, atau kepercayaan diri seseorang berubah, orang-orang di sekitarnya mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Ada pula hubungan yang sebelumnya terasa nyaman karena kedua orang berada dalam posisi yang relatif sama.
Ketika salah satunya berkembang lebih cepat, perasaan tidak aman dapat muncul.
Dalam psikologi, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan upward social comparison—perbandingan dengan seseorang yang dianggap lebih berhasil.
Melihat orang lain berhasil dapat memberikan dua efek berbeda.
Bagi sebagian orang, keberhasilan orang lain menjadi inspirasi:
"Kalau dia bisa, mungkin aku juga bisa."
Bagi orang lain, keberhasilan yang sama terasa mengancam:
"Kenapa hidupnya berkembang sementara hidupku tidak?"
Perbedaan ini menjelaskan mengapa dua orang dapat melihat kesuksesanmu dan memberikan reaksi yang sama sekali berbeda.
Tetapi Hati-Hati: Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan
Ada satu kesalahan yang mudah dilakukan ketika membahas tanda-tanda seseorang tidak menyukai kesuksesan kita.
Kita mulai melihat semuanya sebagai bukti.
Dia tidak membalas pesan → iri.
Dia tidak memberikan selamat → iri.
Dia mengkritik → iri.
Dia tidak datang ke acara → iri.
Padahal, manusia jauh lebih kompleks.
Orang bisa saja sedang sibuk.
Mereka mungkin mengalami masalah pribadi.
Mereka mungkin tidak tahu bagaimana mengekspresikan kegembiraan.
Mereka mungkin memiliki standar yang berbeda.
Atau mereka memang tidak terlalu dekat dengan kita.
Karena itu, satu perilaku tidak cukup untuk membaca niat seseorang.
Yang lebih penting adalah melihat:
pola + konteks + konsistensi + dampaknya terhadap hubungan.
Jika seseorang sesekali membuat komentar yang terasa aneh, jangan buru-buru memberi label.
Tetapi jika selama berbulan-bulan mereka terus mengecilkan pencapaianmu, membandingkan diri, menyindir, dan terlihat lebih bahagia ketika kamu gagal, pola tersebut layak diperhatikan.
Mengapa Kesuksesan Orang Lain Bisa Membuat Seseorang Tidak Nyaman?
Pada dasarnya, kesuksesanmu bukan selalu masalahnya.
Yang menjadi masalah bisa jadi adalah apa yang kesuksesanmu cerminkan tentang kehidupan mereka sendiri.
Bayangkan dua orang teman tumbuh bersama.
Mereka memiliki usia yang sama.
Pendidikan yang mirip.
Mimpi yang kurang lebih sama.
Kemudian salah satunya berhasil lebih cepat.
Orang yang tertinggal mungkin mulai bertanya:
"Kenapa dia sudah sampai sana, sementara aku belum?"
Pertanyaan tersebut dapat memunculkan berbagai emosi:
iri,
malu,
frustrasi,
rendah diri,
kecemasan,
atau rasa gagal.
Dalam kondisi seperti ini, keberhasilan teman bukan lagi sekadar kabar baik.
Ia menjadi cermin.
Dan tidak semua orang nyaman dengan apa yang mereka lihat di cermin tersebut.
Inilah salah satu alasan mengapa terkadang orang asing justru lebih mudah memberikan selamat daripada orang yang sudah lama mengenal kita.
Orang asing tidak memiliki sejarah perbandingan dengan kita.
Mereka tidak memiliki gambaran tentang siapa yang "seharusnya" lebih sukses.
Teman lama mungkin memiliki ekspektasi tertentu.
Ketika kamu berubah, hubungan pun harus beradaptasi.
Apa yang Sebaiknya Kamu Lakukan?
Jika kamu mulai menyadari pola seperti ini, jangan langsung melakukan konfrontasi besar.
Tidak perlu bertanya:
"Kamu sebenarnya iri sama aku, ya?"
Pertanyaan seperti itu justru dapat membuat seseorang defensif dan memperburuk hubungan.
Lebih baik perhatikan perilaku secara objektif.
Tanyakan kepada dirimu sendiri:
Apakah ini terjadi sekali atau berulang kali?
Apakah dia melakukan hal yang sama kepada semua orang atau hanya kepadaku?
Apakah kritiknya membantu atau justru merendahkan?
Bagaimana perasaanku setelah berinteraksi dengannya?
Apakah hubungan ini terasa suportif atau membuatku terus-menerus meragukan diriku sendiri?
Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada mencoba membaca isi pikiran orang lain.
Dan jika seseorang memang tidak nyaman dengan kesuksesanmu, kamu tidak harus mengecilkan dirimu sendiri agar mereka merasa lebih baik.
Kamu boleh tetap rendah hati tanpa menyembunyikan pencapaian.
Kamu boleh bersyukur tanpa merasa bersalah.
Kamu boleh berkembang meskipun tidak semua orang berkembang bersamamu.
Kesuksesanmu Tidak Harus Membuat Semua Orang Nyaman
Salah satu pelajaran paling penting dalam proses menjadi dewasa adalah menyadari bahwa tidak semua orang akan merayakan setiap perubahan positif dalam hidup kita.
Ada orang yang akan tumbuh bersama kita.
Ada yang akan mendukung dari kejauhan.
Ada pula yang mungkin merasa tertinggal ketika kita melangkah lebih jauh.
Dan itu tidak selalu berarti mereka adalah orang jahat.
Kadang-kadang mereka hanya sedang berjuang dengan dirinya sendiri.
Namun, memahami alasan di balik perilaku seseorang tidak berarti kita harus menerima perlakuan yang buruk.
Jika seseorang terus-menerus meremehkanmu, membuatmu merasa bersalah karena berhasil, atau mencoba menjatuhkan kepercayaan dirimu, kamu berhak membuat batasan.
Pada akhirnya, tujuan mengenali tanda-tanda ini bukanlah untuk menemukan siapa yang iri kepadamu.
Tujuannya adalah mengenali hubungan yang sehat dan menjaga kesehatan emosionalmu sendiri.
Orang yang benar-benar mendukungmu tidak harus selalu memujimu.
Mereka juga boleh mengkritikmu.
Mereka boleh tidak setuju dengan keputusanmu.
Tetapi ketika kamu berhasil, mereka tidak merasa perlu membuatmu merasa bersalah karena berhasil.
Mereka dapat melihat pencapaianmu tanpa menjadikannya ancaman terhadap harga diri mereka sendiri.
Dan mungkin itulah bentuk dukungan yang paling tulus:
mampu melihat seseorang tumbuh tanpa merasa dirinya harus mengecil agar orang lain bisa bersinar.
Jadi, jika akhir-akhir ini hidupmu mulai berubah, jangan terlalu sibuk mencari siapa yang tidak menyukainya.
Perhatikan siapa yang tetap tulus ketika kamu naik.
Siapa yang tetap menghargaimu ketika kamu gagal.
Siapa yang bisa memberikan kritik tanpa merendahkan.
Dan siapa yang benar-benar bahagia melihatmu menjadi versi dirimu yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, kualitas hubungan bukan hanya terlihat dari siapa yang hadir ketika kita membutuhkan bantuan.
Kualitas hubungan juga terlihat dari siapa yang mampu tersenyum ketika kita mendapatkan sesuatu yang bahkan mereka sendiri belum memilikinya.