JawaPos.com - Komunikasi yang baik bukan berarti kamu harus selalu tahu harus berkata apa.
Bukan juga berarti kamu harus menjadi orang yang paling pandai berbicara, paling percaya diri, atau selalu bisa membuat orang lain setuju dengan pendapatmu.
Dalam banyak situasi, komunikasi yang baik justru dimulai dari kemampuan yang jauh lebih sederhana: mampu memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diri sendiri dan dalam diri orang lain.
Kita sering mengira masalah komunikasi terjadi karena seseorang tidak pandai berbicara. Padahal, tidak sedikit konflik muncul bukan karena kata-kata yang salah, melainkan karena kita terlalu cepat bereaksi, terlalu sibuk memikirkan jawaban, salah menafsirkan nada bicara, atau menganggap kita sudah memahami maksud orang lain padahal sebenarnya belum.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), psikologi komunikasi menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi dapat dilatih. Kita bisa belajar mendengarkan dengan lebih baik, mengelola emosi sebelum merespons, menyampaikan kebutuhan secara jelas, dan memahami perspektif orang lain tanpa harus selalu menyetujui mereka.
Jika saat ini kamu sedang belajar menjadi komunikator yang lebih baik, cobalah enam langkah berikut.
1. Belajar Mendengarkan untuk Memahami, Bukan untuk Membalas
Salah satu kesalahan komunikasi yang paling umum adalah mendengarkan sambil menyiapkan jawaban.
Seseorang sedang bercerita, tetapi di kepala kita sudah muncul:
"Nanti aku harus jawab apa?"
"Aku juga pernah mengalami hal yang sama."
"Dia sebenarnya salah."
"Aku harus menjelaskan sudut pandangku."
Akibatnya, tubuh kita mungkin terlihat sedang mendengarkan, tetapi perhatian kita sebenarnya sedang sibuk mempersiapkan respons.
Dalam psikologi, perhatian merupakan bagian penting dari proses komunikasi. Kita tidak benar-benar memahami seseorang jika sebagian besar kapasitas perhatian kita digunakan untuk memikirkan respons sendiri.
Karena itu, ketika seseorang berbicara, cobalah mengubah tujuanmu.
Jangan langsung berpikir:
"Apa yang harus aku jawab?"
Ubah menjadi:
"Apa sebenarnya yang sedang ingin dia sampaikan kepadaku?"
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.
Misalnya temanmu berkata:
"Aku akhir-akhir ini capek banget sama pekerjaan."
Respons yang terburu-buru mungkin:
"Aku juga. Minggu lalu malah aku lembur sampai malam."
Kamu tidak mengatakan sesuatu yang salah. Tetapi percakapan tersebut secara tidak sadar kamu arahkan kembali kepada dirimu sendiri.
Respons yang lebih mendengarkan bisa berupa:
"Kedengarannya kamu benar-benar lagi kelelahan. Bagian mana dari pekerjaanmu yang paling bikin kamu capek?"
Pertanyaan tersebut memberi ruang bagi orang lain untuk melanjutkan ceritanya.
Mendengarkan bukan berarti diam tanpa respons.
Mendengarkan berarti memberi perhatian, menangkap isi pembicaraan, memperhatikan emosi yang muncul, dan memastikan bahwa kita memahami sebelum mengambil kesimpulan.
Kamu juga bisa menggunakan teknik sederhana:
Dengar → pahami → konfirmasi → baru respons.
Contohnya:
"Jadi kamu merasa kecewa karena keputusan itu dibuat tanpa melibatkan kamu, benar begitu?"
Kalimat seperti ini membantu mengurangi kesalahpahaman.
Dan yang terpenting, jangan takut mengatakan:
"Aku belum yakin aku memahami maksudmu. Bisa jelaskan lagi?"
Mengakui bahwa kita belum memahami sesuatu bukan tanda bahwa kita bodoh.
Justru itu adalah tanda bahwa kita serius ingin memahami.
2. Jangan Langsung Bereaksi Ketika Emosi Sedang Tinggi
Banyak masalah komunikasi sebenarnya bukan masalah apa yang kita katakan, tetapi kapan kita mengatakannya.
Saat sedang marah, kecewa, takut, atau tersinggung, sistem psikologis kita dapat menjadi lebih reaktif. Kita cenderung memperhatikan hal-hal yang mendukung emosi kita dan mengabaikan informasi yang mungkin membuat kita melihat situasi secara lebih seimbang.
Itulah sebabnya sebuah kalimat sederhana bisa terdengar sangat menyerang ketika kita sedang marah.
Misalnya seseorang berkata:
"Kamu belum mengerjakan itu?"
Dalam kondisi tenang, kamu mungkin menganggapnya sebagai pertanyaan biasa.
Tetapi ketika sedang lelah dan merasa tidak dihargai, otakmu mungkin langsung menerjemahkannya menjadi:
"Dia menganggap aku malas."
Kemudian kamu menjawab:
"Kalau kamu merasa bisa mengerjakannya sendiri, ya kerjakan saja!"
Konflik pun dimulai.
Padahal, masalah awalnya mungkin hanya sebuah pertanyaan.
Karena itu, salah satu keterampilan komunikasi yang sangat penting adalah jeda sebelum merespons.
Jeda bukan berarti menghindar.
Jeda berarti memberi kesempatan kepada dirimu untuk memisahkan:
apa yang terjadi
dari
apa yang kamu rasakan tentang kejadian tersebut.
Kamu bisa mencoba aturan sederhana:
Berhenti → tarik napas → identifikasi emosi → baru bicara.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Aku sebenarnya sedang marah atau terluka?
Aku merasa tidak dihargai?
Aku merasa takut?
Aku merasa dipermalukan?
Aku sedang lelah?
Apakah responsku sekarang akan menyelesaikan masalah atau justru memperbesarnya?
Kadang-kadang kita tidak membutuhkan kalimat yang lebih pintar.
Kita hanya membutuhkan beberapa detik tambahan sebelum berbicara.
Jika emosi terlalu tinggi, kamu bahkan bisa mengatakan:
"Aku ingin membicarakan ini, tapi sekarang aku sedang terlalu emosional. Boleh kita lanjutkan setelah aku lebih tenang?"
Itu jauh lebih sehat daripada mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kamu katakan lalu menyesal setelahnya.
3. Belajar Mengatakan Perasaan Tanpa Menyerang Orang Lain
Komunikasi yang buruk sering kali muncul dalam bentuk kalimat yang dimulai dengan:
"Kamu selalu..."
atau
"Kamu memang..."
atau
"Kamu nggak pernah..."
Contohnya:
"Kamu memang nggak pernah peduli sama aku."
Masalah dari kalimat seperti ini adalah kita tidak lagi hanya membicarakan sebuah kejadian.
Kita sedang memberikan label terhadap karakter seseorang.
Akibatnya, orang tersebut kemungkinan besar akan merasa perlu membela diri.
Alih-alih mendengar perasaanmu, dia mungkin menjawab:
"Aku nggak pernah peduli? Kamu sendiri yang selalu begitu!"
Dan percakapan berubah menjadi pertandingan tentang siapa yang paling salah.
Salah satu pendekatan yang lebih konstruktif adalah berbicara berdasarkan situasi, perasaan, kebutuhan, dan harapan.
Misalnya:
"Ketika pesan yang aku kirim tidak mendapat respons selama berjam-jam, aku merasa diabaikan. Aku sebenarnya butuh kepastian. Kalau kamu sedang sibuk, aku akan lebih tenang kalau kamu bisa bilang nanti akan membalas."
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama:
"Kamu nggak pernah peduli."
Kalimat kedua:
"Ketika hal itu terjadi, aku merasa diabaikan."
Kalimat kedua tidak berarti kamu harus menyembunyikan kemarahan.
Kamu tetap boleh mengatakan bahwa kamu marah, kecewa, atau terluka.
Yang berubah adalah cara menyampaikannya.
Tujuannya bukan membuat perasaanmu terdengar lebih manis.
Tujuannya adalah membuat pesanmu lebih mudah dipahami tanpa langsung memicu pertahanan dari orang lain.
Karena komunikasi yang efektif bukan sekadar mengeluarkan emosi.
Komunikasi yang efektif adalah membantu orang lain memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirimu.
4. Jangan Menganggap Kamu Tahu Isi Pikiran Orang Lain
Ini salah satu jebakan psikologis yang sering terjadi dalam hubungan.
Seseorang tidak membalas pesan.
Kita langsung berpikir:
"Dia pasti sengaja mengabaikanku."
Teman membatalkan janji.
Kita berpikir:
"Dia sebenarnya tidak menganggap aku penting."
Atasan memberikan kritik.
Kita berpikir:
"Dia pasti menganggap aku tidak kompeten."
Pasangan terlihat diam.
Kita menyimpulkan:
"Dia pasti sudah tidak peduli."
Masalahnya adalah kita sering memperlakukan interpretasi sebagai fakta.
Padahal, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi dalam pikiran orang lain.
Bisa saja orang tersebut memang sedang marah.
Tetapi bisa juga dia sedang lelah, sibuk, mengalami masalah pribadi, tidak tahu harus menjawab apa, atau bahkan tidak menyadari bahwa perilakunya memengaruhimu.
Karena itu, salah satu kebiasaan komunikasi yang penting adalah memeriksa asumsi.
Daripada:
"Kamu sengaja mengabaikanku, ya?"
Cobalah:
"Aku perhatikan kamu belum membalas pesanku. Aku jadi bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?"
Perhatikan bahwa kalimat kedua membuka ruang untuk informasi baru.
Kamu tidak langsung menghakimi.
Ini bukan berarti kamu harus selalu berpikir positif tentang semua orang.
Bukan juga berarti kamu harus mengabaikan perilaku buruk.
Tetapi ada perbedaan antara:
"Aku melihat apa yang terjadi."
dan
"Aku tahu persis kenapa kamu melakukannya."
Yang pertama adalah observasi.
Yang kedua sering kali merupakan asumsi.
Komunikasi yang matang membutuhkan kemampuan untuk mengatakan:
"Aku belum tahu. Jadi aku akan bertanya."
5. Belajar Memahami Perspektif Tanpa Harus Menyetujui
Empati sering disalahpahami sebagai keharusan untuk setuju.
Padahal, kamu bisa memahami seseorang tanpa menyetujui pendapatnya.
Misalnya seseorang berkata:
"Aku merasa keputusanmu tidak adil."
Kamu tidak harus menjawab:
"Iya, aku memang salah."
Kamu bisa mengatakan:
"Aku bisa memahami kenapa dari sudut pandangmu keputusan itu terasa tidak adil."
Kalimat tersebut tidak berarti kamu menyerahkan pendapatmu.
Kamu hanya menunjukkan bahwa kamu mampu melihat situasi dari perspektif orang lain.
Dalam komunikasi, kemampuan ini sangat penting karena manusia tidak hanya ingin didengar, tetapi juga ingin dipahami.
Bayangkan kamu sedang mengalami masalah dan seseorang langsung menjawab:
"Kamu terlalu berlebihan."
Secara fakta, mungkin saja dia benar.
Tetapi secara emosional, kalimat tersebut tidak memberikan banyak ruang untuk dialog.
Bandingkan dengan:
"Aku mungkin melihatnya berbeda, tapi aku ingin memahami kenapa hal itu begitu penting buat kamu."
Kalimat ini membuat percakapan menjadi lebih terbuka.
Empati bukan mengatakan:
"Aku merasakan hal yang sama."
Empati lebih dekat dengan:
"Aku mencoba memahami bagaimana pengalaman ini terasa dari tempatmu berdiri."
Dan kemampuan tersebut sangat berguna dalam hampir semua hubungan: keluarga, pertemanan, pasangan, pekerjaan, maupun interaksi sehari-hari.
6. Berani Meminta Klarifikasi dan Mengatakan Apa yang Kamu Butuhkan
Banyak orang berharap orang lain bisa memahami kebutuhan mereka tanpa harus mengatakannya.
Kita berharap pasangan tahu kapan kita ingin ditemani.
Kita berharap teman tahu ketika kita sedang kecewa.
Kita berharap rekan kerja tahu bahwa kita membutuhkan bantuan.
Kita berharap keluarga memahami bahwa kita sedang membutuhkan ruang.
Kemudian ketika mereka tidak melakukannya, kita merasa:
"Masa harus dijelaskan?"
Jawabannya mungkin memang iya.
Karena orang lain tidak memiliki akses langsung ke pikiran kita.
Mereka mungkin menyayangimu, menghargaimu, bahkan sangat mengenalmu—tetapi mereka tetap tidak bisa membaca pikiranmu dengan sempurna.
Karena itu, komunikasi yang sehat membutuhkan kemampuan untuk meminta sesuatu secara jelas.
Bukan:
"Terserah."
Ketika sebenarnya tidak terserah.
Bukan:
"Nggak apa-apa."
Ketika sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu.
Bukan:
"Kalau kamu mau, ya sudah."
Ketika sebenarnya kamu berharap dia tidak melakukan sesuatu.
Cobalah berbicara lebih langsung:
"Aku sebenarnya ingin kamu mendengarkan dulu. Aku belum membutuhkan solusi."
Atau:
"Aku sedang membutuhkan waktu sendiri. Setelah lebih tenang, aku ingin membicarakannya."
Atau:
"Aku ingin kamu memberi tahu aku lebih awal kalau ada perubahan rencana."
Kejelasan bukan kekasaran.
Meminta sesuatu bukan berarti manja.
Mengatakan kebutuhan bukan berarti egois.
Justru, semakin jelas seseorang mampu mengomunikasikan kebutuhannya, semakin kecil kemungkinan orang lain harus menebak-nebak.
Enam Langkah Ini Sebenarnya Mengarah pada Satu Hal
Jika diperhatikan, keenam langkah tadi memiliki satu benang merah.
Komunikasi yang baik membutuhkan kesadaran.
Kamu perlu sadar terhadap apa yang sedang kamu rasakan.
Kamu perlu sadar terhadap apa yang sebenarnya dikatakan orang lain.
Kamu perlu sadar bahwa interpretasimu belum tentu fakta.
Kamu perlu sadar bahwa orang lain memiliki perspektif yang berbeda.
Dan kamu perlu sadar bahwa kebutuhanmu tidak selalu bisa diketahui tanpa kamu mengatakannya.
Jadi, komunikasi yang baik bukan tentang menjadi orang yang selalu mengatakan hal yang sempurna.
Tidak ada orang yang seperti itu.
Kadang kamu akan salah bicara.
Kadang kamu akan terlalu emosional.
Kadang kamu salah memahami orang lain.
Kadang kamu baru menyadari setelah percakapan selesai bahwa sebenarnya ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan sesuatu.
Dan itu normal.
Kemampuan komunikasi berkembang melalui latihan.
Yang penting adalah kemampuan untuk memperbaiki diri setelahnya.
Kamu bisa mengatakan:
"Tadi cara bicaraku kurang baik. Sebenarnya yang ingin aku sampaikan adalah..."
Atau:
"Aku rasa tadi aku terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bisa ceritakan lagi apa yang sebenarnya kamu maksud?"
Atau bahkan:
"Maaf, aku mendengarkanmu tetapi sebenarnya tadi pikiranku ke mana-mana. Kalau kamu masih bersedia, aku ingin mendengarkan lagi."
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu menunjukkan sesuatu yang penting:
kamu lebih peduli pada kualitas hubungan daripada sekadar memenangkan percakapan.
Pada Akhirnya, Komunikasi yang Baik Bukan Tentang Menang
Kita sering melihat percakapan seperti pertandingan.
Siapa yang argumennya lebih kuat?
Siapa yang punya bukti lebih banyak?
Siapa yang terakhir berbicara?
Siapa yang berhasil membuat lawannya diam?
Padahal, dalam hubungan yang sehat, tujuan komunikasi seharusnya bukan selalu menentukan siapa yang menang.
Tujuannya adalah menciptakan pemahaman.
Kadang kamu benar.
Kadang orang lain benar.
Kadang keduanya memiliki sebagian kebenaran.
Dan kadang masalahnya bukan tentang siapa yang benar sama sekali.
Yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang berkata:
"Aku ingin memahami kamu."
dan seseorang yang bersedia menjawab:
"Aku juga ingin kamu memahami aku."
Jadi, jika kamu sedang belajar berkomunikasi dengan lebih baik, jangan mulai dengan pertanyaan:
"Bagaimana caranya supaya orang lain mengerti aku?"
Cobalah mulai dengan:
"Apakah aku sudah benar-benar berusaha memahami?"
Dengarkan sebelum menjawab.
Berhenti sejenak sebelum bereaksi.
Bicarakan perasaan tanpa menyerang.
Periksa asumsi sebelum membuat kesimpulan.
Cobalah melihat perspektif orang lain.
Dan beranilah mengatakan apa yang sebenarnya kamu butuhkan.
Mungkin enam langkah tersebut tidak akan membuat setiap percakapan menjadi mudah.
Tetapi perlahan, kamu akan belajar sesuatu yang jauh lebih penting:
komunikasi yang baik bukan tentang selalu menemukan kata-kata yang sempurna, melainkan tentang membangun ruang di mana dua orang merasa cukup aman untuk berkata jujur, mendengar dengan sungguh-sungguh, dan mencoba memahami satu sama lain.