← Beranda
6 Cara bagi Pasangan untuk 'Bertengkar dengan Sehat' dalam Hubungan Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahJumat, 4 September 2026 | 02.13 WIB
seseorang yang bertengkar sehat dengan pasangannya./Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Bertengkar dalam hubungan bukan selalu pertanda bahwa sebuah pasangan sedang berada di ambang perpisahan. Justru, dalam hubungan yang dekat dan berlangsung lama, perbedaan pendapat hampir tidak mungkin dihindari.

Dua orang bisa saling mencintai, tetapi tetap memiliki kebutuhan, kebiasaan, pengalaman hidup, cara berkomunikasi, dan harapan yang berbeda. Ketika perbedaan tersebut bertemu, konflik pun muncul.

Masalahnya bukan semata-mata apakah pasangan bertengkar atau tidak, melainkan bagaimana mereka bertengkar.

Ada pasangan yang setelah bertengkar justru semakin memahami satu sama lain. Ada pula yang mengalami luka emosional yang semakin dalam setiap kali konflik terjadi. Perbedaannya sering kali terletak pada cara mereka menghadapi konflik.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), dalam psikologi hubungan, konflik yang dikelola dengan baik dapat menjadi kesempatan untuk memahami kebutuhan pasangan, memperbaiki komunikasi, dan membangun kembali kedekatan. Sebaliknya, konflik yang dipenuhi penghinaan, ancaman, sikap defensif, atau tindakan menyakiti dapat merusak rasa aman dalam hubungan.

Karena itu, istilah “bertengkar dengan sehat” bukan berarti pasangan tidak boleh marah, tidak boleh kecewa, atau harus selalu berbicara dengan tenang. Bertengkar secara sehat berarti pasangan tetap berusaha menjaga rasa hormat dan keamanan emosional, bahkan ketika mereka sedang tidak sepakat.

Lantas, bagaimana caranya?

1. Fokus pada Masalah, Bukan Menyerang Pribadi Pasangan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika pasangan bertengkar adalah mengubah persoalan tertentu menjadi penilaian terhadap karakter pasangan.

Misalnya, masalah awalnya adalah pasangan terlambat memberi kabar. Namun, pembicaraan kemudian berubah menjadi:

“Kamu memang tidak pernah peduli.”

atau:

“Kamu selalu egois.”

Kalimat seperti ini tidak lagi membahas perilaku tertentu. Kalimat tersebut menyerang identitas dan karakter seseorang.

Secara psikologis, serangan terhadap pribadi dapat membuat pasangan merasa harus mempertahankan diri. Akibatnya, perhatian mereka tidak lagi tertuju pada penyelesaian masalah, melainkan pada bagaimana membela diri dari tuduhan.

Cara yang lebih sehat adalah membicarakan perilaku dan dampaknya.

Alih-alih mengatakan:

“Kamu tidak pernah peduli sama aku.”

Cobalah:

“Ketika kamu tidak memberi kabar sampai malam, aku merasa cemas dan merasa kebutuhanku untuk mendapat informasi belum diperhatikan.”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.

Kalimat pertama memberikan label terhadap pasangan. Kalimat kedua menjelaskan kejadian, perasaan, dan kebutuhan.

Dalam komunikasi pasangan, pendekatan seperti ini sering disebut sebagai penggunaan “I-statements” atau pernyataan yang berpusat pada pengalaman diri. Tujuannya bukan untuk menghindari tanggung jawab, melainkan mengurangi kesan bahwa pasangan sedang diadili.

Prinsip sederhananya:

Kritik perilaku, bukan karakter.

“Kamu terlambat memberi kabar” berbeda dengan “Kamu memang tidak bisa diandalkan.”

“Kita jarang punya waktu bersama” berbeda dengan “Kamu sudah tidak mencintaiku.”

Ketika masalah dibicarakan secara spesifik, pasangan memiliki sesuatu yang konkret untuk diperbaiki.

2. Jangan Mengungkit Semua Kesalahan Masa Lalu

Saat emosi sedang tinggi, manusia cenderung mengingat berbagai pengalaman yang mendukung perasaan saat ini.

Pasangan sedang bertengkar karena masalah keuangan, misalnya. Tiba-tiba muncul daftar panjang kesalahan yang terjadi berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sebelumnya.

“Dulu kamu juga pernah melakukan itu.”

“Waktu ulang tahunku kamu juga begitu.”

“Makanya aku sudah tahu kamu memang seperti ini.”

Jika dilakukan terus-menerus, konflik menjadi semakin sulit diselesaikan karena satu masalah tidak pernah benar-benar selesai.

Bukan berarti masalah masa lalu tidak penting. Ada kalanya kejadian lama memang perlu dibicarakan, terutama jika belum pernah diselesaikan. Namun, membicarakan masa lalu sebaiknya dilakukan secara sadar dan dengan tujuan menyelesaikan persoalan—bukan sekadar mengumpulkan amunisi untuk memenangkan pertengkaran.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku ingin membicarakan kejadian itu karena sampai sekarang aku masih terluka.”

dan:

“Aku akan menggunakan semua kesalahanmu di masa lalu untuk membuktikan bahwa kamu selalu salah.”

Yang pertama membuka ruang untuk pemulihan. Yang kedua memperpanjang konflik.

Coba gunakan pertanyaan ini:

“Apa masalah utama yang sedang ingin kita selesaikan sekarang?”

Jika jawabannya jelas, pasangan bisa mengarahkan energi mereka pada persoalan tersebut.

Hubungan bukan ruang sidang tempat seseorang harus membuktikan bahwa pasangannya bersalah sepanjang sejarah hubungan.

3. Belajar Mengambil Jeda Ketika Emosi Terlalu Tinggi

Tidak semua pertengkaran harus diselesaikan dalam satu percakapan.

Ini mungkin terdengar berlawanan dengan nasihat populer seperti “jangan tidur dalam keadaan marah”. Namun, ketika emosi sudah sangat tinggi, memaksakan percakapan justru dapat membuat keadaan semakin buruk.

Saat seseorang berada dalam kondisi sangat marah, frustrasi, atau kewalahan, kemampuan untuk mendengarkan dan memproses informasi secara objektif dapat menurun. Dalam kondisi tersebut, seseorang mungkin mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dikatakan atau mengambil kesimpulan yang terlalu ekstrem.

Karena itu, mengambil jeda dapat menjadi bagian dari konflik yang sehat.

Namun, ada perbedaan antara jeda dan silent treatment.

Jeda berarti:

“Aku sedang terlalu emosi untuk membicarakan ini dengan baik. Aku ingin menenangkan diri dulu, lalu kita lanjutkan pembicaraan malam ini.”

Silent treatment berarti sengaja mengabaikan pasangan sebagai bentuk hukuman atau manipulasi tanpa memberikan kejelasan kapan dan bagaimana komunikasi akan dilanjutkan.

Jeda yang sehat sebaiknya memiliki tiga unsur:

Mengakui bahwa emosi sedang tinggi.
Menjelaskan bahwa percakapan akan dilanjutkan.
Memberikan perkiraan waktu untuk kembali berbicara.

Misalnya:

“Aku ingin menyelesaikan masalah ini, tetapi sekarang aku terlalu marah. Aku butuh waktu sekitar 30 menit untuk menenangkan diri. Setelah itu kita bicara lagi.”

Tujuannya bukan melarikan diri dari konflik, tetapi menciptakan kondisi yang lebih baik untuk menyelesaikannya.

4. Dengarkan untuk Memahami, Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara

Banyak pertengkaran sebenarnya bukan terjadi karena pasangan tidak berbicara, tetapi karena keduanya berbicara tanpa benar-benar mendengarkan.

Seseorang sedang menjelaskan perasaannya, sementara pasangannya sudah sibuk menyiapkan jawaban.

“Aku merasa kamu akhir-akhir ini jauh.”

“Jauh bagaimana? Aku kan setiap hari pulang ke rumah.”

“Aku cuma merasa kita sudah jarang ngobrol.”

“Ya karena kamu juga sibuk main HP.”

Percakapan seperti ini dengan cepat berubah menjadi pertandingan pembelaan diri.

Padahal, mendengarkan secara sehat tidak selalu berarti setuju.

Seseorang dapat mengatakan:

“Aku memahami kenapa kamu merasa begitu.”

tanpa harus mengatakan:

“Berarti semua yang kamu katakan benar.”

Validasi emosional berarti mengakui bahwa perasaan pasangan memiliki alasan dan layak didengarkan.

Pasangan dapat mencoba melakukan paraphrasing, yaitu mengulangi inti pesan dengan kata-kata sendiri.

Contohnya:

“Jadi, yang membuat kamu kecewa bukan hanya aku pulang terlambat, tetapi kamu merasa aku tidak memberi tahu dan itu membuatmu merasa tidak diprioritaskan. Benar begitu?”

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu mencegah kesalahpahaman.

Ingat:

Memahami bukan berarti menyetujui.

Anda tetap boleh tidak setuju dengan kesimpulan pasangan. Namun, sebelum membantah, pastikan Anda benar-benar memahami apa yang sedang ia sampaikan.

5. Hindari Empat Pola Komunikasi yang Sangat Merusak

Penelitian psikologi hubungan banyak membahas pola komunikasi yang dapat menjadi tanda buruk bagi kualitas hubungan.

Salah satu kerangka yang terkenal berasal dari penelitian John Gottman dan rekan-rekannya, yang sering membahas empat pola komunikasi destruktif: criticism, contempt, defensiveness, dan stonewalling.

Dalam bahasa sederhana, keempatnya dapat dipahami sebagai berikut.

Kritik pribadi

Masalahnya bukan lagi “apa yang terjadi”, tetapi menyerang karakter pasangan.

“Kamu memang malas.”

Penghinaan

Ini lebih berat karena mengandung unsur merendahkan, mengejek, atau membuat pasangan merasa tidak berharga.

“Gitu saja kamu tidak bisa. Bodoh banget.”

Sikap defensif berlebihan

Seseorang menolak seluruh tanggung jawab dan langsung membalas dengan menyalahkan pasangan.

“Aku memang terlambat, tapi kamu juga lebih parah!”

Stonewalling

Seseorang menutup diri sepenuhnya dari interaksi, tidak merespons, atau memutus komunikasi tanpa upaya untuk kembali menyelesaikan masalah.

Keempat pola tersebut dapat membuat konflik berubah dari “kita menghadapi masalah” menjadi “kita saling menyerang.”

Pasangan yang sehat tidak berarti tidak pernah melakukan kesalahan-kesalahan tersebut. Manusia tetap bisa terpancing emosi.

Yang penting adalah kemampuan untuk menyadari pola tersebut dan memperbaikinya.

Misalnya, jika Anda terlanjur berkata:

“Kamu memang egois.”

Anda dapat berhenti dan memperbaikinya:

“Maaf, itu terlalu menyerang. Yang sebenarnya ingin aku bicarakan adalah aku merasa kebutuhan kita belakangan ini tidak seimbang.”

Kemampuan untuk melakukan repair atau memperbaiki interaksi setelah terjadi kesalahan merupakan bagian penting dalam hubungan jangka panjang.

6. Cari Solusi, Bukan Pemenang

Salah satu jebakan terbesar dalam pertengkaran adalah keinginan untuk menang.

Seseorang ingin membuktikan bahwa dirinya benar.

Pasangan ingin membuktikan bahwa dirinya juga benar.

Akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan lagi:

“Bagaimana kita bisa menyelesaikan ini?”

melainkan:

“Siapa yang salah?”

Padahal, dalam banyak konflik pasangan, kedua orang dapat memiliki perspektif yang masuk akal sekaligus.

Satu pihak mungkin merasa tidak dihargai. Pihak lainnya mungkin merasa sudah berusaha keras.

Satu pihak membutuhkan lebih banyak waktu bersama. Pihak lainnya membutuhkan waktu pribadi.

Satu pihak ingin masalah segera dibicarakan. Pihak lainnya membutuhkan waktu untuk berpikir.

Tidak semua konflik memiliki satu orang yang sepenuhnya benar dan satu orang yang sepenuhnya salah.

Karena itu, setelah masing-masing pihak merasa didengar, pertanyaan berikutnya sebaiknya adalah:

“Apa yang bisa kita lakukan berbeda mulai sekarang?”

Misalnya, jika konflik sering terjadi karena komunikasi yang buruk, pasangan dapat membuat kesepakatan konkret:

Jika pulang terlambat, beri kabar.
Sisihkan waktu tertentu setiap minggu untuk berbicara tanpa gangguan.
Jika emosi terlalu tinggi, ambil jeda dan sepakati kapan akan kembali berbicara.
Jangan menggunakan penghinaan atau ancaman ketika bertengkar.
Jika salah, akui kesalahan tanpa menunggu pasangan memaksa.

Solusi kecil yang konsisten sering kali lebih berguna daripada janji besar yang tidak jelas.

Bertengkar Sehat Bukan Berarti Tidak Pernah Marah

Ada kesalahpahaman bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan tanpa pertengkaran.

Padahal, pasangan yang dekat sekalipun tetap dapat berbeda pendapat.

Yang membedakan hubungan yang sehat dan tidak sehat bukan semata-mata ada atau tidak adanya konflik, tetapi bagaimana konflik tersebut dikelola.

Pasangan yang sehat dapat mengatakan:

“Aku marah.”

tanpa harus mengatakan:

“Kamu manusia paling buruk yang pernah aku kenal.”

Mereka dapat berkata:

“Aku tidak setuju.”

tanpa:

“Pendapatmu selalu bodoh.”

Mereka dapat meminta waktu:

“Aku butuh menenangkan diri.”

tanpa menggunakan keheningan untuk menghukum.

Dan mereka dapat meminta maaf:

“Cara bicaraku tadi salah.”

tanpa merasa bahwa meminta maaf berarti kalah.

Dalam hubungan jangka panjang, kemampuan untuk memperbaiki hubungan setelah konflik sering kali jauh lebih penting daripada kemampuan untuk memenangkan argumen.

Bagaimana Mengetahui Apakah Pertengkaran Masih Sehat?

Setelah konflik selesai, pasangan dapat melakukan evaluasi sederhana.

Tanyakan:

1. Apakah kami membahas masalah atau saling menyerang?

2. Apakah masing-masing orang memiliki kesempatan untuk berbicara?

3. Apakah kami berusaha memahami perspektif satu sama lain?

4. Apakah ada penghinaan, ancaman, atau tindakan yang sengaja menyakiti?

5. Apakah kami menemukan sesuatu yang bisa dilakukan berbeda ke depannya?

6. Setelah konflik, apakah rasa aman dan hormat masih ada?

Jika jawabannya sering kali “tidak”, mungkin persoalannya bukan hanya topik pertengkaran, tetapi pola konflik yang perlu diperbaiki.

Dan penting untuk membedakan konflik biasa dengan perilaku yang bersifat abusif. Kekerasan fisik, ancaman, intimidasi, pemaksaan, kontrol berlebihan, atau penghinaan yang terus-menerus bukanlah bentuk “bertengkar dengan sehat” dan tidak boleh dinormalisasi sebagai bagian wajar dari hubungan.

Pada Akhirnya, Tujuan Bertengkar Bukan untuk Menang

Setiap pasangan pasti memiliki konflik.

Ada masalah yang bisa diselesaikan dengan kompromi. Ada masalah yang membutuhkan perubahan kebiasaan. Ada pula perbedaan yang mungkin tidak pernah sepenuhnya hilang.

Namun, pasangan dapat belajar menghadapinya tanpa menjadikan satu sama lain sebagai musuh.

Bertengkar dengan sehat berarti tetap mengingat bahwa orang yang berada di seberang argumen adalah pasangan, bukan lawan.

Jadi, ketika konflik berikutnya muncul, mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan:

“Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku benar?”

melainkan:

“Bagaimana kami bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi dan keluar dari masalah ini sebagai satu tim?”

Karena dalam hubungan yang sehat, kemenangan terbesar bukanlah ketika salah satu pasangan berhasil memenangkan argumen.

Kemenangan terbesar adalah ketika keduanya merasa didengar, dihargai, dan hubungan mereka menjadi sedikit lebih kuat setelah konflik tersebut selesai.

EDITOR: Hanny Suwindari