JawaPos.com-Keracunan makanan menjadi salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi karena makanan atau minuman terkontaminasi bakteri, virus, mikroorganisme, maupun zat-zat berbahaya dalam makanan.
Kasus keracunan di Indonesia lebih rentan terjadi karena beriklim tropis yang dapat mendukung pertumbuhan sejumlah mikroorganisme penyebab keracunan.
Risiko keracunan makanan juga dapat terjadi saat makanan tidak diolah, dimasak, dan disimpan dengan cara yang tepat.
Menurut sumber dari kemkes.go keracunan makanan disebabkan karena faktor kuman yang berada di lingkungan termasuk ladang, sawah, dan segala jenis sayuran.
Terjadinya keracunan bukanlah karena memakan sayur mentah, namun karena hasil kebun tidak dikalengkan dengan baik atau disimpan lebih dulu sebelum disajikan (sayuran harus direbus dalam air mendidih minimal 20 menit).
Selanjutnya, gejala keracunan dapat muncul dalam waktu yang berbeda-beda . sebagian kasus dapat muncul setelah 2-6 jam atau bahkan dalam kurun waktu 18-24 jam setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Keracunan makanan dapat dialami oleh siapa saja. Namun,kelompok anak-anak dan lansia termasuk kategori yang lebih rentan mengalami keracunan. Terutama setelah terjadi muntah dan diare yang menyebabkan kehilangan banyak cairan.
Keracunan makanan memang tidak selalu berujung pada kondisi parah hingga menyebabkan kematian. Namun jika tidak ditangani dan dievaluasi dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan sampai pada infeksi yang serius.
Mulai dari dampak kesehatan, sampai psikis yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Seseorang mungkin harus beristirahat total dan meninggalkan aktivitas seperti bersekolah ataupun meninggalkan pekerjaan selama proses pemulihan.
Pada sebagian orang, pengalaman keracunan makanan yang berat dapat menimbulkan rasa trauma dan cemas untuk mengkonsumsi makanan tertentu.
Seseorang akan menghindari makanan yang dianggap menjadi penyebab keracunan.
Jika anda sedang sejumlah gejala setelah mengkonsumsi makanan, penting untuk memperhatikan kondisi tubuh dan mengenali tanda-tanda yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan informasi dari laman kemkes.go dan primayahospital yang dikutip pada (02/09) berikut sejumlah gejala yang patut diwaspadai saat mengalami keracunan makanan.
-
Demam
Saat makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, dan parasit masuk ke dalam tubuh, maka tubuh anda akan memberikan respon dengan menaikkan suhu. Tujuannya adalah untuk melawan infeksi. Kenaikan suhu atau demam tinggi setelah menyantap makanan yang terkontaminasi dapat menjadi salah satu tanda keracunan makanan.
-
Pusing
Gejala botulisme dapat muncul setelah menyantap makanan yang terkontaminasi. Keracunan dapat ditandai dengan gangguan pada penglihatan seperti pandangan yang kabur, berbayang, atau kelopak mata yang tampak menurun. Gangguan penglihatan tersebut juga dapat membuat tubuh terasa pusing.
-
Sakit perut
Sakit perut merupakan gejala yang paling terlihat dari keracunan makanan. Mulai dari kembung, munculnya rasa nyeri, dan juga kram pada bagian bawah perut. Gejala sakit perut ini dapat terjadi karena saluran pencernaan mengalami gangguan setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi.
-
Lemas
Korban keracunan makanan akan merasakan lemas, pusing, dan tidak berdaya. Hal ini disebabkan karena tubuh kehilangan banyak cairan dan energi. Tubuh yang terinfeksi dapat membuat tenaga seseorang berkurang sehingga terasa mudah lelah.
-
Mual dan muntah
Selain sakit perut, keracunan makanan juga bisa diikuti dengan mual dan muntah. Muntah merupakan salah satu respon alami tubuh untuk mengeluarkan zat berbahaya serta mikroorganisme asing yang terdapat di dalam makanan. Muntah yang terus menerus dapat membuat tubuh terasa lemas dan kekurangan cairan. Sistem pencernaan yang terganggu akibat makanan yang terkontaminasi membuat makanan yang terkontaminasi kembali dikeluarkan.
-
Diare
Gejala yang paling sering muncul adalah diare. Diare dapat terjadi karena dinding usus mengalami iritasi akibat makanan yang terkontaminasi. Tekstur feses pada umumnya menjadi lebih cair disertai lendir, dengan frekuensi buang air besar yang meningkat. Diare terus menerus juga dapat menyebabkan dehidrasi pada tubuh jika tidak ditangani dengan baik.
-
Dehidrasi
Kehilangan cairan akibat diare dan muntah dapat menyebabkan tubuh mengalami gejala dehidrasi. Tanda-tanda yang muncul seperti mulut kering, kulit kasar, dan urin menjadi lebih gelap. Dehidrasi perlu ditangani dengan mengganti cairan tubuh dengan meminum minuman elektrolit ataupun air kelapa.
***