← Beranda
10 Tanda Halus Orang yang Anda Cintai Punya Narcissistic Victim Complex Menurut Riset, Simak! 
Mellyna Putri DiniarSelasa, 1 September 2026 | 18.44 WIB
Ilustrasi seseorang dengan kecenderungan narcissistic victim complex yang selalu memosisikan diri sebagai korban / Foto: (Your Tango)

JawaPos.com — Seseorang yang selalu merasa menjadi korban belum tentu sedang mengalami perlakuan buruk. Dalam hubungan yang dekat, pola tersebut justru dapat menjadi persoalan ketika rasa ‘tersakiti’ terus digunakan untuk menghindari tanggung jawab, menuntut pengakuan, atau mengalihkan perhatian dari penderitaan orang lain.

Kondisi yang kerap disebut narcissistic victim complex menggambarkan pola ketika seseorang sangat melekat pada identitas sebagai korban dan membutuhkan simpati atau validasi dari posisi tersebut.

Pola ini berbeda dari sekadar seseorang yang pernah mengalami trauma atau ketidakadilan. Persoalannya muncul ketika perasaan sebagai korban menjadi cara berulang untuk menghadapi konflik dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.

Dilansir dari YourTango, Senin (31/8/2025), terdapat sejumlah perilaku halus yang dapat mengindikasikan pola tersebut. Sumber tersebut juga mengutip pandangan sejumlah psikolog dan peneliti mengenai bagaimana sikap merasa sebagai korban dapat berkelindan dengan karakteristik narsistik. Berikut daftarnya:

1. Selalu mengingat kesalahan orang lain

Dalam hubungan sehat, konflik semestinya dapat dibicarakan dan diselesaikan. Namun, seseorang dengan pola victimhood kronis dapat terus mengingat pengorbanan, kesalahan, atau perlakuan buruk yang pernah diterimanya. 

Psikiater Grant Hilary Brenner menegaskan, “Menjadi korban adalah hal yang nyata dan penderitaan layak untuk diakui.” 

Namun, menurutnya, ketika identitas seseorang dibangun di sekitar posisi sebagai korban, terutama jika disertai rasa berhak dan rendahnya empati, kondisi tersebut justru dapat mempertahankan masalah dalam hubungan.

2. Selalu menuntut pengakuan bahwa dirinya disakiti

Bukan hanya mengingat kejadian lama, mereka membutuhkan orang lain mengakui bahwa dirinya telah diperlakukan tidak adil. 

Jika posisi korban tidak otomatis diterima, mereka dapat bereaksi keras untuk mengubah persepsi orang lain dan memperoleh validasi.

3. Menganggap kritik biasa sebagai perlakuan tidak adil

Masukan atau kritik dapat diterima sebagai serangan terhadap dirinya. 

Psikolog klinis Leon F. Seltzer menjelaskan bahwa orang dengan kecenderungan narsistik dapat membangun pertahanan kuat untuk menghindari kesepian, penolakan, atau rasa ditinggalkan. Akibatnya, kritik dapat memicu respons agresif.

4. Tidak mengakui perannya dalam suatu masalah

Kesalahan dalam hubungan biasanya melibatkan tanggung jawab dari satu atau kedua pihak. 

Namun, orang dengan pola ini cenderung memproyeksikan persoalan kepada orang lain dan kesulitan melihat kontribusinya sendiri terhadap konflik.

5. Merasa berhak mendapat perlakuan khusus

Rasa berhak atau entitlement menjadi salah satu ciri yang disoroti. Mereka dapat merasa layak memperoleh perhatian, pujian, atau perlakuan khusus. 

Ketika melihat orang lain menerima sesuatu yang mereka inginkan, rasa tidak adil tersebut dapat memperkuat keyakinan bahwa dirinya diperlakukan lebih buruk.

6. Menganggap batasan sebagai bentuk kekejaman

Batasan pribadi yang sehat dapat dianggap sebagai penghinaan atau penolakan. Dalam konteks hubungan, permintaan sederhana seperti membutuhkan ruang pribadi dapat ditafsirkan sebagai serangan.

Psikoterapis Tracy S. Hutchinson justru menekankan pentingnya batasan sebagai perlindungan ketika berhadapan dengan perilaku narsistik.

7. Tidak tahan ketika orang lain mendapat simpati

Perhatian yang diberikan kepada orang lain dapat dianggap sebagai ancaman. Penulis dan peneliti Shahida Arabi memperingatkan bahwa orang narsistik dapat menikmati keberhasilan orang lain ketika keberhasilan tersebut menguntungkan mereka.

Namun, mereka juga berpotensi menyabotase orang yang sama ketika keberhasilan itu mengancam posisi atau perhatian yang mereka inginkan.

8. Menolak mengakui kesalahan meski bukti jelas

Masalah menjadi lebih serius ketika seseorang terus menolak bertanggung jawab dan membuat pasangannya mempertanyakan pengalaman sendiri. 

Konselor profesional berlisensi Sybil Cummin mengatakan bahwa ketika seseorang terus mengambil posisi sebagai korban dan menolak bertanggung jawab, orang di sekitarnya dapat mulai merasa seolah-olah dirinya membayangkan kejadian yang sebenarnya terjadi.

9. Menyimpan dendam dalam waktu lama

Alih-alih menyelesaikan konflik, mereka dapat terus membawa luka dan perceived slights atau perasaan telah diremehkan. 

Bahkan permintaan maaf yang panjang belum tentu mengakhiri persoalan karena kejadian tersebut dapat terus digunakan untuk memperkuat identitas sebagai pihak yang dirugikan.

10. Mengabaikan penderitaan orang lain

Tanda yang paling merusak hubungan adalah ketika penderitaan sendiri selalu menjadi pusat perhatian, sementara kesulitan pasangan atau orang terdekat diabaikan. 

Sumber tersebut mengaitkannya dengan rendahnya empati dan kesulitan memahami perspektif orang lain.

Pada akhirnya, sepuluh tanda tersebut bukan alat untuk mendiagnosis seseorang sebagai narsistik. Satu perilaku secara terpisah juga tidak cukup untuk menyimpulkan adanya masalah kepribadian. 

Yang lebih penting adalah melihat apakah pola tersebut berlangsung terus-menerus, merusak hubungan, menghilangkan ruang bagi kebutuhan orang lain, dan digunakan untuk menghindari tanggung jawab. 

Jika pola seperti itu menetap, menetapkan batasan yang jelas dan mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang lebih tepat daripada terus berusaha memenangkan setiap konflik.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho