Kita bekerja, mendapatkan penghasilan, bertemu teman, menghabiskan waktu bersama keluarga, membeli sesuatu yang kita inginkan, bahkan sesekali pergi berlibur. Dari luar, tidak ada yang benar-benar salah. Namun ketika malam tiba dan suasana menjadi sunyi, muncul sebuah pertanyaan yang sulit dijelaskan:
“Sebenarnya, untuk apa semua ini?”
Baca Juga: 6 Cara Menyikapi Ketertarikan Asmara di Tempat Kerja Tanpa Mengacaukan Karier Menurut Psikologi
Pertanyaan seperti itu bukan selalu tanda bahwa hidup Anda sedang berantakan. Dalam psikologi, kebutuhan manusia tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan, kesenangan, atau pencapaian. Manusia juga memiliki kebutuhan untuk merasa bahwa hidupnya memiliki arah, nilai, tujuan, dan arti.
Hidup yang bermakna bukan berarti hidup yang selalu bahagia. Bahkan, kehidupan yang bermakna tetap bisa dipenuhi kegagalan, kehilangan, kebingungan, dan masa-masa sulit. Perbedaannya adalah kita memiliki alasan untuk terus berjalan meskipun keadaan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Menariknya, makna hidup juga tidak harus ditemukan dalam sesuatu yang luar biasa.
Anda tidak harus menjadi terkenal.
Tidak harus memiliki pekerjaan bergengsi.
Tidak harus menghasilkan sesuatu yang akan dikenang banyak orang.
Terkadang, makna hidup justru tumbuh dari hal-hal sederhana: hubungan yang kita rawat, orang yang kita bantu, nilai yang kita pegang, pekerjaan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, atau keberanian untuk menjalani hidup sesuai dengan apa yang benar-benar kita anggap penting.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (28/8), jika belakangan ini Anda sedang mencari kehidupan yang terasa lebih bermakna, berikut enam cara yang dapat dicoba berdasarkan berbagai gagasan dalam psikologi.
1. Berhenti Bertanya “Apa yang Membuat Saya Bahagia?” dan Mulailah Bertanya “Apa yang Penting bagi Saya?”
Kita hidup di zaman yang sering mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah merasa bahagia.
Cari pekerjaan yang membuat Anda bahagia.
Cari pasangan yang membuat Anda bahagia.
Lakukan hal-hal yang membuat Anda bahagia.
Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan. Namun jika kebahagiaan dijadikan satu-satunya ukuran kehidupan yang baik, kita bisa mengalami masalah.
Sebab, tidak semua hal yang bermakna terasa menyenangkan.
Merawat orang tua mungkin melelahkan.
Membesarkan anak mungkin penuh tekanan.
Belajar sesuatu yang sulit mungkin membuat frustrasi.
Membangun karier dari nol mungkin terasa sepi.
Mempertahankan prinsip ketika orang lain memilih jalan yang lebih mudah mungkin membuat kita kehilangan keuntungan.
Namun hal-hal tersebut tetap bisa terasa sangat berarti.
Inilah salah satu perbedaan penting antara kesenangan dan makna.
Kesenangan bertanya:
“Apa yang membuat saya merasa enak sekarang?”
Sementara makna bertanya:
“Apa yang menurut saya layak diperjuangkan?”
Cobalah mengambil selembar kertas dan tuliskan lima hal yang paling penting bagi Anda.
Bukan lima hal yang ingin Anda miliki.
Tetapi lima hal yang ingin Anda wakili sebagai manusia.
Misalnya:
keluarga,
kebebasan,
kejujuran,
kreativitas,
kebermanfaatan,
pembelajaran,
keberanian,
kasih sayang,
spiritualitas,
kontribusi.
Setelah itu, tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah cara saya menjalani hidup saat ini sesuai dengan nilai-nilai tersebut?”
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat membuka mata.
Seseorang mungkin mengatakan bahwa keluarga adalah hal terpenting dalam hidupnya. Namun hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk bekerja dan mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu ia pedulikan.
Orang lain mungkin mengatakan bahwa kesehatan penting, tetapi setiap hari mengorbankan tidur demi pekerjaan yang tidak ada habisnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa kebebasan adalah nilai utama, tetapi hidupnya sepenuhnya ditentukan oleh ekspektasi orang lain.
Menjalani hidup yang bermakna sering kali bukan tentang menemukan sesuatu yang baru.
Terkadang, kita hanya perlu kembali kepada apa yang sebenarnya sudah kita anggap penting.
2. Bangun Hubungan yang Lebih Dalam, Bukan Sekadar Memiliki Banyak Kenalan
Manusia adalah makhluk sosial.
Kita membutuhkan hubungan dengan orang lain bukan hanya untuk mendapatkan bantuan ketika sedang kesulitan, tetapi juga untuk merasakan bahwa keberadaan kita memiliki tempat.
Anda mungkin memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi tetap merasa kesepian.
Sebaliknya, seseorang mungkin hanya memiliki dua atau tiga orang yang sangat dekat dengannya, tetapi merasa hidupnya penuh karena ia tahu ada orang yang benar-benar mengenal dan menerimanya.
Ini menunjukkan bahwa jumlah hubungan tidak selalu sama dengan kualitas hubungan.
Jika Anda ingin menjalani hidup yang lebih bermakna, cobalah berinvestasi lebih banyak pada hubungan yang benar-benar penting.
Hubungi seseorang yang sudah lama tidak Anda temui.
Tanyakan kepada pasangan Anda bagaimana keadaan mereka, lalu benar-benar dengarkan jawabannya.
Luangkan waktu untuk makan bersama keluarga tanpa sibuk melihat ponsel.
Datangi teman yang sedang mengalami masa sulit.
Atau, jika Anda sendiri sedang merasa kesepian, jangan selalu menunggu orang lain mengambil langkah pertama.
Kirim pesan sederhana:
“Akhir-akhir ini bagaimana kabarmu?”
Hubungan yang bermakna biasanya tidak terbentuk melalui satu percakapan besar. Ia dibangun dari ratusan interaksi kecil yang menunjukkan:
“Saya peduli dengan Anda.”
Ada hal menarik yang perlu diingat.
Hubungan yang bermakna tidak selalu membuat kita merasa nyaman.
Orang yang benar-benar dekat dengan kita terkadang akan mengatakan sesuatu yang tidak ingin kita dengar. Mereka bisa mengkritik, menegur, atau menunjukkan sisi diri kita yang selama ini tidak ingin kita lihat.
Namun justru di sanalah kedalaman sebuah hubungan sering kali terbentuk.
Kehidupan yang bermakna bukan hanya tentang memiliki seseorang untuk tertawa bersama.
Tetapi juga memiliki seseorang yang dapat kita percaya ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
3. Lakukan Sesuatu yang Membuat Anda Merasa Berguna bagi Orang Lain
Ada kepuasan tertentu yang sulit diperoleh hanya dengan membeli sesuatu.
Misalnya ketika Anda menyadari bahwa keberadaan Anda membuat hidup seseorang sedikit lebih mudah.
Anda membantu rekan kerja menyelesaikan masalah.
Anda mengajari seseorang sesuatu yang sebelumnya tidak ia pahami.
Anda mendengarkan teman yang sedang mengalami kesulitan.
Anda membantu keluarga.
Anda melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh karena tahu pekerjaan tersebut memberi manfaat bagi orang lain.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat memberikan pengalaman psikologis yang sangat penting:
“Saya dibutuhkan.”
Perasaan memiliki kontribusi dapat menjadi sumber makna yang kuat.
Karena itu, jika Anda sedang merasa hidup kosong, jangan selalu mencari jawaban dengan bertanya:
“Apa yang bisa saya dapatkan dari hidup?”
Cobalah membalik pertanyaannya:
“Apa yang bisa saya berikan?”
Ini tidak berarti Anda harus mengorbankan seluruh hidup untuk orang lain.
Anda tetap membutuhkan batasan, istirahat, dan waktu untuk diri sendiri.
Namun ada perbedaan antara hidup yang sepenuhnya berpusat pada diri sendiri dengan hidup yang menyadari bahwa keberadaan kita dapat memberi pengaruh kepada orang lain.
Kontribusi juga tidak harus berukuran besar.
Seorang guru dapat menemukan makna melalui murid-muridnya.
Seorang dokter melalui pasien yang ia bantu.
Seorang pekerja kantoran melalui pekerjaan yang ia lakukan dengan baik.
Seorang orang tua melalui anak yang ia besarkan.
Seorang teman melalui dukungan yang ia berikan.
Bahkan seseorang yang tidak memiliki pekerjaan bergengsi sekalipun dapat menjalani hidup yang sangat bermakna.
Makna tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar dunia mengenal kita, tetapi oleh seberapa berarti keberadaan kita bagi kehidupan yang kita sentuh.
4. Miliki Sesuatu yang Sedang Anda Bangun
Salah satu alasan hidup terasa monoton adalah karena kita hanya menjalani hari dari satu kewajiban ke kewajiban berikutnya.
Bangun.
Bekerja.
Makan.
Pulang.
Tidur.
Kemudian mengulanginya lagi.
Rutinitas memang diperlukan. Namun manusia juga membutuhkan rasa bahwa dirinya sedang bergerak menuju sesuatu.
Karena itu, cobalah memiliki sebuah proyek pribadi.
Tidak harus menghasilkan uang.
Tidak harus menjadi bisnis.
Tidak harus dipublikasikan.
Anda bisa belajar bahasa baru.
Menulis buku.
Membaca satu buku setiap bulan.
Belajar memasak.
Menanam sesuatu.
Membangun keterampilan.
Berolahraga untuk mencapai target tertentu.
Membuat karya seni.
Mempelajari sejarah.
Atau memperbaiki hubungan dengan seseorang.
Yang penting, ada sesuatu yang sedang Anda bangun secara perlahan.
Mengapa ini penting?
Karena proses tersebut memberikan pengalaman bahwa hidup bukan hanya tentang melewati waktu.
Ada sesuatu yang berkembang karena Anda hadir dan berusaha.
Dan perkembangan kecil sering kali lebih bermakna daripada yang kita sadari.
Bayangkan seseorang yang belajar bermain gitar selama satu tahun.
Pada minggu pertama, ia mungkin hanya mampu memainkan beberapa akor.
Setelah beberapa bulan, ia bisa memainkan satu lagu.
Setelah satu tahun, ia mungkin dapat memainkan puluhan lagu.
Tidak ada satu hari yang terlihat luar biasa.
Namun jika ia melihat ke belakang, ia menyadari:
“Ternyata saya sudah sejauh ini.”
Perasaan berkembang seperti itu dapat membuat kehidupan terasa lebih hidup.
Jadi, jangan hanya mencari sesuatu yang membuat Anda sibuk.
Cari sesuatu yang membuat Anda berkata:
“Saya sedang membangun sesuatu.”
5. Belajar Menerima Bahwa Hidup Tidak Selalu Harus Mudah
Ini mungkin salah satu bagian yang paling sulit.
Banyak orang berpikir bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang akhirnya bebas dari masalah.
Padahal, kenyataannya tidak demikian.
Akan selalu ada hal yang tidak dapat kita kendalikan.
Ada hubungan yang berakhir.
Ada pekerjaan yang gagal.
Ada rencana yang tidak berjalan.
Ada orang yang pergi.
Ada kesempatan yang hilang.
Ada masa ketika kita sudah melakukan yang terbaik tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan.
Jika kita hanya merasa hidup bermakna ketika semuanya berjalan baik, kita akan mudah kehilangan arah ketika menghadapi penderitaan.
Karena itu, salah satu kemampuan penting dalam kehidupan adalah belajar berkata:
“Saya tidak menyukai keadaan ini, tetapi saya masih bisa menentukan bagaimana saya akan menghadapinya.”
Ini bukan berarti kita harus berpura-pura kuat.
Sedih tetap boleh.
Kecewa tetap boleh.
Marah tetap boleh.
Menangis juga bukan kegagalan.
Penerimaan bukan berarti menyukai sesuatu yang buruk.
Penerimaan berarti berhenti menghabiskan seluruh energi untuk menyangkal kenyataan yang sudah terjadi, lalu perlahan mengalihkan perhatian kepada:
“Apa yang masih bisa saya lakukan sekarang?”
Ada perbedaan besar antara:
“Mengapa ini terjadi kepada saya?”
dan
“Setelah ini terjadi, saya ingin menjadi orang seperti apa?”
Pertanyaan pertama mungkin tidak selalu memiliki jawaban.
Pertanyaan kedua memberikan ruang bagi kita untuk bertindak.
Kadang-kadang, makna tidak ditemukan di dalam pengalaman yang menyakitkan itu sendiri.
Makna dapat muncul dari cara kita merespons pengalaman tersebut.
6. Jangan Menunggu Menemukan “Tujuan Hidup” yang Besar
Banyak orang merasa tertinggal karena belum menemukan tujuan hidup.
Mereka membayangkan suatu hari akan datang sebuah momen ketika semuanya tiba-tiba jelas.
Mereka akan mengetahui pekerjaan yang tepat.
Menemukan passion yang sempurna.
Mengetahui alasan keberadaan mereka.
Lalu hidup akan terasa jelas selamanya.
Sayangnya, kehidupan jarang bekerja seperti itu.
Bagi banyak orang, makna hidup tidak muncul sebagai satu jawaban besar.
Ia terbentuk sedikit demi sedikit melalui pilihan sehari-hari.
Hari ini Anda memilih menjadi orang tua yang lebih hadir.
Besok Anda memilih menyelesaikan pekerjaan dengan jujur.
Lusa Anda membantu seseorang.
Minggu depan Anda belajar sesuatu yang baru.
Beberapa tahun kemudian, ketika melihat kembali kehidupan Anda, mungkin Anda baru menyadari bahwa semua pilihan kecil tersebut ternyata membentuk sebuah kehidupan yang memiliki arah.
Dengan kata lain:
Tujuan hidup tidak selalu harus ditemukan. Terkadang, tujuan hidup perlu dibangun.
Jangan terlalu terobsesi mencari satu hal yang akan membuat hidup Anda bermakna selamanya.
Tanyakan saja:
“Apa yang penting bagi saya pada tahap kehidupan saya sekarang?”
Mungkin saat ini jawabannya adalah keluarga.
Mungkin belajar.
Mungkin menyembuhkan hubungan.
Mungkin membangun karier.
Mungkin menjadi orang yang lebih baik.
Mungkin membantu orang lain.
Mungkin sekadar belajar berdamai dengan diri sendiri.
Dan itu tidak masalah.
Karena manusia berubah.
Nilai, kebutuhan, prioritas, dan keadaan hidup kita juga dapat berubah.
Makna hidup pada usia dua puluh tahun mungkin berbeda dengan makna hidup pada usia empat puluh atau enam puluh tahun.
Yang penting bukan menemukan satu jawaban yang berlaku selamanya.
Yang penting adalah terus bertanya:
“Apakah kehidupan yang sedang saya jalani mencerminkan orang yang ingin saya menjadi?”
Pada Akhirnya, Hidup yang Bermakna Tidak Selalu Terlihat Istimewa
Ada kesalahpahaman bahwa hidup yang bermakna harus terlihat luar biasa.
Harus punya pencapaian besar.
Harus melakukan sesuatu yang mengubah dunia.
Padahal, kehidupan yang bermakna bisa terlihat sangat biasa dari luar.
Bangun pagi.
Membuat sarapan.
Bekerja.
Mengantar anak.
Menelepon orang tua.
Membantu teman.
Menyelesaikan tanggung jawab.
Belajar.
Beristirahat.
Menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai.
Lalu tidur dan mengulanginya lagi.
Dari luar, mungkin tidak ada yang spektakuler.
Tetapi di dalam kehidupan sehari-hari itulah sebenarnya makna sering kali tumbuh.
Makna bukan selalu tentang melakukan sesuatu yang besar.
Makna bisa muncul ketika kita melakukan sesuatu yang kecil dengan alasan yang kita yakini.
Jadi, jika akhir-akhir ini Anda merasa hidup terasa kosong, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidup Anda tidak memiliki arti.
Mungkin Anda hanya terlalu lama mengejar sesuatu yang sebenarnya bukan nilai Anda.
Mungkin Anda membutuhkan hubungan yang lebih dalam.
Mungkin Anda perlu melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa berguna.
Mungkin Anda perlu memiliki sesuatu untuk dibangun.
Mungkin Anda sedang berada dalam masa sulit yang membutuhkan penerimaan, bukan jawaban instan.
Atau mungkin Anda tidak perlu menemukan tujuan hidup yang besar.
Anda hanya perlu mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya sudah penting bagi Anda.
Karena pada akhirnya, kehidupan yang bermakna bukanlah kehidupan tanpa masalah.
Bukan pula kehidupan yang selalu bahagia.
Kehidupan yang bermakna adalah kehidupan ketika kita dapat melihat alasan di balik langkah-langkah yang kita pilih—ketika kita tahu apa yang kita cintai, apa yang kita perjuangkan, siapa yang kita pedulikan, dan nilai apa yang ingin kita bawa dalam menjalani hidup.
Dan mungkin, itu sudah menjadi awal yang cukup baik.
Tidak perlu mengetahui seluruh jalan untuk mulai berjalan.