JawaPos.com – Ketika masih kecil, anak biasanya tidak ragu menceritakan berbagai hal kepada orang tua. Mulai dari kejadian sederhana di sekolah, teman bermain, makanan favorit, hingga cita-cita yang ingin diwujudkan.
Namun, seiring bertambahnya usia, komunikasi tersebut dapat berubah. Anak yang dahulu sangat banyak bercerita bisa menjadi lebih tertutup dan memilih menyimpan persoalannya sendiri.
Kedekatan antara orang tua dan anak saat dewasa sebenarnya tidak terbentuk begitu saja. Hubungan tersebut merupakan hasil dari pola komunikasi yang dibangun selama bertahun-tahun.
Tanpa disadari, kebiasaan sederhana dalam berkomunikasi dapat membuat anak merasa nyaman untuk bercerita atau justru memilih menjaga jarak.
Baca Juga: Orang yang Tetap Sehat hingga Usia Lanjut Biasanya Menerapkan 8 Kebiasaan Ini dalam Kehidupan Sehari
Dilansir dari Geediting, ada tujuh kebiasaan yang sebaiknya dihindari orang tua jika ingin mempertahankan hubungan yang terbuka dengan anak hingga mereka dewasa.
1. Menganggap Remeh Perasaan Anak
Ketika anak menceritakan sesuatu yang membuatnya sedih, kecewa, atau khawatir, respons orang tua sangat berpengaruh terhadap keinginannya untuk kembali bercerita.
Ucapan seperti "Jangan berlebihan" atau "Itu bukan masalah besar" mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat membuat anak merasa emosinya tidak dihargai.
Jika hal tersebut berulang, mereka bisa belajar bahwa bercerita kepada orang tua tidak akan membuat mereka merasa lebih baik.
Daripada langsung mengecilkan masalah, orang tua dapat mencoba memahami sudut pandang anak. Kalimat seperti, "Aku mengerti kalau hal itu membuatmu kecewa," dapat menjadi awal percakapan yang lebih nyaman.
2. Langsung Memberikan Penilaian
Anak yang sudah dewasa akan membuat keputusan sendiri, termasuk mengenai pekerjaan, pasangan, tempat tinggal, maupun pilihan hidup lainnya.
Ketika mereka menceritakan sebuah keputusan, orang tua mungkin langsung merasa perlu memberikan peringatan. Namun, kritik yang muncul terlalu cepat dapat membuat anak merasa tidak dipercaya.
Sebelum memberikan penilaian, cobalah memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan alasannya. Pertanyaan seperti, "Apa yang membuatmu memilih keputusan itu?" dapat membuka percakapan yang lebih sehat.
Dengan demikian, orang tua tidak hanya menjadi pemberi nasihat, tetapi juga menjadi tempat anak mempertimbangkan berbagai pilihan.
3. Menggunakan Rasa Bersalah untuk Mendapatkan Perhatian
Rasa sayang kepada anak seharusnya tidak dibangun melalui tekanan emosional.
Kalimat seperti, "Setelah semua yang dilakukan orang tua untukmu," atau "Kalau kamu sayang, seharusnya kamu lebih sering datang," mungkin dapat membuat anak memenuhi keinginan orang tua untuk sementara.
Namun, jika terus dilakukan, anak dapat menganggap hubungan dengan orang tua sebagai sebuah kewajiban yang penuh tekanan.
Cara yang lebih sehat adalah menyampaikan perasaan secara langsung tanpa menyalahkan. Misalnya, orang tua dapat mengatakan bahwa mereka senang ketika anak berkunjung dan berharap bisa kembali menghabiskan waktu bersama.
4. Terlalu Sering Memberikan Nasihat yang Tidak Diminta
Orang tua tentu memiliki pengalaman hidup yang berharga. Namun, pengalaman tersebut tidak selalu harus langsung diberikan dalam bentuk nasihat setiap kali anak bercerita.
Anak yang sudah dewasa dapat merasa bahwa orang tua masih menganggap dirinya tidak mampu menentukan pilihan sendiri apabila setiap persoalan langsung disertai arahan.
Salah satu cara sederhana untuk menghindari hal tersebut adalah bertanya terlebih dahulu.
"Apakah kamu ingin mendengar pendapatku atau ingin aku mendengarkan saja?" dapat menjadi pertanyaan yang membuat anak merasa dihargai.
Dengan memberikan pilihan, percakapan menjadi lebih terbuka dan anak tidak merasa sedang menghadapi ceramah.
5. Membandingkan dengan Anak atau Orang Lain
Perbandingan sering kali dianggap sebagai cara untuk memotivasi. Namun, bagi anak, kebiasaan tersebut justru dapat meninggalkan perasaan bahwa dirinya tidak pernah cukup baik.
Membandingkan karier, penghasilan, pernikahan, pendidikan, atau pencapaian dengan saudara dan teman dapat membuat anak enggan menceritakan kehidupannya.
Mereka mungkin khawatir setiap cerita akan berakhir dengan perbandingan baru.
Karena itu, lebih baik orang tua memperhatikan perkembangan anak berdasarkan perjalanan mereka sendiri. Apresiasi terhadap usaha dan pencapaian pribadi dapat membuat anak merasa diterima tanpa harus memenuhi standar orang lain.
6. Selalu Membawa Kesalahan Masa Lalu ke Percakapan
Kesalahan merupakan bagian dari perjalanan hidup. Anak dewasa mungkin pernah mengambil keputusan yang kurang tepat, mengalami kegagalan dalam hubungan, pekerjaan, pendidikan, atau masalah keuangan.
Jika setiap persoalan baru selalu dikaitkan dengan kesalahan lama, anak dapat merasa bahwa dirinya tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk berubah.
Lambat laun, mereka mungkin memilih tidak bercerita karena khawatir masalah lama akan kembali digunakan sebagai bahan pembicaraan.
Belajar melepaskan kesalahan yang telah berlalu bukan berarti mengabaikan pelajaran dari masa lalu. Justru, hal tersebut dapat menciptakan ruang yang lebih aman agar anak berani berbicara tentang kehidupannya saat ini.
7. Terlalu Banyak Berbicara dan Tidak Cukup Mendengarkan
Komunikasi yang baik membutuhkan kemampuan untuk mendengar, bukan hanya berbicara.
Orang tua mungkin memiliki banyak pengalaman yang ingin dibagikan. Namun, apabila setiap cerita anak selalu disela dengan pengalaman, kritik, atau pendapat orang tua, percakapan lama-kelamaan terasa seperti sesi ceramah.
Anak dewasa juga ingin didengarkan sebagai individu yang mampu berpikir dan mengambil keputusan.
Karena itu, berikan kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan cerita. Tunjukkan ketertarikan melalui pertanyaan terbuka dan tahan keinginan untuk langsung memberikan tanggapan.
Mendengarkan dengan sungguh-sungguh dapat membuat anak merasa dihargai dan lebih nyaman untuk kembali berbagi cerita di kemudian hari.
Pada akhirnya, menjaga anak tetap terbuka ketika dewasa bukan berarti orang tua harus selalu setuju dengan setiap keputusan mereka. Yang lebih penting adalah menciptakan hubungan yang membuat anak merasa aman untuk berbicara, bahkan ketika memiliki pandangan yang berbeda.