← Beranda
Ingin Menjadikan Olahraga dan Pergi ke Gym sebagai Kebiasaan? Cobalah 7 Strategi Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 23 Agustus 2026 | 20.43 WIB
seseorang yang menjadikan pergi ke gym sebagai kebiasaan./Magnific/senivpetro

JawaPos.com - Banyak orang sebenarnya ingin rutin berolahraga. Mereka membeli pakaian olahraga, mendaftar ke gym, membuat jadwal latihan, bahkan menonton berbagai video motivasi. Namun, setelah beberapa minggu, semangat itu perlahan menghilang.

Masalahnya sering kali bukan karena seseorang malas atau tidak memiliki motivasi. Justru, salah satu kesalahan terbesar adalah menganggap bahwa olahraga harus selalu dimulai dengan motivasi yang kuat.

Dalam psikologi perilaku, kebiasaan yang bertahan lama biasanya tidak dibangun hanya dengan mengandalkan semangat. Kebiasaan terbentuk ketika sebuah perilaku dibuat cukup mudah untuk dilakukan, diulang secara konsisten, dan dikaitkan dengan situasi tertentu.

Artinya, jika Anda ingin menjadikan pergi ke gym dan berolahraga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, Anda tidak perlu selalu merasa bersemangat terlebih dahulu.

Anda perlu membangun sistem yang membuat olahraga lebih mudah dilakukan bahkan ketika sedang tidak termotivasi.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), terdapat tujuh strategi yang dapat membantu.

1. Jangan Menunggu Motivasi, Bangun Rutinitas

Salah satu jebakan terbesar ketika seseorang mulai berolahraga adalah menunggu munculnya motivasi.

Hari ini Anda mungkin merasa sangat bersemangat. Anda membayangkan tubuh yang lebih sehat, otot yang lebih kuat, atau berat badan yang ideal. Akibatnya, Anda berlatih dengan penuh energi.

Namun beberapa hari kemudian Anda merasa lelah setelah bekerja.

“Besok saja.”

Kemudian besok datang, tetapi cuaca kurang menyenangkan.

“Lusa saja.”

Tanpa disadari, olahraga kembali ditinggalkan.

Secara psikologis, masalahnya adalah motivasi manusia memang berubah-ubah. Ada hari ketika kita bersemangat, tetapi ada juga hari ketika kita merasa lelah, stres, bosan, atau tidak ingin melakukan apa pun.

Karena itu, jangan menjadikan perasaan sebagai satu-satunya pemicu olahraga.

Cobalah membuat jadwal yang lebih spesifik.

Misalnya:

Senin pukul 18.30: gym
Rabu pukul 18.30: gym
Jumat pukul 18.30: gym
Minggu pagi: jalan kaki atau latihan ringan

Dengan cara ini, Anda tidak perlu bertanya setiap hari, “Apakah saya ingin berolahraga hari ini?”

Anda hanya perlu mengikuti jadwal.

Inilah perubahan pola pikir yang penting: olahraga bukan lagi sesuatu yang Anda lakukan ketika sedang ingin, tetapi sesuatu yang sudah menjadi bagian dari rutinitas.

Pada awalnya mungkin terasa dipaksakan. Namun setelah perilaku tersebut diulang berkali-kali dalam konteks yang sama, olahraga dapat menjadi semakin otomatis.

2. Mulailah dengan Target yang Sangat Mudah

Banyak orang membuat kesalahan ketika baru mulai gym.

Mereka langsung membuat target besar:

“Mulai sekarang saya akan gym enam kali seminggu.”

“Setiap latihan harus satu jam.”

“Saya harus melakukan cardio setiap hari.”

“Saya tidak boleh melewatkan satu sesi pun.”

Masalahnya, target seperti ini sering kali membutuhkan perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika energi sedang tinggi, target tersebut mungkin terasa mudah. Tetapi ketika pekerjaan menumpuk atau tubuh terasa lelah, semuanya menjadi terasa berat.

Karena itu, gunakan prinsip memulai dari hal kecil.

Jika tujuan utama Anda adalah membangun kebiasaan pergi ke gym, target awal Anda bahkan bisa sesederhana:

“Saya akan pergi ke gym dan berolahraga selama 10–15 menit.”

Terdengar terlalu mudah?

Justru itu tujuannya.

Pada tahap awal, fokus utama bukan membuat latihan sesempurna mungkin. Fokusnya adalah membangun identitas dan konsistensi sebagai seseorang yang rutin berolahraga.

Jika setelah 15 menit Anda ternyata ingin melanjutkan, silakan. Tetapi jika suatu hari Anda hanya sanggup melakukan latihan singkat, itu tetap sebuah keberhasilan.

Kebiasaan yang bertahan lama biasanya lebih mudah dibangun dari tindakan kecil yang dapat diulang daripada tindakan besar yang hanya dilakukan sesekali.

3. Kaitkan Olahraga dengan Kebiasaan yang Sudah Ada

Salah satu cara praktis untuk membangun kebiasaan baru adalah menghubungkannya dengan kebiasaan yang sudah Anda lakukan.

Dalam psikologi perilaku, pendekatan ini sering disebut habit stacking atau menumpuk kebiasaan.

Daripada mengatakan:

“Saya akan olahraga nanti.”

Buat hubungan yang lebih spesifik:

“Setelah pulang kerja dan mengganti pakaian, saya langsung memakai pakaian olahraga.”

Atau:

“Setelah sarapan pada hari Sabtu, saya langsung berjalan kaki selama 30 menit.”

Kebiasaan lama berfungsi sebagai pemicu bagi kebiasaan baru.

Contohnya:

Pulang kerja → ganti pakaian → ambil tas gym → berangkat ke gym.

Semakin jelas urutannya, semakin sedikit keputusan yang harus Anda buat.

Ini penting karena sering kali yang membuat kita tidak berolahraga bukan latihan itu sendiri, melainkan terlalu banyak keputusan kecil sebelum latihan dimulai.

“Pergi sekarang atau nanti?”

“Latihan apa?”

“Harus makan dulu?”

“Pakai baju apa?”

“Besok saja mungkin lebih baik.”

Dengan membuat urutan yang konsisten, Anda mengurangi ruang untuk negosiasi dengan diri sendiri.

4. Buat Hambatan untuk Berolahraga Sekecil Mungkin

Perhatikan apa yang terjadi sebelum Anda pergi ke gym.

Apakah Anda harus mencari pakaian?

Apakah sepatu olahraga masih tersimpan di tempat yang sulit dijangkau?

Apakah tas gym belum disiapkan?

Apakah perjalanan ke gym terlalu jauh?

Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi setiap hambatan tambahan dapat meningkatkan kemungkinan Anda menunda.

Karena itu, gunakan prinsip sederhana:

Buat perilaku yang diinginkan menjadi mudah.

Siapkan pakaian olahraga pada malam sebelumnya.

Masukkan sepatu, handuk, botol minum, dan perlengkapan lain ke dalam tas.

Letakkan tas di tempat yang mudah terlihat.

Jika memungkinkan, pilih gym yang lokasinya mudah dijangkau dari rumah atau tempat kerja.

Bahkan Anda dapat menentukan latihan dari malam sebelumnya sehingga ketika tiba di gym Anda tidak perlu berpikir terlalu banyak.

Tujuannya bukan membuat hidup Anda terlalu teratur.

Tujuannya adalah mengurangi friksi, yaitu hambatan kecil yang membuat Anda lebih mudah mengatakan, “Nanti saja.”

Sebaliknya, Anda juga dapat meningkatkan hambatan terhadap kebiasaan yang ingin dikurangi.

Misalnya, jika setiap pulang kerja Anda langsung berbaring sambil bermain ponsel selama satu jam, letakkan ponsel jauh dari tempat Anda biasanya beristirahat dan langsung menuju kamar untuk berganti pakaian olahraga.

Perubahan kecil pada lingkungan dapat memberikan dampak besar terhadap perilaku.

5. Jangan Hanya Mengejar Hasil, Nikmati Prosesnya

Banyak orang mulai olahraga dengan satu-satunya tujuan:

“Saya ingin cepat kurus.”

“Saya ingin punya otot.”

“Saya ingin perut six-pack.”

“Saya ingin berat badan turun 10 kilogram.”

Tujuan seperti ini tidak salah. Bahkan tujuan dapat membantu memberikan arah.

Namun, masalah muncul ketika seseorang hanya merasa berhasil jika hasil fisiknya mulai terlihat.

Perubahan tubuh membutuhkan waktu.

Jika selama beberapa minggu berat badan belum banyak berubah atau bentuk tubuh belum terlihat seperti yang diharapkan, seseorang bisa mulai merasa olahraga tidak memberikan hasil.

Akibatnya, motivasi turun.

Karena itu, cobalah memiliki reward yang lebih dekat dengan perilaku.

Setelah berolahraga, perhatikan hal-hal seperti:

tubuh terasa lebih segar;
suasana hati menjadi lebih baik;
tidur terasa lebih nyaman;
Anda merasa bangga karena berhasil menepati jadwal;
latihan tertentu menjadi lebih mudah;
beban yang dulu terasa berat mulai terasa lebih ringan.

Dengan demikian, Anda mulai mendapatkan kepuasan bukan hanya dari hasil akhir, tetapi juga dari proses.

Ini penting karena hasil fisik adalah sesuatu yang membutuhkan waktu, sementara rasa puas setelah menyelesaikan latihan bisa Anda rasakan hari itu juga.

6. Jangan Menggunakan Pola Pikir “Sekalian Sempurna”

Ada satu pola pikir yang sering menghancurkan kebiasaan:

“Kalau saya tidak bisa melakukannya dengan sempurna, lebih baik tidak usah.”

Misalnya, Anda biasanya gym empat kali seminggu. Kemudian suatu minggu Anda hanya sempat pergi dua kali.

Anda merasa gagal.

Lalu berpikir:

“Sekalian saja mulai lagi minggu depan.”

Padahal dua kali latihan tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Begitu juga jika Anda hanya memiliki waktu 20 menit.

Anda mungkin berpikir:

“Percuma, saya tidak punya waktu satu jam.”

Padahal 20 menit tetap merupakan aktivitas fisik.

Kebiasaan tidak harus sempurna agar tetap berkembang.

Yang lebih penting adalah kemampuan untuk kembali setelah terputus.

Jika Anda melewatkan satu sesi, jangan menjadikannya alasan untuk melewatkan sesi berikutnya.

Satu hari tanpa olahraga adalah kejadian biasa.

Yang perlu dihindari adalah membiarkan satu hari berubah menjadi satu minggu, kemudian satu bulan.

Jadi, daripada berpikir:

“Saya gagal.”

Gunakan pola pikir:

“Saya melewatkan satu sesi. Berikutnya saya kembali ke jadwal.”

Ini membuat Anda lebih fleksibel sekaligus menjaga konsistensi dalam jangka panjang.

7. Bangun Identitas sebagai Orang yang Berolahraga

Strategi terakhir mungkin merupakan salah satu yang paling kuat.

Jangan hanya mengatakan:

“Saya ingin mulai olahraga.”

Cobalah perlahan mengubah cara Anda melihat diri sendiri:

“Saya adalah orang yang rutin berolahraga.”

Perbedaannya tampak kecil, tetapi secara psikologis cukup penting.

Ketika olahraga hanya dianggap sebagai sebuah target, Anda mungkin berpikir:

“Saya harus pergi ke gym agar target saya tercapai.”

Tetapi ketika olahraga menjadi bagian dari identitas, perilakunya terasa lebih sesuai dengan diri Anda.

Contohnya:

“Saya memang orang yang menjaga kesehatan.”

“Saya adalah orang yang tetap berolahraga meskipun hanya sebentar.”

“Saya adalah orang yang menjaga komitmen terhadap diri sendiri.”

Identitas tersebut tidak perlu Anda klaim sejak hari pertama.

Identitas dibangun melalui tindakan yang berulang.

Setiap kali Anda tetap pergi ke gym meskipun sedang malas, Anda memberikan bukti kepada diri sendiri:

“Saya memang orang yang bisa konsisten.”

Semakin sering bukti tersebut muncul, semakin kuat identitas tersebut terbentuk.

Konsistensi Lebih Penting daripada Kesempurnaan

Menjadikan olahraga sebagai kebiasaan bukan tentang menemukan motivasi yang sempurna.

Bukan pula tentang membuat program latihan yang sangat ekstrem.

Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang memungkinkan Anda terus bergerak bahkan ketika motivasi sedang rendah.

Jika dirangkum, tujuh strategi tersebut adalah:

Jangan menunggu motivasi—buat jadwal yang jelas.
Mulai dari target yang sangat mudah.
Hubungkan olahraga dengan kebiasaan yang sudah ada.
Kurangi hambatan sebelum berolahraga.
Nikmati proses, bukan hanya mengejar hasil fisik.
Jangan terjebak dalam pola pikir harus sempurna.
Bangun identitas sebagai orang yang rutin berolahraga.

Pada akhirnya, tujuan Anda bukan menjadi seseorang yang selalu bersemangat pergi ke gym.

Tujuan yang lebih realistis adalah menjadi seseorang yang tetap berolahraga meskipun tidak selalu bersemangat.

Karena motivasi bisa naik dan turun.

Tetapi kebiasaan yang telah dibangun dengan baik dapat membantu Anda tetap berjalan.

Jadi, jika Anda baru ingin mulai gym, jangan berpikir bahwa Anda harus langsung menjadi orang yang sangat disiplin.

Cukup mulai dari sesuatu yang kecil.

Datang ke gym.

Lakukan latihan sederhana.

Ulangi lagi beberapa hari kemudian.

Kemudian ulangi lagi.

Sedikit demi sedikit, sesuatu yang awalnya terasa seperti kewajiban dapat berubah menjadi bagian normal dari kehidupan Anda.

Bukan motivasi besar yang selalu membuat seseorang konsisten. Sering kali, konsistensi justru lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

EDITOR: Hanny Suwindari