JawaPos.com – Kekuatan mental tidak hanya terlihat ketika seseorang menghadapi masalah besar. Cara seseorang merespons tantangan kecil, ketidaknyamanan, hingga kegagalan juga dapat menggambarkan seberapa baik dirinya beradaptasi.
Dalam artikel YourTango, terdapat sejumlah kalimat yang kerap muncul dalam percakapan sehari-hari dan dapat mengindikasikan rendahnya daya tahan atau resilience.
Salah satunya adalah “Ini mustahil” dan “Aku nggak bisa melakukan ini.” Menurut YourTango, orang yang mudah menyerah cenderung melihat tantangan sebagai sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dibandingkan mencoba mencari solusi atau meminta bantuan.
Kalimat seperti ini juga dapat berkaitan dengan rasa tidak percaya diri dan ketakutan melakukan kesalahan.
Ungkapan lain yang sering muncul adalah “Aku nggak bisa menahannya,” “Aku nggak bisa membicarakan ini,” serta “Aku nggak bisa melakukannya sekarang.”
Pola tersebut menggambarkan kecenderungan menghindari situasi yang terasa tidak nyaman, termasuk percakapan emosional. Alih-alih menghadapi masalah, seseorang memilih menutup diri atau berharap orang lain menyelesaikannya.
Ada pula kalimat “Kenapa kamu melakukan ini kepadaku?” yang menurut artikel tersebut menunjukkan kecenderungan menempatkan diri sebagai korban ketika menghadapi masalah.
Sementara itu, ungkapan “Aku cuma khawatir kalau...” dapat menjadi tanda seseorang terlalu banyak berpikir hingga sulit mengambil tindakan.
Kekhawatiran memang wajar, tetapi terus-menerus memikirkan kemungkinan buruk tanpa bergerak dapat membuat seseorang semakin sulit keluar dari zona nyaman.
Kalimat “Aku nggak bisa mengubahnya” dan “Tapi aku belum pernah melakukan itu” juga termasuk dalam daftar. Keduanya dapat mencerminkan ketakutan terhadap perubahan dan kegagalan.
Padahal, kemampuan untuk mencoba sesuatu yang baru, melakukan kesalahan, kemudian belajar darinya merupakan bagian penting dalam membangun resiliensi.
Meski demikian, satu atau dua kalimat tersebut tentu tidak otomatis berarti seseorang memiliki daya tahan mental yang lemah.
Konteks, frekuensi, dan pola perilaku secara keseluruhan jauh lebih penting untuk diperhatikan. Intinya, seperti dijelaskan YourTango, resiliensi berkembang ketika seseorang berani menghadapi ketidaknyamanan, belajar dari pengalaman, dan perlahan mengambil kembali kendali atas hal-hal yang memang dapat ia ubah.