JawaPos.com – Kecerdasan dan kemampuan berpikir tidak selalu membuat seseorang terbebas dari masalah emosional. Dalam artikel YourTango, dijelaskan bahwa orang yang mengalami ketidakstabilan mental dan emosional dapat terjebak dalam sejumlah pola tanpa menyadarinya.
Pola tersebut bahkan bisa berkontribusi pada suasana hati yang buruk, kecemasan, penundaan pekerjaan, hingga hubungan yang renggang.
Kesalahan pertama adalah mempercayai setiap pikiran yang muncul. Orang yang terbiasa mengandalkan kemampuan berpikirnya bisa menganggap semua pemikirannya benar, termasuk ketika pikiran tersebut berkaitan dengan dirinya sendiri.
Padahal, pikiran negatif belum tentu merupakan fakta. Karena itu, penting untuk memiliki sikap skeptis terhadap pikiran sendiri agar tidak terus terjebak dalam lingkaran kesedihan, rasa bersalah, atau kecemasan.
Kesalahan berikutnya adalah berusaha mengendalikan emosi sepenuhnya. Seseorang mungkin ingin segera menghilangkan rasa sedih, marah, atau cemas, tetapi emosi tidak dapat diatur seperti menyalakan atau mematikan tombol.
Menurut Wignall, alih-alih bertanya bagaimana cara menghilangkan perasaan tersebut, seseorang dapat bertanya apa tindakan yang tetap baik dilakukan meski sedang merasakan emosi yang tidak nyaman.
Kemudian, ada kebiasaan menyalahkan keadaan atau orang lain atas perasaan yang muncul, takut terhadap emosi, serta mempercayai emosi secara membabi buta. Cara seseorang menafsirkan sebuah kejadian dapat memengaruhi respons emosionalnya.
Perasaan juga tidak selalu menjadi panduan terbaik untuk mengambil keputusan karena emosi terkadang bertentangan dengan nilai dan tujuan jangka panjang seseorang.
Kesalahan lainnya adalah menghakimi emosi sendiri. Merasa sedih, cemas, atau marah bukan berarti seseorang merupakan pribadi yang buruk.
Justru, menyalahkan diri sendiri karena merasakan emosi tertentu dapat menambah beban, seperti rasa bersalah di atas kesedihan atau rasa malu di atas kemarahan.
Wignall menyarankan agar seseorang memperlakukan dirinya seperti memperlakukan seorang teman baik ketika sedang berada dalam kondisi sulit.
Terakhir, seseorang bisa terlalu fokus mengatasi gejala tanpa menghadapi sumber masalahnya. Berbagai cara untuk membuat diri merasa lebih baik mungkin membantu dalam jangka pendek, tetapi tidak selalu menyelesaikan persoalan yang mendasarinya.
Karena itu, mengenali pikiran, menerima keberadaan emosi, dan berani menghadapi akar persoalan menjadi langkah penting untuk membangun kesehatan emosional yang lebih baik.