JawaPos.com – Teknologi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Ponsel, media sosial, hingga berbagai aplikasi digital membantu seseorang bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, dan mendapatkan hiburan.
Namun, penggunaan teknologi yang tidak terkontrol juga dapat memberikan dampak kurang baik. Kebiasaan tertentu yang awalnya terlihat sepele dapat membuat seseorang lebih mudah kehilangan fokus, mengalami kelelahan mental, hingga merasa tertekan.
Psikologi menyoroti bahwa pola seseorang dalam menggunakan perangkat digital dapat berkaitan dengan suasana hati, kualitas istirahat, kemampuan berkonsentrasi, dan hubungan sosial.
Dilansir dari Geediting, terdapat sembilan kebiasaan digital yang perlu diwaspadai karena berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental.
Baca Juga: Terlihat Sederhana, Kebiasaan Pria Membukakan Pintu Ternyata Ungkap 7 Sifat Ini
1. Terlalu sering memeriksa ponsel
Tanpa disadari, sebagian orang terbiasa mengambil ponsel setiap kali memiliki waktu luang. Menunggu kendaraan, duduk sendirian, bahkan saat sedang berbicara dengan orang lain pun terkadang diisi dengan mengecek layar.
Kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi perilaku otomatis. Notifikasi, pesan, dan pembaruan media sosial memberikan rangsangan yang membuat seseorang terdorong untuk terus memeriksa perangkatnya.
Jika berlangsung terus-menerus, seseorang bisa semakin sulit menikmati waktu tanpa stimulus digital.
2. Mengecek ponsel begitu bangun dan sebelum tidur
Kebiasaan melihat ponsel sesaat setelah membuka mata dapat membuat pikiran langsung dipenuhi informasi dari luar.
Begitu pula dengan penggunaan ponsel menjelang tidur. Scrolling media sosial atau menonton berbagai konten hingga larut malam dapat membuat waktu tidur semakin mundur.
Paparan layar pada malam hari juga dapat mengganggu proses tubuh dalam mempersiapkan diri untuk tidur. Karena itu, memberikan jeda dari perangkat digital sebelum tidur dapat menjadi pilihan yang lebih baik.
3. Terlalu lama melakukan doomscrolling
Doomscrolling merupakan kebiasaan terus menggulir layar untuk membaca atau menonton berbagai informasi, terutama berita dan konten bernuansa negatif.
Seseorang mungkin awalnya hanya berniat melihat beberapa unggahan, tetapi akhirnya menghabiskan waktu jauh lebih lama dari yang direncanakan.
Paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat membuat pikiran semakin penuh dan memunculkan kekhawatiran berlebihan. Membatasi durasi konsumsi berita maupun media sosial dapat membantu menjaga kondisi emosional.
4. Mengira multitasking digital membuat lebih produktif
Membalas pesan sambil bekerja, membuka media sosial ketika mengikuti rapat, atau menonton video saat mengerjakan tugas mungkin terlihat efisien.
Padahal, perhatian manusia tidak benar-benar mengerjakan banyak aktivitas yang membutuhkan konsentrasi secara bersamaan. Otak cenderung berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya.
Perpindahan perhatian yang terus-menerus dapat membuat pekerjaan lebih melelahkan dan konsentrasi menjadi kurang optimal.
5. Membiarkan notifikasi masuk tanpa batas
Bunyi atau getaran notifikasi dapat memecah perhatian ketika seseorang sedang bekerja, belajar, atau melakukan aktivitas lainnya.
Meskipun hanya membutuhkan beberapa detik untuk melihat pesan, fokus yang sudah terputus membutuhkan waktu untuk kembali sepenuhnya pada pekerjaan.
Karena itu, mematikan notifikasi yang tidak penting atau menggunakan mode senyap ketika membutuhkan konsentrasi dapat membantu mengurangi gangguan.
6. Terlalu larut dalam pertengkaran di internet
Perbedaan pendapat di media sosial merupakan hal yang umum. Namun, diskusi dapat berubah menjadi pertengkaran yang menghabiskan waktu dan energi.
Dorongan untuk terus membuktikan bahwa pendapat sendiri benar sering membuat seseorang sulit berhenti dari perdebatan.
Jika sebuah diskusi mulai membuat emosi meningkat tanpa menghasilkan percakapan yang produktif, memilih berhenti dan meninggalkan percakapan bisa menjadi keputusan yang lebih sehat.
7. Menggantungkan kebahagiaan pada validasi digital
Jumlah likes, komentar, atau respons terhadap sebuah unggahan terkadang dijadikan ukuran penerimaan sosial.
Ketika mendapatkan banyak respons positif, seseorang mungkin merasa senang. Sebaliknya, unggahan yang sepi respons dapat memunculkan rasa kecewa atau tidak dihargai.
Jika pola ini semakin kuat, kepercayaan diri dapat terlalu bergantung pada penilaian orang lain di dunia maya. Penting untuk mengingat bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh angka pada media sosial.
8. Terus membandingkan kehidupan dengan orang lain
Media sosial biasanya menampilkan bagian kehidupan yang paling menarik. Liburan, pencapaian karier, penampilan, maupun gaya hidup seseorang dapat terlihat sempurna di layar.
Masalahnya, seseorang kemudian membandingkan tampilan tersebut dengan kehidupan nyata dirinya sendiri yang tentu memiliki berbagai kekurangan dan masalah.
Perbandingan semacam ini dapat menimbulkan rasa iri, tidak puas, atau rendah diri. Mengurangi paparan terhadap akun yang membuat diri terus merasa tidak cukup dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga kesehatan mental.
9. Mengurangi interaksi langsung karena terlalu sibuk di dunia digital
Memiliki banyak teman di media sosial tidak selalu berarti seseorang memiliki hubungan sosial yang kuat di kehidupan nyata.
Interaksi secara langsung memungkinkan seseorang memahami ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta emosi orang lain dengan lebih baik.
Jika waktu untuk bertemu keluarga, sahabat, atau lingkungan sekitar terus digantikan oleh aktivitas digital, seseorang berisiko kehilangan kesempatan membangun hubungan yang lebih mendalam.
Karena itu, keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata tetap penting. Teknologi sebaiknya menjadi alat untuk membantu kehidupan, bukan mengambil alih seluruh waktu dan perhatian.