JawaPos.com - Ada orang yang benar-benar tidak menyukai dating apps.
Mereka merasa aplikasi kencan terlalu dangkal, melelahkan, penuh dengan percakapan basa-basi, dan membuat hubungan antarmanusia terasa seperti proses memilih produk di etalase.
Mereka mungkin tidak nyaman dengan budaya swipe, merasa profil seseorang tidak pernah cukup untuk menggambarkan kepribadiannya, atau bahkan memiliki pengalaman buruk ketika mencoba berkencan melalui aplikasi.
Namun, menariknya, membenci dating apps tidak selalu berarti seseorang harus sepenuhnya menghindarinya.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (20/8), dalam perspektif psikologi, ada perbedaan antara menyukai sebuah sistem dan memanfaatkan sebuah sistem. Seseorang tidak harus menikmati proses menggunakan dating apps untuk mendapatkan manfaat dari keberadaan di dalamnya.
Memiliki profil di dating apps juga tidak berarti seseorang sedang "putus asa mencari pasangan". Profil tersebut bisa menjadi salah satu cara untuk memperluas kemungkinan bertemu orang baru, memahami diri sendiri, dan membuka pintu yang mungkin tidak akan terbuka dalam kehidupan sehari-hari.
Tentu, dating apps bukan solusi ajaib untuk kesepian atau jaminan mendapatkan pasangan. Tetapi jika digunakan dengan batasan dan ekspektasi yang sehat, ada beberapa alasan psikologis mengapa seseorang tetap layak mempertimbangkan untuk memiliki profil di sana.
Berikut tujuh di antaranya.
1. Karena kesempatan bertemu seseorang tidak hanya ditentukan oleh keberuntungan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya bertemu banyak orang. Tetapi jumlah orang yang benar-benar berpotensi menjadi pasangan jauh lebih sedikit.
Di kantor, misalnya, seseorang mungkin bertemu puluhan orang setiap minggu. Di lingkungan pertemanan, mungkin ada beberapa orang baru. Di tempat olahraga, komunitas, kampus, atau lingkungan tempat tinggal, peluangnya juga terbatas.
Masalahnya bukan selalu tidak ada orang yang cocok.
Bisa jadi orang yang cocok memang tidak berada dalam lingkaran sosial kita saat ini.
Inilah salah satu alasan dating apps dapat berguna secara psikologis: aplikasi memperbesar pool sosial seseorang.
Bayangkan seseorang berusia 30 tahun yang memiliki rutinitas sederhana: bekerja, pulang, sesekali bertemu teman, dan menghabiskan akhir pekan dengan keluarga. Secara statistik dan praktis, peluangnya bertemu orang baru secara romantis mungkin relatif kecil.
Dating apps mengubah kondisi tersebut.
Bukan karena aplikasi mampu menemukan "jodoh" secara otomatis, tetapi karena aplikasi membuat seseorang lebih mudah ditemukan dan lebih mudah menemukan orang lain.
Dalam psikologi sosial, lingkungan sangat berpengaruh terhadap kemungkinan terbentuknya hubungan. Kita tidak bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah kita temui.
Jadi, memiliki profil sebenarnya bukan tentang "mencari pasangan setiap hari".
Lebih tepatnya, itu tentang meningkatkan jumlah kemungkinan.
Seseorang bisa tetap membenci mekanisme swipe, tetapi mengakui bahwa keberadaan profilnya membuat peluang pertemuan menjadi lebih besar.
Dan terkadang, dalam hubungan romantis, satu kesempatan yang tepat jauh lebih penting daripada ratusan interaksi biasa.
2. Karena dating apps bisa menjadi cara untuk menantang zona nyaman
Orang yang membenci dating apps sering memiliki alasan yang masuk akal.
"Malu."
"Capek."
"Rasanya aneh."
"Saya tidak suka menjual diri sendiri lewat foto dan bio."
Namun, psikologi juga mengenal fenomena bahwa sesuatu yang terasa tidak nyaman belum tentu buruk bagi perkembangan seseorang.
Ada perbedaan antara ketidaknyamanan yang sehat dan situasi yang benar-benar merugikan.
Berkenalan dengan orang baru, misalnya, bisa terasa canggung. Mengunggah foto diri bisa terasa rentan. Menulis beberapa kalimat tentang diri sendiri bisa membuat seseorang sadar bahwa dia ternyata tidak tahu bagaimana menjelaskan kepribadiannya.
Tetapi justru di situlah proses refleksi diri dapat muncul.
Pertanyaan sederhana seperti:
"Saya sebenarnya mencari hubungan seperti apa?"
"Hal apa yang penting bagi saya dalam pasangan?"
"Apa yang tidak bisa saya toleransi?"
"Bagaimana saya ingin diperlakukan?"
"Apa yang bisa saya tawarkan kepada pasangan?"
"Apakah saya siap menjalin hubungan?"
dapat membuat seseorang lebih sadar terhadap dirinya sendiri.
Dengan kata lain, dating apps dapat berfungsi sebagai cermin psikologis.
Bukan berarti seseorang harus memaksakan diri menggunakan aplikasi jika pengalaman tersebut membuatnya sangat tertekan atau tidak aman.
Namun, jika kebenciannya hanya berasal dari rasa canggung atau takut dinilai, mencoba dengan batasan yang sehat dapat menjadi latihan kecil untuk menghadapi kerentanan.
Dalam hubungan romantis, kemampuan menghadapi kerentanan merupakan hal yang penting.
Karena pada akhirnya, hubungan yang intim memang membutuhkan keberanian untuk memperlihatkan diri kepada orang lain.
3. Karena memiliki profil tidak sama dengan harus aktif mencari pasangan
Ini mungkin salah satu kesalahpahaman terbesar.
Banyak orang berpikir:
"Kalau saya punya profil di dating apps, berarti saya harus terus-menerus swipe, chatting, dan pergi berkencan."
Tidak harus.
Seseorang dapat memiliki profil dengan pendekatan yang sangat berbeda.
Misalnya, seseorang bisa menetapkan batasan:
hanya membuka aplikasi beberapa menit sehari;
tidak melakukan swipe secara berlebihan;
tidak memaksakan percakapan;
hanya melanjutkan komunikasi dengan orang yang benar-benar menarik;
tidak merasa harus membalas semua pesan;
berhenti ketika merasa lelah;
dan menghapus aplikasi sementara ketika ingin beristirahat.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan sense of agency—perasaan bahwa seseorang tetap memiliki kendali atas keputusan dan perilakunya sendiri.
Dating apps menjadi problematis ketika seseorang merasa bahwa aplikasi mengendalikan dirinya.
Misalnya, terus-menerus mengecek notifikasi, mencari validasi dari jumlah match, merasa panik ketika tidak mendapatkan respons, atau menghabiskan waktu berjam-jam melakukan swipe.
Tetapi jika seseorang menggunakan aplikasi sebagai alat, bukan sebagai sumber validasi diri, dinamika tersebut bisa berbeda.
Jadi, memiliki profil tidak berarti menyerahkan kehidupan percintaan kepada algoritma.
Profil hanyalah sebuah pintu.
Seseorang tetap bisa menentukan kapan pintu itu dibuka dan kapan ditutup.
4. Karena dating apps dapat membantu seseorang memperluas identitas sosialnya
Ada konsep psikologis yang menarik dalam hubungan sosial: kita cenderung hidup dalam lingkungan yang memperkuat identitas kita.
Jika seseorang bekerja di industri tertentu, kemungkinan besar teman-temannya berasal dari industri yang sama.
Jika seseorang tinggal di lingkungan tertentu, dia akan lebih sering bertemu orang dari lingkungan tersebut.
Jika seseorang memiliki kelompok pertemanan yang kecil, kemungkinan besar orang-orang baru yang dikenalnya juga datang melalui jaringan sosial yang sama.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami semacam social bubble.
Dating apps bisa menjadi salah satu cara keluar dari gelembung tersebut.
Tiba-tiba seseorang dapat berinteraksi dengan orang yang memiliki pekerjaan berbeda, latar belakang berbeda, hobi berbeda, pola hidup berbeda, atau perspektif hidup yang tidak pernah ditemui sebelumnya.
Dan hal ini tidak selalu berakhir pada hubungan romantis.
Kadang-kadang seseorang justru mendapatkan pemahaman baru tentang dirinya sendiri.
Misalnya, seseorang berpikir bahwa dia hanya tertarik pada tipe orang tertentu. Setelah bertemu berbagai macam orang, dia menyadari bahwa karakter yang sebenarnya dia cari ternyata bukan penampilan tertentu, melainkan rasa humor, kematangan emosional, kemampuan berkomunikasi, atau nilai hidup yang sejalan.
Dengan kata lain, pengalaman sosial dapat mengoreksi asumsi kita tentang diri sendiri.
Dating apps tidak harus dipandang sebagai mesin pencari pasangan.
Ia juga bisa menjadi ruang untuk memperluas pengalaman sosial.
5. Karena memiliki profil membuat seseorang "available" tanpa harus mengejar
Ada perbedaan besar antara mengejar seseorang dan memberi tahu dunia bahwa kita terbuka terhadap kemungkinan bertemu seseorang.
Bagi banyak orang yang tidak menyukai dating apps, bagian yang paling tidak nyaman adalah perasaan harus mengejar.
Mereka tidak ingin mengirim puluhan pesan.
Tidak ingin melakukan pendekatan agresif.
Tidak ingin merasa seperti sedang mengikuti kompetisi.
Tetapi memiliki profil tidak harus seperti itu.
Profil yang baik sebenarnya hanya menyampaikan:
"Saya ada. Saya terbuka untuk mengenal seseorang. Kalau kita cocok, mari berkenalan."
Setelah itu, keputusan bisa berlangsung dua arah.
Inilah salah satu aspek yang menarik secara psikologis: dating apps dapat mengurangi ketidakpastian awal.
Dalam kehidupan nyata, seseorang mungkin tertarik kepada orang lain tetapi tidak tahu apakah orang tersebut sedang single, tertarik berkencan, atau bahkan nyaman jika diajak berkenalan.
Dating apps memberikan konteks yang lebih jelas.
Setidaknya secara prinsip, orang yang berada di sana memang memiliki kemungkinan lebih besar untuk terbuka terhadap interaksi romantis.
Artinya, seseorang tidak perlu merasa bahwa dirinya sedang "mengejar".
Dia hanya sedang menempatkan dirinya di tempat di mana kemungkinan pertemuan romantis memang tersedia.
6. Karena pengalaman di dating apps dapat membantu seseorang memahami pola hubungan yang sebenarnya dia butuhkan
Salah satu manfaat yang sering tidak dibicarakan adalah kemampuan untuk belajar dari interaksi.
Setiap percakapan dapat memberikan informasi.
Bukan hanya tentang orang lain, tetapi juga tentang diri sendiri.
Misalnya, setelah beberapa kali berinteraksi, seseorang mungkin mulai menyadari:
"Saya ternyata tidak cocok dengan orang yang terlalu intens sejak awal."
Atau:
"Saya membutuhkan pasangan yang komunikasinya konsisten."
Atau:
"Saya lebih menyukai orang yang bisa berbicara secara langsung daripada orang yang suka bermain tarik-ulur."
Atau bahkan:
"Ternyata saya belum siap menjalani hubungan."
Kesadaran semacam ini sangat berharga.
Dalam psikologi, pengalaman dapat membantu seseorang membangun pemahaman yang lebih realistis mengenai preferensi, batasan, dan kebutuhan interpersonalnya.
Tanpa pengalaman, seseorang bisa memiliki gambaran ideal tentang pasangan yang sebenarnya belum pernah diuji dalam realitas.
Dating apps—dengan segala kekurangannya—dapat memberikan kesempatan untuk menguji asumsi tersebut.
Tentu, seseorang tidak perlu berkencan dengan banyak orang untuk mendapatkan pembelajaran ini.
Kadang beberapa interaksi saja sudah cukup untuk membuat seseorang menyadari pola tertentu.
Dan semakin seseorang memahami dirinya sendiri, semakin mudah baginya membuat keputusan yang sehat dalam hubungan.
7. Karena orang yang paling tidak menyukai dating apps justru bisa mendapatkan manfaat dari pendekatan yang lebih selektif
Ironisnya, orang yang membenci dating apps mungkin justru cocok menggunakan aplikasi dengan cara yang sangat berbeda dari pengguna pada umumnya.
Mereka tidak harus mengejar jumlah match.
Tidak harus membuat profil yang sempurna.
Tidak harus menjadi sangat aktif.
Tidak harus mengubah kepribadian agar terlihat menarik.
Sebaliknya, mereka dapat menggunakan prinsip quality over quantity.
Satu percakapan yang bermakna bisa lebih bernilai daripada puluhan match yang tidak pernah berkembang.
Satu pertemuan yang nyaman bisa lebih berarti daripada berbulan-bulan melakukan swipe.
Dan satu hubungan yang sehat jelas lebih penting daripada banyaknya angka yang muncul di layar.
Pendekatan ini juga dapat membantu mengurangi kecenderungan memperlakukan dating apps sebagai permainan.
Karena masalah terbesar bukan selalu aplikasinya.
Kadang masalahnya adalah cara seseorang menggunakannya.
Jika dating apps dipakai seperti mesin validasi—"berapa orang yang menyukaiku?"—pengalaman itu mudah berubah menjadi kompetisi.
Tetapi jika digunakan seperti alat perkenalan—"siapa orang yang benar-benar ingin saya kenal?"—pengalamannya bisa jauh lebih sehat.
Jadi, Haruskah Semua Orang Memiliki Profil Dating Apps?
Tidak.
Ini penting.
Psikologi tidak mengatakan bahwa setiap orang wajib menggunakan dating apps.
Ada orang yang memang lebih cocok bertemu pasangan melalui teman, komunitas, pekerjaan, hobi, kegiatan sosial, atau pertemuan langsung.
Ada pula orang yang pernah mengalami pengalaman negatif dan memilih tidak menggunakan aplikasi tersebut. Keputusan itu sepenuhnya valid.
Yang perlu dibedakan adalah:
"Saya tidak suka dating apps"
dengan
"Saya tidak akan pernah memberi diri saya kesempatan untuk bertemu orang baru melalui medium apa pun yang tidak familiar bagi saya."
Keduanya adalah hal yang berbeda.
Jika seseorang benar-benar tidak nyaman menggunakan aplikasi, dia tidak perlu memaksakan diri.
Tetapi jika yang membuatnya menjauh hanyalah stigma, rasa malu, atau anggapan bahwa memiliki profil berarti terlihat desperate, mungkin ada baiknya mengubah cara pandangnya.
Memiliki profil bukan berarti seseorang kekurangan pilihan.
Bukan berarti dia kesepian.
Bukan berarti dia sedang mengejar pernikahan.
Dan bukan berarti dia harus aktif setiap hari.
Kadang-kadang profil dating apps hanya berarti:
"Saya terbuka terhadap kemungkinan."
Dan dalam kehidupan romantis, kemungkinan itu penting.
Pada Akhirnya, Dating Apps Hanyalah Alat
Dating apps sering menjadi sasaran kritik karena membuat proses mencari pasangan terasa terlalu mekanis.
Kritik tersebut bisa saja benar.
Manusia memang jauh lebih kompleks daripada beberapa foto, bio singkat, dan beberapa pilihan preferensi.
Namun, manusia juga selalu menggunakan alat untuk memperluas hubungan sosial.
Kita bertemu orang melalui sekolah.
Melalui pekerjaan.
Melalui teman.
Melalui komunitas.
Melalui perjalanan.
Dan sekarang, melalui teknologi.
Tidak ada satu pun medium yang menjamin kita menemukan orang yang tepat.
Karena itu, mungkin cara terbaik melihat dating apps bukan sebagai solusi untuk mendapatkan pasangan, melainkan sebagai salah satu pintu menuju kemungkinan hubungan.
Seseorang boleh membenci budaya swipe.
Boleh tidak suka algoritmanya.
Boleh merasa awkward.
Boleh menggunakan aplikasi hanya sesekali.
Boleh sangat selektif.
Tetapi selama pengalaman tersebut aman, sehat, dan berada dalam kendalinya, memiliki profil bisa menjadi cara sederhana untuk mengatakan kepada dunia:
"Saya tidak sedang mengejar siapa pun. Tetapi saya juga tidak menutup pintu jika seseorang yang tepat datang."
Dan mungkin, secara psikologis, itulah alasan paling masuk akal untuk tetap memiliki profil dating apps meskipun kita sebenarnya membencinya.