← Beranda
Tak Selalu Buruk, 7 Kebiasaan yang Sering Ditemukan pada Orang dengan Rasa Ingin Tahu Tinggi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 20 Agustus 2026 | 05.31 WIB
ciri kepribadian orang yang sering lupa ketika percakapan menurut Psikologi./Freepik.

JawaPos.com - Setiap orang mempunyai cara berbeda dalam berpikir dan menjalani aktivitas sehari-hari. Beberapa perilaku bahkan kerap dianggap aneh hanya karena tidak sesuai dengan kebiasaan mayoritas.

Padahal, dari sudut pandang psikologi, sejumlah kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan proses kognitif seperti kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan memecahkan masalah, hingga cara seseorang menyaring informasi.

Meski demikian, penting dipahami bahwa satu kebiasaan saja tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan seseorang cerdas atau memiliki kemampuan intelektual tinggi. Kebiasaan tersebut lebih tepat dilihat sebagai fenomena menarik yang mungkin berhubungan dengan pola pikir tertentu.

Dilansir dari geediting.com, berikut tujuh perilaku yang sering dikaitkan dengan kemampuan kognitif dan kreativitas.

Baca Juga: Ingin Anak Remaja Berhenti Galau Akibat Sering Scroll Ponsel? Lakukan 7 Perilaku Menurut Psikologi

1. Sering Melamun dan Membiarkan Pikiran Mengembara

Melamun tidak selalu berarti seseorang sedang tidak produktif. Dalam kondisi tertentu, pikiran yang bebas berkelana justru dapat membantu seseorang mengembangkan ide dan menemukan hubungan antara berbagai informasi.

Ketika tidak sedang berkonsentrasi pada tugas tertentu, otak tetap dapat melakukan proses pengolahan informasi. Dari sinilah terkadang muncul gagasan baru, solusi terhadap masalah, atau sudut pandang yang sebelumnya belum terpikirkan.

Karena itu, sesekali membiarkan pikiran beristirahat dan mengembara bisa menjadi bagian dari proses kreatif.

2. Lebih Produktif Saat Suasana Malam

Sebagian orang merasa pikirannya justru lebih aktif ketika suasana mulai tenang pada malam hari. Minimnya gangguan membuat mereka lebih mudah berkonsentrasi pada pekerjaan atau aktivitas yang membutuhkan pemikiran mendalam.

Namun, menjadi pribadi yang aktif pada malam hari bukan berarti otomatis lebih cerdas. Produktivitas seseorang sangat dipengaruhi oleh ritme tubuh, kebiasaan tidur, lingkungan, dan jenis pekerjaan yang dilakukan.

Jika seseorang memang merasa lebih fokus pada malam hari, kondisi tersebut mungkin merupakan waktu ketika konsentrasinya berada pada tingkat terbaik.

3. Nyaman Menghabiskan Waktu Sendiri

Menikmati kesendirian tidak selalu menunjukkan seseorang antisosial. Bagi sebagian orang, waktu sendiri justru menjadi kesempatan untuk berpikir, melakukan evaluasi diri, membaca, atau mengembangkan berbagai gagasan.

Mereka mungkin membutuhkan suasana yang lebih tenang agar dapat memproses informasi tanpa terlalu banyak rangsangan dari lingkungan sekitar.

Kesendirian yang dipilih secara sadar juga berbeda dengan perasaan terisolasi. Seseorang dapat menikmati waktu sendiri sekaligus tetap mempunyai hubungan sosial yang sehat.

4. Selalu Penasaran dan Gemar Bertanya

Rasa ingin tahu merupakan salah satu karakter yang menarik dalam proses belajar. Orang yang memiliki rasa penasaran tinggi biasanya tidak mudah puas dengan jawaban sederhana.

Mereka cenderung bertanya tentang alasan di balik suatu kejadian, mencari informasi tambahan, serta mencoba memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang.

Kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang memperluas pengetahuan dan melatih kemampuan berpikir kritis. Jadi, banyak bertanya tidak selalu berarti merepotkan orang lain; dalam konteks yang tepat, hal itu bisa menjadi dorongan untuk terus belajar.

5. Kadang Lupa pada Hal-Hal Kecil

Pernah lupa meletakkan barang, nama seseorang, atau detail sederhana bukan berarti seseorang memiliki kemampuan intelektual rendah.

Ingatan manusia memang tidak bekerja seperti kamera yang menyimpan seluruh informasi secara sempurna. Otak harus memilih informasi mana yang perlu dipertahankan dan mana yang dianggap kurang penting.

Kelupaan juga bisa dipengaruhi banyak faktor, seperti kurang tidur, stres, banyaknya pekerjaan, usia, maupun kurangnya perhatian ketika informasi pertama kali diterima.

Jadi, kebiasaan lupa tidak bisa dijadikan bukti seseorang lebih cerdas. Namun, cara otak memilih dan memprioritaskan informasi memang merupakan bagian menarik dari proses kognitif.

6. Tidak Terlalu Mempermasalahkan Ruang yang Berantakan

Meja kerja atau kamar yang tidak selalu rapi juga sering dikaitkan dengan orang-orang yang memiliki pola kerja kreatif.

Bagi sebagian orang, barang yang tampak berantakan sebenarnya tetap memiliki pola tertentu yang mereka pahami. Mereka mungkin lebih fokus pada gagasan atau pekerjaan daripada memastikan lingkungan selalu tertata sempurna.

Meski begitu, ruangan berantakan bukan tanda pasti kreativitas maupun kecerdasan. Yang lebih penting adalah apakah kondisi tersebut membantu atau justru menghambat produktivitas seseorang.

7. Menyukai Humor dan Sarkasme

Memahami sarkasme membutuhkan kemampuan menangkap konteks dan membedakan antara makna literal dengan maksud sebenarnya.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan untuk menyampaikan humor atau sindiran, pendengar perlu memahami situasi, intonasi, serta konteks percakapan.

Karena itu, kemampuan menikmati humor yang kompleks dapat menunjukkan adanya fleksibilitas dalam memahami bahasa dan perspektif. Namun sekali lagi, menyukai sarkasme tidak otomatis berarti seseorang mempunyai kecerdasan lebih tinggi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho