← Beranda
Tidak Ingin Mengalami Penurunan Kemampuan Berpikir Kritis Akibat AI? Lakukan 7 Kebiasaan Ini
Irfan FerdiansyahRabu, 19 Agustus 2026 | 23.13 WIB
seseorang yang berusaha berpikir kritis./Magnific/magnific

JawaPos.com - Kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia mencari informasi, bekerja, belajar, bahkan mengambil keputusan. Dalam hitungan detik, AI dapat menjelaskan konsep yang rumit, merangkum buku, membuat tulisan, memberikan ide, hingga membantu menyelesaikan berbagai persoalan.

Kemudahan ini tentu sangat berguna. Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan: apa yang terjadi jika kita terlalu sering membiarkan AI berpikir untuk kita?

Masalahnya bukan semata-mata karena AI “membuat manusia menjadi bodoh”. Persoalan yang lebih halus adalah ketika seseorang semakin jarang menggunakan kemampuan mental yang sebelumnya ia gunakan secara aktif: mempertanyakan informasi, membandingkan bukti, mengingat, menyusun argumen, mencari kesalahan, dan mengambil keputusan berdasarkan penalarannya sendiri.

Dalam psikologi kognitif, kemampuan tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang kita ketahui, tetapi juga oleh seberapa sering kita melatih proses berpikir tersebut. Jika suatu proses mental terus digunakan, kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Sebaliknya, jika selalu dialihkan kepada alat eksternal, kita bisa kehilangan kesempatan untuk berlatih.

Karena itu, penggunaan AI yang sehat bukanlah tentang menolak teknologi. Justru sebaliknya: kita perlu belajar menggunakan AI tanpa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (17/8), terdapat tujuh kebiasaan yang dapat membantu mempertahankan kemampuan berpikir kritis di era kecerdasan buatan.

1. Biasakan Berpikir Sendiri Sebelum Bertanya kepada AI

Salah satu kebiasaan paling sederhana sekaligus paling penting adalah: jangan langsung bertanya kepada AI ketika menghadapi masalah.

Berikan otak Anda kesempatan untuk mencoba terlebih dahulu.

Misalnya, ketika mendapatkan sebuah pertanyaan sulit, jangan langsung mengetik:

“Apa jawaban dari pertanyaan ini?”

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sudah saya ketahui?
Apa yang sebenarnya ditanyakan?
Apa kemungkinan jawabannya?
Mengapa saya berpikir demikian?
Bukti apa yang mendukung dugaan saya?
Bagian mana yang masih belum saya pahami?

Baru setelah itu gunakan AI.

Kebiasaan ini penting karena proses berpikir bukan hanya menghasilkan jawaban. Proses menuju jawaban juga merupakan latihan mental.

Dalam psikologi belajar, usaha mental yang dilakukan sebelum mendapatkan jawaban dapat membantu memperkuat proses pemahaman. Jika seseorang selalu melewati tahap tersebut karena langsung menerima jawaban dari AI, ia memang mendapatkan hasil lebih cepat, tetapi kehilangan sebagian kesempatan untuk melatih kemampuan berpikirnya.

Gunakan prinsip “coba dulu, AI kemudian”

Anda tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan sebelum menggunakan AI.

Bahkan usaha sederhana selama beberapa menit sudah bisa mengubah pola penggunaan AI.

Contohnya, daripada berkata:

“Tolong jelaskan mengapa inflasi terjadi.”

Anda bisa mencoba:

“Menurut pemahaman saya, inflasi terjadi ketika harga barang dan jasa secara umum meningkat. Saya menduga salah satu penyebabnya adalah permintaan yang terlalu tinggi dibandingkan pasokan. Apakah penalaran saya benar? Apa yang saya lewatkan?”

Pertanyaan kedua jauh lebih menarik.

AI tidak lagi menjadi pengganti pemikiran, tetapi menjadi partner untuk menguji pemikiran.

2. Jangan Hanya Meminta Jawaban, Mintalah AI Mengkritik Penalaran Anda

Banyak orang menggunakan AI sebagai mesin jawaban.

Padahal, salah satu cara yang lebih bermanfaat adalah menggunakan AI sebagai lawan diskusi intelektual.

Setelah Anda memiliki sebuah kesimpulan, jangan berhenti pada pertanyaan:

“Apakah jawaban saya benar?”

Cobalah bertanya:

“Apa kelemahan argumen saya?”

Atau:

“Apa bukti yang dapat membantah kesimpulan saya?”

Atau:

“Jika Anda tidak setuju dengan saya, apa argumen terkuat yang bisa digunakan?”

Kebiasaan ini berkaitan dengan kemampuan metakognisi, yaitu kemampuan untuk mengamati dan mengevaluasi proses berpikir sendiri.

Orang yang berpikir kritis bukanlah orang yang selalu benar.

Justru, orang yang berpikir kritis memiliki kemampuan untuk mengatakan:

“Mungkin saya salah. Mari kita periksa.”

AI dapat membantu proses ini jika digunakan secara tepat.

Misalnya Anda memiliki pendapat bahwa bekerja dari rumah selalu meningkatkan produktivitas. Daripada meminta AI membuat artikel yang mendukung pendapat tersebut, Anda bisa meminta:

“Saya percaya bekerja dari rumah meningkatkan produktivitas. Berikan tiga alasan terkuat yang mendukung pendapat saya dan tiga alasan terkuat yang membantahnya. Jangan mencoba menyenangkan saya.”

Sekarang Anda sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar mencari informasi.

Anda sedang melatih kemampuan melihat masalah dari berbagai perspektif.

3. Biasakan Memverifikasi Informasi, Bahkan Ketika Jawaban AI Terdengar Meyakinkan

Salah satu bahaya penggunaan AI adalah jawaban yang terdengar sangat meyakinkan belum tentu benar.

AI dapat menghasilkan informasi yang salah, menyederhanakan persoalan secara berlebihan, atau memberikan kesimpulan yang tidak memiliki dasar kuat.

Masalahnya, manusia cenderung lebih mudah menerima informasi ketika informasi tersebut disampaikan dengan percaya diri dan masuk akal.

Karena itu, jangan menjadikan kelancaran bahasa sebagai indikator kebenaran.

Jawaban yang terdengar profesional tetap harus diperiksa.

Biasakan menggunakan tiga pertanyaan:

“Dari mana informasi ini berasal?”

Jika jawabannya berupa fakta penting, cari sumber yang dapat dipercaya.

“Apa buktinya?”

Jangan hanya menerima kesimpulan. Perhatikan data atau alasan yang mendukungnya.

“Apakah ada penjelasan lain?”

Sebuah fenomena hampir selalu dapat memiliki lebih dari satu kemungkinan penyebab.

Misalnya AI mengatakan:

“Orang yang bangun pagi lebih sukses karena bangun pagi meningkatkan produktivitas.”

Jangan langsung menerimanya.

Pertanyakan:

Apa definisi “sukses”?
Apakah terdapat penelitian yang mendukung klaim tersebut?
Apakah orang sukses memang lebih sering bangun pagi?
Atau justru orang yang memiliki pekerjaan tertentu lebih memungkinkan bangun pagi?
Apakah ada faktor lain seperti disiplin, kondisi sosial, kesehatan, atau jenis pekerjaan?

Inilah inti berpikir kritis: memisahkan klaim, bukti, asumsi, dan kesimpulan.

4. Sisihkan Waktu untuk Membaca Sesuatu yang Tidak Dirangkum AI

Ringkasan memang praktis.

Namun, jika seluruh informasi selalu dikonsumsi dalam bentuk ringkasan, kita berisiko kehilangan latihan penting: berinteraksi langsung dengan argumen yang kompleks.

Buku, artikel panjang, laporan penelitian, esai, dan tulisan mendalam sering kali tidak hanya memberikan kesimpulan.

Mereka menunjukkan bagaimana kesimpulan tersebut dibangun.

Anda melihat:

bagaimana penulis mendefinisikan masalah,
bagaimana bukti dikumpulkan,
bagaimana argumen disusun,
bagaimana keberatan dijawab,
dan bagaimana sebuah kesimpulan akhirnya dibuat.

Semua itu merupakan latihan berpikir.

Karena itu, tidak ada salahnya membuat aturan sederhana:

Tidak semua hal harus diringkas.

Misalnya, setiap minggu pilih satu tulisan panjang yang Anda baca secara utuh tanpa meminta AI merangkumnya terlebih dahulu.

Ketika menemukan bagian sulit, jangan langsung menyerahkannya kepada AI.

Cobalah memahami sendiri.

Jika masih belum mengerti, barulah gunakan AI untuk membantu menjelaskan.

Dengan cara tersebut, AI berfungsi seperti tutor, bukan seperti pengganti proses belajar.

5. Latih Diri Menjelaskan Sesuatu dengan Bahasa Sendiri

Salah satu cara terbaik untuk mengetahui apakah Anda benar-benar memahami sesuatu adalah mencoba menjelaskannya tanpa bantuan.

Setelah membaca sebuah artikel, menonton video, mengikuti kelas, atau berdiskusi dengan AI, tutup sumber tersebut.

Kemudian tanyakan:

“Bisakah saya menjelaskan ini dengan kata-kata saya sendiri?”

Jika tidak bisa, mungkin pemahaman Anda belum sedalam yang Anda kira.

Ini berkaitan dengan prinsip belajar aktif. Mengingat dan menjelaskan kembali informasi membutuhkan usaha mental yang berbeda dibandingkan sekadar membaca atau mengenali jawaban yang sudah tersedia.

Cobalah teknik sederhana berikut.

Metode “jelaskan kepada anak 12 tahun”

Ambil sebuah konsep yang baru Anda pelajari.

Kemudian jelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin.

Hindari jargon.

Misalnya Anda baru memahami konsep inflasi. Jangan hanya mengatakan:

“Inflasi adalah peningkatan tingkat harga umum secara berkelanjutan.”

Cobalah menjelaskan:

“Inflasi berarti dengan jumlah uang yang sama, kita secara umum dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dibandingkan sebelumnya.”

Kemudian cari bagian yang masih sulit Anda jelaskan.

Bagian itulah yang perlu dipelajari lebih lanjut.

AI dapat membantu setelah Anda mencoba:

“Ini penjelasan saya tentang konsep X. Identifikasi bagian yang tidak akurat atau terlalu menyederhanakan, tetapi jangan langsung menulis ulang semuanya.”

Dengan demikian, Anda tetap menjadi orang yang melakukan pekerjaan intelektual utama.

6. Jangan Biarkan AI Selalu Memilihkan Apa yang Harus Anda Pikirkan

Algoritma dan AI sangat pandai memberikan rekomendasi.

Apa yang harus dibaca.

Apa yang harus ditonton.

Ide mana yang lebih bagus.

Pilihan mana yang sebaiknya diambil.

Namun ada perbedaan antara dibantu mengambil keputusan dan tidak pernah mengambil keputusan sendiri.

Jika setiap keputusan kecil diserahkan kepada mesin, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan penilaian pribadi.

Cobalah membuat aturan:

Untuk keputusan yang tidak penting, putuskan sendiri terlebih dahulu.

Misalnya:

“Menurut saya pilihan A lebih baik karena alasan X dan Y.”

Setelah itu Anda dapat meminta AI mengevaluasinya:

“Berikut alasan saya memilih A. Apakah ada faktor penting yang belum saya pertimbangkan?”

Cara ini berbeda dengan:

“Mana yang harus saya pilih?”

Perbedaannya tampak kecil, tetapi secara mental sangat besar.

Dalam pola pertama, Anda membuat keputusan dan AI membantu menguji keputusan tersebut.

Dalam pola kedua, AI membuat keputusan dan Anda tinggal menerima hasilnya.

Untuk keputusan yang berdampak besar, tentu semakin penting untuk menggunakan berbagai sumber, mempertimbangkan konteks pribadi, dan bila perlu berkonsultasi dengan orang yang kompeten.

7. Jadwalkan “Zona Tanpa AI” untuk Melatih Otak

Kebiasaan terakhir mungkin yang paling sulit: sesekali sengaja menggunakan otak tanpa bantuan AI.

Tidak perlu dilakukan sepanjang hari.

Anda bisa membuat periode tertentu, misalnya:

30 menit membaca tanpa AI,
20 menit menulis tanpa AI,
mengerjakan soal sebelum melihat bantuan,
memecahkan masalah sebelum mencari solusi,
atau menulis pendapat pribadi sebelum meminta AI memberikan perspektif lain.

Tujuannya bukan untuk memusuhi teknologi.

Tujuannya adalah memastikan bahwa kemampuan berpikir Anda tetap aktif ketika teknologi tidak tersedia.

Bayangkan AI seperti kalkulator.

Kalkulator sangat berguna. Namun jika seseorang tidak pernah melakukan perhitungan dasar sama sekali, kemampuan numeriknya bisa melemah karena tidak pernah digunakan.

Prinsip serupa dapat diterapkan pada kemampuan kognitif.

AI seharusnya menjadi alat yang memperbesar kemampuan manusia, bukan tongkat yang membuat manusia tidak mampu berjalan tanpanya.

AI Bukan Musuh Berpikir Kritis—Cara Kita Menggunakannya yang Menentukan

Perdebatan tentang AI sering terjebak pada pertanyaan:

“Apakah AI akan membuat manusia menjadi kurang cerdas?”

Pertanyaan yang lebih berguna sebenarnya adalah:

“Kebiasaan menggunakan AI seperti apa yang membuat kemampuan berpikir kita berkembang, dan kebiasaan seperti apa yang membuat kita semakin pasif?”

AI dapat digunakan dengan dua cara yang sangat berbeda.

Cara pertama adalah:

“Berikan saya jawabannya.”

Cara kedua:

“Ini pemikiran saya. Bantu saya menguji, memperbaiki, dan menantangnya.”

Keduanya sama-sama menggunakan AI, tetapi proses kognitif yang terjadi pada manusia sangat berbeda.

Jika setiap kali menghadapi kesulitan kita langsung meminta jawaban, kita mungkin menghemat waktu tetapi mengurangi kesempatan untuk berlatih.

Sebaliknya, jika kita mencoba terlebih dahulu, mengajukan pertanyaan, memeriksa bukti, mencari kelemahan argumen, membaca sumber asli, dan mengevaluasi hasil AI, teknologi tersebut justru dapat menjadi alat untuk meningkatkan kualitas berpikir.

Pada akhirnya, berpikir kritis bukan kemampuan yang cukup dimiliki secara pasif. Ia perlu digunakan.

Jadi, jika Anda ingin tetap memiliki kemampuan berpikir yang tajam di tengah perkembangan AI, jangan berusaha menjadi orang yang tidak pernah menggunakan AI.

Jadilah orang yang tahu kapan harus menggunakan AI—dan tahu kapan harus berpikir sendiri.

Tujuh kebiasaan yang dapat dimulai hari ini adalah:

Berpikir sendiri sebelum bertanya kepada AI.
Meminta AI mengkritik penalaran, bukan sekadar memberikan jawaban.
Memverifikasi informasi dan tidak menganggap jawaban yang meyakinkan sebagai kebenaran.
Tetap membaca sumber panjang tanpa selalu mengandalkan ringkasan.
Menjelaskan kembali sesuatu dengan bahasa sendiri.
Membuat keputusan sendiri sebelum meminta AI mengevaluasinya.
Menyediakan waktu khusus untuk berpikir tanpa bantuan AI.

Teknologi akan terus berkembang. Kemampuan AI kemungkinan juga akan semakin mengesankan.

Justru karena itulah kemampuan manusia untuk mempertanyakan, menilai, memahami, dan mengambil keputusan secara mandiri menjadi semakin berharga.

Gunakan AI untuk mempercepat pekerjaan.

Gunakan AI untuk menemukan perspektif baru.

Gunakan AI untuk menjadi lawan diskusi.

Tetapi jangan menyerahkan seluruh pekerjaan berpikir kepadanya.

Karena tujuan teknologi seharusnya bukan membuat manusia berhenti berpikir, melainkan membantu manusia berpikir dengan lebih baik.

EDITOR: Hanny Suwindari