JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang dan merasa obrolan dengannya mengalir begitu saja?
Awalnya hanya berbicara tentang pekerjaan, hobi, film, makanan, atau aktivitas sehari-hari. Namun, entah bagaimana, beberapa saat kemudian percakapan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih pribadi.
Anda mulai mengetahui apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka takutkan, apa yang mereka harapkan, bahkan pengalaman yang jarang mereka ceritakan kepada orang lain.
Menariknya, kedekatan emosional tidak selalu membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Tentu, kepercayaan yang mendalam memang membutuhkan waktu. Tidak ada pertanyaan ajaib yang dapat membuat seseorang langsung percaya kepada kita.
Namun, psikologi menunjukkan bahwa jenis pertanyaan yang kita ajukan dapat memengaruhi seberapa dalam sebuah percakapan berkembang.
Percakapan yang hanya berisi fakta cenderung membuat kita saling mengetahui informasi. Sebaliknya, percakapan yang menyentuh pengalaman, nilai, emosi, harapan, dan sisi rentan seseorang dapat menciptakan rasa saling memahami yang lebih kuat.
Karena itu, jika Anda ingin membangun kedekatan emosional dengan seseorang—entah teman baru, pasangan, calon pasangan, anggota keluarga, atau seseorang yang sedang Anda dekati—cobalah mengajukan pertanyaan yang membuka ruang bagi mereka untuk menjadi lebih autentik.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (19/8), terdapat tujuh pertanyaan yang dapat membantu.
1. “Hal apa yang belakangan ini paling sering memenuhi pikiranmu?”
Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi jauh lebih dalam daripada sekadar bertanya, “Apa kabar?”
Ketika seseorang ditanya tentang apa yang sedang memenuhi pikirannya, mereka mendapatkan kesempatan untuk memilih sendiri bagian hidup mana yang ingin mereka ceritakan.
Mungkin jawabannya adalah pekerjaan.
Mungkin tentang keluarga.
Mungkin tentang hubungan yang sedang mereka jalani.
Mungkin tentang sebuah impian yang belum tercapai.
Atau mungkin sesuatu yang bahkan belum pernah mereka ceritakan kepada siapa pun.
Yang menarik adalah Anda tidak langsung meminta mereka membuka rahasia. Anda hanya memberikan ruang.
Dalam komunikasi interpersonal, hal semacam ini penting karena orang cenderung merasa lebih nyaman ketika mereka memiliki kendali atas seberapa banyak informasi pribadi yang ingin mereka bagikan.
Jika jawabannya cukup terbuka, jangan buru-buru mengganti topik.
Anda bisa melanjutkan dengan:
“Kenapa hal itu begitu penting buatmu?”
atau:
“Sudah lama kamu memikirkan hal itu?”
Dengan begitu, percakapan bergerak dari apa yang terjadi menuju mengapa hal tersebut berarti bagi mereka.
Di situlah kedekatan emosional mulai terbentuk.
2. “Pengalaman apa yang paling banyak mengubah cara kamu melihat hidup?”
Ini adalah pertanyaan tentang pengalaman yang membentuk seseorang.
Setiap orang memiliki momen yang membuat mereka berubah.
Ada yang pernah mengalami kegagalan besar.
Ada yang kehilangan seseorang.
Ada yang pernah mendapatkan kesempatan kedua.
Ada yang pindah ke tempat baru dan terpaksa memulai semuanya dari awal.
Ada pula yang mengalami keberhasilan yang kemudian mengubah cara mereka memandang diri sendiri.
Pertanyaan ini menarik karena tidak sekadar meminta seseorang menceritakan kejadian.
Anda sebenarnya sedang bertanya:
“Apa yang membuatmu menjadi dirimu yang sekarang?”
Jawabannya dapat memberikan gambaran tentang nilai, prinsip, dan cara seseorang memaknai kehidupannya.
Namun, jangan menggunakannya seperti wawancara.
Jika orang tersebut menceritakan sesuatu yang berat, dengarkan. Jangan langsung mencoba memberikan solusi.
Sering kali, respons sederhana seperti:
“Aku bisa mengerti kenapa pengalaman itu mengubahmu.”
jauh lebih bermakna daripada nasihat panjang.
Kedekatan emosional bukan hanya tercipta karena seseorang bercerita.
Ia tercipta ketika seseorang merasa ceritanya diterima dan dipahami.
3. “Apa sesuatu yang kamu inginkan dalam hidup, tetapi jarang kamu ceritakan kepada orang lain?”
Pertanyaan ini mulai memasuki wilayah yang lebih personal.
Manusia tidak hanya memiliki kehidupan yang terlihat dari luar. Kita juga memiliki dunia batin yang berisi keinginan, impian, ketakutan, dan kemungkinan tentang masa depan.
Tidak semua keinginan itu kita ceritakan kepada orang lain.
Kadang karena takut dianggap tidak realistis.
Kadang karena kita belum yakin dapat mencapainya.
Kadang karena impian tersebut terlalu pribadi.
Ketika Anda memberikan ruang untuk membicarakannya, seseorang mungkin mulai memperlihatkan sisi dirinya yang biasanya tidak terlihat.
Misalnya, seseorang yang selama ini terlihat sangat serius ternyata memiliki impian untuk membuka usaha kecil di pinggir pantai.
Atau seseorang yang terlihat sangat percaya diri ternyata sebenarnya ingin meninggalkan pekerjaan yang tidak membuatnya bahagia dan memulai hidup baru.
Hal-hal seperti inilah yang membuat kita merasa lebih mengenal seseorang.
Namun, ada satu hal penting.
Jangan memaksa.
Jika seseorang mengatakan mereka belum ingin membicarakannya, hormati jawabannya.
Kedekatan yang sehat tidak dibangun dengan memaksa orang membuka diri. Ia dibangun dengan menciptakan rasa aman sehingga orang tersebut memilih sendiri untuk membuka diri.
4. “Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar menjadi dirimu sendiri?”
Ini salah satu pertanyaan yang sangat kuat karena menyentuh identitas.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memainkan berbagai peran.
Di tempat kerja kita mungkin harus profesional.
Di depan keluarga kita mungkin menjadi anak atau orang tua.
Di hadapan teman kita mungkin menjadi sosok yang humoris.
Di media sosial, kita bahkan dapat memilih versi diri yang ingin diperlihatkan kepada dunia.
Namun, siapa diri kita ketika semua peran tersebut dilepaskan?
Pertanyaan ini dapat membuat seseorang mengingat situasi ketika mereka merasa paling bebas menjadi dirinya sendiri.
Mungkin ketika sedang bersama sahabat tertentu.
Mungkin saat melakukan hobi.
Mungkin ketika bepergian sendirian.
Mungkin ketika bersama keluarga.
Atau bahkan ketika berada sendirian di kamar.
Jawaban atas pertanyaan ini dapat mengungkap banyak hal tentang kebutuhan emosional seseorang.
Jika mereka mengatakan, misalnya, “Aku paling menjadi diriku sendiri ketika bersama orang yang tidak menghakimiku,” maka Anda mendapatkan informasi penting tentang apa yang membuat mereka merasa aman secara emosional.
Dan ketika Anda mengetahui hal itu, Anda bisa belajar berinteraksi dengan mereka secara lebih autentik.
5. “Apa hal yang paling kamu takutkan akan disalahpahami orang tentang dirimu?”
Pertanyaan ini jauh lebih dalam daripada pertanyaan tentang ketakutan biasa.
Kita semua memiliki sisi diri yang mungkin tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Seseorang yang tampak dingin mungkin sebenarnya sangat sensitif.
Seseorang yang banyak bercanda mungkin menggunakan humor untuk menyembunyikan rasa tidak aman.
Seseorang yang terlihat mandiri mungkin sebenarnya sangat takut ditinggalkan.
Seseorang yang terlihat ambisius mungkin sebenarnya hanya ingin mendapatkan pengakuan dari orang-orang yang mereka cintai.
Tentu, kita tidak boleh mengasumsikan bahwa seseorang pasti memiliki alasan tertentu di balik perilakunya.
Tetapi pertanyaan ini membuka kesempatan bagi mereka untuk menjelaskannya sendiri.
Dan itu sangat penting.
Sering kali kita mengenal seseorang berdasarkan perilakunya, bukan berdasarkan alasan di balik perilaku tersebut.
Dengan pertanyaan ini, Anda memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkata:
“Orang-orang sering menganggap aku seperti ini, padahal sebenarnya…”
Kalimat seperti itu dapat membuka percakapan yang sangat personal.
Jika seseorang memberikan jawaban yang rentan, jangan menjadikannya bahan candaan atau menggunakannya untuk melawan mereka di kemudian hari.
Kepercayaan dapat dibangun dalam satu percakapan, tetapi juga dapat rusak dalam satu tindakan.
6. “Menurutmu, seperti apa hubungan yang membuat seseorang merasa benar-benar aman?”
Pertanyaan ini sangat berguna ketika Anda ingin memahami cara seseorang memandang hubungan.
Yang menarik, jangan hanya menganggap pertanyaan ini relevan untuk hubungan romantis.
Jawabannya juga dapat mengungkap bagaimana seseorang memandang persahabatan, keluarga, dan hubungan sosial secara umum.
Bagi sebagian orang, hubungan yang aman berarti bisa berbicara tanpa takut dihakimi.
Bagi orang lain, mungkin berarti memiliki kebebasan dan ruang pribadi.
Ada yang menganggap komunikasi terbuka sebagai hal terpenting.
Ada pula yang sangat menghargai konsistensi, kejujuran, perhatian, atau dukungan ketika menghadapi masalah.
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang.
Justru perbedaan jawaban itulah yang menarik.
Jika Anda sedang mengenal seseorang secara romantis, pertanyaan ini bahkan dapat membantu Anda memahami kebutuhan emosional mereka tanpa harus bertanya secara langsung:
“Apa yang kamu butuhkan dariku?”
Percakapan tentang keamanan emosional juga dapat membuat dua orang lebih mudah membicarakan batasan, ekspektasi, dan cara mereka ingin diperlakukan.
7. “Apa yang ingin kamu ingat tentang hidupmu ketika nanti melihat ke belakang?”
Ini adalah pertanyaan tentang makna.
Bayangkan seseorang sudah berusia sangat tua dan sedang melihat kembali kehidupannya.
Apa yang ingin mereka ingat?
Pekerjaan yang sukses?
Rumah yang besar?
Uang?
Perjalanan?
Atau justru orang-orang yang pernah mereka cintai?
Pertanyaan seperti ini dapat membantu seseorang berbicara tentang prioritas terdalam mereka tanpa harus merasa sedang menjalani sesi psikoterapi.
Jawabannya mungkin mengejutkan.
Seseorang yang terlihat sangat mengejar karier mungkin ternyata paling menghargai waktu bersama keluarga.
Seseorang yang terlihat sederhana mungkin memiliki impian besar untuk meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Seseorang yang tampak sangat mandiri mungkin sebenarnya ingin dikenang sebagai orang yang selalu hadir untuk orang-orang yang dicintainya.
Pertanyaan ini membawa percakapan dari kehidupan sehari-hari menuju sesuatu yang lebih fundamental:
“Apa yang sebenarnya penting bagimu?”
Dan ketika kita memahami apa yang dianggap penting oleh seseorang, kita biasanya merasa jauh lebih mengenal mereka.
Mengapa Pertanyaan Seperti Ini Bisa Membuat Orang Merasa Lebih Dekat?
Ada alasan psikologis mengapa percakapan yang lebih dalam dapat terasa berbeda.
Salah satunya adalah self-disclosure, yaitu proses ketika seseorang mengungkapkan informasi pribadi tentang dirinya kepada orang lain.
Ketika pengungkapan diri berlangsung secara sehat dan timbal balik, dua orang dapat merasa semakin dikenal dan dipahami.
Namun, ada sebuah kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Kedekatan emosional bukan berarti membuat seseorang berbicara sebanyak mungkin.
Jika Anda terus-menerus mengajukan pertanyaan pribadi sementara Anda sendiri tidak pernah membuka diri, percakapan justru dapat terasa seperti interogasi.
Karena itu, prinsip pentingnya adalah timbal balik.
Jika seseorang menjawab:
“Aku sebenarnya ingin sekali pindah dan memulai hidup baru.”
Anda tidak harus langsung bertanya sepuluh pertanyaan lanjutan.
Anda bisa berkata:
“Aku pernah merasakan keinginan seperti itu juga. Kadang kita memang ingin memulai sesuatu dari awal.”
Kemudian, jika mereka tertarik, percakapan akan berkembang secara alami.
Dengan kata lain, jangan hanya menjadi orang yang bertanya.
Jadilah juga orang yang mau hadir dan berbagi.
Jangan Terlalu Cepat Mengajukan Pertanyaan yang Dalam
Ada satu kesalahan yang sering dilakukan ketika orang mengetahui teknik-teknik komunikasi seperti ini.
Mereka menghafalkan daftar pertanyaan lalu menanyakannya satu per satu.
Hasilnya?
Percakapan terasa seperti wawancara kerja.
Padahal, tujuan pertanyaan bukanlah mendapatkan sebanyak mungkin informasi pribadi.
Tujuannya adalah menciptakan ruang percakapan yang aman dan autentik.
Perhatikan respons orang tersebut.
Jika mereka terlihat antusias, lanjutkan.
Jika mereka menjawab pendek dan tampak tidak nyaman, ubah topik.
Jika mereka justru balik bertanya kepada Anda, jawab dengan jujur.
Jika mereka membagikan sesuatu yang sangat pribadi, dengarkan tanpa buru-buru menghakimi.
Karena pada akhirnya, kedekatan emosional bukan tentang menemukan pertanyaan yang sempurna.
Ini tentang bagaimana Anda memperlakukan jawaban yang diberikan.
Kualitas Mendengarkan Lebih Penting daripada Jumlah Pertanyaan
Bayangkan dua orang.
Orang pertama mengajukan dua puluh pertanyaan, tetapi terus melihat ponselnya, memotong pembicaraan, dan sibuk memikirkan pertanyaan berikutnya.
Orang kedua hanya mengajukan tiga pertanyaan, tetapi benar-benar mendengarkan, mengingat detail kecil, dan merespons dengan empati.
Kemungkinan besar, Anda akan merasa lebih dekat dengan orang kedua.
Mengapa?
Karena manusia tidak hanya ingin didengar.
Kita ingin merasa dipahami.
Jadi ketika seseorang menjawab salah satu pertanyaan di atas, perhatikan bukan hanya kata-katanya, tetapi juga emosi di baliknya.
Anda bisa menggunakan respons sederhana seperti:
“Aku belum pernah melihatnya dari sudut pandang itu.”
“Aku bisa mengerti kenapa itu penting buatmu.”
“Kedengarannya pengalaman itu cukup membekas.”
“Aku senang kamu mau cerita tentang itu.”
“Aku penasaran, apa yang kamu pelajari dari pengalaman tersebut?”
Respons seperti ini menunjukkan bahwa Anda tidak sekadar menunggu giliran untuk berbicara.
Anda benar-benar hadir.
Kedekatan Emosional Tidak Bisa Dipaksakan
Ada satu prinsip yang jauh lebih penting daripada tujuh pertanyaan di atas:
Jangan gunakan pertanyaan sebagai trik untuk membuat seseorang cepat terikat kepada Anda.
Psikologi dapat membantu kita memahami komunikasi dan hubungan manusia, tetapi tidak ada teknik yang dapat menggantikan kepercayaan, konsistensi, rasa hormat, dan waktu.
Jika seseorang belum siap terbuka, beri mereka ruang.
Jika mereka tidak ingin menjawab, hormati.
Jika mereka memiliki batasan pribadi, jangan mencoba menerobosnya.
Kedekatan yang sehat bukan ketika seseorang merasa tidak punya pilihan selain membuka dirinya.
Kedekatan yang sehat adalah ketika dua orang merasa:
“Aku bisa menjadi diriku sendiri di dekatmu.”
Itulah fondasi hubungan yang jauh lebih kuat.
Pada Akhirnya, Bukan Pertanyaannya yang Membuat Orang Dekat
Tujuh pertanyaan tadi dapat menjadi pintu masuk:
Hal apa yang belakangan ini paling sering memenuhi pikiranmu?
Pengalaman apa yang paling banyak mengubah cara kamu melihat hidup?
Apa sesuatu yang kamu inginkan dalam hidup, tetapi jarang kamu ceritakan kepada orang lain?
Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar menjadi dirimu sendiri?
Apa hal yang paling kamu takutkan akan disalahpahami orang tentang dirimu?
Menurutmu, seperti apa hubungan yang membuat seseorang merasa benar-benar aman?
Apa yang ingin kamu ingat tentang hidupmu ketika nanti melihat ke belakang?
Namun, pertanyaan hanyalah alat.
Yang benar-benar menciptakan kedekatan adalah rasa aman, perhatian, empati, keterbukaan, dan timbal balik.
Jadi, lain kali Anda sedang berbicara dengan seseorang yang ingin Anda kenal lebih dekat, jangan terlalu sibuk mencari pertanyaan berikutnya.
Dengarkan jawaban mereka.
Perhatikan apa yang membuat mata mereka berbinar.
Perhatikan cerita yang membuat suara mereka berubah.
Perhatikan hal-hal kecil yang mereka anggap penting.
Dan yang paling penting, berikan mereka ruang untuk menjadi diri mereka sendiri.
Karena terkadang, seseorang tidak membutuhkan orang yang paling pintar berbicara.
Mereka hanya membutuhkan seseorang yang membuat mereka merasa:
“Aku tidak perlu berpura-pura ketika bersamamu.”
Dan dari sanalah kedekatan emosional yang sebenarnya sering kali dimulai.