← Beranda
6 Kebiasaan Sehari-hari yang Tak Diduga Bisa Menguras Energi Anda Menurut Psikologi, Apa Sajakah ?
Irfan FerdiansyahRabu, 19 Agustus 2026 | 19.55 WIB
seseorang yang terlalu sering mengecek ponsel./ Magnific/benzoix

JawaPos.com - Pernah merasa lelah padahal hari belum terlalu siang? Anda mungkin tidak sedang melakukan pekerjaan fisik yang berat, tetapi energi terasa terkuras, konsentrasi menurun, dan rasanya ingin segera beristirahat. Menariknya, kelelahan seperti ini tidak selalu disebabkan oleh kurang tidur atau aktivitas yang terlalu padat.

Dalam psikologi, energi mental juga dapat terkuras oleh berbagai aktivitas kecil yang dilakukan berulang-ulang. Hal-hal yang tampak sepele—seperti terlalu sering memeriksa ponsel, menunda pekerjaan, terus-menerus mengambil keputusan kecil, atau memikirkan percakapan yang sudah berlalu—dapat menambah beban kognitif dan emosional.

Masalahnya, kebiasaan tersebut sering kali tidak terasa seperti "pekerjaan". Kita bahkan mungkin menganggapnya sebagai cara untuk bersantai. Namun, jika dilakukan terus-menerus, otak tetap harus memproses informasi, mengendalikan perhatian, membuat keputusan, atau mengelola emosi.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (19/8), terdapat enam kebiasaan sehari-hari yang secara tak terduga dapat menguras energi Anda, beserta penjelasan psikologis di baliknya.

1. Terlalu Sering Memeriksa Ponsel

Membuka ponsel selama beberapa detik mungkin tampak tidak berarti. Anda hanya melihat notifikasi, mengecek pesan, membuka media sosial, lalu kembali bekerja.

Namun, kebiasaan ini dapat memecah perhatian.

Setiap kali perhatian berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, otak perlu menyesuaikan kembali konteks yang sedang diproses. Jika hal ini terjadi puluhan atau bahkan ratusan kali dalam sehari, pekerjaan yang seharusnya sederhana dapat terasa jauh lebih melelahkan.

Yang menguras energi bukan hanya durasi penggunaan ponsel, tetapi juga perpindahan perhatian yang terus-menerus.

Misalnya, Anda sedang membaca laporan. Kemudian muncul notifikasi. Anda membuka pesan. Setelah membalasnya, Anda melihat satu unggahan media sosial. Beberapa menit kemudian Anda kembali ke laporan.

Secara fisik, Anda memang hanya duduk di depan komputer. Tetapi secara mental, perhatian Anda sudah berpindah berkali-kali.

Lebih jauh lagi, ponsel memberikan aliran rangsangan yang sangat cepat. Setiap notifikasi berpotensi membawa informasi baru, sehingga otak terdorong untuk terus memeriksa apakah ada sesuatu yang menarik atau penting.

Mengapa ini membuat lelah?

Otak membutuhkan perhatian yang cukup stabil untuk melakukan pekerjaan kognitif yang mendalam. Ketika perhatian terus terpecah, Anda mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas dan merasa lebih cepat jenuh.

Karena itu, salah satu cara sederhana untuk menghemat energi mental adalah membuat periode tertentu tanpa gangguan.

Anda tidak harus meninggalkan ponsel sepanjang hari. Cobalah menetapkan waktu tertentu untuk memeriksa pesan dan media sosial, sementara pada saat mengerjakan tugas penting, notifikasi dapat diminimalkan.

Istirahat dari layar bukan hanya soal kesehatan mata. Dalam banyak situasi, itu juga merupakan bentuk istirahat bagi perhatian.

2. Terlalu Banyak Mengambil Keputusan Kecil

"Apa yang harus saya makan?"

"Harus memakai baju yang mana?"

"Balas pesan ini sekarang atau nanti?"

"Mulai dari tugas A atau tugas B?"

"Besok mau pergi atau tetap di rumah?"

Setiap pertanyaan mungkin tampak sederhana. Namun sepanjang hari, kita bisa menghadapi begitu banyak pilihan kecil.

Pengambilan keputusan membutuhkan sumber daya mental. Semakin banyak keputusan yang harus dipertimbangkan, semakin besar kemungkinan kita merasa lelah secara psikologis.

Konsep yang sering digunakan untuk menggambarkan fenomena ini adalah decision fatigue, atau kelelahan akibat pengambilan keputusan.

Bayangkan pikiran Anda seperti meja kerja. Setiap keputusan kecil menambahkan satu benda ke atas meja. Satu atau dua benda tidak masalah. Tetapi jika terus ditambahkan tanpa pernah dibereskan, meja menjadi penuh.

Hal yang sama dapat terjadi pada pikiran.

Pada pagi hari, memilih sarapan mungkin mudah. Tetapi setelah berjam-jam membuat keputusan di tempat kerja, menghadapi masalah, menjawab pertanyaan, dan mengatur berbagai hal, keputusan sederhana pada malam hari bisa terasa jauh lebih berat.

Mengapa rutinitas bisa membantu?

Rutinitas mengurangi jumlah keputusan yang harus dibuat.

Misalnya, Anda memiliki pola sarapan yang relatif konsisten, jadwal olahraga tertentu, atau waktu khusus untuk menyelesaikan pekerjaan administratif. Rutinitas bukan berarti membuat hidup menjadi membosankan. Justru, rutinitas dapat membebaskan perhatian untuk hal-hal yang lebih penting.

Prinsip sederhananya adalah:

Jangan gunakan energi untuk memutuskan hal yang sebenarnya bisa dijadikan kebiasaan.

Semakin banyak keputusan kecil yang dapat Anda sederhanakan, semakin banyak energi mental yang tersedia untuk keputusan yang benar-benar membutuhkan pertimbangan.

3. Menunda Pekerjaan Kecil yang Sebenarnya Bisa Diselesaikan

Menunda pekerjaan sering dianggap hanya sebagai masalah disiplin. Padahal, dari perspektif psikologi, penundaan juga berkaitan dengan cara manusia mengelola emosi dan ketidaknyamanan.

Pekerjaan yang tampak kecil bisa terus berada di latar belakang pikiran.

Misalnya, Anda harus membalas satu email. Anda tidak melakukannya karena merasa belum punya waktu. Kemudian Anda melihatnya lagi beberapa jam kemudian. Besok pagi email itu masih ada. Anda kembali mengingatnya.

Secara praktis, Anda mungkin hanya membutuhkan lima menit untuk menyelesaikannya.

Namun selama belum selesai, pekerjaan tersebut tetap dapat menjadi "urusan terbuka" dalam pikiran.

Inilah salah satu alasan mengapa daftar tugas yang terlalu panjang dapat terasa melelahkan meskipun sebagian besar tugas belum dikerjakan.

Beban yang tidak terlihat

Bayangkan Anda memiliki sepuluh pekerjaan kecil yang semuanya belum selesai. Anda mungkin tidak memikirkannya secara sadar setiap detik. Tetapi masing-masing pekerjaan masih menjadi bagian dari daftar mental Anda.

"Aku harus membalas pesan itu."

"Aku harus membayar tagihan."

"Aku harus mengirim dokumen."

"Aku harus memperbaiki file."

"Aku harus menelepon seseorang."

Semakin banyak urusan yang menggantung, semakin besar beban mental yang Anda bawa.

Bukan berarti semua tugas kecil harus langsung dikerjakan saat muncul. Yang lebih penting adalah mengurangi ketidakjelasan.

Jika sebuah tugas memang membutuhkan waktu lama, pecahlah menjadi langkah yang lebih kecil. Jika hanya membutuhkan beberapa menit dan tidak mengganggu prioritas utama, menyelesaikannya segera bisa menjadi pilihan.

Dengan demikian, Anda tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga mengurangi jumlah hal yang harus terus diingat oleh otak.

4. Terlalu Sering Memikirkan Percakapan atau Kesalahan di Masa Lalu

Pernahkah Anda sedang mandi, berkendara, atau hendak tidur lalu tiba-tiba teringat sesuatu yang Anda katakan beberapa jam atau beberapa hari sebelumnya?

"Kenapa tadi saya menjawab seperti itu?"

"Seharusnya saya mengatakan yang berbeda."

"Apakah dia tersinggung?"

"Mengapa saya melakukan kesalahan itu?"

Memikirkan pengalaman masa lalu secara sesekali adalah hal yang normal. Bahkan, refleksi dapat membantu seseorang belajar dari pengalaman.

Masalah muncul ketika refleksi berubah menjadi ruminasi—yaitu pola berpikir berulang mengenai masalah, kesalahan, atau pengalaman negatif tanpa menghasilkan solusi yang jelas.

Ruminasi bisa terasa seperti sedang "mencari jawaban", padahal sebenarnya kita hanya mengulang pertanyaan yang sama.

Berpikir tidak selalu sama dengan menyelesaikan masalah

Ada perbedaan antara:

"Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?"

dan:

"Kenapa saya selalu seperti ini?"

Pertanyaan pertama mengarah pada pembelajaran dan tindakan. Pertanyaan kedua dapat membuat seseorang terus berputar dalam pikiran yang sama.

Ruminasi juga melelahkan karena pikiran seolah tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Jika Anda menyadari bahwa pikiran terus kembali ke kejadian yang sama, cobalah mengubah refleksi menjadi pertanyaan yang lebih konkret:

"Apa yang bisa saya lakukan sekarang?"

Jika tidak ada tindakan yang dapat dilakukan, Anda mungkin perlu mengakui bahwa kejadian tersebut sudah berlalu dan mengalihkan perhatian ke aktivitas saat ini.

Belajar dari masa lalu adalah sesuatu yang produktif. Tinggal di dalam masa lalu secara mental adalah sesuatu yang berbeda.

5. Mengatakan "Ya" pada Terlalu Banyak Hal

Ada orang yang sulit menolak permintaan.

Ketika teman meminta bantuan, mereka berkata iya. Ketika rekan kerja meminta tambahan tugas, mereka kembali berkata iya. Ketika keluarga meminta sesuatu, mereka merasa tidak enak jika menolak.

Awalnya, kebiasaan ini mungkin membuat seseorang terlihat membantu dan dapat diandalkan.

Namun terlalu sering mengatakan "ya" dapat menciptakan masalah: waktu dan energi pribadi semakin sedikit.

Yang lebih menarik, kelelahan tidak selalu muncul ketika kita melakukan tugas tersebut. Kadang-kadang, stres sudah muncul sejak kita menyadari bahwa jadwal kita terlalu penuh.

Mengapa sulit mengatakan tidak?

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita peduli terhadap bagaimana orang lain menilai kita. Penolakan dapat menimbulkan rasa bersalah, takut mengecewakan orang lain, atau kekhawatiran akan konflik.

Akibatnya, seseorang mungkin memilih mengatakan "ya" untuk menghindari ketidaknyamanan jangka pendek.

Tetapi keputusan itu dapat menghasilkan ketidaknyamanan yang lebih panjang.

Anda mungkin mendapatkan beberapa menit ketenangan karena tidak perlu mengatakan "tidak", tetapi kemudian harus menghadapi tambahan pekerjaan, waktu yang berkurang, dan energi yang semakin terkuras.

Karena itu, batasan pribadi bukan berarti menjadi egois.

Kemampuan mengatakan:

"Saya belum bisa membantu sekarang."

atau:

"Saya bisa membantu, tetapi tidak hari ini."

adalah bentuk pengelolaan energi.

Tidak semua permintaan harus diterima hanya karena Anda mampu melakukannya.

6. Terlalu Sering Berpindah antara Banyak Tugas

Multitasking sering dianggap sebagai tanda produktivitas.

Seseorang menjawab email sambil mengikuti rapat, memeriksa pesan sambil mengerjakan laporan, atau menonton video sambil membaca artikel.

Masalahnya, otak manusia tidak benar-benar melakukan banyak pekerjaan kognitif kompleks secara bersamaan dengan efisien. Dalam banyak situasi, yang terjadi adalah task switching—berpindah dengan cepat dari satu tugas ke tugas lain.

Setiap perpindahan membutuhkan penyesuaian.

Ketika Anda berhenti mengerjakan laporan untuk menjawab pesan, perhatian Anda berpindah. Saat kembali ke laporan, Anda perlu mengingat kembali di mana terakhir kali berhenti dan apa yang sedang dikerjakan.

Semakin sering perpindahan terjadi, semakin besar biaya mentalnya.

Produktif belum tentu berarti sibuk

Salah satu jebakan terbesar dalam kehidupan modern adalah menganggap aktivitas sebagai produktivitas.

Anda bisa terlihat sangat sibuk sepanjang hari tetapi hanya menghasilkan sedikit pekerjaan penting.

Sebaliknya, seseorang yang mengerjakan satu tugas selama satu jam tanpa gangguan mungkin tampak tidak terlalu sibuk, tetapi hasilnya bisa jauh lebih besar.

Karena itu, cobalah mengelompokkan pekerjaan yang serupa.

Misalnya, balas email pada waktu tertentu, kerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dalam satu blok waktu, dan sisihkan waktu khusus untuk tugas administratif.

Tujuannya bukan membuat hari Anda lebih padat.

Tujuannya adalah mengurangi jumlah perpindahan mental yang tidak perlu.

Mengapa Kebiasaan Kecil Bisa Terasa Begitu Menguras Energi?

Keenam kebiasaan di atas memiliki satu kesamaan: semuanya dapat menambah beban mental.

Energi manusia bukan hanya soal tenaga fisik. Kita juga menggunakan sumber daya psikologis untuk mempertahankan perhatian, mengendalikan impuls, membuat keputusan, mengelola emosi, menyelesaikan masalah, dan mengingat berbagai kewajiban.

Itulah sebabnya seseorang bisa merasa sangat lelah setelah seharian bekerja di depan komputer meskipun hampir tidak melakukan aktivitas fisik.

Kelelahan mental juga dapat muncul ketika otak terus menerima rangsangan tanpa cukup waktu untuk memulihkan perhatian.

Ponsel berbunyi.

Pesan masuk.

Pekerjaan menumpuk.

Ada keputusan yang belum dibuat.

Ada percakapan yang terus dipikirkan.

Ada permintaan yang sulit ditolak.

Semua hal tersebut mungkin tampak kecil jika dilihat satu per satu. Tetapi jika terjadi bersamaan setiap hari, efeknya dapat terasa besar.

Cara Menghemat Energi Mental Setiap Hari

Anda tidak perlu mengubah seluruh kehidupan sekaligus. Beberapa perubahan kecil sudah dapat membantu.

1. Buat waktu tanpa notifikasi

Matikan notifikasi yang tidak penting dan tentukan waktu khusus untuk memeriksa pesan.

2. Kurangi keputusan yang tidak penting

Gunakan rutinitas untuk hal-hal sederhana seperti jadwal olahraga, waktu bekerja, atau menu tertentu.

3. Selesaikan atau jadwalkan tugas yang menggantung

Jika belum bisa dikerjakan sekarang, tentukan kapan akan mengerjakannya. Jangan biarkan semuanya tetap berada dalam kepala.

4. Bedakan refleksi dan ruminasi

Tanyakan apakah pemikiran Anda menghasilkan solusi. Jika tidak, mungkin sudah waktunya mengalihkan perhatian.

5. Latih kemampuan mengatakan tidak

Penolakan yang sopan jauh lebih sehat daripada menerima terlalu banyak hal lalu kehabisan energi.

6. Fokus pada satu tugas penting

Berikan periode waktu tertentu untuk bekerja tanpa berpindah ke tugas lain.

Penutup

Kelelahan tidak selalu berasal dari aktivitas yang besar. Kadang-kadang, energi kita justru terkuras oleh kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali tanpa disadari.

Terlalu sering memeriksa ponsel, mengambil terlalu banyak keputusan, menunda pekerjaan kecil, memikirkan masa lalu secara berulang, sulit mengatakan tidak, dan terus berpindah tugas semuanya dapat meningkatkan beban mental sehari-hari.

Kabar baiknya, kebiasaan tersebut juga dapat diubah.

Anda tidak harus menjadi lebih produktif setiap menit dalam sehari. Terkadang, cara terbaik untuk mendapatkan kembali energi justru adalah mengurangi hal-hal yang tidak perlu meminta perhatian Anda.

Pada akhirnya, mengelola energi bukan hanya tentang bagaimana menggunakannya, tetapi juga tentang mengetahui ke mana energi tersebut sebaiknya tidak diberikan.

EDITOR: Hanny Suwindari