JawaPos.com – Kedewasaan seseorang tidak hanya dapat dilihat dari usia atau pengalaman hidup. Cara menghadapi persoalan, menerima masukan, serta mengelola emosi juga menjadi bagian penting dalam kematangan seseorang.
Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat sejumlah pola perilaku yang dapat menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi seseorang masih perlu dikembangkan. Hal tersebut dapat terlihat ketika menghadapi konflik, menerima kritik, menjalani hubungan, hingga menghadapi kegagalan.
Namun, penting dipahami bahwa ciri-ciri tersebut bukanlah diagnosis psikologis. Setiap orang dapat sesekali menunjukkan perilaku serupa, terutama ketika sedang berada dalam tekanan.
Dilansir dari GE Editing, berikut tujuh kebiasaan yang disebut berkaitan dengan kematangan emosional.
Baca Juga: Ingin Menjadi Pasangan Luar Biasa? Lakukan 7 Kebiasaan Sederhana Ini Setiap Hari Menurut Psikologi
1. Mudah bereaksi secara berlebihan
Salah satu bagian penting dari kematangan emosional adalah kemampuan mengatur respons ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Seseorang yang masih kesulitan mengelola emosi terkadang memberikan reaksi yang jauh lebih besar daripada persoalan yang dihadapi. Perbedaan pendapat sederhana, misalnya, dapat berkembang menjadi kemarahan atau kekecewaan yang sulit dikendalikan.
Mengenali pola tersebut menjadi langkah awal untuk memahami emosi sekaligus belajar memberikan respons yang lebih proporsional.
2. Tidak mudah menerima kritik
Masukan sebenarnya dapat menjadi sarana untuk memperbaiki diri. Namun, bagi seseorang yang belum matang secara emosional, kritik bisa terasa seperti serangan terhadap dirinya.
Akibatnya, mereka mungkin langsung bersikap defensif, tersinggung, atau bahkan membalas orang yang memberikan masukan.
Sebaliknya, kematangan emosional terlihat dari kemampuan memisahkan antara kritik terhadap suatu tindakan dan penilaian terhadap diri secara keseluruhan.
Tidak semua kritik harus diterima begitu saja, tetapi seseorang yang matang mampu mempertimbangkan apakah masukan tersebut memang dapat digunakan untuk berkembang.
3. Menjadikan orang lain sebagai penyebab semua perasaan
Setiap orang memang dapat dipengaruhi oleh tindakan orang lain. Namun, cara seseorang merespons tindakan tersebut tetap berada dalam ruang kendalinya.
Kebiasaan terus-menerus menyalahkan orang lain atas kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan yang dirasakan dapat menunjukkan bahwa tanggung jawab emosional belum sepenuhnya terbentuk.
Belajar mengenali apa yang dirasakan, memahami pemicunya, lalu menentukan respons yang tepat merupakan bagian dari proses menuju kedewasaan emosional.
4. Sulit mempertahankan hubungan dalam jangka panjang
Hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar perasaan. Dibutuhkan komunikasi, kompromi, kesediaan memahami pasangan, dan kemauan memperbaiki masalah ketika terjadi konflik.
Orang yang masih kesulitan mengelola emosi mungkin lebih mudah menyerah ketika hubungan memasuki fase sulit.
Padahal, hubungan jangka panjang secara alami akan menghadapi perbedaan dan masalah. Kemampuan menyelesaikan persoalan tanpa langsung menghindar atau mengambil keputusan secara impulsif dapat menjadi tanda kematangan emosional.
5. Tidak mampu menyampaikan perasaan dengan cara yang sehat
Menyimpan semua perasaan bukanlah satu-satunya masalah. Mengekspresikannya secara berlebihan juga dapat menimbulkan persoalan.
Seseorang yang belum terbiasa mengelola emosi mungkin meluapkan kemarahan kepada orang lain, menangis dalam situasi yang sebenarnya dapat dibicarakan dengan tenang, atau justru memendam masalah sampai akhirnya meledak.
Kemampuan emosional yang baik bukan berarti tidak pernah marah atau sedih. Yang lebih penting adalah mengetahui apa yang dirasakan dan menemukan cara yang tepat untuk menyampaikannya.
6. Terlalu terobsesi untuk selalu bahagia
Kebahagiaan memang menyenangkan, tetapi kehidupan tidak mungkin selalu berjalan sesuai keinginan.
Kesedihan, kecewa, marah, dan rasa takut juga merupakan bagian normal dari pengalaman manusia. Menganggap semua emosi negatif harus segera dihilangkan justru dapat membuat seseorang kesulitan memahami dirinya sendiri.
Kematangan emosional berarti mampu menerima berbagai macam perasaan tanpa membiarkannya mengendalikan seluruh tindakan.
Dengan memahami bahwa setiap emosi memiliki pesan tertentu, seseorang dapat belajar menghadapi kehidupan secara lebih realistis.
7. Menghindari tanggung jawab
Salah satu tanda kedewasaan adalah kesediaan mengakui kesalahan dan menerima konsekuensi dari keputusan sendiri.
Sebaliknya, kebiasaan mencari kambing hitam setiap kali sesuatu berjalan tidak sesuai harapan dapat menjadi hambatan dalam perkembangan diri.
Bertanggung jawab bukan berarti menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu. Hal ini lebih berkaitan dengan kemampuan mengenali bagian yang memang berada dalam kendali pribadi dan berusaha memperbaikinya.