← Beranda
6 Alasan Bagaimana Rasa Percaya Diri Berlebihan Menyebabkan Seseorang Abai Akan Adanya Bahaya
Irfan FerdiansyahSelasa, 18 Agustus 2026 | 22.56 WIB
seseorang yang percaya diri berlebihan./Magnific/KamranAydinov

JawaPos.com - Rasa percaya diri pada dasarnya merupakan hal yang positif. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri biasanya lebih berani mengambil keputusan, menghadapi tantangan, menyampaikan pendapat, dan mencoba hal-hal baru.

Dalam kadar yang sehat, kepercayaan diri dapat membantu seseorang berkembang dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Namun, kepercayaan diri juga dapat berubah menjadi sesuatu yang berisiko apabila kadarnya berlebihan. Ketika seseorang terlalu yakin terhadap kemampuan dirinya, ia dapat mulai menganggap bahwa dirinya mampu mengendalikan hampir semua keadaan.

Akibatnya, berbagai tanda bahaya yang seharusnya diperhatikan justru dianggap sepele, dilebih-lebihkan oleh orang lain, atau bahkan tidak dianggap sama sekali.

Dalam psikologi, kondisi ini dapat berkaitan dengan sejumlah bias kognitif dan mekanisme psikologis yang membuat seseorang menilai risiko secara tidak objektif.

Masalahnya bukan sekadar "terlalu percaya diri", tetapi bagaimana keyakinan terhadap kemampuan diri dapat memengaruhi cara seseorang membaca situasi, memperkirakan kemungkinan buruk, dan mengambil keputusan.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (18/8), terdapat enam alasan mengapa rasa percaya diri yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang menjadi abai terhadap adanya bahaya.

1. Terlalu Yakin Bahwa Dirinya Mampu Mengendalikan Situasi

Salah satu penyebab utama seseorang mengabaikan bahaya adalah keyakinan bahwa dirinya dapat mengendalikan keadaan.

Orang yang terlalu percaya diri cenderung berpikir, "Saya tahu apa yang saya lakukan," "Saya pasti bisa mengatasinya," atau "Kalau terjadi sesuatu, saya bisa mengendalikan situasinya." Keyakinan seperti ini sebenarnya dapat menjadi sumber motivasi. Namun, jika terlalu kuat, keyakinan tersebut dapat membuat seseorang meremehkan faktor-faktor yang berada di luar kendalinya.

Misalnya, seseorang yang merasa sangat mahir mengendarai kendaraan mungkin menjadi kurang waspada ketika berkendara dalam kondisi hujan deras. Ia mungkin berpikir bahwa pengalaman dan keterampilannya sudah cukup untuk menghadapi situasi tersebut.

Padahal, keterampilan seseorang tidak menghilangkan faktor eksternal seperti jalan licin, jarak pengereman yang bertambah, kondisi kendaraan, perilaku pengendara lain, atau perubahan cuaca yang tiba-tiba.

Dalam psikologi, manusia memang memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemampuan mengendalikan suatu kejadian. Ketika seseorang merasa memiliki kontrol yang tinggi, persepsinya terhadap risiko dapat menurun.

Inilah yang membuat kepercayaan diri berlebihan berbahaya: seseorang tidak hanya percaya bahwa dirinya mampu, tetapi mulai menganggap bahwa kemampuan dirinya cukup untuk mengatasi hampir semua risiko.

Akibatnya, peringatan yang sebenarnya penting dapat terdengar tidak relevan.

2. Meremehkan Kemungkinan Terjadinya Hal Buruk

Alasan kedua adalah kecenderungan untuk menganggap bahwa kejadian buruk kemungkinan besar hanya terjadi pada orang lain.

Seseorang mungkin mengetahui bahwa sebuah tindakan memiliki risiko, tetapi tetap berpikir bahwa dirinya akan baik-baik saja. Misalnya:

"Memang bisa terjadi kecelakaan, tetapi saya sudah sering melakukannya."

Atau:

"Orang lain mungkin mengalami masalah, tetapi saya tahu cara menghindarinya."

Pola berpikir tersebut dapat membuat seseorang mengetahui adanya bahaya secara intelektual, tetapi tidak benar-benar merasakan bahwa bahaya itu relevan bagi dirinya.

Ini merupakan perbedaan penting. Mengetahui bahwa sesuatu berbahaya tidak selalu berarti seseorang akan bertindak seolah-olah bahaya tersebut nyata.

Rasa percaya diri yang berlebihan dapat menciptakan jarak psikologis antara seseorang dan kemungkinan buruk. Risiko tetap ada, tetapi individu merasa dirinya merupakan pengecualian.

Akibatnya, ia mungkin mengabaikan prosedur keselamatan, tidak mempersiapkan rencana cadangan, atau mengambil keputusan yang lebih berisiko dibandingkan orang yang memiliki penilaian risiko lebih realistis.

Masalahnya adalah risiko tidak menjadi lebih kecil hanya karena seseorang merasa dirinya lebih mampu menghadapinya.

3. Sulit Menerima Peringatan dan Kritik dari Orang Lain

Kepercayaan diri yang berlebihan juga dapat memengaruhi cara seseorang menerima informasi dari lingkungan.

Ketika seseorang memiliki keyakinan yang sangat tinggi terhadap kemampuan dirinya, kritik atau peringatan dari orang lain dapat dianggap sebagai bentuk keraguan terhadap dirinya. Akibatnya, ia mungkin menjadi defensif.

Contohnya, ketika seseorang diperingatkan bahwa sebuah keputusan memiliki risiko, ia dapat merespons dengan:

"Saya sudah tahu."
"Saya sudah pernah melakukan ini."
"Kamu terlalu khawatir."
"Tidak akan terjadi apa-apa."
"Saya lebih tahu bagaimana mengatasinya."

Respons tersebut menunjukkan bahwa individu lebih mempercayai penilaiannya sendiri daripada informasi yang diberikan orang lain.

Padahal, orang lain terkadang dapat melihat risiko yang tidak terlihat oleh dirinya sendiri. Seseorang yang berada terlalu dekat dengan sebuah keputusan mungkin sulit melihat kelemahannya karena sudah terlanjur yakin bahwa keputusan tersebut benar.

Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan diri yang berlebihan dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk melakukan evaluasi ulang.

Ia bukan hanya mengabaikan bahaya, tetapi juga menolak informasi yang sebenarnya dapat membantu dirinya mengenali bahaya tersebut.

Inilah sebabnya kemampuan menerima kritik dan mempertimbangkan perspektif orang lain merupakan bagian penting dari pengambilan keputusan yang sehat.

4. Pengalaman Sukses Masa Lalu Bisa Membuat Seseorang Merasa Terlalu Aman

Pengalaman keberhasilan dapat meningkatkan kepercayaan diri. Namun, keberhasilan berulang juga dapat menciptakan jebakan psikologis apabila seseorang mulai menganggap keberhasilan masa lalu sebagai jaminan keberhasilan di masa depan.

Misalnya, seseorang pernah beberapa kali mengambil risiko dan tidak mengalami masalah. Lama-kelamaan ia mungkin menyimpulkan bahwa tindakannya memang aman.

Padahal, tidak adanya masalah pada masa lalu tidak berarti risiko tersebut tidak ada.

Bayangkan seseorang yang berkali-kali berkendara tanpa menggunakan perlengkapan keselamatan yang seharusnya. Karena tidak pernah mengalami kecelakaan, ia mungkin menyimpulkan bahwa kebiasaan tersebut tidak berbahaya.

Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah ia belum mengalami konsekuensi buruk.

Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.

"Saya belum mengalami masalah" tidak sama dengan "tindakan saya tidak memiliki risiko."

Pengalaman sukses dapat memberikan pembelajaran yang berguna, tetapi pengalaman tersebut juga dapat menghasilkan rasa aman yang berlebihan jika seseorang gagal mempertimbangkan perubahan kondisi.

Situasi yang berbeda dapat menghasilkan konsekuensi yang berbeda pula.

Kepercayaan diri yang sehat menggunakan pengalaman sebagai bahan evaluasi. Sebaliknya, kepercayaan diri yang berlebihan dapat menggunakan pengalaman sebagai bukti bahwa seseorang "selalu bisa lolos".

5. Terlalu Cepat Mengambil Keputusan karena Merasa Sudah Tahu Jawabannya

Orang yang terlalu percaya diri sering kali merasa bahwa ia sudah memahami situasi sebelum mengumpulkan informasi yang cukup.

Karena yakin terhadap kemampuan dirinya, ia mungkin tidak merasa perlu memeriksa ulang, bertanya, membaca petunjuk, mencari informasi tambahan, atau mempertimbangkan kemungkinan alternatif.

Hal ini dapat membuat proses pengambilan keputusan menjadi terlalu cepat.

Misalnya, ketika menghadapi situasi baru, seseorang dapat langsung berpikir:

"Saya sudah tahu bagaimana ini akan berakhir."

Masalahnya, keyakinan tersebut belum tentu didasarkan pada informasi yang lengkap.

Bahaya sering kali muncul bukan karena seseorang tidak memiliki kemampuan, tetapi karena ia mengambil keputusan berdasarkan informasi yang terlalu sedikit dengan tingkat keyakinan yang terlalu tinggi.

Kepercayaan diri berlebihan dapat menciptakan kombinasi yang berbahaya: pengetahuan yang terbatas tetapi keyakinan yang sangat besar.

Dalam kondisi seperti itu, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa ada variabel penting yang belum ia pertimbangkan.

Karena merasa sudah tahu jawabannya, ia berhenti mencari informasi.

Dan ketika seseorang berhenti mencari informasi, kemungkinan untuk melewatkan tanda-tanda bahaya juga meningkat.

6. Menganggap Kehati-hatian sebagai Tanda Ketakutan atau Kelemahan

Alasan terakhir berkaitan dengan cara seseorang memaknai kehati-hatian.

Bagi sebagian orang, menjadi percaya diri berarti harus berani. Masalahnya muncul ketika keberanian disamakan dengan tidak takut, tidak ragu, atau selalu berani mengambil risiko.

Akibatnya, kehati-hatian dapat dianggap sebagai sesuatu yang negatif.

Seseorang mungkin berpikir bahwa menggunakan perlengkapan keselamatan berarti terlalu takut, meminta bantuan berarti tidak mampu, atau menghindari risiko tertentu berarti tidak cukup berani.

Padahal, secara psikologis, mengenali keterbatasan diri bukanlah tanda kelemahan. Justru kemampuan untuk mengakui bahwa seseorang tidak dapat mengendalikan semua hal merupakan bagian dari penilaian risiko yang realistis.

Orang yang benar-benar percaya diri tidak harus membuktikan keberaniannya dengan mengabaikan bahaya.

Sebaliknya, ia mampu mengatakan:

"Saya yakin dengan kemampuan saya, tetapi saya juga menyadari bahwa saya memiliki keterbatasan."

Perbedaan inilah yang memisahkan kepercayaan diri yang sehat dari kepercayaan diri yang berlebihan.

Percaya Diri yang Sehat Bukan Berarti Mengabaikan Risiko

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah seseorang boleh memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kepercayaan diri justru merupakan kualitas yang penting dalam kehidupan.

Yang perlu dihindari adalah ketika kepercayaan diri berubah menjadi keyakinan bahwa seseorang selalu benar, selalu mampu mengendalikan keadaan, atau selalu dapat menghindari konsekuensi buruk.

Kepercayaan diri yang sehat berjalan bersama dengan kesadaran terhadap keterbatasan diri.

Seseorang dapat yakin terhadap kemampuannya sambil tetap memeriksa kondisi. Ia dapat berani mengambil keputusan sambil mempertimbangkan risiko. Ia dapat percaya pada pengalaman sendiri sambil tetap menerima kritik. Ia juga dapat merasa mampu menghadapi masalah tanpa menganggap bahwa masalah tersebut tidak mungkin terjadi.

Dengan kata lain, percaya diri tidak sama dengan merasa kebal terhadap bahaya.

Justru semakin besar kemampuan dan pengalaman seseorang, semakin penting pula untuk mempertahankan kesadaran bahwa tidak semua keadaan dapat dikendalikan.

Bahaya tidak selalu muncul karena seseorang tidak mampu. Kadang-kadang bahaya muncul karena seseorang terlalu yakin bahwa dirinya mampu.

Karena itu, salah satu bentuk kematangan psikologis adalah kemampuan untuk menyeimbangkan keberanian dengan kewaspadaan. Berani mengambil risiko boleh saja, tetapi risiko perlu dikenali, dipertimbangkan, dan dikelola.

Kepercayaan diri terbaik bukanlah keyakinan bahwa "tidak akan terjadi apa-apa", melainkan keyakinan bahwa "saya mampu menghadapi situasi ini, dan karena itu saya akan mempersiapkan diri dengan baik."

Perbedaan kecil dalam cara berpikir tersebut dapat menghasilkan perbedaan besar dalam cara seseorang menghadapi bahaya.

EDITOR: Hanny Suwindari