← Beranda
Merasa Memiliki Sifat Red Flags pada Diri Sendiri? Lakukan 6 Cara Ini untuk Mengungkapnya
Irfan FerdiansyahSelasa, 18 Agustus 2026 | 22.54 WIB
seseorang yang memiliki sifat red flags./Magnific/dotshock

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa khawatir bahwa sebenarnya ada sesuatu dalam diri Anda yang bisa membuat hubungan dengan orang lain menjadi tidak sehat?

Mungkin Anda mudah tersinggung ketika mendapat kritik. Mungkin Anda sering ingin mengontrol pasangan, sulit meminta maaf, terlalu membutuhkan perhatian, atau justru memilih diam ketika sedang marah. Pada awalnya, perilaku seperti ini mungkin terlihat sebagai hal kecil.

Namun, jika terus berulang dan mulai memengaruhi hubungan dengan pasangan, keluarga, teman, atau rekan kerja, perilaku tersebut layak untuk diperhatikan.

Istilah red flags sering digunakan untuk menggambarkan tanda-tanda perilaku atau pola hubungan yang berpotensi tidak sehat. Namun, penting untuk memahami bahwa memiliki satu atau dua perilaku yang kurang baik tidak otomatis berarti seseorang adalah orang yang buruk atau toxic.

Manusia bisa bersikap defensif, egois, cemburu, atau marah pada situasi tertentu. Yang lebih penting adalah melihat pola, seberapa sering perilaku tersebut muncul, bagaimana dampaknya terhadap orang lain, dan apakah kita bersedia bertanggung jawab serta memperbaikinya.

Menariknya, salah satu langkah paling sulit dalam proses ini justru bukan menemukan kesalahan orang lain, melainkan berani melihat diri sendiri dengan jujur.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (18/8), jika Anda mulai bertanya, "Jangan-jangan selama ini saya juga memiliki red flags?", enam cara berikut dapat membantu Anda melakukan refleksi diri dengan lebih objektif.

1. Perhatikan bagaimana Anda bereaksi ketika mendapat kritik

Salah satu cara sederhana untuk mengenali sisi diri yang mungkin perlu diperbaiki adalah memperhatikan reaksi ketika seseorang memberikan kritik.

Coba ingat kembali situasi ketika pasangan, teman, orang tua, atau rekan kerja mengatakan bahwa Anda melakukan sesuatu yang salah.

Apa yang biasanya muncul dalam diri Anda?

Apakah Anda langsung mencoba memahami kritik tersebut? Atau justru merasa diserang, marah, mencari alasan, menyalahkan orang lain, dan berusaha membuktikan bahwa Anda tidak bersalah?

Reaksi defensif sesekali merupakan hal yang manusiawi. Namun, jika hampir setiap kritik dianggap sebagai serangan terhadap harga diri, pola tersebut patut diperhatikan.

Dalam psikologi, kemampuan menerima umpan balik berkaitan dengan kesadaran diri dan kemampuan seseorang mengevaluasi perilakunya secara lebih objektif. Orang yang memiliki kesadaran diri yang baik tidak selalu menerima semua kritik sebagai kebenaran, tetapi mampu berhenti sejenak dan bertanya:

"Apakah ada bagian dari kritik ini yang memang benar?"

Ini bukan berarti Anda harus menerima tuduhan yang tidak adil. Justru sebaliknya, kemampuan membedakan kritik yang valid dari kritik yang tidak berdasar merupakan bagian dari kematangan emosional.

Cobalah menggunakan pertanyaan sederhana setelah menerima kritik:

Apa sebenarnya yang dikatakan orang tersebut?
Apakah saya langsung bereaksi sebelum memahami maksudnya?
Apakah saya lebih sibuk membela diri daripada mendengarkan?
Apakah orang lain pernah menyampaikan kritik serupa?
Jika orang yang saya sayangi melakukan hal yang sama, apakah saya akan menganggapnya sebagai masalah?

Jika pola kritik yang sama muncul berkali-kali dari orang yang berbeda, mungkin ada sesuatu yang layak Anda evaluasi.

2. Minta pendapat jujur dari orang yang mengenal Anda dengan baik

Kadang-kadang kita terlalu dekat dengan diri sendiri sehingga sulit melihat kebiasaan yang sebenarnya sudah terlihat jelas bagi orang lain.

Karena itu, salah satu cara yang cukup efektif adalah meminta umpan balik dari orang yang Anda percaya.

Pilih seseorang yang cukup mengenal Anda dan berani berkata jujur. Jangan hanya bertanya, "Menurutmu saya orang baik, kan?" karena pertanyaan tersebut cenderung menghasilkan jawaban yang terlalu umum.

Cobalah bertanya dengan lebih spesifik.

"Menurutmu, kebiasaan saya apa yang paling sulit dihadapi?"

Atau:

"Kalau ada satu sifat saya yang menurutmu perlu saya perbaiki, apa itu?"

Pertanyaan seperti ini mungkin terasa tidak nyaman. Bahkan, jawabannya mungkin membuat Anda tersinggung.

Namun, justru di situlah nilai refleksinya.

Anda tidak harus langsung percaya bahwa semua yang dikatakan orang tersebut benar. Tujuannya bukan mencari vonis tentang diri Anda, melainkan menemukan blind spot, yaitu aspek diri yang mungkin tidak Anda sadari.

Misalnya, Anda mungkin merasa diri Anda hanya "tegas", sementara orang lain merasakan Anda sebagai orang yang sulit menerima pendapat berbeda.

Anda mungkin menganggap diri Anda "sangat perhatian", sementara pasangan merasa perhatian tersebut berubah menjadi kontrol.

Anda mungkin menganggap diri Anda "tidak suka drama", sementara orang lain melihat Anda sering menghindari pembicaraan serius.

Perbedaan antara niat dan dampak adalah sesuatu yang penting untuk diperhatikan.

Niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik.

Karena itu, sesekali kita membutuhkan perspektif dari luar untuk melihat diri sendiri secara lebih lengkap.

3. Amati pola hubungan Anda, bukan hanya satu kejadian

Satu pertengkaran tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang memiliki red flag.

Yang lebih penting adalah pola yang berulang.

Cobalah melihat beberapa hubungan penting dalam hidup Anda dan tanyakan:

"Apakah masalah yang sama terus muncul, hanya dengan orang yang berbeda?"

Misalnya, Anda selalu merasa pasangan sebelumnya terlalu sensitif. Setelah berganti pasangan, Anda kembali merasa pasangan baru juga terlalu sensitif.

Atau Anda merasa semua rekan kerja tidak menghargai Anda. Kemudian, ketika berpindah lingkungan, masalah yang sama kembali terjadi.

Tentu saja, bisa saja Anda memang berkali-kali bertemu orang yang bermasalah. Namun, ada kemungkinan lain yang juga perlu dipertimbangkan: mungkin ada pola dari perilaku Anda sendiri yang ikut berkontribusi terhadap masalah tersebut.

Coba tuliskan beberapa konflik penting yang pernah Anda alami.

Kemudian cari kesamaan di antara semuanya.

Misalnya:

Anda sering merasa tidak dihargai.
Anda sering menjadi sangat defensif.
Anda sulit mengakui kesalahan.
Anda sering memutus komunikasi ketika marah.
Anda mudah curiga terhadap orang lain.
Anda membutuhkan kepastian secara berlebihan.
Anda cenderung ingin mengendalikan keputusan bersama.
Anda sering merasa orang lain tidak memahami Anda.

Tidak semua pola tersebut merupakan red flag dalam dirinya sendiri. Namun, jika muncul terus-menerus dan menyebabkan hubungan menjadi tidak sehat, pola itu layak diperhatikan.

Melihat pola jauh lebih berguna daripada menghakimi diri berdasarkan satu kejadian.

4. Perhatikan perilaku Anda ketika sedang marah

Karakter seseorang tidak hanya terlihat ketika semuanya berjalan baik.

Salah satu momen yang paling banyak mengungkap pola emosional seseorang adalah ketika ia merasa kecewa, ditolak, frustrasi, atau marah.

Karena itu, coba tanyakan kepada diri sendiri:

"Seperti apa saya ketika sedang marah?"

Apakah Anda bisa menjelaskan apa yang membuat Anda marah?

Apakah Anda meminta waktu untuk menenangkan diri?

Atau Anda sengaja mengatakan sesuatu yang menyakitkan agar orang lain merasa bersalah?

Apakah Anda mengancam akan pergi?

Apakah Anda menggunakan diam sebagai hukuman?

Apakah Anda membawa kesalahan masa lalu setiap kali bertengkar?

Apakah Anda mencoba mengendalikan orang lain agar melakukan apa yang Anda inginkan?

Kemampuan mengelola emosi bukan berarti tidak pernah marah. Marah merupakan emosi manusia yang normal.

Yang menjadi perhatian adalah apa yang dilakukan seseorang ketika marah.

Seseorang dapat merasa sangat marah tetapi tetap memilih untuk tidak menghina, mengancam, mempermalukan, atau menyakiti orang lain.

Karena itu, daripada bertanya, "Apakah saya orang yang pemarah?", pertanyaan yang lebih berguna adalah:

"Apa yang saya lakukan ketika saya marah?"

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memberikan gambaran yang jauh lebih jelas mengenai pola perilaku Anda.

5. Bedakan antara kebutuhan emosional dan keinginan untuk mengontrol

Ini merupakan salah satu area yang sering sulit dikenali.

Memiliki kebutuhan emosional dalam hubungan adalah sesuatu yang normal.

Anda boleh membutuhkan perhatian. Anda boleh ingin mendapatkan kepastian. Anda boleh merasa cemburu atau ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama pasangan.

Namun, kebutuhan tersebut dapat menjadi masalah ketika berubah menjadi tuntutan untuk mengendalikan orang lain.

Misalnya, ada perbedaan besar antara:

"Aku merasa tidak aman ketika kita jarang berkomunikasi. Bisakah kita mencari waktu untuk berbicara lebih rutin?"

dan:

"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu harus selalu memberi tahu aku sedang di mana."

Kalimat pertama mengungkapkan kebutuhan sekaligus membuka ruang untuk mencari solusi bersama.

Kalimat kedua menggunakan cinta sebagai alat untuk menekan orang lain.

Karena itu, ketika merasa tidak aman atau takut kehilangan seseorang, coba berhenti sejenak sebelum bertindak.

Tanyakan:

"Apakah saya sedang mengungkapkan kebutuhan, atau sedang mencoba mengendalikan perilaku orang lain?"

Pertanyaan sederhana ini dapat membantu membedakan antara komunikasi yang sehat dan perilaku yang berpotensi menjadi kontrol.

Hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi dua orang untuk memiliki batasan, privasi, pertemanan, pilihan, dan kehidupan pribadi masing-masing.

6. Tanyakan apakah Anda benar-benar bertanggung jawab setelah melakukan kesalahan

Cara terakhir mungkin merupakan salah satu cara paling penting untuk mengenali red flags dalam diri sendiri.

Semua orang melakukan kesalahan.

Orang yang sehat secara emosional bukanlah orang yang tidak pernah menyakiti orang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana ia merespons setelah menyadari kesalahannya.

Coba perhatikan ketika Anda menyadari bahwa Anda telah menyakiti seseorang.

Apakah Anda mengatakan:

"Maaf, saya salah."

Atau:

"Maaf, tapi kamu juga membuat saya seperti itu."

Keduanya terdengar mirip, tetapi maknanya sangat berbeda.

Meminta maaf tidak berarti Anda harus menerima semua kesalahan. Namun, jika memang ada bagian dari perilaku Anda yang salah, kemampuan mengakuinya merupakan bagian penting dari tanggung jawab pribadi.

Lebih jauh lagi, permintaan maaf yang sehat seharusnya diikuti dengan perubahan perilaku.

Jika seseorang berkali-kali berkata, "Maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi," tetapi perilakunya selalu sama, masalahnya bukan lagi sekadar kemampuan meminta maaf.

Karena itu, evaluasi diri tidak berhenti pada pertanyaan:

"Apakah saya pernah melakukan kesalahan?"

Jawaban untuk pertanyaan tersebut hampir pasti iya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apa yang saya lakukan setelah menyadari kesalahan tersebut?"

Apakah saya menyangkal?

Apakah saya menyalahkan keadaan?

Apakah saya menyalahkan orang lain?

Atau saya mencoba memahami dampaknya, meminta maaf, dan memperbaiki perilaku?

Jangan buru-buru memberi label "toxic" kepada diri sendiri

Mengenali red flags bukan berarti mencari alasan untuk membenci diri sendiri.

Justru, tujuan refleksi psikologis adalah meningkatkan kesadaran terhadap pola yang mungkin sebelumnya tidak kita sadari.

Ada perbedaan antara mengatakan:

"Saya adalah orang yang toxic."

dengan:

"Saya memiliki kebiasaan tertentu yang dapat menyakiti orang lain, dan saya perlu memperbaikinya."

Kalimat pertama membuat masalah seolah-olah merupakan identitas permanen.

Kalimat kedua melihat perilaku sebagai sesuatu yang dapat dievaluasi dan diubah.

Ini penting karena manusia tidak hanya terdiri dari satu sifat.

Anda mungkin pernah bersikap egois tanpa berarti Anda selalu egois. Anda mungkin pernah bereaksi berlebihan tanpa berarti seluruh kepribadian Anda bermasalah.

Yang perlu diperhatikan adalah pola perilaku yang terus berulang, dampaknya terhadap orang lain, dan kesediaan Anda untuk berubah.

Mulailah dari satu perilaku yang paling sering muncul

Setelah melakukan refleksi, jangan mencoba mengubah seluruh kepribadian sekaligus.

Pilih satu pola yang paling jelas.

Misalnya, Anda menyadari bahwa Anda sering defensif ketika mendapat kritik.

Maka fokuslah pada hal tersebut.

Ketika seseorang memberikan kritik, berlatihlah untuk tidak langsung menjawab. Beri diri Anda beberapa detik untuk memahami apa yang sebenarnya dikatakan.

Jika Anda menyadari bahwa Anda sering menggunakan silent treatment, cari cara yang lebih sehat untuk meminta waktu menenangkan diri.

Anda bisa mengatakan:

"Saya sedang terlalu emosional untuk membicarakan ini dengan baik. Saya ingin menenangkan diri dulu, lalu kita lanjutkan pembicaraannya."

Ini berbeda dengan sengaja mengabaikan seseorang agar mereka merasa dihukum.

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih berarti daripada janji besar yang tidak pernah diwujudkan.

Pada akhirnya, keberanian terbesar adalah melihat diri sendiri dengan jujur

Mencari red flags pada orang lain memang mudah.

Kita bisa dengan cepat menyadari bahwa seseorang terlalu posesif, terlalu egois, manipulatif, mudah marah, atau tidak mau meminta maaf.

Namun, ketika pertanyaannya dibalik menjadi:

"Apakah saya juga melakukan hal-hal tersebut?"

jawabannya bisa jauh lebih sulit.

Refleksi diri membutuhkan keberanian karena kita harus bersedia melihat sisi diri yang tidak selalu ingin kita akui.

Jika dari enam cara di atas Anda menemukan beberapa perilaku yang kurang sehat, jangan langsung menganggap diri Anda sebagai orang yang buruk.

Anggaplah temuan tersebut sebagai informasi.

Kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan.

Anda tidak dapat memperbaiki sesuatu yang tidak Anda sadari. Tetapi setelah menyadarinya, Anda memiliki pilihan: terus mempertahankan pola tersebut atau mulai belajar merespons dengan cara yang lebih sehat.

Dan mungkin, salah satu tanda kedewasaan emosional bukanlah tidak memiliki red flags sama sekali.

Melainkan mampu mengenali ketika kita memilikinya, berani bertanggung jawab, dan bersedia melakukan perubahan.

EDITOR: Hanny Suwindari