JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa sebenarnya memiliki kemampuan yang cukup baik, tetapi tiba-tiba menjadi ragu ketika harus berbicara dalam rapat, menyampaikan pendapat kepada atasan, atau berinteraksi dengan rekan kerja yang lebih senior?
Anda mungkin sudah mempersiapkan pekerjaan dengan baik. Anda tahu apa yang ingin disampaikan. Bahkan, Anda memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai. Namun, ketika berada di situasi tertentu, muncul suara kecil dalam kepala yang berkata, “Bagaimana kalau saya salah?”, “Bagaimana kalau pendapat saya dianggap bodoh?”, atau “Jangan-jangan mereka lebih kompeten daripada saya.”
Perasaan seperti ini cukup manusiawi.
Kepercayaan diri di tempat kerja bukan berarti selalu merasa hebat, tidak pernah gugup, atau selalu yakin bahwa keputusan kita benar. Dalam perspektif psikologi, rasa percaya diri lebih dekat dengan keyakinan bahwa kita mampu menghadapi sebuah situasi, termasuk ketika situasi tersebut terasa menantang.
Menariknya, Anda tidak selalu harus menunggu sampai merasa percaya diri terlebih dahulu untuk bertindak. Dalam banyak situasi, perilaku tertentu justru dapat membantu menciptakan perasaan percaya diri.
Artinya, ketika Anda sedang merasa minder di tempat kerja, ada beberapa tindakan sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu mengubah kondisi psikologis Anda dalam waktu relatif singkat.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (18/8), terdapat tujuh cara praktis yang bisa Anda coba.
1. Perbaiki Postur Tubuh Sebelum Memasuki Situasi Penting
Salah satu hal paling sederhana yang sering diabaikan ketika seseorang merasa tidak percaya diri adalah postur tubuh.
Ketika gugup atau minder, tubuh biasanya mengikuti kondisi emosional tersebut. Bahu menjadi lebih membungkuk, kepala menunduk, gerakan menjadi lebih kecil, dan suara bisa terdengar lebih pelan.
Cobalah melakukan kebalikannya.
Sebelum memasuki ruang rapat, melakukan presentasi, atau berbicara dengan seseorang yang Anda anggap lebih senior, luangkan beberapa detik untuk menata postur.
Tegakkan tubuh secara alami, buka bahu, angkat kepala, dan tarik napas dengan tenang.
Bukan berarti Anda harus berdiri dengan gaya berlebihan. Tujuannya bukan untuk “berpura-pura menjadi orang lain”, melainkan membuat tubuh berada dalam posisi yang lebih siap menghadapi situasi.
Hubungan antara kondisi tubuh dan kondisi psikologis memang kompleks. Namun, mengubah postur dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu Anda merasa lebih siap dan hadir dalam situasi yang sedang dihadapi.
Yang lebih penting, postur yang baik juga dapat membuat komunikasi Anda terlihat lebih jelas dan mantap.
Bayangkan dua orang menyampaikan ide yang sama.
Orang pertama berbicara sambil menunduk, suaranya hampir tidak terdengar, dan terus memainkan tangannya.
Orang kedua duduk tegak, melakukan kontak mata secara wajar, dan berbicara dengan tempo yang stabil.
Meskipun isi pembicaraan mereka sama, kesan yang muncul bisa sangat berbeda.
Jadi, sebelum mengatakan kepada diri sendiri bahwa Anda tidak percaya diri, periksa terlebih dahulu bahasa tubuh Anda.
Kadang-kadang, langkah pertama untuk merasa lebih siap adalah membuat tubuh Anda menunjukkan kesiapan.
2. Gunakan Napas untuk Mengendalikan Rasa Gugup
Rasa tidak percaya diri sering kali datang bersama respons fisik: jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, napas menjadi pendek, dan pikiran bergerak terlalu cepat.
Masalahnya, kondisi fisik tersebut kemudian dapat membuat Anda semakin yakin bahwa Anda sedang tidak mampu mengendalikan keadaan.
Salah satu cara praktis untuk memutus siklus tersebut adalah memperlambat pernapasan.
Sebelum presentasi atau percakapan penting, berhentilah sejenak.
Tarik napas secara perlahan, kemudian keluarkan napas dengan tenang. Ulangi beberapa kali sambil memusatkan perhatian pada sensasi bernapas.
Tujuannya bukan menghilangkan semua rasa gugup.
Justru, Anda tidak perlu menunggu sampai gugup hilang sepenuhnya.
Tujuannya adalah membantu tubuh menjadi lebih tenang sehingga Anda bisa berpikir dan bertindak dengan lebih terarah.
Ada perbedaan besar antara:
“Saya gugup, berarti saya tidak siap.”
dan:
“Saya gugup karena situasinya penting, tetapi saya tetap bisa menghadapinya.”
Kalimat kedua membuat rasa gugup tidak lagi dianggap sebagai bukti ketidakmampuan.
Ini penting karena banyak orang keliru menafsirkan kecemasan.
Mereka merasa jantung berdebar, lalu menyimpulkan, “Saya pasti akan gagal.”
Padahal, sensasi tubuh tersebut tidak otomatis memprediksi hasil akhirnya.
Anda bisa merasa gugup sekaligus tampil dengan baik.
Anda bisa merasa takut sekaligus menyampaikan pendapat dengan jelas.
Dan Anda bisa merasa tidak sepenuhnya yakin sekaligus mengambil keputusan yang tepat.
3. Ganti Dialog Batin yang Menjatuhkan Diri
Perhatikan apa yang Anda katakan kepada diri sendiri ketika melakukan kesalahan di tempat kerja.
Apakah Anda mengatakan:
“Saya memang tidak pintar.”
“Saya selalu membuat kesalahan.”
“Saya tidak cocok bekerja di sini.”
“Orang lain pasti lebih baik daripada saya.”
Jika pola tersebut sering muncul, cobalah menggantinya dengan dialog yang lebih realistis.
Bukan afirmasi kosong seperti:
“Saya adalah orang paling hebat di kantor.”
Melainkan pernyataan yang masuk akal.
Misalnya:
“Saya tidak harus sempurna untuk memberikan kontribusi.”
“Saya mungkin belum tahu semuanya, tetapi saya bisa belajar.”
“Saya pernah melakukan kesalahan dan tetap mampu memperbaikinya.”
“Pendapat saya tidak harus disetujui semua orang agar tetap layak disampaikan.”
Ini berkaitan dengan cara kita menafsirkan pengalaman.
Kepercayaan diri bukan hanya dipengaruhi oleh apa yang terjadi, tetapi juga oleh makna yang kita berikan terhadap apa yang terjadi.
Ketika atasan mengoreksi pekerjaan Anda, misalnya.
Anda bisa menafsirkannya sebagai:
“Atasan saya menganggap saya tidak kompeten.”
Namun, Anda juga bisa menafsirkannya sebagai:
“Ada bagian pekerjaan saya yang perlu diperbaiki.”
Keduanya menghasilkan respons emosional yang berbeda.
Karena itu, ketika pikiran negatif muncul, jangan langsung mempercayainya.
Tanyakan:
“Apakah ini fakta, atau hanya interpretasi saya?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu Anda mengambil jarak dari pikiran yang terlalu kritis.
4. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang yang Berbeda Perjalanan
Salah satu penghancur kepercayaan diri terbesar di tempat kerja adalah perbandingan sosial.
Anda melihat rekan kerja yang sangat lancar berbicara dalam rapat.
Anda melihat seseorang yang cepat memahami masalah.
Anda melihat kolega yang tampaknya selalu mendapatkan pujian dari atasan.
Kemudian Anda membandingkan mereka dengan diri sendiri.
Masalahnya, Anda sering membandingkan kelemahan Anda yang terlihat dari dekat dengan kelebihan orang lain yang terlihat dari luar.
Anda mengetahui semua kesalahan, ketakutan, dan keraguan diri sendiri.
Sementara itu, Anda hanya melihat hasil akhir dari orang lain.
Perbandingan tersebut tentu tidak seimbang.
Alih-alih bertanya:
“Mengapa saya tidak sehebat dia?”
cobalah bertanya:
“Apa yang bisa saya pelajari dari dia?”
Perubahan pertanyaan ini terlihat kecil, tetapi dapat mengubah posisi psikologis Anda.
Anda tidak lagi melihat rekan kerja sebagai ancaman, melainkan sebagai sumber pembelajaran.
Misalnya, Anda mengagumi cara seseorang melakukan presentasi.
Daripada berpikir, “Saya tidak akan pernah bisa seperti dia,” perhatikan secara spesifik:
Bagaimana dia membuka presentasi?
Bagaimana dia menjelaskan ide?
Bagaimana dia menjawab pertanyaan?
Bagaimana dia mengatur intonasi?
Bagaimana dia tetap tenang ketika mendapatkan kritik?
Dengan begitu, rasa minder bisa diubah menjadi rasa ingin belajar.
5. Persiapkan Satu Hal yang Ingin Anda Sampaikan
Jika Anda sering kehilangan kepercayaan diri dalam rapat, jangan memaksa diri untuk menjadi orang yang paling banyak berbicara.
Mulailah dengan target yang lebih kecil.
Sebelum rapat, tentukan satu poin yang ingin Anda sampaikan.
Misalnya:
“Saya ingin memberikan satu alternatif untuk masalah ini.”
Atau:
“Saya ingin menanyakan bagaimana prioritas proyek ini untuk minggu depan.”
Atau:
“Saya memiliki satu data yang mungkin relevan dengan pembahasan ini.”
Ketika Anda berhasil menyampaikan satu hal, Anda memberikan pengalaman positif kepada diri sendiri.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bukti bahwa Anda mampu berpartisipasi.
Ini jauh lebih efektif daripada menunggu munculnya keberanian secara tiba-tiba.
Kepercayaan diri sering berkembang melalui pengalaman keberhasilan kecil yang berulang.
Karena itu, jangan selalu mengejar perubahan besar.
Jika biasanya Anda diam sepanjang rapat, target pertama Anda bukan menjadi orang yang paling aktif.
Target pertama Anda cukup berbicara satu kali.
Jika sudah berhasil, tingkatkan secara bertahap.
Minggu berikutnya mungkin dua kali.
Kemudian Anda mulai mengajukan pertanyaan.
Setelah itu, Anda mulai menyampaikan ide.
Lama-kelamaan, situasi yang sebelumnya terasa menakutkan dapat menjadi sesuatu yang lebih familiar.
6. Fokus pada Kontribusi, Bukan pada Bagaimana Anda Terlihat
Ketika seseorang kehilangan kepercayaan diri, perhatian biasanya terlalu terpusat pada dirinya sendiri.
“Apakah suara saya terdengar aneh?”
“Apakah mereka memperhatikan saya?”
“Apakah saya terlihat pintar?”
“Bagaimana kalau saya salah?”
Semakin banyak perhatian diarahkan pada evaluasi diri, semakin besar pula tekanan yang dirasakan.
Cobalah menggeser fokus.
Alih-alih bertanya:
“Bagaimana saya terlihat?”
tanyakan:
“Apa yang bisa saya berikan dalam situasi ini?”
Misalnya dalam rapat, jangan hanya berpikir tentang bagaimana Anda akan terlihat ketika berbicara.
Pikirkan apakah informasi yang Anda miliki bisa membantu tim.
Jika jawabannya iya, maka berbicara bukan lagi sekadar usaha untuk mendapatkan pengakuan.
Anda sedang memberikan kontribusi.
Perubahan perspektif ini sangat penting.
Sebab, Anda tidak harus menjadi orang paling pintar di ruangan untuk memiliki nilai.
Anda mungkin memiliki pengalaman yang berbeda.
Anda mungkin melihat risiko yang tidak diperhatikan orang lain.
Anda mungkin memiliki pertanyaan yang belum terpikirkan orang lain.
Atau mungkin Anda hanya membantu memperjelas sebuah masalah.
Kontribusi tidak selalu berarti memiliki jawaban paling hebat.
Kadang-kadang, kontribusi terbaik adalah mengajukan pertanyaan yang tepat.
7. Lakukan Satu Tindakan yang Selama Ini Anda Hindari
Cara terakhir mungkin terasa paling menantang, tetapi justru bisa menjadi salah satu yang paling berarti.
Jika Anda ingin membangun kepercayaan diri, lakukan satu tindakan kecil yang selama ini Anda hindari karena merasa tidak yakin.
Misalnya:
Mengajukan pertanyaan dalam rapat.
Menyampaikan ide kepada atasan.
Memberikan pendapat ketika diminta.
Meminta klarifikasi ketika instruksi tidak jelas.
Mengajukan diri untuk memimpin bagian kecil dari proyek.
Mengatakan “saya membutuhkan waktu tambahan” ketika memang diperlukan.
Menolak pekerjaan tambahan dengan cara yang profesional ketika kapasitas Anda sudah penuh.
Mengapa ini penting?
Karena kepercayaan diri tidak hanya dibangun melalui berpikir positif.
Ia juga berkembang ketika Anda mendapatkan pengalaman langsung bahwa Anda mampu menghadapi sesuatu yang sebelumnya Anda takutkan.
Bayangkan Anda selalu takut berbicara dalam rapat.
Jika Anda terus menghindarinya, otak Anda tidak pernah mendapatkan pengalaman baru.
Sebaliknya, ketika Anda berbicara meskipun sedikit gugup, Anda mendapatkan informasi baru:
“Ternyata saya bisa melakukannya.”
Pada kesempatan berikutnya, rasa takut mungkin masih ada, tetapi pengalaman sebelumnya menjadi modal.
Inilah alasan mengapa Anda tidak perlu menunggu sampai benar-benar percaya diri untuk bertindak.
Bertindak terlebih dahulu, lalu biarkan pengalaman membantu membangun kepercayaan diri.
Kepercayaan Diri Bukan Berarti Tidak Pernah Merasa Takut
Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Banyak orang mengira bahwa orang percaya diri adalah orang yang tidak pernah merasa gugup.
Padahal, seseorang bisa merasa takut dan tetap percaya diri.
Seseorang bisa merasa tidak yakin tetapi tetap berbicara.
Seseorang bisa takut mendapatkan kritik tetapi tetap menyampaikan pendapat.
Seseorang bisa melakukan kesalahan tetapi tidak langsung menganggap dirinya gagal sebagai manusia.
Jadi, jangan menggunakan rasa gugup sebagai satu-satunya indikator bahwa Anda tidak percaya diri.
Terkadang, keberanian justru terlihat ketika seseorang tetap melakukan apa yang perlu dilakukan meskipun rasa takut masih ada.
Kepercayaan diri yang sehat bukan:
“Saya pasti selalu benar.”
Melainkan:
“Saya mungkin salah, tetapi saya mampu menghadapi konsekuensinya, belajar, dan memperbaikinya.”
Perbedaan ini sangat penting.
Karena ketika Anda merasa harus selalu benar untuk merasa percaya diri, setiap kesalahan akan menjadi ancaman besar terhadap harga diri.
Sebaliknya, ketika Anda menerima bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar, Anda menjadi lebih bebas untuk mencoba.
Mulailah dari Hal yang Paling Kecil
Jika saat ini Anda merasa sangat tidak percaya diri di tempat kerja, jangan mencoba mengubah semuanya sekaligus.
Pilih satu hal.
Besok, sebelum rapat, lakukan beberapa tarikan napas perlahan.
Kemudian duduk dengan postur yang lebih tegak.
Siapkan satu poin yang ingin Anda sampaikan.
Ketika kesempatan muncul, sampaikan dengan singkat.
Setelah rapat selesai, jangan langsung mengevaluasi semua kekurangan Anda.
Tanyakan:
“Apa satu hal yang sudah saya lakukan dengan baik hari ini?”
Mungkin jawabannya sederhana:
“Saya akhirnya berani bertanya.”
Itu sudah cukup.
Karena kepercayaan diri tidak selalu tumbuh melalui pencapaian besar.
Sering kali, ia tumbuh dari akumulasi tindakan kecil yang membuat kita berkata kepada diri sendiri:
“Ternyata saya mampu.”
Dan semakin sering Anda mendapatkan pengalaman tersebut, semakin kuat pula keyakinan bahwa Anda bisa menghadapi tantangan berikutnya.
Pada akhirnya, tujuan meningkatkan kepercayaan diri di tempat kerja bukanlah menjadi orang yang selalu terlihat paling dominan, paling pintar, atau paling berani.
Tujuannya adalah menjadi seseorang yang cukup percaya pada kemampuannya untuk hadir, berbicara, belajar, melakukan kesalahan, dan tetap berkembang.
Jadi, jika hari ini Anda merasa kurang percaya diri, jangan langsung menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri Anda.
Mungkin Anda hanya perlu mulai dari satu langkah kecil.
Tegakkan tubuh. Atur napas. Ubah dialog batin. Berhenti membandingkan diri. Siapkan satu kontribusi. Fokus pada manfaat yang bisa Anda berikan. Lalu lakukan satu tindakan yang selama ini Anda hindari.
Tidak harus langsung sempurna.
Yang penting, Anda mulai memberi diri sendiri pengalaman baru bahwa Anda sebenarnya mampu.