JawaPos.com - Pernahkah seseorang merasa hidupnya berjalan, tetapi tidak tahu sebenarnya sedang menuju ke mana?
Bangun pagi, menjalani pekerjaan, menyelesaikan berbagai kewajiban, bertemu orang lain, bahkan sesekali menikmati sesuatu yang menyenangkan. Dari luar, semuanya mungkin terlihat baik-baik saja. Namun di dalam diri, muncul perasaan kosong, bingung, atau seolah-olah hidup hanya berjalan mengikuti arus.
Kondisi seperti ini sering disebut sebagai kehilangan arah hidup. Seseorang mungkin tidak benar-benar kehilangan kemampuan untuk menjalani kehidupan, tetapi kehilangan gambaran mengenai apa yang ingin dicapai, mengapa ia melakukan sesuatu, dan kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin ia bangun.
Dalam psikologi, kehilangan arah hidup dapat berkaitan dengan banyak hal. Mulai dari perubahan besar dalam kehidupan, tekanan sosial, kegagalan, kelelahan emosional, hingga ketidaksesuaian antara kehidupan yang dijalani dengan nilai-nilai pribadi.
Yang menarik, seseorang tidak harus mengalami peristiwa yang sangat buruk untuk merasa kehilangan arah. Terkadang, perasaan tersebut muncul justru ketika kehidupan terlihat "baik-baik saja".
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (14/8), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa seseorang kehilangan arah dalam hidup.
1. Terlalu Lama Menjalani Hidup Berdasarkan Ekspektasi Orang Lain
Salah satu penyebab seseorang kehilangan arah adalah karena terlalu lama menentukan hidup berdasarkan apa yang dianggap benar oleh orang lain.
Sejak kecil, banyak orang menerima berbagai pesan mengenai seperti apa kehidupan yang ideal. Harus mendapatkan nilai bagus, masuk sekolah tertentu, memiliki pekerjaan bergengsi, menikah pada usia tertentu, memiliki rumah, mendapatkan penghasilan tinggi, dan sebagainya.
Masalahnya, seseorang bisa saja berhasil mencapai semua target tersebut tanpa pernah benar-benar bertanya:
"Apakah ini memang kehidupan yang saya inginkan?"
Dalam psikologi, kebutuhan manusia bukan hanya mengenai pencapaian eksternal. Manusia juga membutuhkan perasaan bahwa dirinya memiliki pilihan dan mampu menentukan kehidupannya sendiri.
Ketika seseorang terlalu sering mengatakan "iya" terhadap keinginan orang lain, sementara terus mengabaikan suara dari dalam dirinya, ia dapat mengalami jarak antara kehidupan yang dijalani dan kehidupan yang sebenarnya diinginkan.
Pada awalnya, hal tersebut mungkin tidak terasa.
Seseorang tetap bekerja. Tetap mendapatkan penghasilan. Tetap melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Namun perlahan muncul pertanyaan:
"Setelah semua ini tercapai, lalu apa?"
Pertanyaan tersebut dapat menjadi tanda bahwa tujuan eksternal yang selama ini dikejar tidak lagi memberikan makna yang cukup.
Karena itu, kehilangan arah terkadang bukan berarti seseorang tidak memiliki tujuan. Bisa jadi ia memiliki terlalu banyak tujuan yang sebenarnya bukan miliknya.
2. Mengalami Kegagalan yang Mengguncang Identitas Diri
Kegagalan dapat memengaruhi seseorang jauh lebih dalam daripada sekadar membuat sebuah rencana tidak berhasil.
Misalnya, seseorang selama bertahun-tahun mengidentifikasi dirinya sebagai mahasiswa berprestasi. Kemudian ia gagal mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.
Atau seseorang membangun karier selama bertahun-tahun, lalu kehilangan pekerjaannya.
Ada pula seseorang yang menganggap dirinya sebagai pasangan yang berhasil mempertahankan hubungan, tetapi akhirnya mengalami perpisahan.
Ketika sebuah kegagalan menyentuh sesuatu yang menjadi bagian penting dari identitas diri, seseorang dapat bertanya:
"Kalau saya bukan orang yang berhasil dalam hal itu, lalu saya ini siapa?"
Di sinilah kehilangan arah bisa terjadi.
Kegagalan dapat membuat seseorang kehilangan gambaran mengenai masa depan yang sebelumnya sudah ia bayangkan. Rencana yang dahulu terasa jelas tiba-tiba tidak lagi relevan.
Yang hilang bukan hanya sebuah pencapaian, tetapi juga narasi mengenai kehidupan.
Seseorang mungkin sebelumnya memiliki gambaran:
"Jika saya mendapatkan pekerjaan ini, hidup saya akan seperti ini."
Namun ketika pekerjaan tersebut gagal diperoleh, seluruh gambaran masa depan ikut runtuh.
Karena itu, kegagalan terkadang membutuhkan proses psikologis yang lebih panjang daripada sekadar "menerima kenyataan".
Seseorang perlu membangun kembali pemahaman mengenai dirinya, termasuk menyadari bahwa identitas dirinya tidak sepenuhnya ditentukan oleh satu pencapaian, satu pekerjaan, satu hubungan, atau satu kegagalan.
3. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Perbandingan sosial merupakan bagian yang sangat manusiawi.
Seseorang secara alami cenderung melihat orang lain untuk memahami apakah dirinya berada di jalur yang benar.
Namun masalah muncul ketika perbandingan tersebut menjadi kebiasaan.
Terlebih lagi, kehidupan modern membuat manusia dapat melihat pencapaian orang lain hampir setiap saat melalui media sosial.
Seseorang melihat temannya membeli rumah.
Orang lain mendapatkan pekerjaan baru.
Ada yang menikah.
Ada yang bepergian ke berbagai negara.
Ada yang membangun bisnis.
Ada yang terlihat memiliki kehidupan keluarga yang bahagia.
Sementara dirinya merasa masih berada di tempat yang sama.
Perbandingan semacam ini dapat menciptakan ilusi bahwa semua orang sedang bergerak maju kecuali dirinya.
Padahal, seseorang biasanya hanya melihat hasil akhir kehidupan orang lain, bukan seluruh proses, kegagalan, kecemasan, masalah finansial, konflik keluarga, atau ketidakpastian yang mereka alami.
Ketika terlalu sering membandingkan diri, seseorang dapat mulai menggunakan standar eksternal untuk menentukan apakah hidupnya berharga.
Akibatnya, tujuan pribadi menjadi kabur.
Ia tidak lagi bertanya:
"Apa yang penting bagi saya?"
Melainkan:
"Apa yang sudah dicapai orang lain dan mengapa saya belum mencapainya?"
Perbedaan kedua pertanyaan tersebut sangat besar.
Pertanyaan pertama membantu seseorang memahami nilai dan arah hidupnya.
Pertanyaan kedua dapat membuat seseorang terus mengejar perlombaan yang bahkan tidak pernah ia pilih.
4. Mengalami Kelelahan Mental dan Emosional
Tidak semua kehilangan arah sebenarnya berasal dari tidak adanya tujuan.
Kadang-kadang seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat tujuan karena dirinya terlalu lelah.
Kelelahan mental dapat membuat berbagai aktivitas yang sebelumnya terasa penting menjadi terasa berat.
Seseorang mungkin berkata:
"Saya tidak tahu apa yang saya mau."
Padahal mungkin masalah utamanya adalah:
"Saya terlalu lelah untuk memikirkan apa yang saya mau."
Ketika seseorang berada dalam tekanan dalam waktu lama, energi psikologisnya dapat terkuras. Fokusnya lebih banyak digunakan untuk bertahan menghadapi hari ini daripada memikirkan masa depan.
Misalnya, seseorang yang setiap hari sibuk dengan pekerjaan, masalah keluarga, tuntutan finansial, dan berbagai kewajiban mungkin tidak memiliki cukup ruang mental untuk bertanya mengenai tujuan hidup.
Ia hanya berpikir:
"Bagaimana saya melewati hari ini?"
Dalam kondisi seperti itu, masa depan terasa jauh dan abstrak.
Akibatnya, seseorang dapat menyimpulkan bahwa dirinya tidak memiliki tujuan hidup, padahal sebenarnya ia membutuhkan pemulihan dan ruang untuk berpikir.
Inilah alasan mengapa istirahat dan pemulihan bukan selalu bentuk kemunduran.
Terkadang, seseorang perlu berhenti sejenak agar dapat kembali mendengar apa yang sebenarnya ia inginkan.
5. Terjebak dalam Rutinitas Tanpa Makna Pribadi
Rutinitas memberikan struktur dalam kehidupan. Namun rutinitas yang terlalu monoton dan tidak memiliki hubungan dengan nilai pribadi dapat membuat seseorang merasa hidup hanya berputar di tempat.
Bangun.
Bekerja.
Pulang.
Makan.
Tidur.
Mengulanginya lagi.
Secara objektif, tidak ada yang salah dengan rutinitas tersebut.
Namun manusia tidak hanya membutuhkan aktivitas. Manusia juga membutuhkan rasa bahwa apa yang dilakukan memiliki makna.
Ketika kehidupan dipenuhi aktivitas tetapi minim makna pribadi, seseorang dapat mengalami perasaan kosong.
Ia mungkin produktif, tetapi tidak merasa hidup.
Ia mungkin sibuk, tetapi tidak merasa berkembang.
Ia mungkin memiliki penghasilan, tetapi tidak merasa memiliki tujuan.
Hal ini menunjukkan perbedaan antara kesibukan dan arah hidup.
Sibuk berarti banyak hal sedang dilakukan.
Memiliki arah berarti seseorang mengetahui mengapa ia melakukan hal-hal tersebut.
Karena itu, seseorang dapat memiliki jadwal yang sangat padat tetapi tetap merasa kehilangan arah.
6. Takut Membuat Pilihan yang Salah
Kehilangan arah juga dapat muncul karena terlalu banyak pilihan.
Sekilas, memiliki banyak pilihan terdengar seperti sesuatu yang positif.
Namun semakin banyak kemungkinan yang tersedia, semakin besar pula ketakutan seseorang terhadap keputusan yang salah.
Seseorang mungkin berpikir:
"Bagaimana kalau saya memilih pekerjaan yang salah?"
"Bagaimana kalau saya pindah kota dan menyesal?"
"Bagaimana kalau saya memulai bisnis lalu gagal?"
"Bagaimana kalau saya memilih pasangan yang salah?"
"Bagaimana kalau ada pilihan yang lebih baik?"
Akibatnya, seseorang terus menunda keputusan.
Ia ingin memastikan bahwa pilihannya sempurna sebelum mulai bergerak.
Masalahnya, kehidupan jarang memberikan kepastian seperti itu.
Tidak ada seseorang yang bisa mengetahui seluruh konsekuensi sebuah pilihan sebelum menjalaninya.
Ketika seseorang terlalu takut salah memilih, ia dapat terjebak dalam kondisi tidak bergerak sama sekali.
Lama-kelamaan, ketidakmampuan mengambil keputusan tersebut dapat terasa seperti kehilangan arah.
Padahal sebenarnya ia memiliki beberapa kemungkinan, tetapi takut memilih salah satunya.
Dalam kehidupan nyata, arah sering kali tidak ditemukan sebelum seseorang berjalan.
Arah justru dapat menjadi lebih jelas setelah seseorang mencoba, mengevaluasi, gagal, belajar, lalu mencoba lagi.
7. Nilai-Nilai Pribadi Tidak Lagi Selaras dengan Kehidupan yang Dijalani
Salah satu penyebab kehilangan arah yang paling mendalam adalah ketidaksesuaian antara nilai pribadi dan kehidupan sehari-hari.
Setiap orang memiliki hal-hal yang dianggap penting.
Bagi seseorang, kebebasan mungkin sangat penting.
Bagi orang lain, keluarga mungkin menjadi prioritas.
Ada yang menghargai kreativitas, pembelajaran, kontribusi sosial, stabilitas, petualangan, kedekatan dengan orang lain, atau kemandirian.
Masalah muncul ketika kehidupan sehari-hari terus memaksa seseorang hidup bertentangan dengan nilai tersebut.
Misalnya, seseorang sangat menghargai kebebasan tetapi berada dalam kehidupan yang membuatnya merasa tidak memiliki kendali.
Seseorang menghargai hubungan dekat dengan keluarga, tetapi pekerjaannya membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk orang-orang yang dicintai.
Seseorang sangat menyukai kreativitas, tetapi menjalani pekerjaan yang sama sekali tidak memberikan ruang untuk berekspresi.
Dalam kondisi tersebut, seseorang mungkin mendapatkan banyak hal yang dianggap sukses oleh masyarakat, tetapi tetap merasa kosong.
Mengapa?
Karena pencapaian tersebut tidak selaras dengan apa yang sebenarnya dianggap penting oleh dirinya.
Kehilangan arah dalam kasus seperti ini mungkin merupakan semacam sinyal psikologis bahwa ada sesuatu dalam kehidupan yang perlu dievaluasi.
Bukan berarti seseorang harus langsung meninggalkan pekerjaan, hubungan, atau kehidupannya.
Namun ia mungkin perlu bertanya:
"Apakah cara saya menjalani hidup saat ini sesuai dengan hal-hal yang sebenarnya saya anggap penting?"
Kehilangan Arah Hidup Tidak Selalu Berarti Kehidupan Anda Gagal
Perasaan kehilangan arah sering kali membuat seseorang menganggap dirinya tertinggal.
Ia melihat orang lain tampak yakin dengan kehidupannya, sementara dirinya masih bertanya-tanya.
Namun penting untuk memahami bahwa arah hidup bukan sesuatu yang selalu ditemukan sekali lalu berlaku selamanya.
Manusia berubah.
Prioritas berubah.
Nilai berubah.
Keadaan hidup berubah.
Apa yang dianggap penting pada usia 20 tahun mungkin tidak lagi menjadi prioritas ketika seseorang berusia 30 atau 40 tahun.
Karena itu, kehilangan arah terkadang bukan tanda bahwa seseorang gagal.
Bisa jadi seseorang sedang berada dalam masa transisi psikologis.
Identitas lama tidak lagi terasa cocok, sementara identitas baru belum terbentuk dengan jelas.
Fase seperti ini memang dapat terasa membingungkan.
Namun kebingungan juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kembali diri sendiri.
Daripada hanya bertanya:
"Apa tujuan hidup saya?"
seseorang mungkin dapat memulai dari pertanyaan yang lebih sederhana:
Apa yang sebenarnya penting bagi saya?
Kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani?
Apa yang selama ini saya lakukan hanya untuk memenuhi harapan orang lain?
Aktivitas apa yang membuat saya merasa hidup?
Apa yang membuat saya merasa terus-menerus terkuras?
Jika tidak perlu membuktikan apa pun kepada orang lain, bagaimana saya ingin menjalani hidup?
Langkah kecil apa yang bisa saya lakukan dalam beberapa minggu ke depan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu memberikan jawaban secara instan.
Tetapi menemukan arah hidup memang sering kali bukan tentang menemukan satu jawaban besar.
Sering kali, arah muncul dari serangkaian keputusan kecil yang semakin mendekatkan seseorang pada kehidupan yang sesuai dengan nilai dirinya.
Penutup
Kehilangan arah hidup dapat terjadi karena berbagai alasan: terlalu mengikuti ekspektasi orang lain, mengalami kegagalan, terus membandingkan diri, kelelahan mental, terjebak dalam rutinitas, takut mengambil keputusan, hingga menjalani kehidupan yang tidak selaras dengan nilai pribadi.
Yang perlu diingat, merasa bingung terhadap masa depan tidak otomatis berarti seseorang gagal.
Ada kalanya seseorang memang membutuhkan waktu untuk berhenti, mengevaluasi kembali kehidupannya, dan mengenali siapa dirinya setelah berbagai pengalaman yang telah dilewati.
Hidup bukan perlombaan yang mengharuskan semua orang mencapai titik tertentu pada usia yang sama.
Ada orang yang menemukan arah hidupnya lebih awal.
Ada yang baru menemukannya setelah mengalami kegagalan.
Ada pula yang harus mengubah arah berkali-kali sebelum akhirnya menemukan kehidupan yang terasa lebih sesuai.
Maka, ketika seseorang merasa kehilangan arah, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah "Mengapa saya belum sampai?"
Melainkan:
"Ke mana sebenarnya saya ingin pergi, dan apakah kehidupan yang saya jalani hari ini membawa saya sedikit lebih dekat ke sana?"
Terkadang, menemukan arah hidup tidak dimulai dengan mengetahui seluruh jalan.
Ia dimulai dengan keberanian untuk mengambil satu langkah kecil ke arah yang terasa lebih bermakna.