← Beranda
Gen Z Anggap 8 Hal Ini Tanda Hidup Sukses, Namun Boomers dan Gen X Bilang Cuma Hidup Biasa Saja
Mellyna Putri DiniarMinggu, 16 Agustus 2026 | 00.17 WIB
Ilustrasi generasi z yang punya standar hidup berbeda dengan generasi di atasnya../(Fortune)

JawaPos.com — Bagi Gen Z, punya rumah, mendapatkan promosi, atau mampu membayar kebutuhan sendiri bukan sekadar rutinitas. Di tengah biaya hidup yang tinggi dan pasar kerja yang penuh ketidakpastian, pencapaian tersebut bisa terasa seperti kemenangan besar yang layak dirayakan. 

Situasi itu berbeda dengan pengalaman generasi yang lebih tua. Baby boomer dan Gen X tumbuh dengan ukuran kesuksesan yang lebih dekat pada kehidupan konvensional, seperti memiliki pekerjaan tetap, membeli rumah, menikah, dan membangun keluarga. 

Karena itu, sebagian pencapaian yang dianggap penting oleh Gen Z justru dipandang sebagai bagian biasa dari kehidupan. Perbedaan tersebut bukan semata-mata soal Gen Z terlalu mudah puas atau generasi sebelumnya tidak memahami anak muda. 

Kondisi ekonomi, perubahan dunia kerja, mahalnya hunian, serta perkembangan teknologi membuat jalan menuju kehidupan mandiri kini terasa berbeda. Sesuatu yang dahulu dianggap sebagai tahapan hidup normal dapat menjadi target yang sulit dicapai generasi muda.

Dilansir dari Your Tango, Kamis (13/8), ada sejumlah hal yang oleh Gen Z dipandang sebagai tanda keberhasilan, tetapi bagi boomers dan Gen X dianggap sebagai bagian dari kehidupan rata-rata.

1. Membeli rumah

Kepemilikan rumah menjadi pencapaian besar bagi Gen Z karena mereka menghadapi pasar hunian yang semakin sulit dijangkau. Dalam artikel tersebut, Gen Z hanya mencakup sekitar 4 persen pembeli rumah, jauh di bawah baby boomer yang mencapai 42 persen. 

Ketika akhirnya mampu membeli rumah, pencapaian itu terasa sangat signifikan. Bagi generasi lebih tua, memiliki rumah lebih sering dipandang sebagai sesuatu yang memang harus diusahakan.

2. Mendapatkan promosi

Promosi juga memiliki makna berbeda bagi Gen Z. Mereka harus bersaing dengan pekerja Gen X yang memiliki pengalaman puluhan tahun, sementara generasi lebih tua masih bertahan di dunia kerja. 

Karena persaingan tersebut, kenaikan jabatan dapat menjadi pencapaian penting bagi pekerja muda. Sebaliknya, boomers dan Gen X cenderung melihat promosi sebagai bagian biasa dari perjalanan karier.

3. Mendapat pekerjaan setelah kuliah

Bagi Gen Z, menyelesaikan kuliah belum otomatis berarti mendapatkan pekerjaan. Pasar kerja yang tidak stabil dan penggunaan AI yang mulai mengambil alih sejumlah pekerjaan membuat pencarian posisi tingkat pemula semakin menantang. 

Your Tango mengutip survei Gallup dan menyebut 66 persen eksekutif berencana membekukan perekrutan atau melakukan PHK dalam setahun berikutnya. Karena itu, memperoleh pekerjaan setelah lulus dapat terasa sebagai pencapaian tersendiri.

4. Berani meninggalkan pekerjaan toxic

Gen Z juga menganggap keputusan keluar dari lingkungan kerja yang toxic sebagai bentuk keberhasilan. Mereka lebih berani meninggalkan pekerjaan dengan jadwal melelahkan, target yang tidak realistis, atau lingkungan yang dianggap tidak sehat. 

Sebaliknya, boomers dan Gen X cenderung menempatkan loyalitas perusahaan sebagai nilai penting. Bagi mereka, bertahan bertahun-tahun di satu pekerjaan justru lebih dekat dengan definisi kesuksesan.

5. Menetapkan batasan hidup

Menetapkan boundaries menjadi hal penting bagi Gen Z, terutama ketika mereka berusaha menjaga kebutuhan pribadi dan keseimbangan hidup. Mereka tidak selalu merasa harus mengatakan “ya” demi memenuhi ekspektasi orang lain. 

Generasi lebih tua mungkin menganggap batasan bukan sesuatu yang baru. Bahkan, boomers dan Gen X juga pernah menetapkan batas melalui gerakan sosial dan penolakan terhadap norma generasi sebelumnya.

6. Memilih hidup mandiri

Menikah dan membangun keluarga bukan lagi satu-satunya gambaran kehidupan mapan bagi Gen Z. Sebagian memilih hidup mandiri dan mempertahankan kebebasan pribadi sebelum memutuskan untuk menetap. 

Ketika akhirnya memilih pasangan atau kehidupan bersama, keputusan tersebut dapat terasa sebagai pencapaian besar. Sementara itu, generasi lebih tua lebih terbiasa melihat pernikahan dan kehidupan keluarga sebagai tahapan normal menuju kedewasaan.

7. Memilih tidak punya anak

Keputusan untuk tidak memiliki anak juga semakin dipandang sebagai pilihan sadar oleh generasi muda. Faktor ekonomi menjadi salah satu pertimbangan karena membesarkan anak membutuhkan biaya besar di tengah kondisi yang tidak stabil. 

Gen Z dapat melihat keputusan tersebut sebagai bentuk keberhasilan dalam menentukan hidup sendiri. Namun, Gen X dan generasi sebelumnya juga menjadi bagian dari perubahan pandangan terhadap pilihan untuk tidak memiliki anak.

8. Mampu membiayai diri sendiri

Bagi Gen Z, bisa keluar dari rumah orang tua, membayar sewa, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membeli makanan dengan uang sendiri merupakan pencapaian penting. 

Masalahnya, kemandirian tersebut tidak selalu berarti kondisi finansial mereka sudah mapan. Banyak yang masih hidup dari gaji ke gaji sambil membayar utang pendidikan dan kewajiban lainnya. 

Bagi boomers dan Gen X, kondisi semacam itu lebih sering dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan dewasa.

Kesimpulannya, perbedaan cara memandang kesuksesan antargenerasi pada dasarnya mencerminkan kondisi hidup yang berbeda. Bagi Gen Z, pencapaian yang terlihat sederhana dapat membutuhkan perjuangan lebih besar karena tekanan ekonomi dan perubahan dunia kerja. 

Jadi, ketika mereka merayakan hal-hal yang dulu dianggap biasa, persoalannya bukan sekadar standar kesuksesan yang lebih rendah, melainkan jalan menuju kehidupan mandiri yang memang telah berubah.

EDITOR: Hanny Suwindari