← Beranda
6 Tren Gaya Kencan Baru yang Perlu Dipahami Semua Orang Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
Irfan FerdiansyahKamis, 13 Agustus 2026 | 22.21 WIB
seseorang yang sedang kencan dengan pasangannya / foto: Magnific/frimufilms
 
JawaPos.com - Dunia kencan berubah jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Cara orang bertemu, berkomunikasi, membangun kedekatan, bahkan mengakhiri hubungan kini dipengaruhi oleh aplikasi kencan, media sosial, budaya kerja yang semakin fleksibel, serta perubahan cara generasi muda memandang komitmen.

Istilah-istilah seperti ghosting, situationship, slow dating, hingga breadcrumbing bukan lagi sekadar bahasa populer di internet. Fenomena tersebut menggambarkan perubahan nyata dalam cara manusia mencari kedekatan emosional.

Namun, memahami tren kencan tidak cukup hanya dengan mengetahui istilahnya. Psikologi membantu kita melihat mengapa pola-pola tersebut muncul, bagaimana pengaruhnya terhadap emosi, dan kapan sebuah kebiasaan kencan dapat menjadi tidak sehat.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (13/8), terdapat enam tren gaya kencan baru yang penting dipahami semua orang.

1. Slow Dating: Tidak Lagi Terburu-buru Menentukan Hubungan

Salah satu perubahan menarik dalam budaya kencan adalah munculnya kecenderungan untuk menjalani hubungan secara lebih perlahan.

Jika dulu seseorang mungkin merasa harus segera menentukan apakah hubungan akan menjadi pacaran atau tidak, slow dating justru menekankan proses mengenal seseorang tanpa terburu-buru memberikan label.

Orang yang menerapkan pendekatan ini biasanya lebih memperhatikan:

kecocokan nilai dan tujuan hidup;
kualitas komunikasi;
bagaimana seseorang memperlakukan orang lain;
konsistensi antara perkataan dan tindakan;
serta perasaan yang muncul setelah menghabiskan waktu bersama.

Dari perspektif psikologi, pendekatan ini dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk membangun kedekatan secara bertahap.

Ketertarikan romantis sering kali membuat manusia mengidealkan orang yang baru dikenalnya. Pada tahap awal, kita cenderung melihat kualitas positif dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengan harapan. Dengan memperlambat proses, seseorang memiliki lebih banyak kesempatan untuk melihat pasangan secara lebih realistis.

Namun, slow dating tidak berarti menghindari komitmen.

Ada perbedaan antara bergerak perlahan karena ingin membangun hubungan yang sehat dan sengaja mempertahankan ketidakjelasan karena takut berkomitmen.

Karena itu, komunikasi tetap penting. Hubungan yang berjalan lambat tetap membutuhkan kejelasan mengenai harapan, batasan, dan arah hubungan.

2. Situationship: Hubungan yang Dekat tetapi Tidak Jelas

Situationship menjadi salah satu istilah paling populer dalam budaya kencan modern.

Secara sederhana, situationship menggambarkan hubungan yang memiliki kedekatan emosional atau seksual, tetapi tidak memiliki definisi atau komitmen yang jelas.

Dua orang mungkin sering bertemu, saling menghubungi setiap hari, menunjukkan perhatian, bahkan merasa cemburu ketika salah satunya dekat dengan orang lain. Namun ketika ditanya, "Sebenarnya kita ini apa?", jawabannya tidak pernah benar-benar jelas.

Dari sisi psikologi, ketidakjelasan seperti ini bisa menjadi sangat kompleks.

Manusia memiliki kebutuhan akan keterikatan dan kepastian. Ketika hubungan memberikan kedekatan sekaligus ketidakpastian, seseorang dapat mengalami tarik-menarik emosional: merasa bahagia ketika mendapat perhatian, tetapi cemas ketika komunikasi berkurang.

Ketidakpastian juga dapat membuat seseorang semakin memikirkan hubungan tersebut.

Inilah salah satu alasan mengapa hubungan yang tidak jelas terkadang justru terasa sangat intens. Bukan selalu karena hubungan itu lebih dalam, melainkan karena otak terus berusaha mencari kepastian.

Masalah muncul ketika kedua orang memiliki harapan yang berbeda.

Satu orang mungkin menganggap hubungan tersebut sebagai tahap menuju komitmen, sedangkan orang lainnya merasa nyaman mempertahankannya tanpa tujuan jangka panjang.

Karena itu, situationship tidak otomatis berarti buruk. Yang lebih penting adalah apakah kedua pihak memahami dan menyetujui kondisi hubungan tersebut.

Kejelasan lebih penting daripada label.

Sebuah hubungan tidak harus langsung disebut pacaran untuk menjadi sehat. Tetapi kedua orang perlu mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka jalani.

3. Ghosting: Menghilang Tanpa Penjelasan

Ghosting adalah ketika seseorang tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa memberikan penjelasan yang berarti.

Fenomena ini menjadi jauh lebih mudah dilakukan di era komunikasi digital. Seseorang dapat berhenti membalas pesan, menghilang dari aplikasi, atau bahkan memutus kontak tanpa harus menghadapi percakapan sulit secara langsung.

Mengapa orang melakukan ghosting?

Alasannya beragam. Ada yang menghindari konflik, merasa takut menyakiti orang lain, kehilangan ketertarikan, tidak tahu bagaimana mengakhiri hubungan, atau memang tidak memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik.

Teknologi juga membuat proses tersebut lebih mudah.

Ketika hubungan berlangsung melalui layar, seseorang dapat merasa bahwa tanggung jawab sosialnya lebih kecil dibandingkan ketika harus mengatakan secara langsung, "Saya tidak ingin melanjutkan hubungan ini."

Bagi orang yang menjadi korban ghosting, dampaknya dapat terasa lebih berat karena tidak ada penutupan yang jelas.

Pertanyaan seperti:

"Apa saya melakukan kesalahan?"

"Kenapa dia tiba-tiba berubah?"

"Apakah dia akan menghubungi saya lagi?"

dapat terus berputar di kepala.

Namun, penting memahami bahwa hilangnya komunikasi bukan selalu bukti bahwa seseorang tidak cukup baik. Sering kali ghosting lebih banyak menunjukkan cara orang tersebut menghadapi ketidaknyamanan dan konflik daripada nilai diri orang yang ditinggalkan.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang seharusnya mampu mengatakan bahwa dirinya tidak ingin melanjutkan hubungan, meskipun percakapan tersebut terasa tidak nyaman.

4. Breadcrumbing: Memberi Perhatian Secukupnya agar Seseorang Tetap Bertahan

Jika ghosting berarti menghilang, breadcrumbing berada di sisi yang berbeda.

Breadcrumbing terjadi ketika seseorang memberikan perhatian kecil secara sporadis—misalnya mengirim pesan sesekali, menyukai unggahan, memberikan pujian, atau mengatakan ingin bertemu—tetapi tidak menunjukkan usaha yang konsisten untuk membangun hubungan.

Perhatian tersebut seperti "remah-remah" yang membuat orang lain tetap berharap.

Dari sudut pandang psikologi, pola seperti ini bisa sangat membingungkan karena respons yang muncul tidak selalu konsisten.

Hari ini seseorang mungkin sangat perhatian. Besok dia menghilang. Beberapa hari kemudian dia kembali mengirim pesan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Ketidakpastian tersebut dapat membuat seseorang terus menunggu.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sering seseorang menghubungi kita, tetapi seberapa konsisten perilakunya.

Seseorang yang benar-benar tertarik biasanya tidak selalu sempurna dalam berkomunikasi, tetapi secara umum terdapat keselarasan antara kata-kata dan tindakan.

Sebaliknya, jika seseorang terus mengatakan ingin bertemu tetapi tidak pernah membuat rencana nyata, atau selalu muncul ketika membutuhkan perhatian tetapi menghilang ketika hubungan membutuhkan usaha, pola tersebut patut diperhatikan.

Dalam konteks ini, salah satu keterampilan penting dalam kencan modern adalah kemampuan membedakan perhatian dari investasi emosional.

Tidak semua pesan berarti komitmen.

Tidak semua ketertarikan berarti kesiapan menjalin hubungan.

5. Dating App Fatigue: Terlalu Banyak Pilihan Justru Membuat Lelah

Aplikasi kencan menawarkan sesuatu yang belum pernah tersedia dalam skala sebesar ini: akses kepada banyak calon pasangan hanya melalui layar.

Di satu sisi, hal tersebut memberikan peluang besar untuk bertemu orang baru.

Di sisi lain, terlalu banyak pilihan dapat menciptakan kelelahan psikologis.

Seseorang dapat melakukan swipe berulang kali, menerima banyak match, melakukan beberapa percakapan sekaligus, lalu merasa kewalahan menentukan siapa yang sebenarnya ingin dikenal lebih jauh.

Ada pula kecenderungan untuk terus mencari pilihan yang "lebih baik".

Jika seseorang merasa selalu ada calon pasangan lain hanya dengan melakukan beberapa swipe, proses memilih pasangan dapat berubah menjadi seperti aktivitas tanpa akhir.

Akibatnya, seseorang mungkin lebih fokus pada evaluasi cepat daripada benar-benar mengenal manusia di balik profil.

Foto, pekerjaan, lokasi, hobi, dan beberapa kalimat bio dapat membuat seseorang mengambil keputusan hanya dalam hitungan detik. Padahal, kecocokan hubungan jangka panjang tentu jauh lebih kompleks.

Karena itu, penggunaan aplikasi kencan yang sehat membutuhkan batasan.

Tidak semua match harus menjadi hubungan.

Tidak semua percakapan harus diteruskan.

Dan seseorang tidak perlu merasa gagal hanya karena belum menemukan pasangan setelah menggunakan aplikasi kencan.

Kencan seharusnya membantu manusia menemukan koneksi, bukan mengubah manusia menjadi daftar pilihan yang terus-menerus dibandingkan.

6. Intentional Dating: Kencan dengan Tujuan yang Lebih Sadar

Tren terakhir adalah intentional dating, yaitu pendekatan kencan yang lebih sadar terhadap apa yang sebenarnya dicari seseorang.

Alih-alih hanya bertanya, "Apakah saya tertarik kepadanya?", seseorang juga mulai bertanya:

"Apakah hubungan ini sesuai dengan kehidupan yang ingin saya bangun?"

Pertanyaan tersebut mengubah fokus dari sekadar chemistry menjadi kompatibilitas.

Seseorang mungkin sangat menarik secara fisik, menyenangkan diajak berbicara, dan membuat kita merasa berdebar. Tetapi hubungan jangka panjang juga membutuhkan kesesuaian dalam hal nilai, gaya komunikasi, tujuan hidup, batasan, serta cara menghadapi konflik.

Intentional dating bukan berarti membuat proses kencan menjadi wawancara pekerjaan.

Sebaliknya, pendekatan ini berarti lebih sadar terhadap pola diri sendiri.

Misalnya, seseorang dapat bertanya:

Apakah saya tertarik kepada orang ini atau hanya menyukai perhatian yang diberikan?
Apakah saya merasa aman menjadi diri sendiri?
Apakah komunikasi kami seimbang?
Apakah dia konsisten?
Apakah tujuan hubungan kami sejalan?
Apakah saya mengabaikan tanda-tanda yang sebenarnya sudah terlihat?

Pertanyaan seperti ini membantu seseorang keluar dari pola kencan yang hanya didasarkan pada impuls.

Apa yang Sebenarnya Berubah dalam Budaya Kencan?

Jika enam tren tersebut diperhatikan secara keseluruhan, ada satu perubahan besar yang terlihat: orang semakin mencari cara untuk mendapatkan kedekatan sekaligus mempertahankan kendali atas dirinya sendiri.

Teknologi membuat manusia lebih mudah bertemu. Tetapi kemudahan bertemu tidak otomatis membuat hubungan menjadi lebih mudah.

Justru karena pilihan semakin banyak, komunikasi menjadi semakin penting.

Karena hubungan dapat dimulai melalui layar, seseorang perlu belajar membaca perilaku nyata, bukan hanya kata-kata.

Karena hubungan dapat berakhir dengan satu tombol, seseorang perlu belajar menghadapi penolakan tanpa kehilangan harga diri.

Dan karena definisi hubungan semakin beragam, setiap orang perlu lebih terbuka dalam mengomunikasikan ekspektasi.

Kesimpulan: Tren Boleh Berubah, Kebutuhan Psikologis Manusia Tetap Ada

Budaya kencan mungkin berubah, tetapi kebutuhan dasar manusia sebenarnya relatif sama.

Kita tetap ingin merasa dihargai, dipahami, diterima, dan memiliki hubungan yang aman secara emosional.

Slow dating, situationship, ghosting, breadcrumbing, dating app fatigue, dan intentional dating hanyalah beberapa cara baru manusia menghadapi kebutuhan tersebut dalam lingkungan sosial yang berubah.

Hal terpenting bukan mengikuti atau menghindari setiap tren.

Yang lebih penting adalah memahami bagaimana sebuah pola kencan memengaruhi diri kita dan orang lain.

Hubungan yang sehat tidak harus mengikuti satu bentuk tertentu. Yang menjadi fondasi adalah komunikasi yang jujur, batasan yang jelas, konsistensi, rasa hormat, dan kesediaan kedua pihak untuk memahami apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Pada akhirnya, teknologi dapat membantu kita bertemu lebih banyak orang.

Tetapi psikologi, komunikasi, dan kematangan emosional tetap menentukan apakah pertemuan tersebut berkembang menjadi hubungan yang sehat.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho