← Beranda
7 Kesalahan yang Biasanya Dilakukan Seseorang Saat Mencari Solusi untuk Sebuah Masalah
Irfan FerdiansyahKamis, 13 Agustus 2026 | 22.14 WIB
seseorang yang sedang mencari solusi / foto: Magnific/katemangostar
 
JawaPos.com - Setiap orang pasti pernah menghadapi masalah. Ada masalah dalam hubungan, pekerjaan, keluarga, keuangan, pendidikan, maupun persoalan yang muncul dari dalam diri sendiri. Secara naluriah, ketika masalah datang, kita ingin segera menemukan jalan keluar. Kita mulai berpikir, mencari informasi, meminta pendapat orang lain, atau mencoba berbagai cara agar keadaan kembali seperti semula.

Namun, menariknya, keinginan untuk menyelesaikan masalah tidak selalu membuat seseorang mengambil keputusan yang tepat. Dalam kondisi tertentu, justru cara kita mencari solusi dapat menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Psikologi menunjukkan bahwa manusia tidak selalu berpikir secara objektif ketika sedang menghadapi tekanan. Emosi, pengalaman masa lalu, ketakutan, ego, kebiasaan, dan cara kita memandang situasi dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan. Akibatnya, seseorang bisa merasa sedang mencari solusi, padahal sebenarnya ia sedang menghindari masalah, membenarkan keputusan yang sudah dibuat, atau mencari jawaban yang sesuai dengan keinginannya.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (13/8), terdapat tujuh kesalahan yang cukup sering dilakukan seseorang ketika mencari solusi untuk sebuah masalah.

1. Terlalu Cepat Mencari Solusi Sebelum Memahami Masalah

Salah satu kesalahan paling umum adalah terburu-buru menyelesaikan sesuatu sebelum benar-benar memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Ketika menghadapi masalah, manusia cenderung merasa tidak nyaman dengan ketidakpastian. Kita ingin segera mendapatkan kepastian. Karena itu, otak sering mendorong kita untuk melakukan sesuatu secepat mungkin.

Misalnya, seseorang mengalami konflik dengan temannya. Ia langsung berpikir, "Mungkin saya harus menjauh darinya." Padahal, belum tentu masalah sebenarnya adalah hubungan tersebut. Bisa saja sumber konflik berasal dari salah paham, komunikasi yang buruk, kelelahan, atau persoalan lain yang belum dibicarakan.

Jika seseorang langsung mencari solusi tanpa memahami akar persoalan, ia berisiko menyelesaikan masalah yang salah.

Dalam psikologi pemecahan masalah, langkah awal yang sangat penting adalah mendefinisikan masalah dengan jelas. Pertanyaan seperti:

Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Kapan masalah ini mulai muncul?
Apa penyebab yang paling mungkin?
Bagian mana yang berada dalam kendali saya?
Apa akibatnya jika masalah ini dibiarkan?

dapat membantu seseorang melihat persoalan secara lebih objektif.

Kadang-kadang, solusi yang baik bukan langsung bertindak, tetapi berhenti sejenak untuk memahami masalah dengan lebih baik.

Mengapa ini terjadi?

Karena tindakan memberikan perasaan bahwa kita sedang memiliki kendali. Ketika seseorang merasa tidak berdaya, melakukan sesuatu—apa pun itu—bisa terasa lebih nyaman daripada menunggu dan menganalisis.

Padahal, kecepatan tidak selalu sama dengan efektivitas.

Masalah yang dipahami dengan buruk sering menghasilkan solusi yang salah sasaran.

2. Hanya Mencari Informasi yang Membenarkan Pendapat Sendiri

Kesalahan berikutnya adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih mudah mencari, memperhatikan, dan menerima informasi yang mendukung keyakinannya daripada informasi yang bertentangan dengannya.

Misalnya, seseorang sudah yakin bahwa atasannya tidak menyukainya. Ketika atasannya mengkritik pekerjaannya, ia menganggap kritik tersebut sebagai bukti bahwa atasannya memang membencinya.

Namun ketika atasannya memberikan pujian atau membantu pekerjaannya, informasi tersebut mungkin dianggap tidak penting.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang sebenarnya tidak sedang mencari solusi secara objektif. Ia sedang mencari pembenaran terhadap kesimpulan yang sudah dibuat sebelumnya.

Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan.

Seseorang mungkin berpikir:

"Pasangan saya sudah tidak peduli kepada saya."

Setelah memiliki keyakinan tersebut, ia mulai memperhatikan setiap keterlambatan balasan pesan, perubahan nada bicara, atau kesibukan pasangan sebagai bukti. Sementara berbagai tindakan perhatian yang masih dilakukan pasangan justru diabaikan.

Akibatnya, keputusan yang diambil bukan berdasarkan keseluruhan kenyataan, melainkan berdasarkan potongan informasi yang mendukung asumsi pribadi.

Bagaimana menghindarinya?

Cobalah bertanya:

"Apa bukti bahwa pemikiran saya benar?"

Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih sulit:

"Apa bukti bahwa pemikiran saya mungkin salah?"

Pertanyaan kedua sering kali lebih penting karena memaksa kita mempertimbangkan kemungkinan lain.

Mencari solusi membutuhkan kemampuan untuk menerima informasi yang tidak sesuai dengan apa yang ingin kita dengar.

3. Mengambil Keputusan Saat Emosi Sedang Memuncak

Marah, takut, kecewa, cemas, dan panik dapat memengaruhi cara seseorang menilai sebuah situasi.

Ketika emosi sedang sangat kuat, perhatian seseorang dapat menyempit. Ia lebih mudah berfokus pada ancaman atau rasa sakit yang sedang dialami daripada melihat konsekuensi jangka panjang.

Itulah sebabnya seseorang yang sedang marah mungkin mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia katakan. Seseorang yang sedang takut mungkin mengambil keputusan ekstrem hanya untuk menghilangkan rasa takutnya.

Contohnya sederhana.

Seseorang menerima pesan yang membuatnya tersinggung. Dalam keadaan marah, ia langsung membalas dengan kata-kata kasar. Beberapa jam kemudian, setelah emosinya mereda, ia mulai menyadari bahwa responsnya terlalu berlebihan.

Masalahnya bukan karena emosi selalu buruk. Emosi adalah informasi penting, tetapi emosi tidak selalu merupakan penasihat yang baik untuk keputusan yang membutuhkan pertimbangan panjang.

Karena itu, ketika emosi sedang sangat kuat, salah satu strategi terbaik adalah memberikan jeda.

Bukan berarti masalah harus dihindari.

Jeda berarti memberi kesempatan kepada pikiran untuk kembali bekerja dengan lebih tenang.

Seseorang dapat berkata kepada dirinya sendiri:

"Saya tetap akan menyelesaikan masalah ini, tetapi saya tidak harus menyelesaikannya dalam keadaan marah."

Kemampuan menunda respons merupakan salah satu bentuk pengendalian diri yang sangat penting dalam pemecahan masalah.

4. Terlalu Banyak Berpikir tetapi Tidak Pernah Bertindak

Kesalahan dalam mencari solusi tidak selalu berupa tindakan yang terlalu cepat. Sebaliknya, seseorang juga bisa terjebak dalam terlalu banyak berpikir.

Fenomena ini sering disebut sebagai overthinking.

Seseorang mempertimbangkan semua kemungkinan:

"Bagaimana kalau gagal?"

"Bagaimana kalau orang lain marah?"

"Bagaimana kalau keputusan saya salah?"

"Bagaimana kalau ada pilihan yang lebih baik?"

"Bagaimana kalau nanti saya menyesal?"

Awalnya, berpikir secara mendalam memang berguna. Namun jika proses tersebut tidak pernah berakhir pada tindakan, pemikiran dapat berubah menjadi lingkaran kecemasan.

Seseorang merasa sedang memecahkan masalah, padahal sebenarnya ia hanya mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali.

Ada perbedaan antara problem solving dan rumination.

Problem solving bertujuan menghasilkan langkah yang dapat dilakukan.

Sementara rumination sering kali hanya membuat seseorang terus memikirkan masalah tanpa menghasilkan keputusan yang jelas.

Misalnya, daripada terus memikirkan apakah harus berbicara dengan seseorang mengenai konflik, seseorang dapat menentukan langkah sederhana:

"Besok saya akan mengajaknya berbicara selama 20 menit dan mendengarkan sudut pandangnya."

Tidak semua keputusan harus sempurna.

Dalam banyak situasi, keputusan yang cukup baik dan dapat dievaluasi kembali jauh lebih berguna daripada keputusan sempurna yang tidak pernah dibuat.

5. Menganggap Masalah Harus Diselesaikan Sendiri

Ada anggapan bahwa meminta bantuan berarti seseorang tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Padahal, manusia adalah makhluk sosial. Dalam banyak situasi, perspektif orang lain justru dapat membantu kita melihat sesuatu yang tidak kita sadari.

Ketika terlalu dekat dengan sebuah masalah, seseorang dapat kehilangan perspektif.

Contohnya, seseorang yang sedang mengalami konflik dalam hubungan mungkin hanya melihat perilaku pasangannya. Teman yang lebih objektif mungkin justru melihat pola komunikasi yang selama ini tidak disadari.

Mencari pendapat orang lain bukan berarti menyerahkan kendali atas keputusan kepada mereka.

Yang sehat adalah:

meminta perspektif, bukan menyerahkan keputusan.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Jangan sampai meminta pendapat berubah menjadi reassurance seeking, yaitu terus-menerus meminta kepastian dari orang lain karena tidak mampu menoleransi keraguan.

Jika seseorang bertanya kepada sepuluh orang dan terus mencari orang kesebelas karena jawaban sebelumnya tidak sesuai dengan keinginannya, ia mungkin bukan sedang mencari solusi.

Ia sedang mencari jawaban yang membuatnya merasa aman.

Jadi, bantuan orang lain sebaiknya digunakan untuk memperluas perspektif, bukan untuk menghilangkan seluruh ketidakpastian.

6. Memilih Solusi yang Paling Mudah, Bukan yang Paling Tepat

Manusia memiliki kecenderungan untuk memilih jalan yang membutuhkan usaha mental paling sedikit.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini sering berguna. Kita tidak mungkin menganalisis setiap keputusan kecil secara mendalam.

Namun, kecenderungan tersebut dapat menjadi masalah ketika diterapkan pada persoalan besar.

Misalnya, seseorang menghadapi konflik dalam pekerjaan. Ada dua pilihan:

Pilihan pertama: berbicara secara terbuka, mengakui kesalahan, dan memperbaiki pola komunikasi.

Pilihan kedua: menghindari orang tersebut.

Menghindar mungkin memberikan rasa lega dalam jangka pendek. Tetapi masalah yang mendasarinya belum tentu hilang.

Ini berkaitan dengan perbedaan antara kelegaan jangka pendek dan penyelesaian jangka panjang.

Banyak keputusan buruk terasa sangat nyaman pada awalnya.

Menunda pekerjaan membuat seseorang merasa lebih santai hari ini.

Menghindari percakapan sulit membuat seseorang merasa lega sekarang.

Mengabaikan masalah keuangan membuat seseorang tidak perlu menghadapi kecemasan hari ini.

Namun, kenyamanan jangka pendek dapat menghasilkan konsekuensi yang lebih berat di kemudian hari.

Karena itu, ketika memilih solusi, jangan hanya bertanya:

"Mana yang paling membuat saya nyaman sekarang?"

Tambahkan pertanyaan:

"Mana yang paling mungkin memperbaiki keadaan dalam jangka panjang?"

Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara seseorang mengambil keputusan.

7. Menganggap Kegagalan Solusi sebagai Kegagalan Diri Sendiri

Kesalahan terakhir adalah menganggap bahwa ketika solusi tidak berhasil, berarti dirinya sendiri yang gagal.

Padahal, tidak semua masalah memiliki solusi yang langsung berhasil.

Dalam proses pemecahan masalah, seseorang mungkin mencoba satu strategi, mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan, lalu perlu melakukan evaluasi dan mencoba pendekatan lain.

Namun, orang yang memiliki pola pikir terlalu hitam-putih mungkin berpikir:

"Saya gagal."

"Saya memang tidak bisa."

"Saya selalu membuat keputusan buruk."

Masalahnya kemudian berubah.

Awalnya ia hanya menghadapi satu persoalan.

Sekarang ia menghadapi persoalan sekaligus penilaian negatif terhadap dirinya sendiri.

Secara psikologis, cara seseorang menjelaskan kegagalan kepada dirinya sendiri dapat memengaruhi motivasi untuk mencoba kembali.

Jika kegagalan dianggap sebagai informasi—"cara ini ternyata tidak berhasil"—maka seseorang masih memiliki ruang untuk belajar.

Namun jika kegagalan dianggap sebagai identitas—"saya memang orang yang gagal"—maka kemungkinan seseorang menyerah dapat meningkat.

Karena itu, penting membedakan antara:

"Solusi saya tidak berhasil."

dan

"Saya adalah orang yang gagal."

Keduanya bukan hal yang sama.

Solusi yang gagal dapat dievaluasi.

Strategi dapat diperbaiki.

Informasi baru dapat diperoleh.

Dan keputusan berikutnya dapat dibuat dengan pengalaman yang lebih banyak.

Mengapa Kita Sering Melakukan Kesalahan-Kesalahan Ini?

Jika manusia memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa, mengapa kita tetap sering melakukan kesalahan ketika mencari solusi?

Karena manusia tidak mengambil keputusan hanya menggunakan logika.

Kita juga dipengaruhi oleh emosi, pengalaman, kebiasaan, tekanan sosial, kebutuhan untuk merasa aman, dan keinginan untuk mempertahankan gambaran positif tentang diri sendiri.

Otak manusia juga menggunakan berbagai jalan pintas mental agar dapat mengambil keputusan dengan cepat. Jalan pintas ini sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dalam situasi tertentu dapat menghasilkan penilaian yang keliru.

Selain itu, semakin dekat seseorang secara emosional dengan suatu masalah, semakin sulit baginya untuk melihat masalah tersebut secara objektif.

Itulah mengapa terkadang nasihat dari orang lain terdengar sangat masuk akal ketika diberikan kepada kita—tetapi sangat sulit kita terapkan ketika masalah tersebut terjadi pada diri sendiri.

Kita mungkin tahu bahwa seseorang seharusnya tidak mengambil keputusan ketika sedang marah.

Tetapi ketika kita sendiri sedang marah, aturan tersebut terasa jauh lebih sulit diterapkan.

Cara Mencari Solusi dengan Lebih Sehat Secara Psikologis

Tidak ada metode yang dapat menjamin seseorang selalu mengambil keputusan yang benar. Namun, ada beberapa prinsip yang dapat membantu.

1. Pisahkan fakta dari interpretasi

Tanyakan:

"Apa yang benar-benar saya ketahui?"

Kemudian pisahkan dengan:

"Apa yang hanya saya simpulkan?"

Perbedaan ini sangat penting.

2. Berikan ruang bagi emosi

Tidak perlu menyangkal kemarahan, ketakutan, atau kesedihan.

Akui emosi tersebut, tetapi jangan selalu menjadikannya satu-satunya dasar keputusan.

3. Tentukan masalah inti

Jangan hanya bertanya:

"Bagaimana saya bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman ini?"

Tanyakan:

"Masalah apa yang sebenarnya perlu diselesaikan?"

4. Buat beberapa alternatif

Jangan menganggap hanya ada dua pilihan: melakukan atau tidak melakukan.

Sering kali terdapat pilihan ketiga, keempat, atau kelima yang belum terpikirkan.

5. Pertimbangkan konsekuensi jangka panjang

Solusi yang membuat hidup lebih mudah hari ini belum tentu membuat hidup lebih baik enam bulan kemudian.

6. Minta perspektif dari orang yang tepat

Pilih orang yang mampu memberikan pandangan jujur, bukan hanya orang yang selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar.

7. Evaluasi, bukan menghakimi diri sendiri

Jika sebuah solusi gagal, tanyakan:

"Apa yang bisa saya pelajari dari hasil ini?"

bukan:

"Mengapa saya selalu seperti ini?"

Perubahan pertanyaan dapat mengubah cara kita melihat kegagalan.

Penutup

Mencari solusi sebenarnya bukan sekadar menemukan jawaban atas sebuah masalah. Proses mencari solusi juga merupakan proses memahami diri sendiri.

Kita perlu mengetahui kapan kita sedang berpikir secara objektif dan kapan kita sedang dipengaruhi emosi. Kita perlu mengenali kapan sedang mencari informasi dan kapan sebenarnya sedang mencari pembenaran. Kita juga perlu memahami kapan kita sedang berhati-hati dan kapan kehati-hatian telah berubah menjadi overthinking.

Tujuh kesalahan yang dibahas di atas—terlalu cepat menyimpulkan, mencari pembenaran, mengambil keputusan saat emosi memuncak, terlalu banyak berpikir tanpa bertindak, menolak bantuan, memilih kenyamanan jangka pendek, serta menganggap kegagalan sebagai kegagalan diri—merupakan pola yang dapat terjadi pada siapa saja.

Karena itu, kemampuan menyelesaikan masalah bukan berarti selalu mengetahui jawaban yang benar.

Justru, orang yang mampu menghadapi masalah dengan sehat adalah orang yang bersedia mengatakan:

"Saya mungkin belum tahu jawabannya. Tetapi saya bisa memahami masalahnya, mempertimbangkan pilihan, belajar dari hasilnya, dan memperbaiki langkah berikutnya."

Pada akhirnya, solusi yang baik tidak selalu merupakan solusi yang paling cepat, paling mudah, atau paling nyaman.

Sering kali, solusi yang paling baik adalah solusi yang membuat kita lebih memahami kenyataan, lebih sadar terhadap diri sendiri, dan lebih mampu menghadapi konsekuensi dari pilihan yang kita buat.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho