← Beranda
Ingin Menghindari Masalah Kesehatan Mental? Hindari 5 Hal yang Tidak Dilakukan Orang yang Menua
Irfan FerdiansyahSelasa, 11 Agustus 2026 | 02.53 WIB
seseorang yang menghindari masalah kesehatan mental./Magnific/syda_productions

JawaPos.com - Menua adalah bagian alami dari kehidupan. Seiring bertambahnya usia, banyak hal berubah: tubuh tidak lagi sekuat dulu, lingkaran pertemanan bisa mengecil, anak-anak mulai memiliki kehidupan sendiri, pekerjaan mungkin berakhir, dan seseorang perlahan dipaksa berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup memiliki batas.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan proses penuaan: kesehatan mental juga membutuhkan perhatian.

Menjadi tua dengan sehat secara mental bukan berarti seseorang tidak pernah merasa sedih, kesepian, cemas, kecewa, atau takut. Justru sebaliknya. Orang yang memiliki kesehatan psikologis yang baik tetap dapat mengalami emosi negatif, tetapi mereka cenderung memiliki cara yang lebih adaptif untuk menghadapinya.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), psikologi menunjukkan bahwa kesejahteraan mental pada usia lanjut berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk hubungan sosial, aktivitas fisik, rasa memiliki tujuan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta cara seseorang mengelola emosi dan stres.

Karena itu, jika Anda ingin berusaha menjaga kesehatan mental hingga usia lanjut, mungkin bukan hanya kebiasaan yang perlu diperhatikan. Ada pula beberapa hal yang sebaiknya tidak terus-menerus dilakukan.

Berikut lima di antaranya.

1. Orang yang menua sehat secara mental tidak terus-menerus mengisolasi diri

Kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang bisa menikmati waktu sendirian tanpa merasa kesepian. Sebaliknya, seseorang dapat berada di tengah banyak orang tetapi tetap merasa tidak terhubung dengan siapa pun.

Masalahnya muncul ketika menarik diri dari kehidupan sosial menjadi pola yang berlangsung lama.

Seiring bertambahnya usia, seseorang memang mungkin kehilangan sebagian hubungan sosial. Teman pindah, pasangan meninggal, anak tinggal jauh, atau aktivitas pekerjaan yang dahulu mempertemukan seseorang dengan banyak orang akhirnya berhenti.

Jika tidak disadari, perubahan tersebut dapat membuat kehidupan sosial semakin mengecil.

Pada awalnya mungkin terasa nyaman.

Tidak perlu bertemu siapa pun. Tidak perlu menjelaskan keadaan kepada orang lain. Tidak perlu menghadapi konflik. Tidak perlu keluar rumah.

Namun, terlalu lama hidup dalam isolasi dapat membuat seseorang kehilangan salah satu sumber penting kesejahteraan psikologis: koneksi dengan manusia lain.

Manusia pada dasarnya membutuhkan hubungan sosial. Kita membutuhkan seseorang untuk berbicara, berbagi pengalaman, tertawa, meminta bantuan, atau sekadar merasa bahwa keberadaan kita berarti bagi orang lain.

Orang yang menua dengan sehat secara mental biasanya tidak menunggu sampai merasa benar-benar kesepian sebelum mencari koneksi.

Mereka berusaha mempertahankan hubungan.

Bentuknya tidak harus selalu besar.

Bisa berupa menelepon saudara.

Bisa mengobrol dengan tetangga.

Bisa mengikuti komunitas.

Bisa menghadiri kegiatan keagamaan atau sosial.

Bisa bertemu teman lama.

Bisa pula membantu orang lain.

Yang terpenting adalah tetap memiliki pengalaman bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan sosial.

Mengapa hubungan sosial begitu penting?

Karena hubungan sosial tidak hanya memberikan hiburan.

Interaksi dengan orang lain dapat memberikan dukungan emosional, rasa memiliki, kesempatan untuk bertukar pikiran, bahkan membantu seseorang melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Ketika seseorang menghadapi masa sulit, memiliki orang yang dapat dipercaya untuk berbicara dapat membuat beban psikologis terasa lebih ringan.

Sebaliknya, ketika seseorang terus-menerus menghindari manusia lain, pikirannya bisa menjadi semakin terjebak dalam lingkaran pemikiran yang sama.

Masalah kecil dapat terasa semakin besar.

Kekhawatiran dapat terus berputar.

Dan perasaan negatif bisa menjadi semakin sulit dikoreksi karena tidak ada perspektif dari luar.

Karena itu, jika ingin menjaga kesehatan mental saat menua, jangan menganggap hubungan sosial sebagai sesuatu yang hanya penting ketika masih muda.

Pertemanan dan koneksi sosial tetap merupakan bagian penting dari kehidupan manusia sepanjang usia.

2. Mereka tidak terus-menerus hidup di masa lalu

Salah satu jebakan psikologis yang dapat muncul seiring bertambahnya usia adalah terlalu sering membandingkan masa sekarang dengan masa lalu.

Dulu tubuh lebih kuat.

Dulu teman lebih banyak.

Dulu pekerjaan lebih baik.

Dulu keluarga masih lengkap.

Dulu hidup terasa lebih mudah.

Dulu saya lebih dihargai.

Kenangan masa lalu tentu memiliki tempat penting dalam kehidupan seseorang. Mengingat masa lalu bahkan dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membantu seseorang memahami perjalanan hidupnya.

Masalahnya bukan pada mengingat masa lalu.

Masalah muncul ketika masa lalu menjadi satu-satunya tempat seseorang merasa bahagia.

Jika seseorang terus berkata, “Dulu hidup saya jauh lebih baik,” lama-kelamaan kehidupan saat ini dapat terlihat seperti sesuatu yang tidak layak dinikmati.

Orang yang menua sehat secara mental biasanya tidak menyangkal masa lalu, tetapi mereka juga tidak menjadikan masa lalu sebagai standar yang harus selalu dikalahkan oleh masa kini.

Mereka menerima bahwa hidup berubah.

Dan perubahan tersebut memang terkadang menyakitkan.

Kemampuan untuk menerima perubahan merupakan bagian penting dari proses adaptasi psikologis.

Penuaan bukan sekadar kehilangan

Ketika seseorang menua, memang ada hal-hal yang hilang.

Namun ada pula hal-hal yang bertambah.

Pengalaman.

Kematangan.

Pengetahuan tentang diri sendiri.

Kemampuan memahami orang lain.

Kebebasan menentukan prioritas.

Kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dahulu terlalu sibuk untuk dilakukan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih sehat bukan:

“Mengapa saya tidak bisa kembali seperti dulu?”

Melainkan:

“Dengan keadaan saya sekarang, kehidupan seperti apa yang masih bisa saya bangun?”

Pertanyaan kedua membuka kemungkinan.

Pertanyaan pertama sering membuat seseorang terjebak dalam perbandingan.

Orang yang sehat secara mental bukan berarti selalu optimistis. Mereka hanya lebih mampu mengalihkan perhatian dari sesuatu yang sudah tidak dapat dikendalikan menuju sesuatu yang masih mungkin dilakukan.

Jika tubuh tidak lagi sekuat dulu, mungkin bentuk aktivitasnya berubah.

Jika pekerjaan telah berakhir, mungkin seseorang mencari peran baru.

Jika lingkaran pertemanan berubah, mungkin seseorang membangun hubungan baru.

Jika anak-anak sudah mandiri, mungkin seseorang menemukan kembali minat yang selama ini tertunda.

Kehidupan tidak harus kembali seperti dulu untuk tetap memiliki makna.

3. Mereka tidak mengabaikan aktivitas fisik dan kebutuhan tubuh

Kesehatan mental dan kesehatan fisik bukan dua dunia yang sepenuhnya terpisah.

Keduanya saling berhubungan.

Ketika seseorang kurang bergerak, jarang keluar rumah, tidur tidak teratur, dan mengabaikan kebutuhan dasar tubuh dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat memengaruhi suasana hati, energi, dan kemampuan seseorang menghadapi stres.

Inilah sebabnya orang yang menua dengan sehat secara mental biasanya tidak menganggap tubuh sebagai sesuatu yang boleh diabaikan.

Mereka mungkin tidak melakukan olahraga berat.

Mereka juga tidak harus memiliki rutinitas yang sempurna.

Namun, mereka berusaha tetap aktif sesuai kemampuan.

Berjalan kaki.

Melakukan pekerjaan rumah.

Berkebun.

Melakukan latihan kekuatan yang sesuai.

Melakukan peregangan.

Menghabiskan waktu di luar rumah.

Aktivitas sederhana pun dapat membantu seseorang mempertahankan rasa kemandirian dan keterhubungan dengan lingkungan.

Bergerak bukan hanya tentang penampilan

Saat masih muda, aktivitas fisik sering dikaitkan dengan bentuk tubuh, performa, atau penampilan.

Ketika menua, tujuan tersebut dapat berubah.

Aktivitas fisik bisa menjadi cara mempertahankan fungsi tubuh.

Dan fungsi tubuh berkaitan dengan kualitas hidup.

Bayangkan seseorang yang masih mampu berjalan ke toko, mengurus rumah, bertemu teman, atau melakukan hobinya sendiri.

Ada rasa mandiri di sana.

Sebaliknya, ketika seseorang semakin tidak aktif tanpa alasan medis yang jelas, kemampuan fisiknya dapat menurun dan aktivitas sehari-hari menjadi semakin terbatas.

Keterbatasan tersebut kemudian dapat memengaruhi kehidupan sosial dan psikologis.

Tentu saja, tidak semua penurunan fungsi tubuh dapat dicegah. Penuaan, penyakit, cedera, dan kondisi medis tertentu memang dapat memengaruhi kemampuan seseorang.

Karena itu, poinnya bukan “olahraga akan mencegah semua masalah mental.”

Itu terlalu sederhana.

Yang lebih tepat adalah: merawat tubuh merupakan salah satu bagian dari strategi menjaga kesejahteraan secara keseluruhan.

Dan jika seseorang memiliki kondisi medis tertentu, aktivitas fisik sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan dan saran profesional kesehatan.

4. Mereka tidak berhenti memiliki tujuan

Ada kesalahpahaman bahwa setelah seseorang mencapai usia tertentu, hidup tidak lagi membutuhkan tujuan besar.

Seolah-olah tujuan hanya penting ketika seseorang sedang membangun karier, membesarkan anak, atau mengejar kesuksesan.

Padahal manusia membutuhkan alasan untuk bangun dan merasa bahwa hidupnya memiliki arah.

Tujuan tersebut tidak harus spektakuler.

Bahkan, tujuan sederhana dapat memiliki makna besar.

Merawat tanaman.

Menyelesaikan buku.

Belajar memasak.

Mengajari cucu sesuatu.

Mengikuti komunitas.

Membantu tetangga.

Menjaga kebun.

Menulis.

Membuat kerajinan.

Bepergian.

Belajar bahasa baru.

Atau sekadar memiliki rutinitas pagi yang membuat seseorang merasa hari itu layak dijalani.

Yang penting adalah adanya sesuatu yang membuat seseorang berpikir:

“Saya masih memiliki sesuatu yang ingin saya lakukan.”

Mengapa tujuan penting?

Karena tujuan memberikan struktur.

Ketika seseorang bekerja, kehidupan biasanya memiliki struktur otomatis.

Ada jam bangun.

Ada tugas.

Ada tanggung jawab.

Ada orang yang ditemui.

Ada sesuatu yang harus diselesaikan.

Ketika pekerjaan berhenti, struktur tersebut bisa menghilang.

Jika tidak digantikan dengan aktivitas bermakna, hari-hari dapat terasa kosong.

Bangun tidur.

Makan.

Menonton televisi.

Tidur.

Kemudian mengulanginya lagi.

Tidak selalu salah menikmati hidup dengan santai. Masalahnya adalah ketika seseorang kehilangan hampir semua sumber makna dan keterlibatan.

Orang yang menua sehat secara mental biasanya tetap mencari sesuatu yang membuat mereka merasa berguna, tertarik, dibutuhkan, atau penasaran.

Dan tujuan tersebut tidak harus menghasilkan uang.

Tidak harus membuat mereka terkenal.

Tidak harus dipuji orang lain.

Kadang-kadang tujuan terbaik justru merupakan sesuatu yang sangat sederhana tetapi memberikan perasaan bahwa kehidupan masih memiliki nilai.

5. Mereka tidak memendam semua masalah sendirian

Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi kuat berarti mampu menghadapi semuanya sendiri.

Tidak menangis.

Tidak mengeluh.

Tidak meminta bantuan.

Tidak menceritakan masalah.

Selalu terlihat baik-baik saja.

Namun, ketahanan psikologis bukan berarti tidak pernah membutuhkan bantuan.

Justru kemampuan mengenali kapan kita membutuhkan bantuan dapat menjadi bagian dari kesehatan mental yang baik.

Orang yang menua dengan sehat secara mental tidak selalu menyelesaikan semua masalah sendirian.

Ketika mereka mengalami kesulitan, mereka dapat berbicara kepada orang yang dipercaya.

Jika masalahnya lebih serius, mereka juga dapat mencari bantuan profesional.

Ini bukan tanda kelemahan.

Ini adalah bentuk pengelolaan masalah.

Ada perbedaan antara mandiri dan terisolasi

Mandiri berarti seseorang mampu mengurus dirinya sendiri sejauh yang memungkinkan.

Terisolasi berarti seseorang merasa harus menghadapi semuanya sendirian bahkan ketika sebenarnya membutuhkan dukungan.

Keduanya berbeda.

Seseorang bisa sangat mandiri tetapi tetap memiliki jaringan dukungan yang kuat.

Ia bisa berkata:

“Untuk urusan ini saya bisa mengatasinya sendiri.”

Tetapi juga mampu berkata:

“Untuk masalah ini saya membutuhkan bantuan.”

Kemampuan membedakan kedua keadaan tersebut sangat penting.

Karena terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat.

Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Dan terkadang masalah memang sudah terlalu berat untuk diselesaikan hanya dengan berbicara kepada teman.

Dalam kondisi seperti itu, berbicara dengan psikolog, psikiater, dokter, atau profesional kesehatan lainnya bukanlah kegagalan.

Justru itu dapat menjadi langkah bertanggung jawab.

Ada Satu Hal Penting yang Sering Dilupakan

Kelima hal di atas bukanlah aturan mutlak.

Seseorang yang sesekali ingin menyendiri bukan berarti tidak sehat secara mental.

Seseorang yang sering mengingat masa lalu bukan berarti mengalami gangguan mental.

Seseorang yang tidak berolahraga bukan otomatis akan mengalami masalah psikologis.

Dan seseorang yang kehilangan motivasi selama beberapa hari juga tidak berarti mengalami depresi.

Kesehatan mental jauh lebih kompleks daripada lima kebiasaan.

Faktor biologis, lingkungan, pengalaman hidup, kondisi kesehatan, kehilangan, tekanan ekonomi, hubungan keluarga, trauma, dan banyak faktor lainnya dapat memengaruhi kesehatan psikologis seseorang.

Karena itu, jangan menggunakan artikel seperti ini untuk mendiagnosis diri sendiri atau orang lain.

Yang lebih penting adalah memperhatikan pola.

Apakah seseorang semakin menarik diri?

Apakah aktivitas yang dulu disukai sudah tidak menarik lagi?

Apakah tidur dan pola makan berubah secara signifikan?

Apakah muncul perasaan tidak berharga?

Apakah kecemasan atau kesedihan berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari?

Apakah seseorang kesulitan menjalankan aktivitas yang biasanya dapat dilakukan?

Jika perubahan tersebut berlangsung terus-menerus atau semakin berat, mencari bantuan profesional adalah langkah yang bijaksana.

Menua Sehat Secara Mental Bukan Berarti Selalu Bahagia

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Banyak orang memiliki gambaran yang keliru tentang kesehatan mental.

Mereka mengira orang yang sehat secara mental harus selalu positif.

Harus selalu bahagia.

Tidak boleh cemas.

Tidak boleh sedih.

Tidak boleh takut.

Padahal itu tidak realistis.

Orang yang sehat secara mental tetap bisa menangis.

Tetap bisa kecewa.

Tetap bisa marah.

Tetap bisa takut kehilangan.

Tetap bisa merasa kesepian.

Perbedaannya mungkin terletak pada bagaimana seseorang merespons pengalaman tersebut.

Ia tidak langsung menyimpulkan bahwa hidupnya sudah berakhir hanya karena mengalami satu kegagalan.

Ia tidak menganggap kesedihan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan selamanya.

Ia mampu mencari dukungan.

Ia mampu menyesuaikan diri.

Ia mampu menerima bahwa beberapa hal memang tidak bisa dikendalikan.

Dan yang paling penting, ia masih mampu menemukan alasan untuk terus menjalani kehidupan.

Lima Hal yang Sebaiknya Tidak Menjadi Kebiasaan

Jika ingin merangkumnya, orang yang berusaha menjaga kesehatan mental ketika menua biasanya berusaha untuk tidak:

1. Mengisolasi diri terlalu lama.
Tetap menjaga hubungan dan koneksi sosial.

2. Hidup sepenuhnya di masa lalu.
Menghargai kenangan tanpa kehilangan kehidupan saat ini.

3. Mengabaikan tubuh.
Tetap bergerak dan merawat kebutuhan fisik sesuai kemampuan.

4. Kehilangan semua tujuan.
Memiliki aktivitas atau alasan yang membuat hidup terasa bermakna.

5. Memendam semua masalah sendirian.
Berani mencari dukungan ketika diperlukan.

Kelima hal ini mungkin terdengar sederhana.

Namun justru kebiasaan sederhana sering menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang menentukan bagaimana seseorang menjalani proses penuaan.

Pada Akhirnya, Penuaan Sehat Adalah Tentang Kemampuan Beradaptasi

Kita tidak dapat menghentikan waktu.

Kita tidak dapat mempertahankan tubuh tetap muda selamanya.

Kita tidak dapat memastikan semua orang yang kita cintai akan selalu berada di sisi kita.

Dan kita tidak dapat mengendalikan semua kejadian yang akan datang.

Tetapi kita masih memiliki ruang untuk menentukan bagaimana kita merespons perubahan tersebut.

Mungkin itulah salah satu bentuk kematangan psikologis yang paling penting.

Bukan berusaha mempertahankan kehidupan agar selalu sama seperti dulu.

Melainkan belajar mengatakan:

“Kehidupan saya sudah berubah. Lalu, apa yang masih bisa saya lakukan dengan kehidupan yang saya miliki sekarang?”

Pertanyaan tersebut membuka ruang untuk beradaptasi.

Untuk belajar.

Untuk membangun hubungan baru.

Untuk menemukan aktivitas baru.

Untuk menerima bantuan.

Untuk menjaga tubuh.

Dan untuk menemukan kembali makna yang mungkin sempat hilang.

Menua secara sehat secara mental bukan berarti berhasil menghindari seluruh masalah psikologis.

Tidak ada manusia yang memiliki jaminan seperti itu.

Namun, kita dapat membangun kebiasaan yang mendukung kesejahteraan psikologis dan membantu kita menghadapi perubahan dengan lebih baik.

Karena pada akhirnya, tujuan penuaan bukanlah sekadar menambah tahun dalam kehidupan.

Melainkan berusaha membuat tahun-tahun tersebut tetap memiliki hubungan, makna, aktivitas, dan alasan untuk dijalani.

EDITOR: Hanny Suwindari