JawaPos.com — Banyak orang percaya bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dengan bekerja lebih keras, berusaha lebih gigih, dan tidak pernah berhenti mengejar apa yang diinginkan.
Namun, dalam praktiknya, semakin besar rasa takut kehilangan atau gagal, semakin sulit pula seseorang memperoleh hasil yang diharapkan. Alih-alih mendekatkan diri pada tujuan, tekanan yang berlebihan justru sering menjadi penghambat terbesar.
Fenomena ini dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari seseorang yang terlalu mendambakan hubungan asmara hingga terus-menerus mencari kepastian, sampai pebisnis yang terlalu takut gagal sehingga kehilangan keberanian mengambil keputusan.
Polanya hampir selalu sama, yaitu semakin kuat seseorang menggenggam hasil, semakin besar tekanan yang ia rasakan. Filsuf Inggris Alan Watts menyebut fenomena tersebut sebagai the backwards law atau hukum yang bekerja secara terbalik.
Menurutnya, banyak penderitaan manusia muncul bukan karena keinginan itu sendiri, melainkan karena kebutuhan untuk menjadikan hasil sebagai bukti bahwa diri mereka berharga. Di titik itulah keinginan berubah menjadi beban.
Dilansir dari YouTube Psyphoria, Selasa (28/7), konsep tersebut dijelaskan melalui berbagai gagasan Alan Watts dalam sejumlah bukunya, terutama The Wisdom of Insecurity. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Keinginan dan kebutuhan ternyata bukan hal yang sama
Alan Watts membedakan antara menginginkan sesuatu dan membutuhkan sesuatu demi membuktikan nilai diri.
Keinginan yang sehat tetap membuat seseorang mampu menerima jika hasilnya tidak sesuai harapan. Sebaliknya, kebutuhan yang berlebihan membuat kegagalan terasa seperti kehancuran identitas.
Inilah yang sering tidak disadari banyak orang. Mereka mengira sedang berambisi, padahal sebenarnya sedang mencari pengakuan atas harga diri. Akibatnya, setiap penolakan terasa sangat menyakitkan karena dipandang sebagai bukti bahwa mereka tidak cukup baik.
Watts menilai bahwa ketika sebuah tujuan dijadikan penentu nilai diri, tekanan mental akan meningkat drastis. Yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar hasil, melainkan rasa aman terhadap diri sendiri.
2. Semakin tegang, performa justru bisa semakin buruk
Video tersebut menjelaskan bahwa usaha yang berlebihan tidak selalu menghasilkan performa lebih baik. Ketika seseorang terlalu takut gagal, ketegangan akan muncul secara alami melalui ekspresi wajah, nada bicara, bahasa tubuh, hingga cara mengambil keputusan.
Orang lain sering kali mampu menangkap sinyal tersebut tanpa sadar. Pewawancara kerja, calon pasangan, maupun klien bisnis dapat merasakan ketika seseorang tampak terlalu membutuhkan persetujuan atau hasil tertentu.
Menurut Watts, masalahnya bukan kurangnya kemampuan, melainkan adanya tekanan yang menguras perhatian. Energi yang seharusnya dipakai untuk berkinerja baik justru habis untuk mengendalikan rasa takut.
3. Pikiran sering kali hidup di masa depan, bukan di saat ini
Watts juga menyoroti kebiasaan manusia yang terus-menerus membayangkan kemungkinan buruk sebelum hal itu benar-benar terjadi.
Seseorang dapat menghabiskan berhari-hari mengkhawatirkan wawancara kerja, hasil ujian, atau pertemuan penting, hingga akhirnya tidak menikmati kehidupan yang sedang berlangsung.
Dalam video dijelaskan bahwa otak memang mampu merencanakan masa depan. Namun, kemampuan itu juga membuat seseorang mudah terjebak dalam skenario yang belum tentu terjadi.
Karena terlalu sibuk “hidup” di masa depan, perhatian terhadap momen saat ini menjadi berkurang. Padahal, performa terbaik hanya bisa muncul ketika seseorang benar-benar hadir pada pekerjaan yang sedang dilakukan.
4. Lepaskan kebutuhan untuk membuktikan diri, bukan semangat berusaha
Alan Watts tidak mengajarkan seseorang untuk berhenti peduli terhadap tujuan hidup. Ia juga tidak mendorong sikap pasrah atau bermalas-malasan. Yang perlu dilepaskan adalah keyakinan bahwa hasil tertentu menjadi syarat agar seseorang layak dihargai.
Seseorang tetap dapat bekerja keras, belajar, membangun hubungan, atau mengejar karier dengan sepenuh hati tanpa menjadikan hasil akhir sebagai ukuran harga dirinya. Dengan cara itu, usaha menjadi lebih alami dan tidak dipenuhi rasa takut.
Watts menggambarkannya seperti berenang. Semakin seseorang panik dan terus melawan air, semakin mudah ia tenggelam. Sebaliknya, ketika tubuh berhenti melawan dan mulai mempercayai air, tubuh justru lebih mudah mengapung.
5. Melepaskan bukan strategi untuk menang, tetapi cara hidup yang lebih sehat
Salah satu pesan terpenting Alan Watts adalah bahwa melepaskan keterikatan tidak boleh dijadikan trik agar tujuan lebih cepat tercapai.
Jika seseorang berpura-pura “ikhlas” hanya demi memperoleh hasil yang diinginkan, sesungguhnya ia masih menggenggam tujuan tersebut dengan cara yang berbeda.
Melepaskan berarti menerima bahwa hasil tidak menentukan nilai diri. Dari kondisi inilah seseorang mampu bertindak lebih tenang, lebih fokus, dan lebih autentik karena tidak lagi dibebani rasa takut yang berlebihan.
Paradoksnya, justru ketika tekanan itu hilang, peluang untuk menghasilkan karya terbaik, membangun hubungan yang sehat, atau meraih kesuksesan sering kali menjadi lebih besar.
Alan Watts mengingatkan bahwa penyebab utama penderitaan bukan selalu karena kita menginginkan sesuatu, melainkan karena kita menjadikan hasil sebagai penentu harga diri.
Ketika seseorang mampu berkomitmen penuh pada proses tanpa menggantungkan nilai dirinya pada hasil akhir, ia tidak hanya bekerja dengan lebih tenang, tetapi juga membuka peluang lebih besar untuk benar-benar mencapai apa yang selama ini dikejar.