← Beranda
7 Ciri Perilaku Pria yang Berpotensi Berdampak Buruk pada Relasi, Apa Saja?
Mohammad Maulana IqbalKamis, 23 Juli 2026 | 23.35 WIB
perilaku pria yang memiliki kepribadian buruk menurut Psikologi./Freepik.

JawaPos.com – Cara seseorang bersikap dan berinteraksi dengan orang lain dapat memberikan gambaran mengenai karakter serta kondisi psikologisnya.

Dalam kajian psikologi, terdapat sejumlah pola perilaku pada pria yang dinilai dapat mencerminkan kecenderungan kepribadian yang kurang sehat, terutama jika muncul secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap-sikap tersebut berpotensi memengaruhi hubungan sosial, komunikasi, hingga kualitas relasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Melalui pendekatan psikologi, perilaku yang bersifat sesaat juga dapat dibedakan dari pola yang mengarah pada karakter yang lebih mendalam.

Baca Juga: Jangan Sepelekan, Ini 9 Perilaku yang Berpotensi Merenggangkan Hubungan

Mengutip laporan yang dimuat geediting.com, terdapat tujuh perilaku yang disebut dapat menjadi indikasi kepribadian kurang sehat pada pria menurut perspektif psikologi.

1. Kurangnya kemampuan berempati

Salah satu tanda paling menonjol dari seseorang dengan kepribadian berkualitas rendah adalah ketidakmampuan untuk memahami perasaan orang lain.

Empati merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat, baik dalam lingkungan personal maupun profesional.

Individu dengan sifat ini cenderung hanya fokus pada kebutuhan dan perasaan mereka sendiri, tanpa mempertimbangkan dampak tindakan mereka terhadap orang lain.

Ketidakpedulian terhadap perasaan orang lain ini seringkali menciptakan ketegangan dalam hubungan dan mengurangi tingkat kepercayaan.

Mereka kesulitan untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain dan memahami perspektif yang berbeda.

Mengenali tanda kurangnya empati ini dapat membantu kamu memahami karakter seseorang dan menyesuaikan cara berinteraksi dengannya.

2. Sikap negatif yang berkelanjutan

Perilaku kedua yang sering terlihat adalah kecenderungan untuk selalu berpandangan negatif terhadap segala situasi.

Berbeda dengan hari-hari buruk yang dialami semua orang, individu ini seolah-olah hidup dalam suasana mendung yang tidak pernah berakhir.

Mereka memiliki kebiasaan untuk mencari sisi buruk dari setiap kejadian dan gagal melihat aspek positif yang mungkin ada.

Pesimisme yang terus-menerus ini tidak hanya mempengaruhi diri mereka sendiri, tetapi juga dapat menguras energi orang-orang di sekitarnya.

Sikap negatif yang konsisten menciptakan lingkaran setan yang sulit untuk diputus dan berdampak pada kesehatan mental lingkungan sosial.

Mengidentifikasi pola negativitas konstan ini penting untuk melindungi kesejahteraan mental kamu sendiri.

3. Ego yang tidak sehat

Ciri khas lainnya adalah memiliki rasa superioritas yang berlebihan dan menganggap diri mereka lebih penting dari orang lain.

Individu dengan ego yang tidak sehat percaya bahwa mereka berhak mendapat perlakuan istimewa dan tidak segan-segan menunjukkannya.

Mereka cenderung mengabaikan perasaan dan pendapat orang lain karena menganggapnya kurang berharga dibandingkan milik mereka.

Ego yang menggelembung ini berbeda dengan harga diri yang sehat, karena menciptakan ketimpangan dalam hubungan interpersonal.

Sikap superior ini membuat mereka sulit menerima kritik atau saran dari orang lain, bahkan ketika itu diberikan dengan niat baik.

Memahami bahwa perilaku ini lebih mencerminkan ketidakamanan internal daripada kepercayaan diri sejati dapat membantu kamu menghadapi situasi tersebut.

4. Ketidakmampuan mengambil tanggung jawab

Perilaku keempat yang menandai kepribadian berkualitas rendah adalah keengganan untuk mengakui kesalahan dan mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.

Ketika menghadapi konsekuensi dari perbuatan mereka, individu ini lebih memilih untuk menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam.

Mereka seringkali berposisi sebagai korban dalam situasi yang sebenarnya disebabkan oleh tindakan mereka sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang konsisten menghindari tanggung jawab cenderung memiliki tingkat harga diri dan kesejahteraan yang lebih rendah.

Ketidakmampuan ini menghambat pertumbuhan personal dan mempersulit pembentukan hubungan yang sehat dan saling percaya.

Mengenali pola penghindaran tanggung jawab ini dapat membantu kamu membuat keputusan yang lebih bijak dalam menjalin hubungan.

5. Ketidakjujuran yang berulang

Ketidakjujuran merupakan indikator klasik dari kepribadian yang bermasalah, di mana seseorang secara konsisten tidak mengatakan kebenaran.

Berbeda dengan kebohongan kecil yang kadang dilakukan semua orang, individu ini menjadikan ketidakjujuran sebagai pola perilaku yang berulang.

Mereka berbohong tentang hal-hal besar maupun kecil, seringkali tanpa alasan yang jelas atau keuntungan yang signifikan.

Ketidakjujuran ini dapat digunakan sebagai alat untuk membenarkan tindakan mereka atau untuk menciptakan citra diri yang lebih baik.

Kebiasaan berbohong yang kronis ini mengikis kepercayaan dan membuat orang lain sulit untuk mengandalkan kata-kata mereka.

Kejujuran merupakan fondasi dari setiap hubungan yang sukses, sehingga mengenali tanda ini sangat penting untuk menjaga integritas hubungan kamu.

6. Kerendahan hati yang dibuat-buat

Sifat yang mungkin mengejutkan adalah kerendahan hati palsu, di mana seseorang menyamarkan manipulasi di balik topeng kesederhanaan.

Individu ini sengaja merendahkan pencapaian mereka atau menolak pujian, bukan karena ketulusan tetapi untuk memanipulasi persepsi orang lain.

Kerendahan hati palsu ini sebenarnya merupakan bentuk penipuan yang bertujuan untuk mendapatkan rasa hormat atau kekaguman yang tidak pantas mereka terima.

Perilaku ini mencerminkan kebanggaan yang terselubung, di mana mereka berusaha tampil rendah hati sambil tetap mengharapkan pengakuan.

Mendeteksi kerendahan hati palsu bisa jadi sulit karena menyamar sebagai sifat positif, padahal sebenarnya merupakan bentuk manipulasi halus.

Memahami perbedaan antara kerendahan hati sejati dan yang dibuat-buat dapat membantu kamu melihat menembus kedok dan memahami karakter sebenarnya.

7. Tidak menghormati batasan

Perilaku terakhir yang menunjukkan kepribadian berkualitas rendah adalah ketidakmampuan untuk menghormati ruang pribadi dan batasan orang lain.

Individu dengan sifat ini cenderung melanggar batas-batas yang telah ditetapkan dan membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Mereka seringkali menganggap remeh privasi dan kebutuhan personal orang lain, baik secara fisik maupun emosional.

Ketidakhormatan terhadap batasan ini mencerminkan kurangnya kesadaran sosial dan empati terhadap kebutuhan orang lain.

Perilaku ini dapat menciptakan situasi yang tidak nyaman dan merusak dinamika hubungan yang sehat.

Mengidentifikasi tanda-tanda ketidakhormatan terhadap batasan sangat penting untuk melindungi diri dan mempertahankan hubungan yang sehat.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho