← Beranda
8 Alasan Mengapa Pasangan Tetap Bertahan dari Pengkhianatan dalam Suatu Hubungan Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Selasa, 21 Juli 2026 | 07.58 WIB
seseorang yang bertahan meski mengalami pengkhianatan./Magnific/TriangleProd

JawaPos.com - Pengkhianatan dalam hubungan, baik berupa perselingkuhan emosional, perselingkuhan fisik, maupun bentuk pelanggaran kepercayaan lainnya, sering dianggap sebagai akhir dari sebuah hubungan. Banyak orang beranggapan bahwa ketika kepercayaan telah hancur, perpisahan adalah satu-satunya jalan yang masuk akal.

Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam praktik psikologi maupun hasil berbagai penelitian mengenai hubungan romantis, tidak sedikit pasangan yang memilih tetap bersama setelah mengalami pengkhianatan. Keputusan tersebut sering kali dipandang aneh oleh orang lain, padahal ada berbagai faktor psikologis yang memengaruhi pilihan tersebut.

Bertahan bukan berarti seseorang lemah atau tidak memiliki harga diri. Sebaliknya, keputusan itu bisa lahir dari berbagai pertimbangan emosional, sosial, hingga rasional yang kompleks.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (20/7), terdapat delapan alasan mengapa pasangan tetap bertahan setelah mengalami pengkhianatan menurut sudut pandang psikologi.

1. Ikatan Emosional yang Sangat Kuat

Menurut teori attachment atau teori keterikatan, manusia membangun ikatan emosional yang mendalam dengan pasangan. Ikatan ini berkembang melalui pengalaman bersama, dukungan emosional, serta rasa aman yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Ketika pengkhianatan terjadi, rasa sakit memang sangat besar. Namun, ikatan emosional yang telah terbentuk tidak otomatis hilang. Banyak orang masih mencintai pasangannya meskipun merasa terluka.

Dalam psikologi, emosi positif dan negatif dapat muncul secara bersamaan. Seseorang bisa merasa marah, kecewa, sekaligus tetap mencintai pasangan. Kondisi inilah yang membuat sebagian orang memilih mencoba memperbaiki hubungan daripada langsung mengakhirinya.

2. Adanya Investasi yang Besar dalam Hubungan

Psikolog Caryl Rusbult melalui Investment Model menjelaskan bahwa seseorang cenderung mempertahankan hubungan apabila telah menginvestasikan banyak hal di dalamnya.

Investasi tersebut dapat berupa:

Waktu bertahun-tahun bersama.
Pengorbanan karier.
Kepemilikan rumah atau aset bersama.
Kehadiran anak.
Jaringan pertemanan dan keluarga yang telah menyatu.

Semakin besar investasi yang telah diberikan, semakin sulit seseorang meninggalkan hubungan tersebut. Bukan semata karena takut rugi, tetapi karena mereka merasa masih ada sesuatu yang layak diperjuangkan.

3. Masih Ada Harapan Pasangan Bisa Berubah

Psikologi perubahan perilaku menunjukkan bahwa manusia mampu berubah apabila memiliki motivasi yang kuat, menyadari kesalahannya, dan bersedia memperbaiki diri.

Banyak pasangan bertahan karena melihat tanda-tanda seperti:

Pasangan mengakui kesalahan tanpa menyalahkan orang lain.
Menunjukkan penyesalan yang tulus.
Bersedia mengikuti konseling pasangan.
Lebih terbuka dan transparan.
Konsisten memperbaiki perilaku.

Harapan akan perubahan menjadi sumber optimisme bahwa hubungan dapat dibangun kembali meskipun prosesnya panjang.

4. Demi Anak dan Stabilitas Keluarga

Bagi pasangan yang telah memiliki anak, keputusan untuk bertahan sering dipengaruhi oleh keinginan menjaga stabilitas keluarga.

Secara psikologis, orang tua umumnya ingin memberikan lingkungan yang aman dan stabil bagi anak-anak. Mereka khawatir perceraian akan berdampak pada kondisi emosional, pendidikan, maupun perkembangan sosial anak.

Namun, psikologi keluarga juga menekankan bahwa bertahan hanya bermanfaat apabila kedua orang tua mampu membangun hubungan yang sehat setelah konflik. Jika hubungan dipenuhi pertengkaran berkepanjangan dan kekerasan emosional, kondisi tersebut justru dapat lebih merugikan anak dibandingkan perpisahan yang dilakukan secara dewasa.

5. Pengkhianatan Dipandang sebagai Kesalahan, Bukan Karakter

Tidak semua orang memandang perselingkuhan sebagai bukti bahwa pasangan adalah pribadi yang buruk.

Beberapa individu melihat pengkhianatan sebagai hasil dari kombinasi berbagai faktor, misalnya:

Komunikasi yang buruk.
Krisis kehidupan.
Tekanan pekerjaan.
Ketidakmatangan emosi.
Masalah kesehatan mental yang belum tertangani.

Cara pandang ini membuat mereka lebih mudah memisahkan antara perilaku yang salah dengan nilai seseorang sebagai individu. Walaupun tidak membenarkan pengkhianatan, mereka percaya bahwa kesalahan tersebut masih bisa diperbaiki apabila ada komitmen yang kuat.

6. Komitmen Jangka Panjang Lebih Besar daripada Luka Sesaat

Dalam teori cinta yang dikemukakan oleh Robert Sternberg, cinta terdiri atas tiga komponen utama, yaitu keintiman, gairah, dan komitmen.

Pada hubungan jangka panjang, komitmen sering menjadi fondasi yang paling kuat. Pasangan memahami bahwa setiap hubungan akan menghadapi krisis dan tantangan.

Mereka memilih memandang pengkhianatan sebagai salah satu badai terbesar yang harus dihadapi bersama, bukan akhir dari seluruh perjalanan hubungan.

Komitmen ini biasanya didukung oleh nilai-nilai pribadi, keyakinan hidup, maupun tujuan bersama yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

7. Memaafkan Memberikan Ketenangan Psikologis

Psikologi positif menjelaskan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan orang lain.

Memaafkan lebih merupakan proses melepaskan kemarahan, dendam, dan beban emosional yang terus menguras energi.

Orang yang mampu memaafkan sering mengalami:

Tingkat stres yang lebih rendah.
Kecemasan yang berkurang.
Tidur yang lebih baik.
Kesehatan mental yang lebih stabil.

Dalam beberapa kasus, proses memaafkan akhirnya membuka peluang bagi pasangan untuk membangun kembali kepercayaan secara perlahan. Tentu saja, proses ini membutuhkan waktu, konsistensi, dan tindakan nyata dari pihak yang melakukan pengkhianatan.

8. Hubungan Berhasil Membangun Kepercayaan Kembali

Kepercayaan memang sulit dibangun kembali, tetapi bukan berarti mustahil.

Penelitian mengenai terapi pasangan menunjukkan bahwa sebagian hubungan justru menjadi lebih sehat setelah berhasil melewati krisis besar. Hal ini terjadi karena kedua belah pihak belajar:

Berkomunikasi dengan lebih jujur.
Menyampaikan kebutuhan secara terbuka.
Menetapkan batasan yang jelas.
Mengelola konflik secara lebih dewasa.
Menghargai pasangan dengan lebih baik.

Dalam kondisi seperti ini, pengkhianatan menjadi titik balik yang mendorong perubahan positif dalam hubungan. Walaupun bekas luka tetap ada, hubungan dapat berkembang menjadi lebih matang dibanding sebelumnya.

Apakah Semua Pengkhianatan Harus Dimaafkan?

Jawabannya tentu tidak.

Psikologi tidak pernah menyatakan bahwa setiap orang wajib bertahan setelah dikhianati. Keputusan untuk tetap bersama atau mengakhiri hubungan merupakan pilihan pribadi yang dipengaruhi oleh kondisi masing-masing pasangan.

Ada situasi di mana mengakhiri hubungan justru menjadi keputusan paling sehat, misalnya apabila pengkhianatan terjadi berulang kali, disertai manipulasi, kekerasan, pelecehan, atau pasangan sama sekali tidak menunjukkan penyesalan maupun keinginan untuk berubah.

Sebaliknya, apabila kedua belah pihak masih memiliki komitmen yang kuat, mampu berkomunikasi secara terbuka, serta bersedia menjalani proses pemulihan, hubungan masih memiliki peluang untuk diperbaiki.

Kesimpulan

Pengkhianatan memang merupakan salah satu ujian paling berat dalam sebuah hubungan. Meski demikian, tidak semua pasangan memilih berpisah. 

Menurut psikologi, keputusan untuk bertahan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ikatan emosional, besarnya investasi dalam hubungan, harapan akan perubahan, kehadiran anak, cara memandang kesalahan pasangan, komitmen jangka panjang, kemampuan memaafkan, hingga keberhasilan membangun kembali kepercayaan.

Pada akhirnya, tidak ada keputusan yang benar untuk semua orang. Yang terpenting adalah memastikan bahwa pilihan untuk bertahan maupun berpisah didasarkan pada kesehatan emosional, rasa saling menghormati, serta upaya menciptakan hubungan yang lebih sehat di masa depan.

EDITOR: Hanny Suwindari