← Beranda
7 Kebiasaan Pria yang Berujung Kesepian di Usia Tua Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSabtu, 18 Juli 2026 | 06.58 WIB
Kebiasaan pria yang berujung kesepian di usia tua menurut psikologi./Magnific/ Lifestylememory

JawaPos.com – Psikologi mengungkap bahwa pola perilaku pria dalam hubungan bisa memprediksi kesepian di usia tua.

Sejumlah kebiasaan kecil sering luput dari perhatian meski berdampak besar pada kualitas hubungan jangka panjang.

Pria yang tampak baik di permukaan terkadang menyimpan pola perilaku yang justru menjauhkan orang-orang terdekat.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (17/7), berikut tujuh kebiasaan pria yang cenderung membuat mereka berakhir kesepian dan terisolasi seiring bertambahnya usia.

Baca Juga: Google Hidupkan Gol Legendaris Pele dengan AI, Euforia Piala Dunia 2026 Makin Seru Berkat Teknologi

1. Mengucapkan kalimat menyakitkan dengan nada lembut

Sindiran tajam yang dibalut nada ramah tetap tergolong perkataan yang menyakitkan hati.

Alasan "hanya jujur" atau "cuma bercanda" sering dipakai untuk menutupi komentar yang merendahkan.

Pola komunikasi semacam ini membuat orang di sekitarnya perlahan menjauh seiring waktu.

2. Sulit menerima penolakan dengan wajar

Keinginan menghabiskan setiap waktu luang bersama pasangan awalnya terasa seperti bentuk perhatian mendalam.

Namun reaksi saat pasangan tidak bisa hadir menjadi penanda penting kematangan emosional seseorang.

Sikap merajuk atau memberi rasa bersalah menunjukkan pola tidak sehat dalam menghadapi penolakan.

3. Selalu menyerahkan semua keputusan pada pasangan

Sikap yang tampak penuh perhatian ini sebenarnya bisa menjadi tanda peringatan tersembunyi.

Orang yang sehat secara emosional mampu menyampaikan keinginannya sendiri sekaligus mempertimbangkan pendapat pasangan.

Ketika seseorang selalu menyetujui apa pun, ia mungkin bergantung pada pasangan untuk menopang harga dirinya.

4. Gemar menjelekkan hampir semua orang di sekitarnya

Kebiasaan mencela mantan pasangan dan menyalahkan mereka atas kegagalan hubungan patut diwaspadai.

Pola ini serupa dengan peringatan klasik agar tidak menjalin hubungan dengan seseorang yang pernah selingkuh.

Orang yang selalu memosisikan diri sebagai korban dalam setiap perpisahan biasanya menyembunyikan sisi cerita lain.

5. Terus-menerus mengawasi gerak-gerik pasangan

Komunikasi ringan lewat pesan singkat saat berjauhan sebenarnya wajar dalam hubungan yang sehat.

Namun pengawasan berlebihan terhadap aktivitas pasangan bisa menandakan rasa cemburu dan ketidakamanan diri.

Sikap posesif yang dibalut alasan cinta tetap mencerminkan pola hubungan yang tidak sehat.

6. Memiliki hubungan yang renggang dengan banyak orang

Cara seseorang memperlakukan atau membicarakan perempuan lain dalam hidupnya mencerminkan luka yang tersembunyi.

Pola hubungan yang tegang, negatif, atau terputus dengan banyak orang perlu diwaspadai dengan serius.

Sikap mengagumi satu orang secara berlebihan sambil merendahkan yang lain menandakan ketimpangan emosional.

7. Hanya menunjukkan sisi baik tanpa emosi lain

Tidak ada seorang pun yang mampu bersikap baik sepanjang waktu tanpa jeda.

Kegagalan menunjukkan emosi lain seperti marah, sedih, atau takut bisa menjadi tanda peringatan besar.

Kebaikan yang berlebihan sering menutupi rasa tidak aman dan kebutuhan emosional yang mendalam.

EDITOR: Hanny Suwindari